Ada dua kejadian yang sempat terpotret dalam benak penulis yang dirasa bisa mewakili sisah-sisah DOM di Nabire dalam periode 2006-2007:
Polisi Misterius Patroli Malam
Karena maraknya kejadian pembunuhan misterius terhadap orang asli Papua pada malam hari (jam. 22:00 am) di tempat-tempat yang sepih. Kompleks Perumahan Rakyat (KPR) Siriwini di bawah pimpinan ketua RT mengadakan beberapa pos kambling dibeberapa titik jalan masuk.
Sekitar jam 12:00 (malam) ada sebuah motor dengan gerak-gerik mencurigakan, seperti sedang mencari sesuatu masuk dari arah timur kompleks sambil memutar setiap jalur. Info ini disampaikan melalui telfon seluler ke tim penjaga pos pintu keluar di utara.
Setelah memutar-mutar sekitar 2 jam lebih motor tersebut menuju pintu keluar, abah-abah untuk menahan dan menginterogasi motor itu disampaikan oleh ketua RT. Setelah mendekati Pos motor tersebut ditahan dan ditanyai seputar maksud dan tujuannya mengelingi kompleks KPR malam-malam begitu.
Orang itu rupanya seorang pria dan motor yang digunakannya merupakan motor polisi atau motor dinas milik kepolisian Nabire, pria itu menjelaskan bahwa ia hanya sedang mencari rumah temannya yang katanya tinggal di sekitar situ, namun karena malam dan tidak menemukannya ia balik pulang.
Karena merasa dibodoh-bodohi oleh polisi itu seorang bapak tanpa pikir panjang menyandarkan pukulan dengan kayu buah di kepala polisi aneh itu, semua orang yang ada disitu menyandarkan pukulan pada polisi tersebut hingga ia benar-benar babak belur.
Agenda selanjutnya di rembuk dan diputuskan bahwa besok kota Nabire harus diliburkan dan polisi gadungan itu beserta motornya harus dipawaikan di alun-alun kota (dijalan merdeka) agar topeng kejahatan yang selama ini dilakukan oleh pihak keamanan diketahui secara umum oleh publik.
Keesokan harinya RT beserta rombongan menghadap Bupati Nabire, Bpk. Anselmus Petrus Youw (APEYOUW). Bupati merespon dengan baik niat itu, maka bupati meliburkan semua sekolah mulai TK hingga Perguruan Tinggi dan stakeholders pemerintahan maupun swasta lainnya guna menyaksikan pengungkapan misi pemusnahan yang dilakukan oleh pihak berwajib secara terselubung tersebuat.
Di hadapan Bupati didampingi Kapolres Nabire dan jajarannya, salah seorang dari pihak pengungkap memberihkan pertanyaan, kira-kira apakah orang ini anak buah bapa? Dan mengapa dengan mengunakan motor dinas orang ini pada jam 12 malam mengitari kompleks kami?
Apakah ada tugas khusus sehingga orang ini datang malam-malam dengan gerak-gerik yang mencurigakan? Kapolres saat itu bingun untuk menjawab dan menjelaskan kepada publik, ia hanya bicara seperluhnya dan memohon maaf kepada masyarakat Nabire atas kelalaian anak buahnya dan berjanji kejadian semacam itu tidak akan terjadi lagi di kota Nabire.
Sejak dari peristiwa inilah pihak keamanan kapok dan tidak berani turun beroperasi di kompleks-kompleks perumahan rakyat. Mereka mengubah taktik, lokasinya sekarang di tempat-tempat sepih yang jarang dilewati orang banyak pada malam hari, seperti Jayanti, SP, Wanggar, Yaro, Topo dan Kilo, Legari, Kimmi-Samabusa, dan untuk wilaya di dalam kota seperti kali harapan, bukit Meriam, dan tempat sepih lainnya.
Gara-Gara Uang Seribu Orang Papua Perang Saudara
Waktu itu ongkos ojek jurusan Pelabuhan Samabu-Kota atau sebaliknya Kota-Pelabuhan Samabusa senilai Rp 25.000.000,00 (Dua Puluh Lima Ribuh Rupiah). Ada seorang mahasisiwa asal Suku Mee yang libur dari Jayapura ke Kampung halamannya di Paniai.
Ia naik ojek dari Pelabuhan Samabusa dan turun tepat di depan Gereja Kristus Raja Nabire. Karena melihat uangnya hanya 24 ribuh maka ia memohon maaf kepada sang ojek, namun rupanya ojek tersebut yang berasal dari Jawa dan cukup tua menolak bayaran mahasiswa itu, bagi tukang ojek itu ia telah ditipu sehingga ia memaki habis mahasiswa tersebut, namun karena menyadari kesalahan mahasiswa itu hanya diam.
Karena kesal ojek itu meninggalkan mahasiswa itu sambil berkata; “makanya kalau ngada uang ngah usah naik ojek, kenapa tidak jalan kaki saja tadi, dasarr bikin habis bensin aj”. Masalah selesai mahasiswa itu pulang dengan baik.
Beberapa jam kemudian, tepat jam. 4:03 bunyi sirene mobil Sahbara di lingkungan Gereja Katolik Kristus Raja Nabire, ternyata ojek tadi itu tidak terima dan melaporkan persoalan uang seribu itu ke kantor polisi (atau memang dia seorang intel, entahlah). Beberapa orang muda Katolik yang sering menjagah Pastoran keluar dan menannyakan apa yang dilakukan oleh mobil polisi itu.
Parahnya polisi mengirah mahasiswa tadi adalah salah satu dari mereka atau sedang mereka sembunyikan sehingga mereka bersikeras memeriksanya di Pastoran dan Sekretariat OMK. Karena tidak tahan dengan kelakuan para polisi itu yang terlaluh paksa, bentrok pun terjadi antara OMK versus para polisi. Anak-anak OMK KR berhasil memukul mundur polisi itu, masalah aman.
Tinggal beberapa, sekitar pukul 04: 53 WIT dua mobil Sahbara masuk ligkungan Gereja kali ini dengan jumblah yang cukup banyak, konflik pun semakin memanas kaum muda Katolik berhasil memukul mundur polisi dua Sahbara itu.
Entah siapa yang menjadi provokator konflik semakin meluas karena anak-anak OMK itu sebagian besar berasal dari Suku Mee, maka kini menjadi masalah suku. Polisi karena tidak mampu, mereka meminta bantuan kepada para penyamun, ilmu hitam, dan pembunuh bayaran untuk menghadapi suku Mee, konflik meluas hingga hampir seantero kota Nabire.
Terakhir polisi meminta bantuan kepada kepala suku besar Dani, Damal, Dauwa, dan Monii untuk menghadapi Suku Mee. Konflik berlansung hampir satu bulan. Alhasil Bupati AP Youw beserta jajaran dan para kepala Suku Besar di Nabire berkumpul dan berdialog untuk menyelsaikan masalah tersebut hingga tuntas.
Namun ternyata dendam masih ada, walau sudah usai kalangan Dani dan kawan-kawan tidak terima dan menuntut akan membalas hingga darah terbayar lunas, orang Mee juga harus banyak yang mati, imbuh mereka.
Dari sinilah orang asli Papua di Nabire terpecah-belah hingga kini, maka jangan heran jika ada masalah antara orang Mee dan Monii pasti pihak Dani, Damal dan kawan-kawan bergabung bersama pihak Monii, begitupun sebaliknya jika dengan suku Dani pasti pihak Damal, Dauwa, dan Migani menyatu dengannya dan seterusnya, pihak Mee selaluh menjadi musuh bubuyutan di mata mereka di Nabire, entah sampai kapan ini berakhir. Hal ini bukan sesuatu yang baru di Nabire. Jika demikian bagaimana orang asli Papua mau bersatu dan bersama-sama membangun masa depan yang cerah bagi anak cucu.
Kini sudah saatnya suku-suku asli Papua di Nabire merekonsiliasi diri agar lahir baru kemabali sebagai saudara satu Papua. Orang luar terlebih pihak keamanan senang dan legah bukan main ketika ada berita Perang Suku Papua, mereka akan bilang; “Kas biar itu dong orang asli pu masalah sendiri, tong tra usah ikut campur tunggu dong baku bunuh selesai baru tong tiba di TKP”.
Ini fakta bukan fiktif atau fatamorgana di Lapangan publik, hingga kini penduduk asli di Papua di Nabire masih jalan sendiri-sendiri dengan ego Suku masing-masing. Orang pendatang sudah bersatu dan maju, mindsed berpikir mereka sudah di tahap bagaimana menguasai kota Nabire, sementara penduduk asli masih berpikir bagaimana dendam Suku saya bisa terbalas, sungguh sebuah ironi yang memiluhkan.
Dua perkara di atas kurang lebih dapat menggambarkan situasi sosial-politk di Nabire. Dua kisah ini bisa mewakili pelbagai kisah yang diduga kuat mengandung pelanggaran HAM. Orang-orang yang telah lama bermukim di Nabire (juga di wilaya lainnya di Papua) punya banyak pengalaman mengenai situasi pelanggaran HAM yang terjadi.
Hanya saja mereka tidak diberih ruang dan kesempatan untuk mengutarakan pendapatnya di muka umum. Hal ini yang menyebabkan banyak pelanggaran HAM yang belum terungkap dengan baik di Papua secara umum, dan Nabire lebih khusus.
Bukan Hanya Soal Tapas
Masalah di Nabire ini bukan saja soal tapal batas, sebab bila hanya soal tapal batas, pasti masalahnya sudah selesai sejak awal-awal terjadi. Hemat penulis ada suatu agenda yang besar yang diselundupkan di balik konflik horizontal di Nabire.
Dan aktor-aktris Invisible hand-nya itu adalah para investor oligarkis yang punya misi perburuan harta Karun di West Papua, terutama di wilayah Meepagoo ada OT. Freeport, Blok Wabu dan Degeuwo juga beberapa tambang Sawit dan Kayu ilegal yang besar di sana. Konspirasi itu sebuah siasat Propaganda Opini oleh beberapa influencer, Netizen, buzzer dan hecker yang pasca terjadi konflik selalu memantik suasana. Kita tahu bahwa di Era Revolusi atau yang menurut para sosilog di sebut sebagai Era Post-Truht, di mana digital teknologi komunikasi menjadi senjata yang ampuh untuk menggalang opini, menyebar hoaks dan provokasi dalam rangka penyerangan psikologis.
Strategi Cipta Kondisi Demi Pelolosan Misi Perburuan Harta Karun
Untuk mengawali bagian ini. Pertama-tama kita akan flashback dan cross check terlebih dahulu latar belakang di balik labirin perwayangan yang sudah, sedang dan senantiasa disuguhkan oleh para pemikir (master plan) Intelejen oligarki Indonesia Amerika, Jepang dan kronik-kroniknya di Papua. Berbicara tentang Papua tidak bisa kita lepas pisahkan dari renta dan gurita kepentingan ekonomi politik para kapital dan kolonial di Papua.
Rupanya, hemat penulis di balik wacana konflik horizontal di Nabire dan sekitarnya hari ini juga melukiskan hal yang serupa. Bahwa demi mengamankan investasi saham di Blok Wabu, Tony Wenas dan kawan-kawan kolonial cum kapital lokalnya menempuh strategi cipta kondisi guna terhindar dari jepretan kamera dan media massa.
Ada beberapa pembacaan dari beberapa kawan-kawan yang berjudul, Smelter dari Gresik ke West Papua: Jepang Pegang Kendali?. Penulis melihat pembacaan singkat tapi berbobot ini bisa sedikit membuka cakrawala kita untuk memahami strategi intelejen yang lihai memanejemen konflik konspirasi ekonomi politik di Papua.
Setelah Indonesia berhasil mendivestasikan saham milik PT. Rio Tinto (swasta Inggris) tahun 2018 dan mengubah Kontrak Karya (KK) menjadi Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK), PT. Inalum kini memegang kendali utama atas hasil divestasi tersebut.
Perlu diketahui bahwa PT. Inalum adalah Korporasi Internasional milik Jepang, yang mana pada 2013 Indonesia mengklaim sudah menasionalisasikannya. Padahalnya pemegang saham tersebesarnya adalah Jepang (53%), sisanya BUMN Indonesia.
Bagi hasil divestasi dari 51,23%, Provinsi Papua dan kabupaten Mimika mendapatkan 10% dengan prasyarat harus mendirikan BUMD (2018) dan mengandeng PT. ANTAM serta Mind ID (Bagian ini kemungkinan Negara dan Perusahaan Pribadi saling menggandeng) Untuk ini belum diketahui secara pasti apakah sudah ada BUMD yang dimaksudkan. Lagi pula, persoalannya saat ini adalah wilayah pertambangan PT. FI masuk di wilayah administrasi Provinsi Papua Tengah(PPT).
Pertanyaannya, apakah divestasi itu kemudian dialihkan ke Provinsi Papua Tengah? Jika demikian, maka pendapatan asli daerah Provinsi Papua Tengah akan bersumber dari divestasi tersebut.
Ini memungkinkan PPT “makan banyak”. Mungkin karena inilah, sekelompok anggota DPR Papua beberapa hari lalu sempat bertemu dengan Pj. Gub PPT, Ribka Haluk mendiskusikan dampak tailing (limbah Freeport).
Lagi pula, konsentrasi divestasi memulai memasuki babak baru sejak perubahan KK menjadi IUPK. Sebab, PT. FI sendiri memulai pembukaan underground mining. Sedangkan untuk divestasi ke PT. Inalum bersama PT. ANTAM, dkk, malahan mengembangkan perluasan areal pertambangan baru (tambang terbuka) yang notabenenya ada di areal PPT seperti salah satunya di Blok Wabu. Disini, dapat kita asumsikan, penambahan militer di PPT barangkali untuk mengamankan areal vital tersebut.
Perlu kita telisik kembali, di tahun 2013-2015, ada 3 agenda utama Bapak Gubernur Lukas Enembe yang sempat diperjuangkan, yaitu (1). Otsus Plus, (2). PON XX di West Papua, dan (3). Smelter di West Papua.
Waktu itu, agenda Otsus Plus Papua gagal, karena ada pasal krusial yaitu pasal Ancaman Berupa Referendum. Menurut, Jakarta Agenda Otsus Plus tidak masuk dalam Prolegnas karena tidak prosedural. Lantas, setelah gagalnya Otsus Plus, Bapak LE kemudian memperjuangkan Smelter di West Papua. Waktu itu, Bapak LE sempat mengandeng China ENFI, namun gagal.
Tidak diketahui secara pasti, mengapa gagal. Upaya Bapak LE, setelah gagal dan atau digagalkan, kemudian dilanjutkan oleh pemerintah Indonesia (2015). Memang, awal untuk pembangunan Smelter, Indonesia pada tahun 2013 sudah sempat hendak mengandeng India Grand Sand. Namun entah mengapa, itu tidak dilanjutkan.
Barangkali, upaya itu gagal karena pergantian tampuk 01 RI dari SBY kepada Jokowi. Lantas kemudian, Indonesia berbelok kemudi ke China.
Di rentang tahun 2013-2017, satu hal memang sempat dilupakan yaitu Terbongkarnya Kasus “Papa Minta Saham”. Mungkin ini juga ada hubungannya dengan PHK 8.300 Karyawan. Di mana waktu itu (2016), PT. Freeport mengancam akan melaporkan kasus tersebut ke Mahkamah Arbitrase Internasional.
Barangkali, ini juga menjadi ancaman tersendiri terhadap Indonesia dan PT. FI sendiri. Sebab, PT. FI diketahui telah menambang Uranium sejak 1996 (melalui PT. Rio Tinto), yang mana pada tahun 2009 informasi tersebut “Bocor” di kalangan petinggi (Freeport, Pejabat NKRI di West Papua dan NKRI di Jakarta). Di sinilah, kita dapat berasumsi tentang 2 hal, yaitu:
Pertama, Divestasi saham PT. FI milik PT. Rio Tinto dialihkan ke PT. Inalum
Kedua, Pembangunan Smelter di Gresik, Jawa Timur
Pada tulisan di Part II, kita sampai pada asumsi tentang 2 hal, yaitu:
Pertama, Divestasi saham PT. FI milik PT. Rio Tinto dialihkan ke PT. Inalum
Kedua, Pembangunan Smelter di Gresik, Jawa Timur
Baik divestasi maupun Pembangunan Smelter, keduanya dipegang oleh Jepang. Jadi ada pergeseran, dari Inggris (PT. Rio Tinto) kepada Jepang (PT. Inalum dan Chiyoda Kogya Internasional Indonesia).
Memang, Indonesia tidak memungkiri akibat dari divestasi itu melahirkan utang dari pembelian saham PT. Rio Tinto, sebesar Rp. 56 Triliun. Namun, Indonesia telah menutup “lubang utang” itu dengan menggali “lubang baru” di Bank Tiongkok, Bangkok dan Jepang. Lagi-lagi inilah yang barangkali “mau dan tidak”, di tahun-tahun berikutnya harus ditutup kembali.
Ya, Sementara ini, Indonesia sedang kejar target Smelter Gresik, Jawa Timur harus rampung di tahun 2024. Informasi terbaru, setelah Jokowi bertemu 2 petinggi Freeport di Istana Negara Koruptor Republik Indonesia (NKRI), barulah si “Bahlil” bergerak mengecek pembangunan Smelter itu.
Jepang (PT. Chiyoda Kogya Internasional Indonesia) telah memberikan “Kabar Gembira” kepada Indonesia melalui Bahlil, bahwa akhir tahun 2023 atau awal tahun 2024 Smelter Gresik akan rampung. Sebab, saat ini, sudah 65% tuntas.
Bukan tidak mungkin, Smelter Gresik, Jawa Timur bisa diselesaikan pada tahun ini (2023). Jika demikian, maka West Papua segera bersiap-siap.
Tulisan sebelumnya, part I, kami akhiri dengan kalimat: “Bukan tidak mungkin, Smelter Gresik, Jawa Timur bisa diselesaikan pada tahun ini (2023). Jika demikian, maka West Papua segera bersiap-siap”.
Di sini perlu kami kembali uraikan bahwa, Menteri ESDM, saat berkunjung ke Lokasi Pembangunan Smelter di Gresik, Jawa Timur (05 Mei 2023) ia disambut hanya oleh petinggi Freeport, Tony Wenas.
Rupanya, kegembiraan tersendiri ada di ke dua belah pihak, yaitu Indonesia dan Freeport. Sebab, Perusahaan Multi Internasional Jepang, PT. Chiyoda Kogya Internasional Indonesia tidak hanya berbicara, tetapi memberikan bukti nyata.
Tidak menutup kemungkinan, PT. Chiyoda Kogya Internasional Indonesia, jika dilihat/dinilai berhasil maka kemungkinan besar, PT tersebutlah yang akan membangun Smelter di West Papua. Memang ini akan tergantung dari hasil kerja PT tersebut.
Di ulasan sebelumnya, part IV, kami menguraikan bahwa:
“Tidak menutup kemungkinan, PT. Chiyoda Kogya Internasional Indonesia, jika dilihat/dinilai berhasil maka kemungkinan besar, PT tersebutlah yang akan membangun Smelter di West Papua. Memang ini akan tergantung dari hasil kerja PT tersebut.”
Memang, awalnya, PT. FI hendak teken kontrak dengan Tsingshan Holding Group (THG). THG adalah Perusahaan swasta China yang bergerak di industri Baja Tahan Karat, Nikel dan Stainles Steel. Tetapi, dibatalkan karena menurut Pemerintah RI, Porsi akan minoritas di sana.
RI akan memegang saham sekitar 25 persen atau 30 persen dan 70 persen adalah mitra dari China, yakni Tsingshan. Alasan lainnya lagi bahwa, THG bukan hanya sebagai kontraktor, tetapi sebagai investor dan atau pemegang saham di Smelter Gresik, Jawa Timur.
Oleh karena perhitungan inilah, maka PT. FI dan RI membatalkan kontrak dengan THG. Kemudian beralih ke PT. Chiyoda. Sebab, Chiyoda hanya sebagai kontraktor, bukan investor. Sedangkan Untuk pendanaan Pembangunan Smelter dari Freeport sendiri. Artinya PT. FI membiayai pembangunan smelter tersebut.
Ya, begitulah, awalnya China tetapi kemudian dialihkan ke Jepang untuk Pembangunan Smelter di Gresik, Jawa Timur.
Di tulisan sebelumnya, Part ll, kami mengakhirinya dengan kalimat;
“Ya, begitulah, awalnya China tetapi kemudian dialihkan ke Jepang untuk Pembangunan Smelter di Gresik, Jawa Timur.”
Perlu kita ketahui, Jepang bukan orang baru. Smelter di Gresik, Jawa Timur milik PT. FI itu juga sebelumnya dibangun oleh Mitsubishi Jepang. Kerja sama PT. FI dan Jepang (Mitsubishi), membangun pabrik peleburan yang dinamakan PT.Pada laman PT. FI; (
https://ptfi.co.id/id/pt-smelting) diuraikan sekilas tentang PT. Smelting, sebagai berikut:
“PT Smelting merupakan smelter pertama PTFI yang dibangun pada tahun 1996 bersama dengan konsorsium Jepang dan dioperasikan oleh Mitsubishi, sebagai bentuk kepatuhan PTFI terhadap Kontrak Karya II. Terletak di Gresik, Jawa Timur, PT Smelting merupakan fasilitas smelter tembaga pertama di Indonesia.”
“PT Smelting mampu memurnikan dan mengolah 1 juta ton konsentrat tembaga menjadi 300.000 ton katoda tembaga setiap tahunnya untuk memenuhi kebutuhan produksi di dalam maupun luar negeri. Dengan kapasitas pengolahan ini, PTFI telah mampu mengolah dan memurnikan sebesar 40% dari keseluruhan konsentrat tembaga yang diproduksi di Papua.”
Pemegang saham terbesar di PT. Smelting adalah Jepang, sebesar 75%, sisanya PT. FI sebesar 25%. Saat ini, belum diketahui pasti, apakah PT. FI dan RI akan berupaya untuk mengambil / mendapatkan saham terbesar dari PT. Smelting, Gresik, Jawa Timur.
Kemungkinan, PT. FI dan RI belajar dari iklim investasi di PT. Smelting, sehingga untuk Pembangunan Smelter kali ini, Jepang hanya dilibatkan sebagai kontraktor dan bukan investor. Jelas, dengan demikian, pemegang sahamnya akan kembali ke PT. FI dan Pemerintah Indonesia.
Walaupun demikian, yang jelas, Chiyoda Kogya Internasional Indonesia (CKII) sebagai kontraktor akan meraup keuntungan besar. Sebab pembiayaan menelan dana sebesar kurang lebih 45 Triliun. Pembiayaan tersebut ditanggung oleh Freeport.
Di tulisan sebelumnya, Part VIII, kami sampai pada kalimat berikut:
“Iklim Investasi seperti ini sangat merugikan. Baik bagi Freeport (Swasta Amerika) sendiri maupun bagi pemerintah Indonesia. Oleh karena itu barangkali diharapkan dengan adanya divestasi Rio Tinto dan Kontraktor Chiyoda, Freeport dan Indonesia memegang saham yang lebih tinggi”.
Freeport dan Indonesia, bagaimana pun akan tetap berusaha “sekuat tenaga” untuk mengambil mayoritas saham Smelter di Gresik. Pada ulasan sebelumnya, sangat jelas 75% dan 25% memang bukan investasi yang sangat menguntungkan bagi Freeport dan Indonesia.
Memang, kita tidak dapat berspekulasi tentang itu. Namun, tampak jelas, kunjungan-kunjungan pemerintah Indonesia dan Freeport ke Gresik memperlihatkan serangkaian upaya mereka. Apalagi penekanan tegas agar Smelter Gresik diselesaikan sedini mungkin.
Baru saja petinggi bersilahturahmi ke istana Presiden. Kemudian diikuti dengan kunjungan menteri ESDM ke Gresik yang mana disambut oleh Tonny Wenas. Di sini ada kebanggaan tersendiri bagi Pemerintah Indonesia dan Freeport. Mereka sudah menargetkan 2 hal penting, yaitu:
Pertama, Saham Smelter sesegera mungkin jatuh ke Freeport dan Indonesia
Kedua, Ambilalih PT. Smelting yang mana saham terbesarnya milik Jepang (MMC)
Kalaupun memungkinkan, PT. Adhy Karya (dulunya milik Belanda, sekarang ada di bawa BUMN), yang bersama Chiyoda mengerjakan proyek Smelter di Gresik, Jawa Timur saat ini diupayakan juga memegang saham. Ini memang kabar gembira bagi Freeport dan Indonesia, sebab Chiyoda sendiri tidak ambil pusing dengan investasi di Smelter. Chiyoda hanya fokus pada Kontrak Pembangunan Smelter Gresik.
Bagian ini, memang Chiyoda Jepang tidak terlalu ngotot. Barangkali, bagi mereka (Jepang), yang terpenting memuaskan pelanggan dan ada sedikit keuntungan.
Smelter, Dari Gresik ke Dalam ulasan Part IX, kami sampai pada kalimat; “Bagian ini, memang Chiyoda Jepang tidak terlalu ngotot. Barangkali, bagi mereka (Jepang), yang terpenting memuaskan pelanggan dan ada sedikit keuntungan”.
Sebab, Freeport mendanai pembangunan Smelter sebesar Rp. 45 Triliun. Memang angkah yang sangat fantastik. Chiyoda Kogya Internasional Indonesia mana mungkin menolaknya. Walaupun, Chiyoda sendiri tidak berinvestasi di dalamnya.
Ya, ini agak berbeda dengan PT. Smelting yang dibangun Freeport bersama Jepang di tahun 1996, di mana telah kami ulas bahwa Mistsubisi Jepang memegang saham terbesar (75%). Barangkali, untuk kali ini, Freeport dan Indonesia tidak mau rugi. Chiyoda Jepang juga tidak “mau pusing’, yang terpenting baginya angkah kontraknya cukup menggiurkan.
Pertanyaannya, mengapa Freeport relah gelontorkan dana sebesar itu untuk pembangunan Smelter Gresik? Barangkali hitungan kasar, setahun sekitar 1,7 juta ton konsentrat yang diproduksi di pabrik pemurnian / Smelter. Konsentrat tidak hanya emas, tetapi juga mungkin ada kandungan mineral lainnya, misalnya seperti Uranium. Ya jika demikian, dalam 5 tahun saja Freeport dapat mengembalikan modal (plus keuntungan kotor dan bersihnya).
Bahkan, bukan tidak mungkin, dalam 2-3 tahun modal itu bisa dikembalikan. Sehingga 4-5 tahun berikutnya diperoleh keuntungan bersih.
Pertama, Potensi Blok Wabu: Holding Perusahaan Tambang MIND ID menyampaikan bahwa wilayah tersebut memiliki potensi emas sebesar mencapai 8, 1 Ouncens
Kedua, Menarik Untuk Digarap: potensi yang ada di Blok Wabu membuat MIND ID dan PT Aneka Tambang tbk tertarik siap mengelola blok Tersebut
Ketiga, Freeport Tarik Diri: Freeport Indonesia sebelumnya memastikan menarik diri terhadap pengolahan blok Wabu di Papua
Keempat, Potensi Lebih Besar Dari Grasberg: Data Kementerian EDSM 2020 menyampaikan bahwa Blok Wabu Menyimpan potensi sumber daya 117,26 ton bijih dan rata -rata kadar 2,16 gram per ton (AU) dan 1,76 gram per ton perak.
Menyenjakan aksara ini ada beberapa ihwal penting yang sekiranya bisa menjadi perhatian bersama seluruh stakeholders, forkopimda dan masyarakat secara bersamaan guna menciptakan perdamaian di Papua Tengah;
Pertama, masalah di topo Nabire hanyalah beberapa strategi yang digunakan oleh negara, terutama para koorporasi yang hendak menancapkan kuku Kapitalismenya di Blok Wabu, Degeuwo dan beberapa lumbung harta Karun lainnya di Nabire dan sekitarnya.
Hal ini sejatinya adalah lagu lama yang senantiasa dinyanyikan kembali oleh negara dan kronik-kroniknya di daerah. Serupa dengan peristiwa Mutilasi di Timika, yang menjadi suatu strategi cipta kondisi untuk meloloskan kunjungan kerja Jokowi di Freeport untuk meresmikan pembangunan dua sumur bor dan memantau penggunaan jaringan 5G di Freeport.
Sementara kasus di topo hanya kasus yang tidak perlu dibesar-besarkan sampai mendatangkan massa dalam jumlah besar dengan dalil perang suku. Intelejen sengaja memanaskan situasi di media massa melalui pesan-pesan berantai yang gadungan guna memprovokasi opini publik.
Yang mesti kita catat adalah bahwa peristiwa itu terjadi disela-sela kunjungan Tony Wenas, bos Freeport ke Nabire untuk memperingati hari lingkungan hidup. Tidak ada satupun manusia normal di kabupaten Nabire yang berpikir untuk menggalang solidaritas mahasiswa, pemuda dan rakyat untuk Menolak Kedatangan Tony Wenas yang menyelipkan agenda-agenda bisnis tambahannya.
Jauh sebelum Tony Wenas datang ke warung tersebut, rupanya semuanya sudah dipersiapkan dan diperhitungkan matang-matang. Intelejen sudah tahu titik lemah orang Papua melalui strategi polarisasi, segmentasi dan segregasi melalui tujuh wilayah adat, DOB dan Otsus orang asli Papua sudah dipelajari secara saksama sekali.
Khususnya dua suku Besar, seperti Suku Mee dan Suku Lani, dua suku ini selalu menjadi bahan percobaan negara untuk menghancurkan jalinan persatuan bangsa Papua. Belum lagi jika perpecahan itu ditarik oleh intelijen ke arah wilayah adat, maka akan ada ketegangan-ketegangan antara suku, budaya, agama, gender, pendapat dan lain sebagainya.
Di dalam pergerakan Papua merdeka hal yang serupa juga terjadi orang dan organ mempertentangkan antara Benny Wenda versus Okto Mote, Edison Waromi, Buhctar Tabuni dan Victor Yeimo, dan lain sebagainya. Intelejen juga mempertentangkan ajaran agama Protestan, Islam dan Katolik, Laki-laki dan Perempuan, fraksi A dengan fraksi B, Agenda A dengan Agenda B, dan lain sebagainya.
Kedua, masyarakat pendatang di wilayah Nabire, terutama masyarakat pegunungan yang saat ini sedang berkonfrontasi di Nabire sebaiknya juga menghargai tuan tanah Nabire itu sendiri, mungkin urat malu dari kedua suku yang berambisi menghegemoni bangsa dan tanah Papua ini bertobat, tunduk, dan rendah hati, bahwa masih ada saudara-saudara anak negeri yang lain, terutama masih ada masyarakat adat asali Nabire.
Corak karakter kedua suku ini menjadi indikasi kuat bahwa keduanya hanya akan menjadi penjajah baru bagi suku-suku bangsa Papua yang lain, sama seperti bangsa Jawa, Arya, Eropa dan lainnya yang merasa superior atas suku bangsa lain yang inferior.
Ketiga, sudah bukan jamannya lagi perang, kekerasan dan senjata menjadi sarana dan atau mekanisme untuk menyelesaikan masalah atau konflik. Kita sudah hidup di jaman yang modern, kita sudah lama menerima Perabadan Baru, maka sudah seyogyanya pola pikir kita juga jangan seperti manusia purba yang hidup di jaman batu yang belum bisa secara optimal memanfaatkan Khasanah pikiran, hati dan kehendaknya.
Perang jenis ini adalah Perang Massal, di mana kuantitas massa menjadi ukuran menang kalahnya, dan biasanya prinsip perangnya dilandasi dengan sentimen balas dendam, mata ganti mata, nyawa ganti nyawa. Padahal, di era yang serba maju itu kita semua dipanggil untuk sanggup menyelesaikan masalah dengan jalan damai.
Jangan sampai iblis memprovokasi dan mempengaruhi pikiran dan hati untuk saling membunuh. Justru kita sendiri yang menciptakan neraka. Seakan-akan kita tidak pernah sekolah sehingga muskil membedakan mana yang baik dan mana yang jahat.
Langkah konkrit yang bisa ditempuh oleh semua pihak adalah dengan membuka ruang dialog dan rekonsiliasi secara adat dengan dimediasikan oleh pemerintah provinsi dan kabupaten-kabupaten serta kota di Papua Tengah.
Libatkan semua unsur masyarakat, tokoh-tokoh agama, adat, perempuan dan anak, pemuda dan mahasiswa, undang juga masyarakat pendatang Nusantara, beberapa paguyuban yang ada mesti dilibatkan. Sesuai roh dari kata Nabire itu sendiri, “Nabire” (nyaman, aman, bersih, indah, ramah dan elok).
Keempat, masyarakat adat, aktivis lingkungan, dan beberapa organ pergerakan, perlawanan dan perjuangan di wilayah Papua Tengah bisa berkonsolidasi untuk menolak semua paket pembangunan yang ditawarkan atau dijalankan oleh otoritas Freeport, terutama masyarakat adat di sana mesti membentuk aliansi untuk menolak Blok Wabu secara serius.
Blok Wabu akan menjadi akar masalah di Papua Tengah di samping beberapa perusahaan tambang, emas, minyak, gas, sawit, coklat dan lainnya. Perlu ada pemetaan masalah berupa isu, wacana dan agenda juga penting memetakan aktor penyokong dana dan aktor intelektual di balik fenomena Konflik di Nabire hari ini dan konflik-konflik lainnya.
Fokus, konsentrasi dan tenaga para pejuang HAM, keadilan, perdamaian dan keutuhan ciptaan di Papua Tengah jangan sampai terbuang-buang hanya untuk mengipas asap dan api tanpa membenahi tungku dan mematikan bara apinya.
Indikator-indikator masalah di balik kasus Nabire mesti ditemukan dalam suatu formula dialog yang terbuka bagi semua stakeholders guna mencari jalan damai di sana. Tampuk tangung jawab ada di tangan kawan-kawan muda yang katanya aktivis, tokoh agama, adat, dan masyarakat untuk duduk bersama mengakhiri seluruh hilir-mudik konflik horizontal itu.
Kelima, semua aktor mesti duduk bersama dengan kepala dingin dan hati tenang guna mencari jalan perdamaian yang sejati bagi semua. Indikator-indikator konflik mesti ditemukan dan segera mungkin diselesaikan secara demokratis, humanis dan etis.
Rekonsiliasi lintas Suku-suku, Agama-agama, dan pemerintahan di sana mesti digelar guna memutuskan mata rantai konflik horizontal yang berkepanjangan di Nabire. Mari Torang Semua Duduk Bicara Baik-baik Dulu Demi Nabire yang Nyaman, Aman, Bersih, Indah, Ramah dan Elok. (*)
(KMT/Admin)