Selasa, 27 Juni 2023

Ricky Kegou: Rapper Bersuara Malaikat Revolusioner Dari Meeuwoo (Papua)


*Siorus Ewanaibi Degei

“Jika ku-dapat bernyanyi maka pasti akan ku-ramu lirik lagu indah nan merdu untukmu, jika ku-dapat melukis, pasti akan ku-poles cat berwarna perjuangan, ku-lukis wajahmu, jika ku-dapat mengukir, pasti akan ku-ukir senyumanmu yang khas. Aku hanya bisa menulis, ijinkan ku-rawat sedikit ingatan tentangmu tuk bangsa ini, sobat seperjuangan.”

Pagi, Jumat 16 Juni 20223 bak disambar petir di siang bolong publik di Meepago terpukul dengan beita duka yang datang mengatakan bahwa salah satu panyanyi rapper terbaik milik Suku Mee, West Papua dipanggil pulang oleh Sang Empunya Kehidupan. Berita tentang meninggalnya sempat viral dan menjadi trending topic di wilayah Meepago yang kini sudah dimekarkan menjadi Provinsi Papua Tengah, terutama di wilayah Nabire yang menjadi tempat tumbuh kembangnya Ricky Kegou, Sang Pemilik Suara Kemanusiaan dengan Jiwa Revolusioner yang khas serta mengebu-gebu.

Kita baru saja kehilangan salah satu penyanyi rapper dengan jiwa kemanusiaan yang kuat, Ricky Kegou, Croxtwentysix, Turik, Rikex Flow, Uwigou Megou, Rikex. Kehilangan para pejuang dengan jiwa seni yang mengebu-ngebu itu sangat berat, ketimbang pejuang dengan tidak terselibnya DNA seni bagi suatu bangsa yang masih berziarah di lembah penindasan, penderitaan dan penjajahan seperti di Papua.

Para seniman, musisi dengan jiwa revolusioner yang kuat itu lebih mahal nilainya ketimbang pejuang revolusi di Medan Perang, Panglima Gerilya yang agung. Pejuang dengan tipikal musisi ini sanggup membunuh jiwa kolonial, sanggup menghidupkan, membangkitkan bara api perjuangan dalam kedalaman jiwa rakyat tertindas.

Ricky Kegou adalah sedikit dari penyanyi dengan suara pemantik bara api revolusi yang gigih di atas tanah yang empuk menjadi konsumsi taring kapitalisme dan kolonialisme global.

Konteks Pengantar

Untuk sedikit membuka wawasan kita untuk memhami iktihsar perjuangan Ricky Kegou yang khas dengan suara emasnya dan mix liriknya memadukan Bahasa daerah (Mee), aksen Papua, Bahasa Indonesia dan Inggris itu. Dalam setiap perjuangan, pergerakan dan perlawanan bangsa-bangsa diaspora dalam menuntut penentuan nasip sendiri, sosok pejuang dengan jiwa seni menjadi pribadi-pribadi yang paling digentari setiap rezim penghisap (totaliter).

Nama seperti Lucky Dube dan Bob Marley menjadi ikonik musik Reggea di dunia, terutama di Afrika Selatan dan wilayah-wilayah jajahan, layaknya pulau Papua ini. Melalui lagu-lagu, kedua legenda musik reggae ini berhasil membangkitkan semangat emansipasi dan revolusi militan dalam sanubari rakyat pekerja dan pejuang hingga menuai kemerdekaan sejati dari perbudakan dan penjajahan. Lebih kebelakang Tembok Yeriko berhasil ditaklukkan hanya melaui madah pujian bangsa Israel dengan tiupan Nafiri yang menggetarkan. 

Sebelumnya juga Bangsa Israel berhasil keluar dari perbudakan Mesir dengan terbelanya Laut Merah, selama berjalan madah puji-pujian digaungkan oleh bangsa Israel sebagai pembunuh rasa takut dan ungkapan syukur kepada Wahye Pembebas, (Kel. 15:1-21). Teks ini oleh para teolog pembebasan di Amerika Latin dijadikan sebagai referensi biblisnya (Perjanjian Lama, PL) dalam merancang bagun teologinya.

Ada kidung Maria ketika ia (rahimnya) terpilih dari antara para wanita untuk menerima kabar gembira dari Allah melalui Malaikat Gabriel sebagai Ibu kandung Yesus Kristus, Sang Pembebas dan Penyelamat Sejati. Teks kidung Maria ini juga mejadi inspirasi blibis (Perjanjian Baru, PB) lahirnya teologi Pembebas di Amerika Latin, sebab di dalamnya diperlihatakan bahwa Allah senantiasa berpihak pada yang lemah (option for the poor) sebagai alat-Nya untuk membebaskan dan menyelamatkan dunia, (Luk. 1:46-56). Ada juga Nyanyian Zakharia yang mengungkapkan rasa syukurnya atas keberpihakan Allah padanya dengan mengaruniakan Yohanes Pembaptis yang kelak akan tampil sebagai Nabi Besar setelah Yesus Kristus dalam jemaat Perjanjian Baru, (Luk. 1: 67-80).

Dalam perjuangan panjangnya juga, apa yang diperjuangkan oleh para raja-raja lokal di India dalam mengusir penjajah Inggris senantiasa dinyanyikan oleh beberapa penyanyi lokal India. Hemat penjajah Inggris para penyanyi yang senantiasa membangkitkan semangat perlawanan, perjuangan dan pergerakan di tingkatan rakyat kecil ini lebih berbahaya ketimbang para raja dan panglima perang yang memimpin perang gerilya dengan mereka. 

Mohandas Mahatma Gandhi dan Nehru juga senantiasa didukung oleh beberapa penyanyi lokal yang memyampaikan kerinduan terdalam bangsa dan tanah India untuk merdeka. Dalam perjuangan Afrika Selatan juga ada nama-nama seperti Bob Marley dan Lucky Dube yang senantiasa mengaungkan semangat pembebasan dan perdamaian  melalui musik reggae. Di Indonesia sendiri ada nama W.R. Supraman, pencipta lagu kebangsaan yang senantiasa membakar semangat perjuangan para pahlawan bangsa Indoneisa kalah itu untuk tetap gigih memperjuangan kemerdekaan dan mengusir penjajah kolonial Jepan dan Belanda.

Ada juga nama Iwan Fals, Ebiet G. Ade yang melaui lagu-lagunya meyalangkan kritik pedas, halus dan cerdas kepada rezim otoriter dan totaliter Soeharto. Mereka juga banyak menginspirasi aktivis-aktivis ‘98’ yang berhasil melengserkan rezim Soeharto. Ada juga nama Ignatius Sayekoji yang memperkenalkan musik Hip-Hop kepada masyarakat Indonesia sepulang kuliahnya di Amerika. Ada juga nama Mbak Surim yang mempopulerkan musik reggae versi dangdut di Indonesia, kini estafet itu diemban oleh Ras Muhamad. Untuk di Papua sendiri api revolusi itu mulai nampak didemonstrasikan dan dipromisikan oleh gruoup Vokal Musiak Etnik yang dirintis oleh Mambesak.

Setelah Mambesak muncul juga group-group musik lokal lintas wiayah-wilayah adat, misalnya muncul nama Ambi Nabire untuk wilayah Saireri, muncul Totaa Manaa, Tune Manaa dan lainnya di Meepago, muncul Nayak Group di Lapago, dan vokal group musik etnik lokal sejenis lainnya di wilayah-wilayah pelosok Papua yang memperjuangkan nasibnya melalui musik. Di Group Mambesak sendiri hampir semua wilayah ada representasi atau delegasinya, sehingga tidak salah jika vokal musik ini sanggup menghasilkan lagu-lagu penuh nilai dan makna hidup dalam Bahasa Ibu semua daerah Papua saat itu, walaupun tidak semua namun ada perwakilan dari wilayah Pantai sampai pegunungan, sehingga musik-musik rintisan Mambesak ini sanggup mempersatukan bangsa Papua dari gunung sampai Pantai, Katolik-Protestan-Islam, laki-laki-perempuan, tua-muda, kaya-miskin dan kolom distingsi multilitas lainnya di Papua kala itu.

Ada juga Black Brohters, Black Papas, dan Black Swett untuk genre musik POP di tahun 80-an, 90-an dan awal 2000-an di Papua yang populer mengangkat identitas manusia dan tanah Papua ke tempat yang sejajar dengan bangsa-bangsa bebas merdeka di belahan dunia lainnya. Black Brohters dan adik-adik group musik POPnya juga mengemban tugas dan panggilan yang satu dan sama seperti apa yang sudah dirintis oleh pendahulunya Mambesak. Group-group musik POP ini menjadi idola sepanjang masa dalam benak terdalam bangsa Papua, di samping ada Club Sepakbola Persipura, Sang Mutiara Hitam dari Ufuk Timur.

Musik Hip-Hop sendiri belum begitu tua eksis berdomisili di Papua. Musik dengan genre ini baru mulai tenar di Papua kurang lebih pada penghujung 2000-an. Untuk wilayah Meepago sendiri, musik ini mulai diminiati kalangan muda tepat pada awal tahun 2000-belasan, ada sekitar periode 2012, 2012 ke atas ketika Rilex Clan mulai tenar di sana dengan lagu bertajuk, Sepi Hati-nya. Anggkatan Ricky Kegou, yang dikenal dengan Rikex, Croxtwnetysix itu mulai muncul di tahun-tahun itu. Saat itu memang pengaruh globalisasi, modernisasi dan digitalisasi membuat genre musik Reggea Hip-hop itu mulai mendapatkan respek dan apresiasi penuh dari generasi milenial di Papua.

Terjadi transisi dari kecintaan ke musik POP (BB, BP, BS, Trio Ambisi, Pace Pondang, Meriam Ambelina, Ebit G. Ade dll) ke genre musik Reggea, musik itu tenar (viral) ketika album-album dari Lucky Dube dan Bob Marley merangsek ke melalui wilayah Pasifik Melanesia (PNG, Salomon, Fiji, dan lainnya), musik reggae tidak diperkenalkan oleh bangsa Indonesia, tapi oleh bangsa Melanesia sendiri, begitu juga dengan musik Hip-hop. Musik hip-hop mulai tenar ketika Club Musik Reggea Hip-hop masuk ke Papua, semisal, Henry Kukus, Sugas, Basil Greg, Onetox, Texas, Ohsen, Dezine, dan lainnya.

Wilayah Pasifik Melanesia sendiri mendapat implus pengaruh dari wilayah Afrika Caribbean, dalam hal ini memang jika mesti jujur mengatakan bahwa musik reggae ciptaan Bob Marley dan Lucky Dube cepat merasuki kedalaman jiwa-jiwa di belahan bumi dunia ketiga atau the development contrys (Afrika, Carebean, Amerika Latin, Kepualaun Pasifik Melanesia, termasuk Papua).

Mungkin jika kita lihat dari mata perfectsionisme kedua penyanyi itu sangat berantakan dalam perawakan dan perangai hidup, mereka terkesan seperti penyanyi jalan yang tidak bermoral, beretika, apalagi keduanya dan pengikut-pengikut setelahnya seperti para pemusik dan penyanyi R&B, POP, Hip-Hop di Eropa terkesan abmoral ketika suting video clip, mereka menampilkan adegan-adegan panas, mengonsumsi miras, memakai bikini, mengonsumsi ganja, dan adegan-adegan panas lainnya.

Secara tidak langsung lebel negatif langsung melekat kepada mereka. Bob Marley dan Lucky Dube juga tidak terlepas dari stigma-stigma generatif vulgar. Mereka kadang dinilai sedang gila ketika bernyanyi, mereka buka-bukaan saat tampil tourney, mangung. Hingga kini nama-nama seperti Wiz Kalifa, Znouck Dog, Lil Wayne, Nicky Minaj, Jason Derulo, Chris Brown, Rihana, dan lainnya tidak lekat dari lebel-lebel negative ala mata dan otak “eropa putih”.

Roh dari musik reggae yang dirintis dan dipopulerkan oleh Bob Marley dan Lucky Dube ketika sudah masuk imperium eropa berubah menjadi genre musik Hip-Hop atau musik Rap. Musik ini adalah anak kandung dari musik Reggea jika kita mau jujur ketika berbicara terkait ekspansi musik reggae dalam arti yang lebih adaptif-modernitas. Ia hadir dan lahir pertama kali di Amerika sebagai kritik sosial atas praktek apathteid yang terjadi terang-terangan di eropa kala itu.

Nama Billy Cosby memperjuangkan pengahpusan Apahteid di Amerika melalui siaran TV lewat komedi-komedinya, perjuangan persis juga serta mempengaruhi perjuangan dari beberapa comedian Indonesia untuk memutuskan mata rantai stigama dan diskrimninasi rasial, seperti Ary Kriting, Abdru, Mamat Alkatiri, dan Roberth Yewen, semisal dalam acara Waktu Indonesia Timur (WIT) di NET TV. Marhtin Luhter King Jr memperjuangkan kesetaran dan kesamaan ras di Amerika melalui seruan-seruan, pidato-pidato, kotbah, kotbah, dan tulisan-tulisan kritisnya. Perjuangan Marthin Luhter King Jr ini banyak menginspirasi Pdt. Steven Tong, Pastor Natalis Hanepitia Gobay, Pastor Neles Kebadaby Tebai, Pdt. Benny Giyai, Pdt. Socrates Sofyan Yoman dan lainnya. Muhamad Ali dan Mike Tyson menunjukkan eksistensi bangsa kulit hitam di pangung Boxing, ada nama Michael Jordan yang mengguncang lapangan Bola Basket Dunia. Di dunia musik pasca perjuangan Afrika Selatan merdeka muncul Tupac Amaru Shakur di Amerika, ia adalah bapak musik hip-hop.

Ia memperjuangkan nasip bangsanya melalui aliran musik hip-hop yang baru ini. Mereka menjadikan stigma-stigma atau lebel-lebel vulgar bangsa kulit putih bermata biru berambut putih atas bangsa kulit putih berambut keriting di eropa kala itu, seperti Pemabuk, Pemerkosa, Pemalas, Pencuri, Pengedar Narkoba, Mafia, Ganster, Pamalak, Pembunuh, Budak, Bodoh, dan lainnya itu sebagai Inspirasi dan Motivasi untuk sadar, bangkit dan melawan guna memperjuangkan harkat dan martabatnya. Musika Hip-Hop dirintis oleh Tupac untuk mengeritik peguasa dan kontruksi identitas palsu yang dibangun oleh rezim eropa apharteid kala itu.

Tukilan penggambaran profile konteks penulisan refleksi tokoh di atas ini adalah seinci angin timur yang barang tentu bisa membentangkan layar nalar horison pemahaman kita untuk mengenal lebih jauh, dalam dan luas akan sosok Ricky Kegou dalam bentangan panjang perjuangan bangsa dan tanah Papua menuju dermaga keadilan, kemerdekaan dan kedamaian di jalur musik, agar kita tidak terjatuh dan tervirus nyenyak dalam berspekulasi, menjustifikasi dan melegitimasi penilaian-penilaian subjektif-apriori atas gesing, tampilan luar sosok Ricky seraya memberikan stigama arogantif cum antipatif terhadapnya.

Siapakah Ricky Kegou?

Siapakah Ricky Kegou? Untuk menemukan jawabannya barangkali lagu Ricky dengan judul, This Is Me (2021) itu membantu menjelaskan siapa sosok Ricky sebenarnya. Siapakah Ricky Kegou? Inilah pertanyaan mendasar yang barangkali menghantui beberapa kepala dan hati insan-insan bernyawa manusia yang merasa heran ketika informasi kepergiaan Ricky membanjiri setiap beranda media online, seberapa pentingnya sosok ini dalam era ini di Papua, terutama di wilayah adat yang disebut Meepago, kini Papua Tengah sampai-sampai banyak orang merasa kehilangan sesuatu yang lebih berharga daripada harta yang berharga?

Keadaan psikis seperti ini untuk radar mata yang berada di luar wilayah Meepago dan atau di luar Papua memang sah-sah saja, namun teramat memprihatinkan dan disayangkan jika banyak orang di Papua masih belum sadar dan paham akan apa yang dimuat oleh Ricky Kegou untuk bangsa dan tanah ini selama ia masih aktif memegang mikrofon musik Hip-hop, mendedikasikan kharisma suara serak khasnya itu untuk membumikan kedamaian dan keadilan bagi pula berbentuk cenderawasih ini.

Saya tidak akan melukiskan profil privat sosok Ricky Kegou secara paripurna dan lengkap, penulisan ini hanya akan menampilkan siapakah itu Ricky Kegou hemat saya pribadi, tentu setiap kita yang mengenal Ricky atau sempat berinteraksi dengannya pasti bisa menjawab pertayaan ini sesuai batas-batas pemahaman kita tentang sosok, suara, perangai, musik khasnya, dan lagu-lagunya. Tulisan ini saya saripatikan dari refleksi Panjang perwujudan Papua tanah damai yang terdentang merdu panjang dari masa Reggea, POP, Vokal Group Etnik Lokal hingga kini Hip-Hop di Papua. Bahwa saya tidak akan menyentuh banyak kehidupan pribadi Ricky, tetapi lebih dari pada itu sosok Ricky Kegou akan kita letakkan sebagai pejuang bangsa dan tanah Papua yang memperjuangkan keadilan dan kedamaian lewat dunia musik Hip-Hop sebagaimana roh dan sprit fundamen musik hip-hop itu sendiri yang sudah dirintis oleh Tupac di eropa, dipopulerkan oleh Eminem, dibawah masuk ke tanah air Indonesia oleh Iganisius Sayekoji dan merambat ke bumi Cenderawasih.

Mama Hagar Maday dan Warisan GEN Musisi Revolusioner

Hemat saya, berbicara mengenai Ricky Kegou, tidak dapat kita lepas pisahkan dengan peran dan pengaruh ibu kandungnya, yakni Ibu Hagar Magai (saya lebih tertarik memanggilnya dengan sapaan Mama Hagar Maday). Ada dua hal penting yang secara mendasar dan mendalam dari Mama Hagar yang sangat mempengaruhi kepribadian dan kedirian Ricky Kegou seperti yang kita kenal sekarang ini.

Yang mencolok dari mama Hagar Maday ada suaranya yang menyerupai malaikat surga dan kemurahan hatinya yang menampilkan wajah cinta kasih Kristus. Tentang suara mama Hagar nan merdu dan berdaya pikat setiap telingan yang mendengarkannya itu dapat kita lihat dari rekam jejak mama Hagar sendiri, ia adalah salah satu penyanyi vokalis paling wanita tunggal yang paling fenomenal dalam sejatah permusikan Papua, terutama di wilayah Meeuwoo.

Dan, terkait sifat dermawanannya itu sudah tidak dapat kita pungkiri lagi, ia banyak membantu kaum marjinal yang ia jumpai, ia relah membangun beberapa rumah atau semacam asrama untuk anak-anak yang hendak menempuh studi di beberapa kota studi tanpa memungut biaya, seperti di Nabire, Jayapura dan lainnya. Barangkali ini berasal dari pengalaman dan pergumulannya sendiri ketika masih menempuh Pendidikan di kota studi di tanah rantau, di mana ia sempat berjuang taruhan hidup untuk dapat bisa memenuhi kebutuhan hidup, tempat tinggal, makan, mandi, dan lainnya di kota studi. Dua hal mendasar dan mendalam inilah yang sedikit banyaknya mempengaruhi Ricky Kegou secara esensial. Ricky Kegou, suara seraknya yang khas dan berkarakter itu sudah tidak bisa kita pungkiri lagi betapa emasnya. Suaranya ini yang membuat sosok Ricky unik dan berbeda dengan penyanyi lainnya. Selain suara yang merdu dan khas, Ricky juga mewarisi hati malaikat dari Sang Ibu Kandungnya. Semua harta yang ia peroleh itu tidak ia gunakan sendiri, ia selalu membagikan harta kekayaannya itu kepada siapa saja yang jumpai dalam kehidupan baik itu sebagai teman kompleks, adik-kaka kompleks, teman sekolah, teman bermain, saudara-saudari dalam keluarga, kenalan dekat-jauh, dan handai taulannya yang lain.

Dalam beberapa kesaksian teman-teman yang pernah berkenalan secara dekat dengan Ricky, ia selalu memenuhi setiap undangan konser yang mereka berikan kepadanya untuk pengalangan dana dari komunitas-komunitas yang bergerak di bidang kemanusiaan. Ia akan sangat bersemangat, menampilkan ferformanya yang terbaik, mengeluarkan suaranya yang terbaik. Ia akan menolak segala bentuk pemberian dari panitia penyelengara, beberapa teman mengenang kata-kata yang sering diucapkan Ricky sehabis manggung pas mau dibayar, “baah ini kam main ap ni”, “macam deng orang lain kh” “maksudnya bagaiman ni” sambil senyum tipis-tipis atau ngakak besar-besar.

Ia memang pribadi yang paling sulit dicari padanannya pada penyayi sedawarnya yang hanya mengutamakan job, trofi, surplus dana dan lainnya. Ia tidak melandasasi semangat musik rappernya dengan semangat reproduksioner-bisnis, tapi lebih jauh dan filosofis dari itu yakni semangat revolusioner-emamsipatoris. Pada tataran seperti inilah kita benar-benar bersyukur bahwa Papua masih punya “mutiara hitam” di panggung rapper untuk kerja-kerja pembebasan dan perdamaian.

Ricky Kegou adalah anak tunggal, ia tidak punya saudara kandung, dalam Bahasa Mee ia biasa disapa Kegou Enago, Kegou adalah salah satu Marga dalam Suku Mee di wilayah Mapia Selatan (Piyaye, Dogiyai), sementara Enago berarti anak tunggal (Bhs. Mee). Posisi sebagai anak tunggal tentunya menjadi begitu istimewa dalam keluarga, mereka biasa disebut anak emas, sebab hampir semua kasih sayang dari kedua orang tua dan sanak keluarga lainnya tercurah padanya. Ricky Kegou, sebagai anak tunggal, juga mengalami kasih sayang yang tiada taranya dari kedua orangtuanya, terutama dari sang Mama.

Ricky tumbuh dan besar bersama keluarga di Nabire. Mamanya begitu sayang dan cinta padanya. Kepada seorang teman saat ibu telah pergi menghadap Tuhan di Surga, Ricky sempat curhat bahwa dirinya tidak bisa hidup tanpa Mama, ia tidak bisa pisah selamanya dari mama, ia memang mungkin agak bandel, dan sering pergi pulang pergi bermain sesuai nama gaulnya dalam Bahasa Mee, Uwigou Megou (Uwigou; Pergi/Jalan, Megou; Pulang/Datang) yang artinya pergi pulang pergi, tidak tenang tenang di satu tempat, suka jalan, tapi ia tidak bisa membohongi dirinya sendiri bahwa ia tidak dapat hidup dan tinggal jauh dari pelukan cinta seorang perempuan tangguh, berhati malaikat dan bersuara emas cenderawasih yang khas, ibu Hagar Maday.

Dalam diri Ricky Kegou mengalir darah semangat emansipasi musik seperti yang sudah kita bahas pada muka tulisan ini, musisi revolusioner. Ibu kandungnya, mama Hagar Maday (almarhuma) adalah salah satu penyanyi vokalis wanita tunggal dengan aluanan suara paling merdu dan manis pada masanya. Ia adalah personil di Group Musik Tunee Maaa (Melodi/Suara Cenderawasih, bhs;Mee). Tunee Manaa adalah salah satu Group Musik yang didirikan oleh beberapa palejar Meepago di kota studi.

Mama Hagar adalah salah satu penyanyi yang paling terkenal saat itu, suaranya yang teramat merdu, melengking tinggi, berkaraketr, juga ekspresi perangai wajahnya (tubuhnya) yang khas itu membuatnya menjadi penyanyi dengan suara emas cenderawasih yang sering tampil dalam hajatan-hajatan besar di wilayah Meepago. Saya sempat mendengar cerita tentang sepak terjang mama Hagar dunia tarik suara, saya juga beberapa kali sempat melihat sendiri betapa anggunnya penampilan Mama Hagar. Tubuhnya memang pendek, tapi tidak dengan suara merdunya, setiap telinga yang mendengar suaranya itu pasti merinding.

Sebelum nama Ricky Kegou melejit, Ibu kandungnya sudah lebih dulu menaklukkan stigma bahwa bahwa orang di balik pengunungan itu tidak dapat berbuat apa-apa.

Bahwa jauh sebelum Ricky Kegou mengangkat eksistensi identitas masyarakat pengunungan, khusus Meepago, Mama Hagar Maday sudah menunjukkan ke dunia bahwa kualitas suara dari masyarakat asli di sana itu juga berkualitas tinggi, tidak kala merdu dengan penyanyi-penyanyi lagu POP kala itu.

Kualitas suara dan jiwa semangat emansipasi yang hidup dalam setiap nada harmoni yang keluar dari mulutnya itu sanggup menandingi suara-suara merdu yang didegungkan oleh Meriam Ambelian, Dian Pasesa dan lainnya. Mama Hagar menunjukkan bahwa perempuan gunung Meeuwoo (Papua) juga mampu berdiri setara dengan perempuan-perempuan hebat dan laki-laki birlian lainnya di Papua, Indonesia, dan dunia.

Walaupun dengan sarana-sarana yang terbatas dan sederhana Mama Hagar dan teman-temannya sanggup mengankat harkat dan martabat orang gunung dengan kualitas suara dan musik yang tidak dengan wilayah Papua lainnya dan dunia musik lainnya. Kita bisa bayangkan kala itu teknologi musik tidak secanggih dewasa ini, tapi orang-orang hebat ini mampu melahirkan lagu-lagu melegenda dengan suara-suara emas yang menyejarah.

Seperti yang sudah kita gambarkan juga di atas bahwa lahir dan hadirnya group-group musik etnik lintas wilayah lokal pasca Mambesak itu adalah adanya dorongan kuat untuk menunjukkan eksistensi identitas diri, bangsa, budaya, dan tanah air Papua. Bahwa Papua bukan tanah kosong, mungkin adalah semangat yang melandasi menjamurnya group-group musik lokal. Hal ini menunjukkan bahwa bangsa Papua adalah salah satu bangsa yang memiliki wawasan seni Tarik suara atau seni musika yang gemilang dan khas yang sejajar juga dengan budaya-budaya seni musik yang berperadaban dalam sejarah penguliran bola bumi ini.

Ricky Kegou, sadar tidak sadar, mewarisi bakat penyayi dan pemusik birlian dari ibu kandungnya. Bakat musik yang lahir dari kesadaran kebangsaan, semangat emansipasi kebudayaan, dibalut dalam jiwa pembebasan dan nilai-nilai kemanusiaan universal. Saya kira aspek ini yang penting untuk kita salami guna memahami geliat, passion dan perangai Ricky Kegou sebagai penyayi Rapper yang memiliki jiwa revolusioner di Papua.

Dari Tupac di Amerika ke Ricky Kegou di Meeuwo (Papua)

Tupac adalah salah satu legenda musik Hip-Hop dunia, ia yang menciptakan genre musik yang satu ini. Inspirasi utama yang membangkitkannya untuk memperjuangkan nasip bangsa kala itu di eropa dari jerat apartheid terinspirasi juga dari semangat musik reggae yang diwartakan oleh Bob Marley dan Lucky Dube. Sebagai anak afrika yang lahir dan besar di kota, Tupac sendiri sudah melihat, dan mengalami bagaiaman rasisme struktural itu menjajah bangsanya di eropa.

Ia sendiri mendengar dan mengalami bagaimana bangsa kulit putih itu merendahkan harkat dan martabat bangsanya dengan melebel bangsa kulit hitam di eropa sebagai bangsa turunan budak, pemalas, pemabuk, penegmis, kumuh, kotor, bau, pemalak, pencuri, mafia, ganster, dan lebel-lebel vulgar, ekstrim dan negatif lainnya. Untuk memutuskan mata rangtai rasisme institusional itu, Tupac mendirikan genre musik Hip-Hop ini untuk mengankat harkat dan martabat bangsa itu. Ia menguliti habis-habisan fenomena korupsi, kekerasan, ketidakadilan dan fenomena-fenomena sosial dan politik lainnya yang abnormal, abmoral, dan premature kala itu.

Ia membuat tepat di tempat-tempat yang kala itu dilebel sebagai sarang peyamun, tempat sampah masyarakat, tempat buagan. Tempat para mafia, marker besar para pengacau kota, tempat-tempat kumuh dan pinggiran. Banyak kaum berada merasa rishi dengann lagu-lagu, terutama lirik-lirik rapper yang tajam dan menampar atau seperti tinjungan petir di siang hari. Sementara kaum marjinal yang merasa hak-hak asasinya diperjuangakan oleh Tupac menilainya sebagai penyelamat, ia dipadangan aktikulator dan corong yang mampu menyuarakan suara-suara mereka yang kadang tidak didengarkan oleh orang-orang berada dan berlimpah harta benda itu. Tupac menjadi symbol ekspresi, aspirasi dan petisi kaum marjianl kulit hitam yang mendambakan keadilan, kesetaraan, dan kedamaian di eropa kontinental yang sarat rasisme, fasisme dan militerisme itu.

Walaupun mengalami maju-mundur dan pasang-surut karir dan perjuangannya, Tupac pun mendapatakn respon yang hangat dan positif dari kalangan bangsanya sendiri, terutama kalangan segenerasinya, ia menjadi ikon baru yang banyak menginspirasi generasi muda bangsa kulit hitam tempo itu di eropa. Gaya bicara dan aksen-aksenya yang khas menjadi sebuah tren baru yang banyak diminati dan diikuti anak-anak muda, gaya berpakaiannya yang compang-camping itu menjdi mode busana baru yang banyak merubah sistem mode waktu itu eropa, ada banyak orang-orang muda yang tampil ala-ala anak-anak hip-hop.

Tupac menjadi salah satu penyanyi yang hampir semua kepribadiannya diikuti oleh jutaan orang, mirip dengan Michael Jakson yang banyak diidolakan oleh banyak penghuni jagat bukan saja suaranya, tapi cara jogetnya yang khas, mode berpakain dan mode rambuntnya. Emienem, Wiz Kalifa, Znoop Dogg dan lainnya adalah pengemar-pengemar berat Tupac yang mewarisi beberapa karakter di bidang musik Hip-Hop yang metering dewasa ini.

Jika kita merefleksikan sosok Ricky Kegou dan sepak terjangnya di dunia musik Hip-Hip di Papua, maka sedikit banyaknya kita akan menemukan benang merah yang mencolok seperti apa yang dirintis oleh Tupac di Amerika dan sekitarnya. Ricky Kegou juga selalu jujur, terbuka dan polos, menampilkan apa adanya realitas yang ia hidupi dan jalani. Ia selalu membuat video clip di tempat-tempat yang hemat banyak orang normal tapi kurang sadar realitas penjajahan dilebel sebagai tempat kumuh, ‘terminal’, markas pemabuk, kompleks merah, daerah rawan, dan lebel-lebel vulgar, ekstrim, dan negatif tingkat akut lainnya. Ricky Kegou ini lahir dan besar di kabupaten Nabire, tepatnya di salah satu kompleks yang terkenal ‘texas’, ‘denger’, ‘merah’ dan ‘berbahaya’, yakni Karang Barat atau Jalan Baru, atau croxtwentysix sebagaimana yang biasa dipopulerkan sendiri oleh Ricky, croxtwentysix ini merujuk pada sebutannya pada kompleks tercintanya yang terkenal merah dan berbahyanya itu. Untuk khalayak pembaca yang akrab dengan kota nabire dan sekitarnya pasti tahu menahu tentang sepak terjangnya bahayanya tempat ini.

Dalam beberapa lagunya kita saksikan Ricky secara jujur tampil apa adanya, ia tampil buka baju, menato badannya ala-ala penyanyi hip-hop niga rintisan Tupca di eropa, ia bernanyi di jalan raya, ia bernyanyi dalam keadaan beralkohol atau memegan beberapa botol alkohol (miras), ia duduk dan bernyanyi bersama anak-anak yang medapatkan lebel “Anak Jalanan”, “Anak Aibon”, “Anak Terminal”, dan lainnya. Ia bernyanyi, hendak menunjukkan bahwa masih ada fenomena anomali sosial, masih ada ketidakadilan, masih ada masalah, masih ada tuntutan Papua Merdeka. Ia berusaha mengankat harkat dan martabat anak-anak muda Papua, generasi emas Papua korban sistem kapital dan kolonial yang bermisi memusnahkan manusia dan alam Papua.

Mereka ini sengaja maupun tidak sengaja dibiarkan oleh pihak berwajib, justru pihak-pihak yang semestinya memperbaiki wajah panorama ini memilih diam, membiarkan dan cenderung memelihara. Apa yang dibuat oleh Ricky ini persis juga dengan apa yang waktu itu dibuat Tupac bagi bangsanya, bagi generasinya di Amerika, korban sistem Amerika yang rasismesentris bagi bangsa kulit Hitam.

Kita kalau secara kirtis, analitis dan objektif menerawang beberapa komplelks di Nabire yang terlebel “merah” seperti Karang Barat atau Jalan Baru, Jayanti-Wadio, KPR-Siriwini, Asrama Kodim-Siriwini, dan lainnya itu semua dimayoritasi oleh penduduk-penduduk asli Papua, sementara pemukiman yang dikenal “putih”, aman, nyaman dan damai adalah pemukiman dan atau perumahan yang dimayoritasi oleh warag nonPapua, “amber” (pendatang luar Papua). Di Jayapura ada kompleks Dok 9, ada Dok 5, ada Argapura, ada Waena Perummas III, ada Nafri dan lainnya yang senantiasa menjadi topik-topik utama sebagai kompleks rawan. Tempat-tempat yang dilebelkan sebagai tempat buangan ini selalu ada di hampir semua kota di Papua.

Ricky Kegou adalah inci penyanyi yang mendedikasinkan dirinya untuk mengankat harkat dan martabat generasinya. Ia bernyanyi untuk memperjuangkan nilai-nilai kehidupan, kemanusiaan dan pembebasan. Ia berusaha memutuskan mata rantai lebel stigama ekstrim atas komplek tercintanya, tanah airnya Papua. Ia anak tunggal, ia sendirian, tidak punya saudara kandung, ia bisa saja memilih hidup nyaman, aman dan damai, ia punya segalanya jika ia mau hidup aman. Ricky juga punya suara merdu kelas penyanyi R&B.

Ia bisa saja fokus pada karir rappernya, ia bisa bangun Menara gading, ia bisa tinggal dan makan enak, hidup berkecukupan, ia bisa saja hidup mewah tanpa malas tahu dengan situasi dan kondisi sekitarnya yang hancur, ia bisa saja tampil ganteng, pakai baju mewah ala artis rapper kebanyakan, ia bisa mencari wanita cantik body gitar Spanyol yang senar gitarnya cepat putus, dan membangun rumah tanggah yang harmonis dengan menikahi wanita cantik, ia bisa saja dan sangat bisa sekali jadi anak-anak rapper yang apatis, kakuh dan cacat atas realitas konflk Papua yang berkepanjangan dan tuntuan penentuan nasip sendiri yang berdarah-darah dirindukan oleh bangsa dan tahan Papua. Tapi ia memilih meninggalkan kenyamanan warisan harta yang berlimpah, ia menolak egois dan secara individual mengembangkan dirinya dan keluarganya sendiri seperti kebanyakan rapper cacat di tanah ini yang hanya tahu hasilkan lagu-lagu baper, percintaa eros yang semu, galau, sulit move on tanpa semangat cinta agape yang revolusioner untuk tanah dan manusia terjajah Papua.

Ricky keluar dari poros zona nyaman, ia memilih hidup dan tinggal di dan bersama anak-anak jalanan. Ia yang tidak punya saudara kandung itu menemukan saudara kandungnya di jalanan, terminal, ia menjadikan teman-teman yang mendapat lebel pemabuk, pencuri, pemalas, pemalak, dan lainnya sebagai adik-adik dan kaka-kaka kandungnya sendiri, ia berikan cinta yang tulus, besar dan iklas di jalanan, terminal, ia Uwigou-Megou, pergi pulang pergi, seperti musafir cinta ia hidup bergelana, rupanya di sana ia tidak sendirian, ia temukan banyak harta, harta kehidupan yang berarti, berharga dan bermakna.

Dalam refelsksi saya pribadi ini saya melihat Ricky ini seperti Lukcy Dube dan bahkan Yesus. Lukcy Dube, ia juga ada tunggal, tidak punya sanak saudara. Ia punya talenta suara emas, bahkan mencapai oktaf 9, ia mengalahkan Maria Cerey yang punya suara dengan kisaran 8 oktaf. Dengan bakat suara malaikat ini Lucky Dube bisa hidupa aman dan nyaman tanpa harus takut diburuh oleh otoritas kolonila eropa.

Sebelum memeluk genre musik reggae rastafarian, ia sudah cukup mapan dengan pengahsilannya sebagai penyanyi musik POP, namun semuanya berubah drastik ketika ia menykasikan sendiri fenomena penindasan dan penjajahan di tanah airnya dan atas bangsanya sendiri. Ia beralih dari musik POP ke musik Reggea Rastafarian guna mendemonstrasikan dan mempromosikan pemebebasan dan perdamain bagi bangsa dan tanah airnya, Afrika Selatan.

Lucky Dube menimbah inspirasi dari Bob Marley yang memperjuangkan kemerdekaan bangsa Kamerun dengan, dalam dan melaui musik Reggea, Lucky Dube juga berubah menjadi raja musik Reggea yang paling tersohor dalam sejarah bangsa Afrika Selatan sebagai pejuang kemerdekaan bangsa Afrika yang terkemuka sebanding dengan Nelson Mandela, Desmond Tutu dan lainnya. Nama Lucky Dube menenpati posisi tertatas sebagai incaran para agen CIA, Amerika. Ia dianggap bahaya karane menyebarkan semangat revolusi kepada khlayak ramai di Afrika Selatan. Lucky Dube mengahiri hidupnya sebagai martir raggea yang suskse mempromosikan pembebasan dan perdamaian di Afrika dengan ditandi dengan penghapusan sistem hukum apartheid.

Sebenarnya Ricky Kegou hanyalah salah satu dari beberapa penyanyi-penyanyi asli Papua yang punya hati dan kecintaan penuh mendalam demi penegakkan kebebasan dan perdamaian bagi bumi Papua. Kita juga tidak lupa dengan dedikasi dari Nick Young Many yang tidak pernah absen menelurkan lagu-lagu rapper dengan kritik-kritik tajam atas praktek kolonialisme dan kapitalisme di Merauke (Anim Ha).

Nick Young Many, adalah seorang rapper asli Papua yang berasal dari Merauke Papua Selatan, ia paling rajin mengeritik kebobrokan sistem pemerintanhan dan praktek eksploitasi kelapa sawit di Merauke, ia juga adalah salah satu rapper yang mempersembahkan lagu khusus untuk merespon kasus rasisme yang menimpa saudara-saudari mudannya di Asrama Kamasan Surabaya pada Agustus 2019. Lagu terakhirnya berjudul, Harapan, hendak menguliti para investor asing yang bertmata kerancang hendak mencuri tanah dan lahan Sagu di Merauke demi pembangunan perusahan kelapa sawit, penyebab deforestasi dan ekosida di tanah Anim Ha.

Ada juga nama Daniel Bobii, dan Kristian Pigai. Nama-nama mereka ini tidak lekang termakan waktu. Melalui lagu-lagu yang mereka ciptakan, mereka akan selalu hidup dalam setiap jiwa yang mendengarkan setiap lirik yang mereka sampaikan. Mereka ini artis-artis lokal, mereka tinggal dan hidup di kampung-kampung, daerah pelosok yang terisolir. Namun daya dan jiwa musik dan kata-kata yang meraka ramu, rajut dan rangkai menjadi sukma tersendiri yang mampu melahirkan semangat perjuangan, pergerakan dan perlawanan demi penegakkan dan pegungkapan kebenaran, keadilan dan kebenaran. (*)

)* Penulis adalah Mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Fajar Timur Abepura-Papua.

Sabtu, 01 April 2023

Umpan Api

Dok: Ist/Umpan Api. (Tetodeipode)

Umpan Api

Berawal dengan senyum manis. 

Lupa itu kalau gula. 

Yang selama ini, 

saya kumpulkan. 

Terlalu manis, 

saya

hanya jadi, 

sarang semut. 

Issssss. 

Rasa kesemutan, 

tanpa saya duga. 

Itu, 

ajal menjemputku. 

Pergi rasa! 

Derita tiada henti. 

Kita hanya waktu. 

di ruang sang, 

Guru. 

Abe, 01 April 2023

(Tetodeipode)

Sabtu, 04 Maret 2023

Inilah Dia

 

Dok: Ist/Inilah Dia. (Tetodeipode)

Inilah Dia

Jalan kaki,

Setiap hari.

Sepanjang,

Jalan ini.

Bersama,

Kaki kosong.

Mulai dari,

Kaki gunung.

Cape dulu,

biar capai.

Ketika lelah,

Duduklah!

Berdiri lagi,

mulai jalan.

Demi sampai,

Tujuan hidup.

Bumi Perkemahan, 05 Minggu 2023

(Tetodeipode)

Jumat, 03 Maret 2023

Segenap Hati

Dok: Ist/Segenap Hati. (Tetodeipode)

Segenap Hati

Sekali pergi, 

tanpa kembali. 

Lupa jalan, 

pulang ke situ. 

Sudah ketemu, 

Dia di sini. 

Dia, 

yang dicari. 

Dia ada, 

di situ. 

Lihatlah, 

Dia! 

Dengarlah! 

Dia bicara. 

Pakai, 

bahasa cinta.

Dia ada, 

setiap waktu, 

pada setiap, 

orang. 

Waena, 03 Maret 2023

(Tetodeipode)

Kamis, 02 Maret 2023

Tetodeipode; Tujuh Syair Puisi

Dok: Ist/ Tetodeipode S. Dogomo.(Tujuh Syair Puisi)

I. Media Jubi

Setiap kali hujan turun,

setiap kali menjadi sungai.

Derasnya berita media Jubi,

Menjadi gelombang frekuensi data.


Menatap matahari sampai bulan,

tanpa mengedip kedua mata.

“Hasil menatap ketetapan alam

lagit tidak selalu berbiru.


Tarikan garis horizontal membentuk,

horizon dalam media jubi.

Setiap kali ada berita, “Selalu ada, kata ada.

Rekaman setiap jejak kaki, para pemilik media jubi.

Jasa ingatan setiap insan, Menjadi gerak pasti uapan.

Gubuk Untas, 06 November 2022


II. Satu

Hari ini aku ingat,

Satu dari mereka,

yang kau bunuh.

Bapa Theys. 


Satu demi satu,

kau bunuh mereka.

Kamu ditinggikan,

Walau itu direndahkan.


Di sini ada namamu,

Di sana tak ternama.

Dapat makan malam,

Tidur lupa bangun.


Ilmu orang mati,

Mengajar, bagaimana kita mati.

Tetapi, belajarlah menjadi abu,

Menjadi ilmu alam sejati.

Bukit Theys, 10 November 2022


III. Jadi

Jaga diri baik-baik,

Jangan sampai lupa diri.

Tentang,

Siapakah kamu di depan


Aku.

Di depan mereka,

Kakimu akan terlihat,

Kaki berabu,

Sampai mereka lupa,

Sebut nama kamu Papua.


Peserta ujian akhir,

Wajib belajar dari abu,

Karena abulah sumber,

soal-soal ujian akhir.


Ada rekor ujian akhir,

melihat setiap langkah kaki,

Dari atas tanah ini,

menulis puisi kaki abu.

Organda, 09 November 2022


IV. Cukup Satu

Satu kata jadi kunci, 

Bagai memasuki ruang perpustakaan. 

Tobatlah! 

Saya sudah salah satu.


Jawaban saya ketika ditanya, 

Sumber gala sumber suara. 

Wajah ini mulai memantulkan, 

Malu di isi hati.


Kepala tertunduk menatap debu, 

Air mata pun mulai berlinang, 

Lidah tak mampu berkata, 

Akan sikapku selama ini. 


Inilah diriku 

Entah apa jawabmu, 

Diam di atas jejak kaki

Kembali seorang diri lagi

Gubuk Tewei, 01 Maret 2023


V. Tujuan Akhir

Saya bebas.

Akan sikapku.

Bebas dari,

untuk bebas.


Kamu pun bebas,

Karena bebasku.

Untuk bebas,

dari bebas.


Dari bebas,

Untuk bebas.

Saya bebas,

Dari bebasmu.


Dari bebas,

Untuk bebas,

Saya bebas,

Kamu pun bebas.

Gubuk Tewei, 02 Maret 2023


Vl. Kaki Seribu 

Di akhir bulan November,

berdiri.

Di atas batu karang,

Di pantai pasir putih.

Setelah posko dibongkar.

Gunung juga kau bongkar,

Telaga menjadi minyak sawit.

Kepada pembongkar itu,

Dapatkah kita mengejar,

Dengan berjalan kaki seribu.

Sidey, 29 November 2022


Vll. Minta Maaf

Saudara,

saya mengaku.

Saya salah,

selama ini.

 

Cemas,

derita,

duka,

tangisan.


Dari dulu,

sampai sekarang.

Saya inilah,

Yang melukaimu.


Entahlah,

Ini saya.

Asal saya,

Di sini.

Tewei, 02 Maret 2023


Penutup: Doa Bapa Kami

Bapa kami yang ada di Papua. Bapa, ajarilah aku melihat kehadiran-Mu di dalam diri setiap orang yang hina bagiku. Ketika mereka lapar, ajarilah aku memberi makan, ketika mereka haus, ajarilah aku memberi minum, ketika mereka terasing, ajarilah aku memberi tumpangan; ketika mereka telanjang, ajarilah aku memberi pakaian. Ketika mereka sakit, ajarilah aku melawat; ketika mereka dalam penjara, ajarilah aku mengunjungi; Ketika mereka sedih, ajarilah aku menghibur. Ajarilah pada kami, untuk menyebut Engkau sebagai Bapa Kami, dan ajarilah kami saling sapa sebagai putra dan putri dari Bapa kami di surga. Amin.

(Tetodeipode S. Dogomo)

Selasa, 23 November 2021

Begitulah Sebenarnya, antara ko dan sa *puisi*

 

Dok: Ist/Fb. Antara Ko dan Sa. (Puisi)
Oleh : Unikab Bongkar 

Lelah sudah kita melangkah teman.

Begitulah sebenarnya, di antara hidup dan ketidakpastian

Kau dengar suara itu?
Suara tawa yang dipaksa
Kau pandang wajah itu?
Wajah riang yang tertawan

Suara itu, wajah itu palsu
Teman, itu suara jerit luka
Teman, itu wajah memelas penuh duka

Tak ada bahagia yang tulus dari tawa dan riang mereka
Mereka terpaksa melakukannya teman

Kau tahu kenapa?
Karena dengan begitulah mereka bertahan dari ketidakpastian hidup
Teman, begitulah sebenarnya  aku, kau, dan semua penghuni yang menginjak tanah bumi ini

Suara tawa yang dipaksa
Wajah riang yang tertawan
Hah, bertahanlah karena hidup masih akan panjang
hingga aku, kau, dan semua penghuni yang menginjak tanah bumi ini terselimuti.

* Penulis adalah Mahasiswa Universitas Kaki Abuu UNIKAB Aktivis Hukum dirinya juga pernah sumbang beberapa tulisan puisi di buku Sastra SiDaeng 

Jumat, 20 Agustus 2021

Sa dan Ko *Puisi*

 

Dok: Ist/Mr.Kakiabuu. (Unikab Bongkar)

Oleh : Unikab Bongkar 

Sa dan Ko adalah puisi 

Aku adalah puisi yang bermetafora indah dan berimaji elok, namun tersimpan di binder kusam kepunyaan penyair lemah yang takut menyatakan cintanya selama 5 tahun

Kau adalah puisi yang berdiksi kolot, namun bermakna renyah yang tiap minggunya terbit di majalah sastra bergengsi di negeri ini

Aku adalah puisi yang tertulis di atas kertas lapuk pada tahun 2006. Terlipat rapat sampai tintanya hilang tak terbaca

Kau adalah puisi yang diketik lewat komputer, lalu tercetak oleh tinta printer merk Solvent yang terbaik pada paparan air maupun cahaya ultraviolet di tahun-tahun terbaru

Aku adalah puisi yang hilang dan terbuang tergerus oleh zaman, sebab ganasnya kahayal membabibutakan semua jalan

Dan kau adalah puisi yang kekal dan cendayam melintasi semua generasi yang menggandrungi setiap madah kementerengannya

Aku adalah puisi yang merana. Kau adalah puisi sukacita yang tak akan bersatu dalam sebuah kisah fana

* Mahasiswa Universitas Kaki Abuu UNIKAB Aktivis Hukum dirinya juga salah satu penyumbang beberapa puisi di Buku Sastra SiDaeng 

Minggu, 29 November 2020

Pace Bongkar: Menulis sebagai Laku Berpikir Mulia

 

Dok: Ist/ Ciri tulisan menarik menurut Unikab. (Pace Bongkar)

Oleh : Mr.Kakiabuu

Sebagai seorang penulis, satu hal yang mesti kita pertegas: bahwa menulis itu adalah juga laku berpikir. Orang tidak bisa menulis tanpa melibatkan pikiran. Dalam arti, memikirkan pembacanya, bukan hanya kepentingan diri si penulis sendiri.

Melibatkan pikiran berarti merefleksikan kegelisahan-kegelisahan. Refleksi darinya itulah yang kemudian tertuang dalam bentuk narasi tulisan. Jadi, tanpa laku berpikir, mustahil kerja-kerja berkarya itu bisa terwujud.

Selain melibatkan pikiran dalam kerja berkarya ini, sebagai pendorong terefleksikannya kegelisahan menjadi gagasan, beberapa hal lain juga patut kita tegaskan di sini. Salah satu yang juga begitu penting adalah “how to write”.

Banyak orang berpikir bahwa menulis hanya tentang menuangkan ide/gagasan di secarik kertas. Ini kiranya terlalu menyerderhanakan. Sebab ibarat sebuah sistem, ada sejumlah kaidah yang tidak boleh kita langkahi. Ya, sejengkal pun!

Umumnya, bagian suatu tulisan ini terdiri dari tiga unsur, yakni pembuka, isi, dan penutup. Ini merujuk pendapat Ayu Utami, novelis kenamaan asal Indonesia, yang ia sebut sebagai struktur narasi.

Meski tampak begitu sederhana, tetapi membangunnya dalam satu kesatuan yang sinergis adalah kerja yang tak semudah membalik telapak tangan.

“Menulis itu seperti bercinta. Itu sebab tiap struktur narasi yang ada harus bermakna: harus meninggalkan kesan, momen-momen yang nantinya akan orang kenang.”

Bisalah pendapat di atas kita artikan bahwa jika hal-hal tersebut tidak terpenuhi dalam struktur narasi, bisa kita pastikan bahwa refleksi gagasan yang kita tuangkan dalam bentuk tulisan belum layak kita katakan sebagai sebuah tulisan. Artinya, proses bercinta itu telah gagal. Sia-sia sebab tanpa jejak yang ia tinggalkan.

Tapi, kalaupun ketiga unsur tersebut terpenuhi, maka hal selanjutnya yang patut kita cermati adalah apakah tiap-tiap struktur narasi yang kita bangun itu berkualitas atau tidak.

“Sering ada tulisan yang punya alur atau struktur yang lengkap. Tapi apakah ia punya mutu, berkualitas? Ini yang selanjutnya harus kita cermati. Kita boleh beropini, tapi mutunya harus kuat.”

Untuk itu, beberapa kesalahan yang lumrah kita dapati di sebuah tulisan harus mendapat pencermatan sedetail mungkin, seperti aspek tema, isi dan fokus gagasan, serta argumen dan data-data pendukungnya. Kesemuanya ini, menurut Ayu Utami, mesti saling menguatkan satu sama lain.

Aspek Lain

Hal lain yang juga sering jadi kesalahan dalam menulis adalah pengulangan kata-kata sifat dalam kalimat. Meski tak terlalu menekankan ini, sebab yang terpenting dari semua itu adalah tampilnya kematangan ide di tiap paragrafnya, ia cukup memengaruhi ketika terpublikasikan dan dibaca secara luas–aspek estetika yang memungkinkannya.

Terakhir, dan ini yang sering kurang mendapat perhatian, adalah soal kesalahan eja/tata bahasa.

“Tulisan yang masih banyak kesalahan eja dan tata bahasanya itu tak jauh beda dengan orang yang belum sikat gigi. Banyak jigongnya.”

Karena itu, sebelum memublikasikan atau mengirimkannya ke media massa, misalnya, sedapat mungkin kesalahan-kesalahan kecil seperti itu kita minimalkan.

“Jangan sekali-sekali menyuruh editor memperbaiki tulisan Anda. Jadilah editor untuk diri sendiri. Baca dan edit kembali tulisan sebelum kamu kirimkan.”

Hemat kata, sikat gigilah sebelum bertemu editor. Dan terpenting dan paling utama, berpikirlah; sebab menulis adalah juga laku berpikir.

Ciri Tulisan Menarik menurut si Bongkar 

Banyak orang yang suka menulis, tetapi sedikit di antaranya yang mampu mengaplikasikan ciri tulisan menarik ke dalam naskahnya. Mereka hanya tahu menuangkan ide tanpa memikirkan akan seperti apa nasib gagasannya kelak.

Jika kamu seorang figur publik, pemengaruh (influencer) di media sosial dengan ribuan atau jutaan pengikut, tentu kamu tidak usah repot memikirkan nasib gagasan itu. Tetapi kalau kamu berada di posisi sebaliknya, kamu wajib menerapkan pedoman sederhana dari si Meong berikut ini.

Menentukan topik

Masing-masing tulisan punya topik. Kita tidak usah berdebat tentang apa yang menarik atau layak jadi konsumsi publik. Semuanya tergantung kecenderungan penulis. Terserah.

Jika kamu punya kecenderungan menulis isu politik, tidak semua hal yang menyangkut dunia penuh kelicikan itu harus kamu masukkan ke dalam satu tulisan utuh. Fokus ke satu isu saja, misalnya tentang kandidat presiden terkuat di Pemilu 2024.

Dalam tulisan itu, kamu hanya perlu menjelaskan siapa orangnya, berikut kelebihan dan kekurangannya (bandingkan dengan presiden sebelumnya). Beri alasan kuat mengapa orang itu layak memimpin negara ini setelah Jokowi.

Jangan biarkan isu tulisanmu meluber ke mana-mana. Untuk kepentingan sosok, konteksnya harus tetap dalam koridor politik. Kelebihan dan kekurangannya pun demikian; sebagai politisi atau pejabat publik, dia bisa apa?

Ingat, fokus ke satu topik. Pendek saja (minimal 300 kata), yang penting memuat satu pendapat utama. Oke?

Pengemasan yang menarik

Bagian ini mencakup pembuatan judul, pembuka, isi, dan penutup tulisan. Beda dengan topik, semua unsurnya harus menarik!

Menarik memang relatif, tetapi tetap ada pedoman khusus untuk mendekatinya. Kalau kamu pembaca Pram, kamu pasti bisa menilai bahwa tulisan yang menarik adalah ia yang memiliki tokoh cerita (tentang orang ketiga). Tidak sekadar curhat.

Jenis tulisan menarik lainnya adalah melibatkan pembaca, entah dalam pengalaman konkret maupun argumen. Jika tulisan kamu tidak punya tokoh cerita, kami harus menjadikan pembacamu layaknya teman dialog. Cukup pikirkan minat dan level informasinya, “selesai barang-barang,” kata orang Melayu.

Terkait judul, kamu perlu membayangkannya seperti sosok penggoda. Makin merangsang, makin aduhai.

Pembuka tulisan pun demikian. Kamu bisa memulainya dengan kisah tokoh inspiratif, pendapat atau pertanyaan yang kuat, teka-teki atau sesuatu yang membangkitkan rasa ingin tahu, maupun dengan suasana yang menyentuh. Contohnya bisa kamu lihat di pembuka tulisan ini, yang membiarkanmu penasaran hingga membaca sejauh ini. Hehe

Untuk isi, ini menjadi bagian paling panjang dari struktur narasi (80 persen). Fungsinya adalah mengembangkan hingga menamatkan masalah.

Beragam kemampuan menulis akan diuji di isi, seperti menjaga kefokusan pada isu atau topik utama, menggunakan ilustrasi konkret, selektif memilah kosakata, meredam kebosanan dengan suguhan lawakan (humor), serta kekayaan logika dan keluasan pengetahuan. Kalau tidak sanggup, jangan pernah bermimpi menjadi seorang penulis hebat.

Soal penutup, model dasarnya bisa berbentuk afirmasi (penegasan), negasi (penyangkalan), menyatakan kompleksitas (menyisakan tanya), atau solusi (memberi jawaban). Coba tebak, kira-kira penutup seperti apa yang akan si Meong gunakan nanti?

Bonus: Ilustrasi pengemasan pembuka, isi, dan penutup bisa kamu bayangkan dari praktik bercinta, lho! Ada “foreplay” atau pemanasan global eh, awal ding; masuk ke tahap ngeng yang bergejolak-gejolak itu; hingga akhirnya mencapai klimaks yang meninggalkan kesan. Selamat mencoba.

Keterbacaan

Kita tidak bisa memungkiri, tulisan yang baik hari ini juga ternilai dari seberapa banyak pembacanya. Lain hal kalau kamu memang sekadar pembuat diari, bukan penulis. Alasan inilah yang mendorong kenapa aspek keterbacaan sangat penting kamu aplikasikan.

Bagian terakhir ini cukup teknis, tetapi menjadi yang paling utama dari ciri tulisan menarik untuk konteks dalam jaringan. Mengaplikasikannya dengan baik berarti kamu menyadari diri sebagai penulis tanpa modal relasi yang luas. Ya, seperti si Meong juga.

Hal pertama yang harus kamu catat adalah pengaturan kata/frasa kunci. Selain harus tersebar di beberapa bagian dalam tulisan (minimal 2 kata/frasa kunci untuk 300 kata), ia juga WAJIB tertera di judul, pun HARUS termuat di paragraf awal (berada di 150 karakter pertama). Tanpa penggunaan kata/frasa kunci yang tepat, tulisan kamu akan kewalahan bersaing di mesin-mesin penjelajah seperti Bing, Google, Yandex, atau Yahoo.

Menggunakan ilustrasi berupa gambar juga tidak sepele. Ilustrasi harus benar-benar menggambarkan ide/gagasan tulisan. Tidak boleh asal-asalan, apalagi cuma memakai foto diri mau menulis atau pamer wajah?

Selanjutnya adalah panjang kalimat. Biasakan menggunakan induk kalimat saja. Contoh: “Saya mau menulis. Topiknya tentang ciri tulisan menarik. Hal ini penting untuk pengembangan tradisi literasi di Indonesia.” Jangan menarasikannya seperti ini: “Saya mau menulis tentang ciri tulisan menarik untuk pengembangan tradisi literasi di Indonesia.” Penulis yang buruk adalah membuat pembacanya ngos-ngosan.

Hal berikutnya adalah paragraf. Seperti pada kasus kalimat, jangan biarkan pembaca kamu lelah di hadapan paragraf yang tidak jelas kapan selesainya. Umumnya pembaca mengakses tulisan dari ponsel cerdas. Membuat paragraf lebih dari 4 baris di MS Word akan membikin pembacamu letih dan lesu.

Penggunaan kalimat pasif juga harus jadi perhatian. Kalau semuanya bisa memakai yang aktif, itu malah lebih bagus. Hal ini juga akan sangat membantu jika kamu masih kesulitan dalam menentukan “di” sebagai kata depan atau imbuhan.

Contoh: “Ciri Tulisan Menarik menurut si Meong ini dimuat di Nalar Politik.” Cara mengaktifkannya cukup simpel. Tidak perlu berabeh membalik strukturnya segala layaknya “passive voice” di English Grammar. Kamu hanya perlu mengganti kata “dimuat” menjadi “termuat”. Sesederhana itu, guys.

Terakhir adalah pengulangan kata/frasa. Penyebab umumnya datang dari kemalasan membaca. Kekurangan nutrisi bacaan berpengaruh pada minimnya kosakata.

Contoh: “Saya sangat suka menulis. Saya sangat suka menulis tentang apa saja di Nalar Politik. Nalar Politik memberikan saya kebebasan penuh dalam menulis tentang apa saja.” Bisakah kamu memperbaikinya dengan kalimat yang lebih elegan. (*)

* Mahasiswa Universitas Kaki Abuu UNIKAB Aktivis Hukum dirinya juga Wartawan, Pernah menyumbang beberapa puisi di Buku Sastra SiDaeng 


Jumat, 07 Februari 2020

Tentang si Mr.Kakiabuu dari Kabut Mapians

Dok: Ist/Tentang si Mr.Kakiabuu dari Kabut Mapians. (Unikab)

Aku antarkan sajak sajak rinduku sebelum peluh kering di tubuh

Walau tak selembut buluh perindu aku titipkan pada sang bayu sebelum tak sudi berembus

Rinduku yang menggelayut di ujung dedaunan kalbu tak pernah pupus

Berlalu bahkan kian melagu melantunkan simponi merdu yang mendayu dayu

Walau sajak rinduku hanya ibarat 
Embusan sang bayu di musim salju
Namun bulir bulir rinduku ibarat secawan arak penyejuk bunga harapan di taman hatiku jadi tak pernah layu
Walau sajak rinduku hanya ibarat luapan kisah klasik ilusi merindu bayangan semu

Namun kisah kasih yang dianggap semu ini telah menuntun aku menemukan 
Kembali dendang kalbu yang pernah aku gandrungi dulu 
Merindu dikeriuh deburan kalbu seperti jejak di tepian pantai yang kerap tersapu ombak cemburu Kadang membuat aku seperti pengemis dungu 
Namun tak pernah aku meragu karena aku hanya pemeran yang telah diatur sutradara
 
Yang maha tahu dan cemburu pun pupus seketika itu Dan kali ini sebelum cakrawala senja memerah saga
Aku titipkan sebaris kerinduan dan kesetiaan pada mu 
Yang ada di Tatap Mata hatiku

Aku Menulis pada Sebuah Bait

Secarik kertas dan tinta hitam
Berlenggak-lenggok di kanvas putih
Ada nama tersirat rahasia
Yang selalu menjadi topik utama

Berbisik aku kepada langit
Terbuai sendu dalam hening
Menatap lurus pada harapan kosong
Berharap banyak untuk terisi

Sunyi, sepi aku sendiri
Nyanyian riang jam di dinding
Seolah menyapa dengan hangat
Hatimu sakit, jiwamu tenang

Lantas apa yang semestinya mampu?
Aku hanya mengetahui satu hal
Yang akan kita lukis
Hanya luka

Jiwa Hampa

Hari sudah mendung tanpa jiwa
Engkau laksana intan bersisik dalam telaga
Aku hidup dengan hembusan nafasmu
Seperti udara yang tersimpan di dalam kalbu

Hari sudah mendung tanpa jiwa
Engkau laksana intan bersisik dalam telaga
Aku menghias rupamu dengan denyut nadiku
Ingin membelaimu sukmamu sampai di penghujung hariku

Imaji

Menyulam titian hati memberai hari
Tegak menentang siang hingga hilang dalam pandang
Menatap kuat gurah merah di ufuk barat
Sepoi hembus angin selaksa kibas kipas-kipas asmara

Lena dan menggila
Menghambur dalam secawan anggur
Lena dan menggila
Rengek hasrat meronta bak bayi rindukan belahan jiwa
Di teras berkawan sepi
Secangkir kopi tersaji temani tarian jemari
Menekur diri menatap rona-rona matahari yang luluh dalam peraduan
Sebatang pena menggurat imaji senja

Sepasang Senja di Bola Mata

Kureguk segala gundah dalam hati
Tak kubiarkan gelas-gelas jingga memecahkannya
Pada pendaran petang yang sekian detik akan retak
Sore merengkuh dalam pangkuan gulana
Sesaat sebelum bintang malam datang mengeluh

Pada sayap hitam yang menggulita
Januari berujung seperkian hari lagi
Kisah pun tak henti menutup pada cerita tulisan ini
Yang sendu selalu mengantungi riasan paras kertas
Jejak-jejak pun menjadi pengisi halaman sunyi

Dalam vulome riakan aksara-aksara kecewa
Kutabur kata-kata di penghujung bisu senja
Secarik kalimat menghantarkan kudapan pandangan
Pada lembar pias bola mata berkeringat sedu sedan
Kulayangkan sehelai daun petang mengakhiri pintu kenang

Jarum Jam

Jarum jam masih berdenting
Aku terdiam tak sanggup bergeming
Berdiri ataukah kembali terbaring
Bagaikan kayu yang sudah kering

Jarum jam masih berdenting
Aku masih terdiam berbaring
Meratapi nasib yang demikian menggiring
Menggiringku ke pusatnya, hingga kepala ini pusing

Jarum jam masih berdenting
Aku memberanikan diri untuk berontak
Aku tak mau lagi terdiam berbaring
Karena aku makhluk yang berotak


)* Mahasiswa Universitas Kaki Abuu UNIKAB Aktivis Hukum, dirinya juga pernah sumbang beberapa tulisan puisi di buku Sastra SiDaeng.

Sabtu, 23 November 2019

Lelaki Mr.Kakiabuu, Anak Kampung yang Terluka


Dok :Ist/Lelaki Mr.Kakiabuu, Anak Kampung yang Terluka. (Zainuddin Degei)

Di tengah keremangan kota Nabire ( kota seribu kenangan) Papua Tengah (Gerbang Nun Biru), suara kendaraan kian senyap. Para buruh terlelap tidur melepas lelah.

Jarum jam telah menunjukkan pukul 01.14 WIT. Di depan teras rumah kayu, Hendrik masih tetap terjaga menikmati rembulan yang kadang cahayanya ditutupi awan. Duduk bersila di atas kursi, sambil mengisap batang rokok. Pikirannya entah ke mana, terbang bersama asap rokok yang menyatu dengan udara malam.

Tak sedikit tanda-tanda kantuk di rona wajahnya. Ia masih sibuk berjibaku dengan dunia khayalnya, kemungkinan tengah tenggelam pada peristiwa traumatik yang pernah ia lalui. Ingatan masa kecil, harapan yang belum tuntas, atau tentang hubungannya bersama dengan Hayati, seorang perempuan yang ia pacari 2 tahun lalu? 

Entah apa gerangan yang mengeruhkan ketenangan hatinya?

Sudah 2 tahun ia habiskan malam duduk di tempat yang sama. Seberat itukah pikirannya hingga azan Subuh menjadi alarm untuk merebahkan kepala dan mengistirahatkan pikiran?

Sepulangnya di tanah Jawa menimba ilmu agar nasib tak celaka. Peringai bersahaja dan paras ceria hilang entah di mana rimbanya. Buku-buku yang ia bawa dari Pontianak dibiarkan saja tergeletak di atas lemari. Terkadang hanya dibuka lembar demi lembar. Itu pun buku yang ia sangat sukai, Catatan Seorang Sastrawan Papua yang ditulis oleh Sesilius Kegou, buku Jejak Darah.

Berkali-kali ia harus menelan ludah, menerima nasib bahwa tanah ia pijak, tempat menyatu tulang-belulang leluhur, tak seramah di masa kecil ia dulu. Nyanyian alam dari pepohonan telah lenyap diganti deru mesin alat berat. Gunung Gedokotu dikeruk, sumur bor minyak berseliweran di pinggiran kota Nabire, air sungai keruh, sedang sampah yang menumpuk ikut meruyak menjadi pemandangan yang menjenuhkan.

Tak satu pun orang peduli atas tanah moyang mereka yang dijarah. Suara berlawan tak berkecut. Ia berlindung di dalam relung hati. Mesti ditutup rapat getirnya, tangis harus dipendam, suara harus dibungkam. Bukan karena kokang senjata, melainkan perut tetap harus diisi sesuap nasi.

Satu jabatan dalam perusahaan mesti diisi waupun menjadi kuli. Terlebih jika baju berwarna orange dengan lambang KPC, status sosial akan lebih tinggi.

Tetapi dengan cara apa Hendrik melawan? Orang-orang hanya akan menertawakan seorang demonstran tak bertaring lagi seperti dirinya. Seperti beberapa hari yang lalu, ia malah dapat respons yang tidak baik dari seorang pamannya sendiri perihal keresahannya.

Namun ia belum patah semangat soal ini. Sebab Hendrik sadar, tanpa organisasi massa, perubahan adalah mimpi. Ia akan benar-benar fokus jikalau studinya tak usai.

Malam kian larut, ingatannya terhadap Hayati belum entahlah. Hayati belum membalas pesan yang ia kirim. Tetapi ia tetap menunggu. Sudah berkali-kali ia berpikir agar memutuskan hubungannya dengan Hayati, tetapi Hendrik tetap kalah dengan perasaannya sendiri.

Ia benar-benar mencintai Hayati itu. Baginya, ketulusan kepada perempuan adalah hal dasar untuk tulus mencintai manusia dan alam. Akan sangat rendah jikalau karena perasaan semu kepada perempuan lain kemudian ia berkhianat pada janji setia yang pernah ia utarakan kepada Hayati.

Apa istimewanya Hayati bagi Hendrik? Ia hanya perempuan biasa, bahkan pernah selingkuh setelah menjalin hubungan sebulan dengan Hendrik di pertemuan pertama mereka setelah jadian.

Bila dipikir, pengorbanan Hendrik dalam memperjuangkan cintanya cukup besar. Bahkan ia rela menyisihkan kiriman dari orang tuanya untuk Ongkos ke Sekolah, tempat Hayati kesekolah di Jayapura. Lapar dan tidak merokok satu hari masih dapat ditanggulangi, tetapi rindu sulit diobati. “Hanya pertemuanlah obatnya,” kata Henrik.

Cinta benar-benar membuatnya sudah buta. Hingga nyaris melumatkan mimpi-mimpinya. Balasan atas itu hanyalah pengkhianatan, kebohongan yang benar-benar terencana dari Hayati.

Apakah ia akan membenci? Apakah ia mendendam? Tampaknya cinta telah menutupi sisi negatif dari dirinya. Bahkan egonya pun kalah.

Sungguh benar-benar malang nasib para pencinta. Walaupun ia tahu akan terluka, tetapi tetap bertahan padanya untuk harap.

Namun sampai kapan kamu akan bertahan, Hendrik? Kamu adalah manusia biasa, juga punya rasa kecewa, terlebih godaan perempuan lain akan membenamkan cintamu pada Hayati.

Anak bodoh ini tetap akan bertahan. Tetapi dengan apa kamu akan bertahan? Kepercayaan yang kamu bangun telah hancur setelah perselingkuhannya dengan seorang Pak Guru.

Kamu berharap setia? Ia tidak akan setia. Buktinya, ia telah selingkuh. Dan mungkin saja yang membuat sikapnya berubah karena ia mencintai orang lain? Atau mungkin Hayati belum mampu move on dari mantannya? Lantas apa dasarmu bertahan, Hendrik bodoh?

Di percakanpan yang lalu melalui layanan video call dengan Hayati, Hendrik pernah menyampaikan kepada Hanyati bahwa alasan perselingkuhan Hanyati bukan karena salah Hayati, melainkan karena Hendrik yang tidak mampu membuat Hayati sayang kepada Hendrik.

Azan Subuh mulai berkumandang. Awan masih tetap tenang di atas langit. Cahaya rembulan masih tetap sama. Balasan pesan dari Hayati akhirnya tiba, setelah ditunggu berjam-jam. Dia hanya menjawab “ya” dengan mengirim foto bersama dengan seorang lelaki telanjang dada.

Luapan emosi dan rindu bercampur menjadi getir pahit. Sungguh masihkah aku bisa bertahan, menahan sakit? Ia tengah dinikmati laki-laki lain. Sebegitu kejamnyakah ia sampai harus mengirim gambar demikian.

Bodohlah aku jikalau tetap bertahan. Tetapi dengan apa aku pertanggungjawabkan kata-kataku bahwa aku akan setia? Sungguh pergolakan batin yang cukup dramatis.

Oh, sungguh, Hayati hanyalah bagian kecil dari pergolakan hidupku. Tetapi sulit pun kuenyahkan ia.

Eh, air mata mengapa kamu menetes? Mengapa kamu jatuh? Ia tak perlu disedihkan. Hayati tak pantas untuk itu. Kumohon berhentilah, air mata.

Ah, hati mengapa kamu terasa diiris? Cukup! Berhenti! Tidakkah kau lelah setelah berbulan-bulan diiris belati tajam, kemudian terasa disiram air cuka?

Kumohon. Mana engkau hasil bacaanku, yang kalian katakan kirim tak mampu menolongku, aku benar-benar celaka malam ini.

Aku harus bercerita ke mana? Kepada ibuku? Kepada temanku? Itu tak akan tuntas.

Hari-hari berlalu seperti biasa. Semangatku belum pulih. Beberapa kali kucoba untuk membaca buku tetapi sulit. Nafsu bacaku telah hilang, hingga tak terasa liburanku akan usai.

Tinggal beberapa hari lagi aku akan meninggalkan kampungku tercinta. Layanan pesan kubuka seperlunya saja untuk berkabar kepada teman, perihal info kampus.

Ya, hidupku ada di dalam dunia kampus. Bersama para buruh dan tani di dalam baris massa yang rapi, itulah duniaku, dunia seorang demonstran. (*)

)* Penulis salah satu mahasiswa di Universitas Kaki Abuu UNIKAB Aktivis Kemanusiaan yang kini jenjang pendidikan Ilmu Hukum di University Nusa Putra