*Siorus Ewanaibi Degei
“Jika ku-dapat bernyanyi maka pasti akan ku-ramu lirik lagu indah nan merdu untukmu, jika ku-dapat melukis, pasti akan ku-poles cat berwarna perjuangan, ku-lukis wajahmu, jika ku-dapat mengukir, pasti akan ku-ukir senyumanmu yang khas. Aku hanya bisa menulis, ijinkan ku-rawat sedikit ingatan tentangmu tuk bangsa ini, sobat seperjuangan.”
Pagi, Jumat 16 Juni 20223 bak disambar petir di siang bolong publik di Meepago terpukul dengan beita duka yang datang mengatakan bahwa salah satu panyanyi rapper terbaik milik Suku Mee, West Papua dipanggil pulang oleh Sang Empunya Kehidupan. Berita tentang meninggalnya sempat viral dan menjadi trending topic di wilayah Meepago yang kini sudah dimekarkan menjadi Provinsi Papua Tengah, terutama di wilayah Nabire yang menjadi tempat tumbuh kembangnya Ricky Kegou, Sang Pemilik Suara Kemanusiaan dengan Jiwa Revolusioner yang khas serta mengebu-gebu.
Kita baru saja kehilangan salah satu penyanyi rapper dengan jiwa kemanusiaan yang kuat, Ricky Kegou, Croxtwentysix, Turik, Rikex Flow, Uwigou Megou, Rikex. Kehilangan para pejuang dengan jiwa seni yang mengebu-ngebu itu sangat berat, ketimbang pejuang dengan tidak terselibnya DNA seni bagi suatu bangsa yang masih berziarah di lembah penindasan, penderitaan dan penjajahan seperti di Papua.
Para seniman, musisi dengan jiwa revolusioner yang kuat itu lebih mahal nilainya ketimbang pejuang revolusi di Medan Perang, Panglima Gerilya yang agung. Pejuang dengan tipikal musisi ini sanggup membunuh jiwa kolonial, sanggup menghidupkan, membangkitkan bara api perjuangan dalam kedalaman jiwa rakyat tertindas.
Ricky Kegou adalah sedikit dari penyanyi dengan suara pemantik bara api revolusi yang gigih di atas tanah yang empuk menjadi konsumsi taring kapitalisme dan kolonialisme global.
Konteks Pengantar
Untuk sedikit membuka wawasan kita untuk memhami iktihsar perjuangan Ricky Kegou yang khas dengan suara emasnya dan mix liriknya memadukan Bahasa daerah (Mee), aksen Papua, Bahasa Indonesia dan Inggris itu. Dalam setiap perjuangan, pergerakan dan perlawanan bangsa-bangsa diaspora dalam menuntut penentuan nasip sendiri, sosok pejuang dengan jiwa seni menjadi pribadi-pribadi yang paling digentari setiap rezim penghisap (totaliter).
Nama seperti Lucky Dube dan Bob Marley menjadi ikonik musik Reggea di dunia, terutama di Afrika Selatan dan wilayah-wilayah jajahan, layaknya pulau Papua ini. Melalui lagu-lagu, kedua legenda musik reggae ini berhasil membangkitkan semangat emansipasi dan revolusi militan dalam sanubari rakyat pekerja dan pejuang hingga menuai kemerdekaan sejati dari perbudakan dan penjajahan. Lebih kebelakang Tembok Yeriko berhasil ditaklukkan hanya melaui madah pujian bangsa Israel dengan tiupan Nafiri yang menggetarkan.
Sebelumnya juga Bangsa Israel berhasil keluar dari perbudakan Mesir dengan terbelanya Laut Merah, selama berjalan madah puji-pujian digaungkan oleh bangsa Israel sebagai pembunuh rasa takut dan ungkapan syukur kepada Wahye Pembebas, (Kel. 15:1-21). Teks ini oleh para teolog pembebasan di Amerika Latin dijadikan sebagai referensi biblisnya (Perjanjian Lama, PL) dalam merancang bagun teologinya.
Ada kidung Maria ketika ia (rahimnya) terpilih dari antara para wanita untuk menerima kabar gembira dari Allah melalui Malaikat Gabriel sebagai Ibu kandung Yesus Kristus, Sang Pembebas dan Penyelamat Sejati. Teks kidung Maria ini juga mejadi inspirasi blibis (Perjanjian Baru, PB) lahirnya teologi Pembebas di Amerika Latin, sebab di dalamnya diperlihatakan bahwa Allah senantiasa berpihak pada yang lemah (option for the poor) sebagai alat-Nya untuk membebaskan dan menyelamatkan dunia, (Luk. 1:46-56). Ada juga Nyanyian Zakharia yang mengungkapkan rasa syukurnya atas keberpihakan Allah padanya dengan mengaruniakan Yohanes Pembaptis yang kelak akan tampil sebagai Nabi Besar setelah Yesus Kristus dalam jemaat Perjanjian Baru, (Luk. 1: 67-80).
Dalam perjuangan panjangnya juga, apa yang diperjuangkan oleh para raja-raja lokal di India dalam mengusir penjajah Inggris senantiasa dinyanyikan oleh beberapa penyanyi lokal India. Hemat penjajah Inggris para penyanyi yang senantiasa membangkitkan semangat perlawanan, perjuangan dan pergerakan di tingkatan rakyat kecil ini lebih berbahaya ketimbang para raja dan panglima perang yang memimpin perang gerilya dengan mereka.
Mohandas Mahatma Gandhi dan Nehru juga senantiasa didukung oleh beberapa penyanyi lokal yang memyampaikan kerinduan terdalam bangsa dan tanah India untuk merdeka. Dalam perjuangan Afrika Selatan juga ada nama-nama seperti Bob Marley dan Lucky Dube yang senantiasa mengaungkan semangat pembebasan dan perdamaian melalui musik reggae. Di Indonesia sendiri ada nama W.R. Supraman, pencipta lagu kebangsaan yang senantiasa membakar semangat perjuangan para pahlawan bangsa Indoneisa kalah itu untuk tetap gigih memperjuangan kemerdekaan dan mengusir penjajah kolonial Jepan dan Belanda.
Ada juga nama Iwan Fals, Ebiet G. Ade yang melaui lagu-lagunya meyalangkan kritik pedas, halus dan cerdas kepada rezim otoriter dan totaliter Soeharto. Mereka juga banyak menginspirasi aktivis-aktivis ‘98’ yang berhasil melengserkan rezim Soeharto. Ada juga nama Ignatius Sayekoji yang memperkenalkan musik Hip-Hop kepada masyarakat Indonesia sepulang kuliahnya di Amerika. Ada juga nama Mbak Surim yang mempopulerkan musik reggae versi dangdut di Indonesia, kini estafet itu diemban oleh Ras Muhamad. Untuk di Papua sendiri api revolusi itu mulai nampak didemonstrasikan dan dipromisikan oleh gruoup Vokal Musiak Etnik yang dirintis oleh Mambesak.
Setelah Mambesak muncul juga group-group musik lokal lintas wiayah-wilayah adat, misalnya muncul nama Ambi Nabire untuk wilayah Saireri, muncul Totaa Manaa, Tune Manaa dan lainnya di Meepago, muncul Nayak Group di Lapago, dan vokal group musik etnik lokal sejenis lainnya di wilayah-wilayah pelosok Papua yang memperjuangkan nasibnya melalui musik. Di Group Mambesak sendiri hampir semua wilayah ada representasi atau delegasinya, sehingga tidak salah jika vokal musik ini sanggup menghasilkan lagu-lagu penuh nilai dan makna hidup dalam Bahasa Ibu semua daerah Papua saat itu, walaupun tidak semua namun ada perwakilan dari wilayah Pantai sampai pegunungan, sehingga musik-musik rintisan Mambesak ini sanggup mempersatukan bangsa Papua dari gunung sampai Pantai, Katolik-Protestan-Islam, laki-laki-perempuan, tua-muda, kaya-miskin dan kolom distingsi multilitas lainnya di Papua kala itu.
Ada juga Black Brohters, Black Papas, dan Black Swett untuk genre musik POP di tahun 80-an, 90-an dan awal 2000-an di Papua yang populer mengangkat identitas manusia dan tanah Papua ke tempat yang sejajar dengan bangsa-bangsa bebas merdeka di belahan dunia lainnya. Black Brohters dan adik-adik group musik POPnya juga mengemban tugas dan panggilan yang satu dan sama seperti apa yang sudah dirintis oleh pendahulunya Mambesak. Group-group musik POP ini menjadi idola sepanjang masa dalam benak terdalam bangsa Papua, di samping ada Club Sepakbola Persipura, Sang Mutiara Hitam dari Ufuk Timur.
Musik Hip-Hop sendiri belum begitu tua eksis berdomisili di Papua. Musik dengan genre ini baru mulai tenar di Papua kurang lebih pada penghujung 2000-an. Untuk wilayah Meepago sendiri, musik ini mulai diminiati kalangan muda tepat pada awal tahun 2000-belasan, ada sekitar periode 2012, 2012 ke atas ketika Rilex Clan mulai tenar di sana dengan lagu bertajuk, Sepi Hati-nya. Anggkatan Ricky Kegou, yang dikenal dengan Rikex, Croxtwnetysix itu mulai muncul di tahun-tahun itu. Saat itu memang pengaruh globalisasi, modernisasi dan digitalisasi membuat genre musik Reggea Hip-hop itu mulai mendapatkan respek dan apresiasi penuh dari generasi milenial di Papua.
Terjadi transisi dari kecintaan ke musik POP (BB, BP, BS, Trio Ambisi, Pace Pondang, Meriam Ambelina, Ebit G. Ade dll) ke genre musik Reggea, musik itu tenar (viral) ketika album-album dari Lucky Dube dan Bob Marley merangsek ke melalui wilayah Pasifik Melanesia (PNG, Salomon, Fiji, dan lainnya), musik reggae tidak diperkenalkan oleh bangsa Indonesia, tapi oleh bangsa Melanesia sendiri, begitu juga dengan musik Hip-hop. Musik hip-hop mulai tenar ketika Club Musik Reggea Hip-hop masuk ke Papua, semisal, Henry Kukus, Sugas, Basil Greg, Onetox, Texas, Ohsen, Dezine, dan lainnya.
Wilayah Pasifik Melanesia sendiri mendapat implus pengaruh dari wilayah Afrika Caribbean, dalam hal ini memang jika mesti jujur mengatakan bahwa musik reggae ciptaan Bob Marley dan Lucky Dube cepat merasuki kedalaman jiwa-jiwa di belahan bumi dunia ketiga atau the development contrys (Afrika, Carebean, Amerika Latin, Kepualaun Pasifik Melanesia, termasuk Papua).
Mungkin jika kita lihat dari mata perfectsionisme kedua penyanyi itu sangat berantakan dalam perawakan dan perangai hidup, mereka terkesan seperti penyanyi jalan yang tidak bermoral, beretika, apalagi keduanya dan pengikut-pengikut setelahnya seperti para pemusik dan penyanyi R&B, POP, Hip-Hop di Eropa terkesan abmoral ketika suting video clip, mereka menampilkan adegan-adegan panas, mengonsumsi miras, memakai bikini, mengonsumsi ganja, dan adegan-adegan panas lainnya.
Secara tidak langsung lebel negatif langsung melekat kepada mereka. Bob Marley dan Lucky Dube juga tidak terlepas dari stigma-stigma generatif vulgar. Mereka kadang dinilai sedang gila ketika bernyanyi, mereka buka-bukaan saat tampil tourney, mangung. Hingga kini nama-nama seperti Wiz Kalifa, Znouck Dog, Lil Wayne, Nicky Minaj, Jason Derulo, Chris Brown, Rihana, dan lainnya tidak lekat dari lebel-lebel negative ala mata dan otak “eropa putih”.
Roh dari musik reggae yang dirintis dan dipopulerkan oleh Bob Marley dan Lucky Dube ketika sudah masuk imperium eropa berubah menjadi genre musik Hip-Hop atau musik Rap. Musik ini adalah anak kandung dari musik Reggea jika kita mau jujur ketika berbicara terkait ekspansi musik reggae dalam arti yang lebih adaptif-modernitas. Ia hadir dan lahir pertama kali di Amerika sebagai kritik sosial atas praktek apathteid yang terjadi terang-terangan di eropa kala itu.
Nama Billy Cosby memperjuangkan pengahpusan Apahteid di Amerika melalui siaran TV lewat komedi-komedinya, perjuangan persis juga serta mempengaruhi perjuangan dari beberapa comedian Indonesia untuk memutuskan mata rantai stigama dan diskrimninasi rasial, seperti Ary Kriting, Abdru, Mamat Alkatiri, dan Roberth Yewen, semisal dalam acara Waktu Indonesia Timur (WIT) di NET TV. Marhtin Luhter King Jr memperjuangkan kesetaran dan kesamaan ras di Amerika melalui seruan-seruan, pidato-pidato, kotbah, kotbah, dan tulisan-tulisan kritisnya. Perjuangan Marthin Luhter King Jr ini banyak menginspirasi Pdt. Steven Tong, Pastor Natalis Hanepitia Gobay, Pastor Neles Kebadaby Tebai, Pdt. Benny Giyai, Pdt. Socrates Sofyan Yoman dan lainnya. Muhamad Ali dan Mike Tyson menunjukkan eksistensi bangsa kulit hitam di pangung Boxing, ada nama Michael Jordan yang mengguncang lapangan Bola Basket Dunia. Di dunia musik pasca perjuangan Afrika Selatan merdeka muncul Tupac Amaru Shakur di Amerika, ia adalah bapak musik hip-hop.
Ia memperjuangkan nasip bangsanya melalui aliran musik hip-hop yang baru ini. Mereka menjadikan stigma-stigma atau lebel-lebel vulgar bangsa kulit putih bermata biru berambut putih atas bangsa kulit putih berambut keriting di eropa kala itu, seperti Pemabuk, Pemerkosa, Pemalas, Pencuri, Pengedar Narkoba, Mafia, Ganster, Pamalak, Pembunuh, Budak, Bodoh, dan lainnya itu sebagai Inspirasi dan Motivasi untuk sadar, bangkit dan melawan guna memperjuangkan harkat dan martabatnya. Musika Hip-Hop dirintis oleh Tupac untuk mengeritik peguasa dan kontruksi identitas palsu yang dibangun oleh rezim eropa apharteid kala itu.
Tukilan penggambaran profile konteks penulisan refleksi tokoh di atas ini adalah seinci angin timur yang barang tentu bisa membentangkan layar nalar horison pemahaman kita untuk mengenal lebih jauh, dalam dan luas akan sosok Ricky Kegou dalam bentangan panjang perjuangan bangsa dan tanah Papua menuju dermaga keadilan, kemerdekaan dan kedamaian di jalur musik, agar kita tidak terjatuh dan tervirus nyenyak dalam berspekulasi, menjustifikasi dan melegitimasi penilaian-penilaian subjektif-apriori atas gesing, tampilan luar sosok Ricky seraya memberikan stigama arogantif cum antipatif terhadapnya.
Siapakah Ricky Kegou?
Siapakah Ricky Kegou? Untuk menemukan jawabannya barangkali lagu Ricky dengan judul, This Is Me (2021) itu membantu menjelaskan siapa sosok Ricky sebenarnya. Siapakah Ricky Kegou? Inilah pertanyaan mendasar yang barangkali menghantui beberapa kepala dan hati insan-insan bernyawa manusia yang merasa heran ketika informasi kepergiaan Ricky membanjiri setiap beranda media online, seberapa pentingnya sosok ini dalam era ini di Papua, terutama di wilayah adat yang disebut Meepago, kini Papua Tengah sampai-sampai banyak orang merasa kehilangan sesuatu yang lebih berharga daripada harta yang berharga?
Keadaan psikis seperti ini untuk radar mata yang berada di luar wilayah Meepago dan atau di luar Papua memang sah-sah saja, namun teramat memprihatinkan dan disayangkan jika banyak orang di Papua masih belum sadar dan paham akan apa yang dimuat oleh Ricky Kegou untuk bangsa dan tanah ini selama ia masih aktif memegang mikrofon musik Hip-hop, mendedikasikan kharisma suara serak khasnya itu untuk membumikan kedamaian dan keadilan bagi pula berbentuk cenderawasih ini.
Saya tidak akan melukiskan profil privat sosok Ricky Kegou secara paripurna dan lengkap, penulisan ini hanya akan menampilkan siapakah itu Ricky Kegou hemat saya pribadi, tentu setiap kita yang mengenal Ricky atau sempat berinteraksi dengannya pasti bisa menjawab pertayaan ini sesuai batas-batas pemahaman kita tentang sosok, suara, perangai, musik khasnya, dan lagu-lagunya. Tulisan ini saya saripatikan dari refleksi Panjang perwujudan Papua tanah damai yang terdentang merdu panjang dari masa Reggea, POP, Vokal Group Etnik Lokal hingga kini Hip-Hop di Papua. Bahwa saya tidak akan menyentuh banyak kehidupan pribadi Ricky, tetapi lebih dari pada itu sosok Ricky Kegou akan kita letakkan sebagai pejuang bangsa dan tanah Papua yang memperjuangkan keadilan dan kedamaian lewat dunia musik Hip-Hop sebagaimana roh dan sprit fundamen musik hip-hop itu sendiri yang sudah dirintis oleh Tupac di eropa, dipopulerkan oleh Eminem, dibawah masuk ke tanah air Indonesia oleh Iganisius Sayekoji dan merambat ke bumi Cenderawasih.
Mama Hagar Maday dan Warisan GEN Musisi Revolusioner
Hemat saya, berbicara mengenai Ricky Kegou, tidak dapat kita lepas pisahkan dengan peran dan pengaruh ibu kandungnya, yakni Ibu Hagar Magai (saya lebih tertarik memanggilnya dengan sapaan Mama Hagar Maday). Ada dua hal penting yang secara mendasar dan mendalam dari Mama Hagar yang sangat mempengaruhi kepribadian dan kedirian Ricky Kegou seperti yang kita kenal sekarang ini.
Yang mencolok dari mama Hagar Maday ada suaranya yang menyerupai malaikat surga dan kemurahan hatinya yang menampilkan wajah cinta kasih Kristus. Tentang suara mama Hagar nan merdu dan berdaya pikat setiap telingan yang mendengarkannya itu dapat kita lihat dari rekam jejak mama Hagar sendiri, ia adalah salah satu penyanyi vokalis paling wanita tunggal yang paling fenomenal dalam sejatah permusikan Papua, terutama di wilayah Meeuwoo.
Dan, terkait sifat dermawanannya itu sudah tidak dapat kita pungkiri lagi, ia banyak membantu kaum marjinal yang ia jumpai, ia relah membangun beberapa rumah atau semacam asrama untuk anak-anak yang hendak menempuh studi di beberapa kota studi tanpa memungut biaya, seperti di Nabire, Jayapura dan lainnya. Barangkali ini berasal dari pengalaman dan pergumulannya sendiri ketika masih menempuh Pendidikan di kota studi di tanah rantau, di mana ia sempat berjuang taruhan hidup untuk dapat bisa memenuhi kebutuhan hidup, tempat tinggal, makan, mandi, dan lainnya di kota studi. Dua hal mendasar dan mendalam inilah yang sedikit banyaknya mempengaruhi Ricky Kegou secara esensial. Ricky Kegou, suara seraknya yang khas dan berkarakter itu sudah tidak bisa kita pungkiri lagi betapa emasnya. Suaranya ini yang membuat sosok Ricky unik dan berbeda dengan penyanyi lainnya. Selain suara yang merdu dan khas, Ricky juga mewarisi hati malaikat dari Sang Ibu Kandungnya. Semua harta yang ia peroleh itu tidak ia gunakan sendiri, ia selalu membagikan harta kekayaannya itu kepada siapa saja yang jumpai dalam kehidupan baik itu sebagai teman kompleks, adik-kaka kompleks, teman sekolah, teman bermain, saudara-saudari dalam keluarga, kenalan dekat-jauh, dan handai taulannya yang lain.
Dalam beberapa kesaksian teman-teman yang pernah berkenalan secara dekat dengan Ricky, ia selalu memenuhi setiap undangan konser yang mereka berikan kepadanya untuk pengalangan dana dari komunitas-komunitas yang bergerak di bidang kemanusiaan. Ia akan sangat bersemangat, menampilkan ferformanya yang terbaik, mengeluarkan suaranya yang terbaik. Ia akan menolak segala bentuk pemberian dari panitia penyelengara, beberapa teman mengenang kata-kata yang sering diucapkan Ricky sehabis manggung pas mau dibayar, “baah ini kam main ap ni”, “macam deng orang lain kh” “maksudnya bagaiman ni” sambil senyum tipis-tipis atau ngakak besar-besar.
Ia memang pribadi yang paling sulit dicari padanannya pada penyayi sedawarnya yang hanya mengutamakan job, trofi, surplus dana dan lainnya. Ia tidak melandasasi semangat musik rappernya dengan semangat reproduksioner-bisnis, tapi lebih jauh dan filosofis dari itu yakni semangat revolusioner-emamsipatoris. Pada tataran seperti inilah kita benar-benar bersyukur bahwa Papua masih punya “mutiara hitam” di panggung rapper untuk kerja-kerja pembebasan dan perdamaian.
Ricky Kegou adalah anak tunggal, ia tidak punya saudara kandung, dalam Bahasa Mee ia biasa disapa Kegou Enago, Kegou adalah salah satu Marga dalam Suku Mee di wilayah Mapia Selatan (Piyaye, Dogiyai), sementara Enago berarti anak tunggal (Bhs. Mee). Posisi sebagai anak tunggal tentunya menjadi begitu istimewa dalam keluarga, mereka biasa disebut anak emas, sebab hampir semua kasih sayang dari kedua orang tua dan sanak keluarga lainnya tercurah padanya. Ricky Kegou, sebagai anak tunggal, juga mengalami kasih sayang yang tiada taranya dari kedua orangtuanya, terutama dari sang Mama.
Ricky tumbuh dan besar bersama keluarga di Nabire. Mamanya begitu sayang dan cinta padanya. Kepada seorang teman saat ibu telah pergi menghadap Tuhan di Surga, Ricky sempat curhat bahwa dirinya tidak bisa hidup tanpa Mama, ia tidak bisa pisah selamanya dari mama, ia memang mungkin agak bandel, dan sering pergi pulang pergi bermain sesuai nama gaulnya dalam Bahasa Mee, Uwigou Megou (Uwigou; Pergi/Jalan, Megou; Pulang/Datang) yang artinya pergi pulang pergi, tidak tenang tenang di satu tempat, suka jalan, tapi ia tidak bisa membohongi dirinya sendiri bahwa ia tidak dapat hidup dan tinggal jauh dari pelukan cinta seorang perempuan tangguh, berhati malaikat dan bersuara emas cenderawasih yang khas, ibu Hagar Maday.
Dalam diri Ricky Kegou mengalir darah semangat emansipasi musik seperti yang sudah kita bahas pada muka tulisan ini, musisi revolusioner. Ibu kandungnya, mama Hagar Maday (almarhuma) adalah salah satu penyanyi vokalis wanita tunggal dengan aluanan suara paling merdu dan manis pada masanya. Ia adalah personil di Group Musik Tunee Maaa (Melodi/Suara Cenderawasih, bhs;Mee). Tunee Manaa adalah salah satu Group Musik yang didirikan oleh beberapa palejar Meepago di kota studi.
Mama Hagar adalah salah satu penyanyi yang paling terkenal saat itu, suaranya yang teramat merdu, melengking tinggi, berkaraketr, juga ekspresi perangai wajahnya (tubuhnya) yang khas itu membuatnya menjadi penyanyi dengan suara emas cenderawasih yang sering tampil dalam hajatan-hajatan besar di wilayah Meepago. Saya sempat mendengar cerita tentang sepak terjang mama Hagar dunia tarik suara, saya juga beberapa kali sempat melihat sendiri betapa anggunnya penampilan Mama Hagar. Tubuhnya memang pendek, tapi tidak dengan suara merdunya, setiap telinga yang mendengar suaranya itu pasti merinding.
Sebelum nama Ricky Kegou melejit, Ibu kandungnya sudah lebih dulu menaklukkan stigma bahwa bahwa orang di balik pengunungan itu tidak dapat berbuat apa-apa.
Bahwa jauh sebelum Ricky Kegou mengangkat eksistensi identitas masyarakat pengunungan, khusus Meepago, Mama Hagar Maday sudah menunjukkan ke dunia bahwa kualitas suara dari masyarakat asli di sana itu juga berkualitas tinggi, tidak kala merdu dengan penyanyi-penyanyi lagu POP kala itu.
Kualitas suara dan jiwa semangat emansipasi yang hidup dalam setiap nada harmoni yang keluar dari mulutnya itu sanggup menandingi suara-suara merdu yang didegungkan oleh Meriam Ambelian, Dian Pasesa dan lainnya. Mama Hagar menunjukkan bahwa perempuan gunung Meeuwoo (Papua) juga mampu berdiri setara dengan perempuan-perempuan hebat dan laki-laki birlian lainnya di Papua, Indonesia, dan dunia.
Walaupun dengan sarana-sarana yang terbatas dan sederhana Mama Hagar dan teman-temannya sanggup mengankat harkat dan martabat orang gunung dengan kualitas suara dan musik yang tidak dengan wilayah Papua lainnya dan dunia musik lainnya. Kita bisa bayangkan kala itu teknologi musik tidak secanggih dewasa ini, tapi orang-orang hebat ini mampu melahirkan lagu-lagu melegenda dengan suara-suara emas yang menyejarah.
Seperti yang sudah kita gambarkan juga di atas bahwa lahir dan hadirnya group-group musik etnik lintas wilayah lokal pasca Mambesak itu adalah adanya dorongan kuat untuk menunjukkan eksistensi identitas diri, bangsa, budaya, dan tanah air Papua. Bahwa Papua bukan tanah kosong, mungkin adalah semangat yang melandasi menjamurnya group-group musik lokal. Hal ini menunjukkan bahwa bangsa Papua adalah salah satu bangsa yang memiliki wawasan seni Tarik suara atau seni musika yang gemilang dan khas yang sejajar juga dengan budaya-budaya seni musik yang berperadaban dalam sejarah penguliran bola bumi ini.
Ricky Kegou, sadar tidak sadar, mewarisi bakat penyayi dan pemusik birlian dari ibu kandungnya. Bakat musik yang lahir dari kesadaran kebangsaan, semangat emansipasi kebudayaan, dibalut dalam jiwa pembebasan dan nilai-nilai kemanusiaan universal. Saya kira aspek ini yang penting untuk kita salami guna memahami geliat, passion dan perangai Ricky Kegou sebagai penyayi Rapper yang memiliki jiwa revolusioner di Papua.
Dari Tupac di Amerika ke Ricky Kegou di Meeuwo (Papua)
Tupac adalah salah satu legenda musik Hip-Hop dunia, ia yang menciptakan genre musik yang satu ini. Inspirasi utama yang membangkitkannya untuk memperjuangkan nasip bangsa kala itu di eropa dari jerat apartheid terinspirasi juga dari semangat musik reggae yang diwartakan oleh Bob Marley dan Lucky Dube. Sebagai anak afrika yang lahir dan besar di kota, Tupac sendiri sudah melihat, dan mengalami bagaiaman rasisme struktural itu menjajah bangsanya di eropa.
Ia sendiri mendengar dan mengalami bagaimana bangsa kulit putih itu merendahkan harkat dan martabat bangsanya dengan melebel bangsa kulit hitam di eropa sebagai bangsa turunan budak, pemalas, pemabuk, penegmis, kumuh, kotor, bau, pemalak, pencuri, mafia, ganster, dan lebel-lebel vulgar, ekstrim dan negatif lainnya. Untuk memutuskan mata rangtai rasisme institusional itu, Tupac mendirikan genre musik Hip-Hop ini untuk mengankat harkat dan martabat bangsa itu. Ia menguliti habis-habisan fenomena korupsi, kekerasan, ketidakadilan dan fenomena-fenomena sosial dan politik lainnya yang abnormal, abmoral, dan premature kala itu.
Ia membuat tepat di tempat-tempat yang kala itu dilebel sebagai sarang peyamun, tempat sampah masyarakat, tempat buagan. Tempat para mafia, marker besar para pengacau kota, tempat-tempat kumuh dan pinggiran. Banyak kaum berada merasa rishi dengann lagu-lagu, terutama lirik-lirik rapper yang tajam dan menampar atau seperti tinjungan petir di siang hari. Sementara kaum marjinal yang merasa hak-hak asasinya diperjuangakan oleh Tupac menilainya sebagai penyelamat, ia dipadangan aktikulator dan corong yang mampu menyuarakan suara-suara mereka yang kadang tidak didengarkan oleh orang-orang berada dan berlimpah harta benda itu. Tupac menjadi symbol ekspresi, aspirasi dan petisi kaum marjianl kulit hitam yang mendambakan keadilan, kesetaraan, dan kedamaian di eropa kontinental yang sarat rasisme, fasisme dan militerisme itu.
Walaupun mengalami maju-mundur dan pasang-surut karir dan perjuangannya, Tupac pun mendapatakn respon yang hangat dan positif dari kalangan bangsanya sendiri, terutama kalangan segenerasinya, ia menjadi ikon baru yang banyak menginspirasi generasi muda bangsa kulit hitam tempo itu di eropa. Gaya bicara dan aksen-aksenya yang khas menjadi sebuah tren baru yang banyak diminati dan diikuti anak-anak muda, gaya berpakaiannya yang compang-camping itu menjdi mode busana baru yang banyak merubah sistem mode waktu itu eropa, ada banyak orang-orang muda yang tampil ala-ala anak-anak hip-hop.
Tupac menjadi salah satu penyanyi yang hampir semua kepribadiannya diikuti oleh jutaan orang, mirip dengan Michael Jakson yang banyak diidolakan oleh banyak penghuni jagat bukan saja suaranya, tapi cara jogetnya yang khas, mode berpakain dan mode rambuntnya. Emienem, Wiz Kalifa, Znoop Dogg dan lainnya adalah pengemar-pengemar berat Tupac yang mewarisi beberapa karakter di bidang musik Hip-Hop yang metering dewasa ini.
Jika kita merefleksikan sosok Ricky Kegou dan sepak terjangnya di dunia musik Hip-Hip di Papua, maka sedikit banyaknya kita akan menemukan benang merah yang mencolok seperti apa yang dirintis oleh Tupac di Amerika dan sekitarnya. Ricky Kegou juga selalu jujur, terbuka dan polos, menampilkan apa adanya realitas yang ia hidupi dan jalani. Ia selalu membuat video clip di tempat-tempat yang hemat banyak orang normal tapi kurang sadar realitas penjajahan dilebel sebagai tempat kumuh, ‘terminal’, markas pemabuk, kompleks merah, daerah rawan, dan lebel-lebel vulgar, ekstrim, dan negatif tingkat akut lainnya. Ricky Kegou ini lahir dan besar di kabupaten Nabire, tepatnya di salah satu kompleks yang terkenal ‘texas’, ‘denger’, ‘merah’ dan ‘berbahaya’, yakni Karang Barat atau Jalan Baru, atau croxtwentysix sebagaimana yang biasa dipopulerkan sendiri oleh Ricky, croxtwentysix ini merujuk pada sebutannya pada kompleks tercintanya yang terkenal merah dan berbahyanya itu. Untuk khalayak pembaca yang akrab dengan kota nabire dan sekitarnya pasti tahu menahu tentang sepak terjangnya bahayanya tempat ini.
Dalam beberapa lagunya kita saksikan Ricky secara jujur tampil apa adanya, ia tampil buka baju, menato badannya ala-ala penyanyi hip-hop niga rintisan Tupca di eropa, ia bernanyi di jalan raya, ia bernyanyi dalam keadaan beralkohol atau memegan beberapa botol alkohol (miras), ia duduk dan bernyanyi bersama anak-anak yang medapatkan lebel “Anak Jalanan”, “Anak Aibon”, “Anak Terminal”, dan lainnya. Ia bernyanyi, hendak menunjukkan bahwa masih ada fenomena anomali sosial, masih ada ketidakadilan, masih ada masalah, masih ada tuntutan Papua Merdeka. Ia berusaha mengankat harkat dan martabat anak-anak muda Papua, generasi emas Papua korban sistem kapital dan kolonial yang bermisi memusnahkan manusia dan alam Papua.
Mereka ini sengaja maupun tidak sengaja dibiarkan oleh pihak berwajib, justru pihak-pihak yang semestinya memperbaiki wajah panorama ini memilih diam, membiarkan dan cenderung memelihara. Apa yang dibuat oleh Ricky ini persis juga dengan apa yang waktu itu dibuat Tupac bagi bangsanya, bagi generasinya di Amerika, korban sistem Amerika yang rasismesentris bagi bangsa kulit Hitam.
Kita kalau secara kirtis, analitis dan objektif menerawang beberapa komplelks di Nabire yang terlebel “merah” seperti Karang Barat atau Jalan Baru, Jayanti-Wadio, KPR-Siriwini, Asrama Kodim-Siriwini, dan lainnya itu semua dimayoritasi oleh penduduk-penduduk asli Papua, sementara pemukiman yang dikenal “putih”, aman, nyaman dan damai adalah pemukiman dan atau perumahan yang dimayoritasi oleh warag nonPapua, “amber” (pendatang luar Papua). Di Jayapura ada kompleks Dok 9, ada Dok 5, ada Argapura, ada Waena Perummas III, ada Nafri dan lainnya yang senantiasa menjadi topik-topik utama sebagai kompleks rawan. Tempat-tempat yang dilebelkan sebagai tempat buangan ini selalu ada di hampir semua kota di Papua.
Ricky Kegou adalah inci penyanyi yang mendedikasinkan dirinya untuk mengankat harkat dan martabat generasinya. Ia bernyanyi untuk memperjuangkan nilai-nilai kehidupan, kemanusiaan dan pembebasan. Ia berusaha memutuskan mata rantai lebel stigama ekstrim atas komplek tercintanya, tanah airnya Papua. Ia anak tunggal, ia sendirian, tidak punya saudara kandung, ia bisa saja memilih hidup nyaman, aman dan damai, ia punya segalanya jika ia mau hidup aman. Ricky juga punya suara merdu kelas penyanyi R&B.
Ia bisa saja fokus pada karir rappernya, ia bisa bangun Menara gading, ia bisa tinggal dan makan enak, hidup berkecukupan, ia bisa saja hidup mewah tanpa malas tahu dengan situasi dan kondisi sekitarnya yang hancur, ia bisa saja tampil ganteng, pakai baju mewah ala artis rapper kebanyakan, ia bisa mencari wanita cantik body gitar Spanyol yang senar gitarnya cepat putus, dan membangun rumah tanggah yang harmonis dengan menikahi wanita cantik, ia bisa saja dan sangat bisa sekali jadi anak-anak rapper yang apatis, kakuh dan cacat atas realitas konflk Papua yang berkepanjangan dan tuntuan penentuan nasip sendiri yang berdarah-darah dirindukan oleh bangsa dan tahan Papua. Tapi ia memilih meninggalkan kenyamanan warisan harta yang berlimpah, ia menolak egois dan secara individual mengembangkan dirinya dan keluarganya sendiri seperti kebanyakan rapper cacat di tanah ini yang hanya tahu hasilkan lagu-lagu baper, percintaa eros yang semu, galau, sulit move on tanpa semangat cinta agape yang revolusioner untuk tanah dan manusia terjajah Papua.
Ricky keluar dari poros zona nyaman, ia memilih hidup dan tinggal di dan bersama anak-anak jalanan. Ia yang tidak punya saudara kandung itu menemukan saudara kandungnya di jalanan, terminal, ia menjadikan teman-teman yang mendapat lebel pemabuk, pencuri, pemalas, pemalak, dan lainnya sebagai adik-adik dan kaka-kaka kandungnya sendiri, ia berikan cinta yang tulus, besar dan iklas di jalanan, terminal, ia Uwigou-Megou, pergi pulang pergi, seperti musafir cinta ia hidup bergelana, rupanya di sana ia tidak sendirian, ia temukan banyak harta, harta kehidupan yang berarti, berharga dan bermakna.
Dalam refelsksi saya pribadi ini saya melihat Ricky ini seperti Lukcy Dube dan bahkan Yesus. Lukcy Dube, ia juga ada tunggal, tidak punya sanak saudara. Ia punya talenta suara emas, bahkan mencapai oktaf 9, ia mengalahkan Maria Cerey yang punya suara dengan kisaran 8 oktaf. Dengan bakat suara malaikat ini Lucky Dube bisa hidupa aman dan nyaman tanpa harus takut diburuh oleh otoritas kolonila eropa.
Sebelum memeluk genre musik reggae rastafarian, ia sudah cukup mapan dengan pengahsilannya sebagai penyanyi musik POP, namun semuanya berubah drastik ketika ia menykasikan sendiri fenomena penindasan dan penjajahan di tanah airnya dan atas bangsanya sendiri. Ia beralih dari musik POP ke musik Reggea Rastafarian guna mendemonstrasikan dan mempromosikan pemebebasan dan perdamain bagi bangsa dan tanah airnya, Afrika Selatan.
Lucky Dube menimbah inspirasi dari Bob Marley yang memperjuangkan kemerdekaan bangsa Kamerun dengan, dalam dan melaui musik Reggea, Lucky Dube juga berubah menjadi raja musik Reggea yang paling tersohor dalam sejarah bangsa Afrika Selatan sebagai pejuang kemerdekaan bangsa Afrika yang terkemuka sebanding dengan Nelson Mandela, Desmond Tutu dan lainnya. Nama Lucky Dube menenpati posisi tertatas sebagai incaran para agen CIA, Amerika. Ia dianggap bahaya karane menyebarkan semangat revolusi kepada khlayak ramai di Afrika Selatan. Lucky Dube mengahiri hidupnya sebagai martir raggea yang suskse mempromosikan pembebasan dan perdamaian di Afrika dengan ditandi dengan penghapusan sistem hukum apartheid.
Sebenarnya Ricky Kegou hanyalah salah satu dari beberapa penyanyi-penyanyi asli Papua yang punya hati dan kecintaan penuh mendalam demi penegakkan kebebasan dan perdamaian bagi bumi Papua. Kita juga tidak lupa dengan dedikasi dari Nick Young Many yang tidak pernah absen menelurkan lagu-lagu rapper dengan kritik-kritik tajam atas praktek kolonialisme dan kapitalisme di Merauke (Anim Ha).
Nick Young Many, adalah seorang rapper asli Papua yang berasal dari Merauke Papua Selatan, ia paling rajin mengeritik kebobrokan sistem pemerintanhan dan praktek eksploitasi kelapa sawit di Merauke, ia juga adalah salah satu rapper yang mempersembahkan lagu khusus untuk merespon kasus rasisme yang menimpa saudara-saudari mudannya di Asrama Kamasan Surabaya pada Agustus 2019. Lagu terakhirnya berjudul, Harapan, hendak menguliti para investor asing yang bertmata kerancang hendak mencuri tanah dan lahan Sagu di Merauke demi pembangunan perusahan kelapa sawit, penyebab deforestasi dan ekosida di tanah Anim Ha.
Ada juga nama Daniel Bobii, dan Kristian Pigai. Nama-nama mereka ini tidak lekang termakan waktu. Melalui lagu-lagu yang mereka ciptakan, mereka akan selalu hidup dalam setiap jiwa yang mendengarkan setiap lirik yang mereka sampaikan. Mereka ini artis-artis lokal, mereka tinggal dan hidup di kampung-kampung, daerah pelosok yang terisolir. Namun daya dan jiwa musik dan kata-kata yang meraka ramu, rajut dan rangkai menjadi sukma tersendiri yang mampu melahirkan semangat perjuangan, pergerakan dan perlawanan demi penegakkan dan pegungkapan kebenaran, keadilan dan kebenaran. (*)
)* Penulis adalah Mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Fajar Timur Abepura-Papua.









