Kamis, 08 Juni 2023
Ancaman Konflik Horizontal di Nabire, Kenapa? (1/2)
![]() |
Jumat, 03 Maret 2023
OAP atau OPP? (4/4)
![]() |
| OAP atau OPP? 4/4.Manusia Papua Dulu, Kini dan Mendatang Dalam Sukma Poskolonial. (Siorus Degei) |
Apakah LE memenuhi delapan syarat mutlak Pengangkatan Anak Adat di atas? Apakah proses pengangkatan LE dan manusia -manusai biadab lainnya sah dalam kacamata 7 wilayah adat?
Apa sebenarnya motif dan modus di balik virus pengangkatan anak adat yang terjadi di luar koridor hukum adat ini? Katanya dewan adat, tapi terkesan, sungguh biadab. Ini sebuah drama politik yang tidak lucu, nyaris lugu tingkat kronis.
Simbol dan Makna Kesenian
Kesenian menjadi tema yang integral dan sentral dalam suatu kebudayaan. Kebudayaan itu akan menjadi lebih eksis dan hidup jika keseniannya memancarkan nilai-nilai filosofi budaya yang sarat kaya.
Kesenian dalam setiap kebudayaan terbagi menjadi beberapa genre, ada seni ukir, mumi, tari, rupa, lukis, perang, tarik suara, musik. Singkatnya, ada seni kelihatan dan tidak kelihatan. Sehingga memang benar bahwasanya seni dalam sebuah kebudayaan itu mahaluas dan mehadalam akan bentuk, arti, makna dan simbol, maka dari itu agaknya tidak mungkin kesemuanya dapat dituliskan pada kesempatan ini.
Kita hanya akan berfokus pada beberapa entitas kesenian yang notabene menjadi corak kepapuaan yang khas. Sebagian bentuk karya seni barangkali sudah termanifestasikan baik secara implisit maupun eksplisit, tersirat maupun tersurat dalam beberapa pokok pembahasan seputar tujuah unsur kebudayaan lainnya.
https://kawatmapiatv.blogspot.com/2023/03/oap-atau-opp-14.html
Kita hanya akan berfokus pada transformasi seni dalam kehidupan budaya asli Papua yang semakin ke sini semakin kehilangan fitrah dan marwah esensial dan subtansialnya.
Pertama, Seni Tarik Suara. Banyak keanekaragaman seni tarik suara dalam setiap kebudayaan asli Papua yang semakin tertelan modernitas dan globalitas jaman dewasa ini.
Lagu-lagu tradisional semakin tenggelam karena kurang diminati, di-download, di-follow, di-like, di-subcribe, di-comen, dan dikunjungi oleh massa milenial asli Papua sebagai generasi penerus. Hampir sebagian besar generasi milenial asli Papua menggandrungi dan mencandungi seni tarik suara bergenre hits, hip-hop, jazz, R&B, POP, Reggae dan lainnya.
https://kawatmapiatv.blogspot.com/2023/03/oap-atau-opp-24.html
Perlu dicatat dengan tinta merah bahwasanya dengan menggandrungi dan mencandungi lagi-lagi Modren secara tidak langsung, sadar tidak sadar, mau tidak mau, suka tidak suka kita sudah, tengah dan senantiasa terus membunuh dan menguburkan eksistensi daripada lagu-lagu tradisional kita dan seni tarik suara kita sendiri yang defacto lebih luhur dan mulia nilainya dibandingkan dengan lagu-lagu modern lainnya.
Seni tarik suara tradisional menjadi sesuatu yang kuno, primitif, terbelakang. Kolonial, kapital, feodal dan Imperial membangun opini publik bahwa semua seni bertaraf lokal itu adalah seni kelas dua, kuno, primitif dan lebel stigma vulgar esktrim lainnya.
Ironinya, generasi penerus menelan dan mengamini opini liar karangan penjajah tersebut tanpa pernah berupaya mempertanyakan, mengritisi, mengoreksi dan mengevaluasi, tapi lagi-lagi mereka hanya tertidur lenyap di atas pelana gigi taring dan kuku tajam macan kolonialisme sistem NKRI dan sekutunya.
Kedua, Seni Tari. Tarian Susu atau Ama Duwai dalam tradisi Suku Mee di Papua adalah dan hanyalah sejengkal sempel konkrit bawah upaya pemusnahan kebudayaan asli Papua itu benar-benar sudah ada, sedang ada dan akan terus ada selama Papua masih terus bernafas dan bernadi di ketiak Kolonial kapitalisme sistem NKRI dan sekutunya.
Banyak seni tari tradisional yang bernilai luhur, Kudus dan mulia tertelan termakan zaman lantaran tidak ada upaya proteksi eksistensinya yang terjadi secara konsisten dan kontinyu oleh masyarakat penganutnya.
Sadar tidak sadar, mau tidak mau, suka tidak suka sejatinya dengan senantiasa menggandrungi dan mencandungi seni tari modern, semisal Tik-Tok, Patola, Zumba, Dangdut, Wasisi, Seka, Goyang Kewa, dan pelbagai jenis tarian, dence modifikasi modern tradisional serta aneka oles lainnya itu sudah, sedang dan terus terlibat aktif sebagai aktor pembunuh, pengubur dan pemusnah eksistensi budaya tari tradisional di setiap suku kita masing-masing di Papua. MENGUASAI TARIAN MODREN ITU BONUS, TAPI MENCINTAI TARIAN ADAT ITU HARUS.
Simbol dan Makna Sistem Mata Pencaharian
Aspek kebudayaan berikut yang hendak kita refleksikan bersama adalah terkait Sistem Mata Pencaharian Hidup masyarakat asli Papua. Kurang lebih ada beberapa aktivitas mata pencaharian hidup yang tersebar di wilayah Papua, semisal Nelayan, Peramu, Pemburu, dan Pengayau tergantung situasi dan kondisi geografi dan topografi wilayah adatnya.
Secara umum masyarakat Papua pegunungan sangat berbeda dengan masyarakat pesisir pantai, rawa, dataran rendah, perbukitan, lembah, pinggiran danau, pinggiran sungai dan sebagainya dalam hal mata pencaharian.
https://kawatmapiatv.blogspot.com/2023/03/oap-atau-opp-34.html
Mata pencaharian itu akan berdampak luas pada mentalitas, intelektualitas dan akreditas penduduk aslinya di kemudian dalam dunia kerja. Akan ada etos kerja yang berbeda antara masing-masing orang Papua di setiap suku.
Salah satu mentalitas yang masih terwarisi hingga sekarang dan banyak kita jumpai adalah mentalitas “Semua Alam Sudah Sediakan”. Karena alamnya yang kaya raya, orang Papua berpikir dan merasa bahwa semuanya akan baik-baik saja sebab untuk segala sesuatunya yang berkaitan dengan kebutuhan hidup alam sudah menyediakannya.
Mental itu melahirkan benih yang namanya konsumerisme, mental konsumtif, tanpa daya produktif dan distributif. Hal ini akan membuat prosentase pertumbuhan penduduk lokal Papua hanya mentok begitu-begitu saja.
Bahkan dari mental itu lahirlah pula beberapa anak kandungnya, semisal Mental Profosal, Mental Permohonan, Mental Raskin, Mental Minta-minta tanpa kerja, budaya instan, etos bermalas-malasan.
Sejatinya ini semua bukanlah hakekat jati diri orang asli Papua yang sebenarnya. Mereka hanyalah korban settingan dan green design kolonial kapitalistis yang tamak yang hendak mengeksplorasi, mengekploitasi dan mengekstraksi kekayaan sumber daya alam Papua. Dan salah satu strateginya adalah dengan menumbuhkan rasa ketergantungan akut rakyat pribumi kepada penguasa dan pengusaha.
Seakan-akan alam, gunung, hutan, pohon, laut, pantai, rawa, sungai, ikan, rusa, sagu, ubi, sayur, buah dan SDA lainnya bukan menjadi mama lagi bagi orang asli Papua, posisi alam sebagai mama itu sudah terdekontruksi secara drastis dan radikal dalam paradigma masyarakat lokal Papua. Mama mereka adalah negara, Gereja, Pasar, Uang, Pangkat, Jabatan, Tahta, Harta benda, Toko, Rumah Kios, Supermarket, Mall, dan lainnya.
Tempat meramu, melayan, meramu, dan mencari kebutuhan kehidupan bukan lagi di alam, gunung, sungai, laut, rawa, dan lainnya, melainkan ada di instansi pemerintahan, ada di partai politik, organisasi masyarakat, PNS, dan profesi adminstratif lainnya.
Paradigma dan mental ketergantungan akut itu diperparah lagi dengan konsep mekanisme pendekatan pemerintahan pusat yang mendahulukan pendekatan uang, pembangunan dan kesejahteraan kepada Papua sejak Papua terintegrasi ke dalam pangkuan secara ilegal, cacat hukum, moral, demokrasi, HAM dan Pancasila 1962 dan 1996, bahkan sejak 1947 konspirasi ekonomi politik dirakit oleh Indonesia, Amerika dan kroni-kroninya.
Ada beberapa Pandemik Sosial yang sudah, tengah dan terus menggerogoti sendi-sendi kehidupan masyarakat asli Papua. Sebut saja Pasar Togel, Rolex, Ludo King, Judi Online dan Judi Offline, Billiar, Casino Lokal, dan praktek-praktek pasar gelap lainnya yang sudah menggurita di Papua.
Kesemuanya itu menjadi habitat dan habitus baru masyarakat asli Papua. Pasar gelap kini sudah menjadi dusun dan kebun keladi, petatas, sayur, tempat berburu dan tempat mencari ikan. Pendeknya, Togel, Rolex, Judi online dan offline dan sebagainya kini sudah, tengah dan terus menjadi mata pencaharian baru masyarakat asli Papua.
Ironisnya, bukan saja kalangan orang tua, tetapi nyaris kaum milenial asli Papua juga sangat marak menggandrungi, mencandungi dan terbudak oleh praktek pasar gelap tersebut.
Bukan pula dari kalangan aristokrat saja yang mencandungi judi online maupun offline tersebut tapi seluruh masyarakat dari pelbagai lapisan masyarakat sangat menikmati dan menikmati mata pencaharian baru tersebut, sebab sangat menjanjikan, kita pasang sekarang dapat sekarang, atau pasang sekarang dapat sebentar. Pasang pagi dapat siang, pasang siang dapat sore, pasang sore dapat malam, pasang malam dapat pagi dan seterusnya dan seterusnya.
Kebanyakan persebaran pasar gelap itu tersebar di hampir seluruh wilayah Papua, tidak ada pelosok dusun Papua yang terlepas bebas dari cengkeraman, cangkangan dan kukuh Kapitalisme, kolonialisme, dan Imperialisme model baru ini.
Semua uang masyarakat maupun pemerintah dewasa ini terbilang sudah, sedang dan terus dimonopolisasi dan dikapitalisasi oleh bandar-bandar, bangkit, bandit, mafia dan ganster togel online maupun offline yang bermarkas di Singapura, Thailand, Kamboja, Malaysia, Nyammar, dan beberapa negara Asia Tenggara lainnya.
Indonesia menjadi sarangnya pasar gelap yang lezat dan empuk, terutama Papua. Sebab masyarakat sudah sangat pragmatis, hedonis, instanis, komsumtif kontra produktif, kreatif dan inovatif sehingga tidak heran sayap ekspansi evolusi togel dan keluarga besar pasar gelapnya itu mampu dengan leluasa mengkungkungi manusia dan tanah Papua.
https://kawatmapiatv.blogspot.com/2023/03/oap-atau-opp-44.html
Jangan cari manusia di dalam hutan dan di atas kulit Air, tapi carilah mereka di sudut-sudut kota tempat esksisnya pasar gelap dari pagi tembus malam, malam tembus pagi pasti ada mereka di sana.
Tidak ada jadwal baku, tidak ada jam istirahat, tidak ada jam ibadah, tidak ada jam berdoa, tidak ada jam bekerja, tidak ada jam untuk keluarga, tidak ada jam untuk suami, tidak ada jam untuk istri, tidak ada jam untuk anak-anak, tidak ada jam untuk orang tua, semuanya ruang dan waktu terpakai habis di tempat judi online dan offline.
Apakah di tengah heterogenitas, karakteristik, paradigma dan mentalitas hegemoni, diferensiasi, klasifikasi dan klaster-klaster podium masyarakat asli Papua yang sedemikian rupa sanggupkah kita kembali ke ‘Alam’, ‘Kampung’, ‘Dusun’, ‘Honai’, ‘Tungku Api’, ‘Budaya Berburu’, ‘Budaya Nelayan’ dan ‘Budaya Meramu ‘?
Tentunya ini menjadi suatu panggilan profetis kritis tapi juga tantangan kronis eksistensial. Intinya, MENGGANDRUNGI PENCAHARIAN HIDUP MODREN ITU BONUS, TAPI MEMBUDAYAKAN MATA PENCAHARIAN HIDUP TRADISIONAL ITU HARUS.
Catatan Senja
Mengakhiri tulisan ringkas, ringan, gamblang dan blak-blakan dengan tajuk OAP atau OPP? Manusia Papua Dulu, Kini dan Mendatang di Era Revolusi Digital Dalam Hikmah Poskolonial ini ada beberapa ihwal penting yang hendak Penulis kemukakan.
Sebenarnya dari pembabakan dan pembahasan kita di atas itu saja barangkali secara sepintas lalu sudah terlintas di kepala setiap kita prihal rekomendasi yang pada gilirannya mampu tampil sebagai treatmen-treatment obyektif dan siginifikan yang bisa ditempuh oleh orang asli Papua sendiri baik yang berdomisili dalam sistem kolonial NKRI dan sekutunya maupun orang asli Papua yang berdomisili di luar dari sistem kolonial NKRI dan sekutunya tapi masih mencium bobrok ketiak penjajahan, penindasan dan penderitaan di bumi Papua.
Selain orang asli Papua, penulis juga melihat dan merefleksikan bahwa di sini peran Keluarga, Gereja, Pendidikan, LSM dan Negara juga berperanan penting dan klausal metamorfosis. Berikut hendak penulis utarakan secara ringkas terkait sikap dan tindakan alternatif yang resolusif;
Pertama, setiap Individu Keluarga, Agama (Gereja), Pendidikan, LSM dan Negara mesti bahu-membahu melestarikan Bahasa Daerah sejak dini mungkin.
Mesti ada kamus bahasa daerah di Papua, setiap suku penutur wajib membuatnya. Lembaga Agama dan Pendidikan bisa mengunakan bahasa daerah sebagai sarana katekese dan edukasi serta sosialisasi nilai-nilai.
Kedua, Sistem Peralatan dan Teknologi. Setiap individu, Keluarga, Agama, Pendidikan, LSM dan Pemerintah bisa saling mensinergi dalam rangka proteksi eksistensi manusia Papua di bidang sistem peralatan dan teknologi lokalnya.
Semisal bisa dibuat suatu museum adat, lengkap dengan ensiklopedia terkait segala bentuk peralatan dan teknologi kuno yang digunakan oleh orang Papua dulu.
Ketiga, Sistem Pengetahuan. Setiap individu, Keluarga, Agama, Pendidikan, LSM dan Pemerintah bisa mengupayakan lahirnya Meewologi, Lapagologi, Mamtalogi, Animhalogi, Bomberailogi, Domberailogi dan Sairerilogi yang merupakan kumpulan ilmu pengetahuan baru seputar antropologi, sosiologi, sastra, teologi dan filsafat yang berdimensi dan berwawasan iklim alam pemikiran Melanesia Pasifik.
Keempat, Sistem Religi. Setiap individu, Agama, Pendidikan, LSM dan Pemerintah bisa mengupayakan agar gerakan-gerakan mesianis yang eksis dalam kebudayaan-kebudayaan bangsa Papua mampu mendapatkan tempat, ruang, kesempatan dan waktu yang efisien dan efektif untuk tampil ke ruang publik sebagai gerakan rekonsiliasi universal berbasis Papua, terutama di tengah-tengah gerakan perjuangan, Pergerakan dan perlawanan rakyat Papua atas sistem kolonial NKRI dan sekutunya di seluruh teritori Papua.
Kelima, Kesenian. Setiap individu, Agama, Pendidikan, LSM dan Pemerintah sudah saatnya untuk belajar melestarikan kebudayaan dari Group Musik Klasik Bangsa Papua Proto, yakni Mambesak, Black Brothers, Black Sweet, dan Black Papas. Terutama Mambesak yang berjuang mempertahankan Kekudusan kebudayaan Papua Proto dari cengkeraman upaya Etnosida dan Spiritsida sistem kolonial NKRI dan sekutunya.
Keenam, Sistem Kekerabatan dan Organisasi Sosial. Setiap individu, Keluarga, Agama, Pendidikan, LSM dan Pemerintah sudah mesti saatnya untuk mengilegalkan praktek Approach Culture di semua aspek kehidupan masyarakat asli Papua. Stop sabotase marga dan atribut-atribut luhur dan mulia dalam rahim kebudayaan dan kearifan lokal bangsa Papua demi kepentingan tertentu.
Ketujuh, Mata Pencaharian. Dan terkahir, setiap Individu, Keluarga, Agama, Pendidikan, LSM dan Pemerintah bisa membuka lapangan pekerjaan yang layak bagi mayoritas masyarakat asli Papua yang sedang dihinggapi dan dihantui Judo Online junto Offline. Perlu pertegas kiat pengentasan dan pemberantasan pasar gelap di ruang publik Papua.
Kedelapan, terakhir orang asli Papua sudah sekian lama pasca terintegrasi secara ilegal, cacat hukum, moral HAM, Demokrasi dan Pseudo-Pancasila ke dalam pangkuan sistem kolonial NKRI selama 60-an tahun pura-pura hidup sebagai orang asli yang merdeka, otonom, otentik, natural dan Proto.
Selama 60-an di penjara besar, Kamb-Konsentrasi bernama NKRI orang asli Papua sudah pura-pura bereksistensi dan berekspansi sebagai manusia asli, padahal itu tidak lebih daripada iugan belaka. Tidak ada orang asli Papua, yang ada hanyalah orang palsu Papua jika tidak ada kesadaran profetis kritis untuk segera mungkin berdialog dan berekonsiliasi bersama budaya.
Orang asli Papua harus Lahir Baru dari dalam rahim budaya Papua Proto lintas tujuh unsur kebudayaan universal. Perlu ada Dialog dan Rekonsiliasi lintas ‘Tungku Api’ Tujuh Wilayah Adat, Suku, Marga, Sub-Marga, Keluarga dan Pribadi dalam semangat ‘Revolusi internal Kultural’. OAP harus tampil sebagai ‘Manusia Model Baru’ menuju Honai ‘Papua Baru’ yang penuh kemerdekaan, kedamaian, kebenaran dan keadilan. (*)
(KMT/Admin)
OAP atau OPP? (2/4)
![]() |
| Dok : Ist/OAP atau OPP? 2/4.Manusia Papua Dulu, Kini dan Mendatang Dalam Sukma Poskolonial. (Siorus Degei) |
Jumlah suku di Papua diperkirakan mencapai 255, yang masing-masing mempunyai bahasa dan kebudayaan sendiri.
Dari hasil penelitian tim Balai Bahasa Papua dan Papua Barat pada tahun 2013 lalu, menurut Supriyanto Widodo, Kepala Balai Bahasa Papua dan Papua Barat tentang jumlah bahasa daerah yang tersebar di Provinsi Papua dan Papua Barat, ternyata teridentifikasi sebanyak 307 bahasa daerah di Tanah Papua.
Jadi, ada 225 Suku dan 307 bahasa daerah di Papua yang masih eksis hari ini di Papua, kita tidak tahu apakah ini benar atau tidak, tapi data sementara menunjukkan demikian kenyataannya di atas kertas administrasi Pusat Balai Bahasa di Papua, https://badanbahasa.kemdikbud.go.id/artikel-detail/2722/persebaran-bahasa-daerah-di-papua-dan-analisis-pergeserannya-kasus-bahasa-daerah-tepra-dan-sentani-di-jayapura, 2/02/2023).
Fenomena menarik yang mesti kita gubris lebih jauh adalah adanya gab dualistik antara kuantitas bahasa dan kualitas penuturnya. Ada jurang segregatif yang besar antara jumlah bahasa daerah di Papua dan jumblah penutur bahasanya, yakni kuantitas manusia asli Papua yang fasih berbahasa daerah.
Kita bisa mengajukan pertanyaan-pertanyaan penuntun seperti ini, apakah semua orang asli Papua mencintai dan menguasai grammar dan sistematika kesusastraan bahasa daerahnya? Apakah generasi milenial asli Papua masih bisa menggunakan bahasa daerahnya?
Apakah generasi milenial asli Papua masih bisa menerjemahkan bahasa daerahnya? Apakah generasi milenial asli Papua bisa menulis dan membaca dalam bahasa daerahnya masing-masing?
Apakah lembaga pendidikan, pembinaan dan penggemblengan generasi milenial asli Papua masih menyisakan peluang bagi proteksi eksistensi bahasa daerah Papua secara kontinyu dan konstitusif institutif?
Sepertinya kita terlalu ideal dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan tersebut ke permukaan publik, tapi bukan berarti tidak perlu. Kita tidak perlu muluk-muluk dan berbelit-belit dalam menjawab pertanyaan tersebut sebab hemat penulis realitas konkret fenomena dan paradoksnya Papua sudah menjawab pertanyaan-pertanyaan liar junto nakal itu dengan sangat apik dan baik.
Bahwasanya bahasa daerah bangsa Papua di ambang kepunahan, penulis menyebut keadaan itu sebagai fenomena ‘Etno-Linguisida’ atau Pemusnahan Bahasa Daerah suku bangsa Papua. Sejauh ini hemat penulis ada beberapa ihwal subtansial yang menjadi indikator-indikator di balik potret etno-lingusida di Papua.
Pertama, kuantitas dan kualitas sumber daya manusia asli Papua yang semakin punah di atas tanah leluhurnya semenjak terintegrasi secara cacat hukum, HAM, Demokrasi dan Moral ke dalam pangkuan NKRI pada tahun 1962 dan PEPERA 1969.
Kedua, Aneksasi, dominasi, kapitalisasi dan kolonialisasi Bahasa Indonesia atas Bahasa-bahasa daerah Papua. Bahkan hemat penulis bukan saja bahasa daerah Papua saja yang menjadi korban dan tumbal dari bejatnya kapital, kolonial, Imperial, fasisme dan rasisme bahasa Melayu Indonesia.
https://kawatmapiatv.blogspot.com/2023/03/oap-atau-opp-14.html
Tapi semua bahasa daerah di republik ini dari Sabang sampai Merauke, Mianggas sampai Rote tidak lain dan tidak bukan adalah korban dan tumbal perbudakan bahasa Indonesia sejak 1928, tepatnya pada Hari Sumpah Pemuda, di mana ketika secara arogan, sepihak dan egois, rasis dan fasis bahasa Melayu Indonesia dideklarasikan sebagai Bahasa Nasional, Bahasa Pemersatu.
Penulis melihat bahwa momentum Sumpah Pemuda itu menjadi sejarah awal aneksasi bahasa-bahasa suku di seluruh Nusantara secara sepihak, fasis, dan rasis. Bahwa sejak itu pula esensi dan eksistensi bahasa-bahasa lokal mulai redup tak bernadi ekspansif.
Bahasa daerah Papua juga menjadi korban dari imbas Aneksasi dan kapitalisasi bahasa Indonesia yang arogan, ambisius dan prestisius dalam rangka politik dekolonisasi dan depopulasi SDM dan SDA Papua. Pasca Papua terintegrasi maka semua elemen kehidupan manusia asli Papua berserta alamnya mulai diindonesiakan, dinasionalisasi, termasuk bahasa lokal masyarakat adat Papua.
Perlu kita ketahui dan sadar bahwa bahasa adalah salah satu unsur kebudayaan yang paling esensial eksistensinya dalam kerangka pertumbuhan, perkembangan dan perabadan suatu suku bangsa.
Karena hanya melalui bahasa saja proses sosialisasi, internalisasi, edukasi, relasi, komunikasi, interaksi, dialog dan rekonsiliasi itu bisa terjadi secara baik dan benar.
Semua unsur kebudayaan lain bisa eksis jika bahasa daerah itu senantiasa eksis sebagai sarana, alat, media relasi komunikasi baik antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam, manusia dengan roh-roh nenek moyang, dan manusia dengan ‘Yang Transenden’.
Selain Bahasa Indonesia yang menjadi imperium, kolonial dan kapital bahasa daerah bangsa Papua dan bangsa lainnya di Indonesia, dewasa ini muncul lagi neo-kapitalisme bahasa lagi, yakni Bahasa Inggris.
Bahasa Inggris sudah legal sebagai bahasa internasional, semua penduduk global wajib fasih berbahasa Inggris jika hendak membangun jejaring relasi dan komunikasi sosial lintas Internasional.
Semua instansi dan lembaga pendidikan pasti menyisihkan forum bagi sosialisasi bahasa Inggris, ada mata kuliah bahasa dan sastra Inggris, di tingkat Sekolah Menengah Atas ke bawah ada mata pelajaran bahasa Inggris (SMA-SD), di samping bahasa nasional (bahasa Indonesia).
Memang ini sebuah sistem atau keniscayaan aktual hidup yang suka tidak suka dan mau tidak mau dengan dalil apapun mesti diterima jika eksistensi seseorang itu mau dianggap ada. Namun sejatinya di sisi lain sadar tidak sadar, mau tidak mau, dan suka tidak suka pula bahwa dengan melakukan semua itu, yakni mati-matian mempelajari bahasa Inggris dan Indonesia (bahasa nasional dan internasional) kita sejatinya sudah, sedang dan akan terus menerus membunuh dan menguburkan bahasa daerah kita sendiri (bahasa lokal), Quo Vadis Bahasa Daerah, RIP?
Ketiga, memang kita akui bahwa ada gerakan dan program literasi nasional yang terkenal dengan slogannya yakni “Lestarikan Bahasa Daerah, Cintai Bahasa Indonesia, dan Kuasai Bahasa Asing”. Namun sudah sejauh mana hasilnya? Sudah berapa banyak kuota bahasa daerah yang sudah diselamatkan dari taring Pandemik Etno-lingusida?
Sudah adakah peraturan khusus (Perdasus) yang mengakomodir proteksi eksistensi bahasa lokal, terlebih bahasa-bahasa lokal yang diambang kepunahan? Sudah adakah kurikulum khusus yang menjadikan bahasa lokal sebagai salah satu mata pelajaran dan mata kuliah di seluruh instansi pendidikan?
Sejauh mana upaya konkret yang dilakukan? Apakah hanya dengan mengadakan kegiatan euforia belaka bertemakan proteksi bahasa lokal dengan semangat Literasi kontekstual yang menggebu-gebu tapi toh abu-abu? Sehingga ihwal urgent dan penting yang hendak penulis kemukakan di sini adalah bahwa MELEK BAHASA INDONESIA DAN ASING INI BONUS, TAPI MELEK BAHASA DAERAH ITU HARUS.
Simbol dan Makna Sistem Peralatan dan Teknologi
Kita sudah cukup sederhana menerawang eksistensi bahasa daerah di era kekinian yang tentunya membutuhkan rancangan proteksi yang mumpuni demi perabadan bangsa Papua yang lebih baik kedepannya, sebab perlu kita catat dengan tinta merah bahwasanya sebagian besar indikator dari praktek dekolonisasi dan depopulasi SDM dan SDA Papua itu tidak lain dan tidak bukan sedikit banyaknya disebabkan oleh penguasaan bahasa daerah di tingkatkan masyarakat luar yang punya motivasi ganda datang ke Papua.
Sekarang kita hendak memahami secara sederhana terkait Simbol dan Makna Sistem Peralatan dan Teknologi di Papua. Memang tajuk perikop ini agak luas dan berpotensi bias makna, namun tidak semua sistem teknologi dan peralatan yang ada di dalam rahim kebudayaan 225 Suku Papua akan kita beberkan, tentunya itu akan membutuhkan waktu yang lama, alot, runtut dan konsisten.
Kita hanya akan memotret beberapa entitas dari sistem peralatan dan teknologi yang sudah lumrah dan familiar dalam percakapan, dinamika dan interaksi ruang publik di Papua.
Sistem peralatan hidup dan teknologi ini berhubungan dengan alat transportasi, peralatan komunikasi atau bahasa, senjata dan alat-alat rumah tangga, pakaian dan tempat berlindung rumah, pengetahuan dan kesenian.
Ada beberapa peralatan dan teknologi yang cukup populer di Papua, sebut saja Noken, Koteka, Tifa, Anak Panah, Tombak, Perahu Dayung, Kapak Batu, Barapen/Bakar Batu, dan masih banyak lagi yang tidak dapat kita sebut berjejer satu persatu, terlalu luas dan mendalam.
Beberapa entitas sistem peralatan dan teknologi di muka ini bukan hanya barang pakai atau benda mati yang tidak memiliki arti dan makna. Penulis hendak merefleksikan beberapa entitas kebudayaan itu dengan menggunakan perspektif yang baru, yakni persepektif poskolonial.
Pertama, Noken. Noken mempunyai arti, makna dan simbol yang mahakaya. Setiap suku dan budaya di Papua punya referensi, definisi, filsafat dan epistemologi tersendiri dan khas terkait eksistensi noken tersebut. Noken menyimbolkan banyak hal dan nilai kehidupan yang bukan kepalang
Ada simbol kesederhanaan, kesahajaan, keterbukaan, kepolosan, kejujuran, kekuatan, kesuburan, kehidupan, dan lainnya. Ada banyak jenis Noken lengkap dengan arti, makna dan fungsinya masing-masing yang kaya dan khas.
Noken laki-laki dan perempuan sangat berbeda arti dan makna dengan simbol-simbol nilai tertentu, juga noken bagi kaum tua dan muda, noken bagi orang besar dan orang kecil, noken sehari-hari dan noken kerja, noken untuk membaringkan bayi, dan masih banyak lagi.
Sehingga hemat penulis tidak semua kekayaan nilai dalam noken itu bisa dimuat dalam noken tulisan yang sepintas lalu ini. Tapi paling kurang Noken itu Identik dengan seorang perempuan Papua yang sejati, darinya hadir dan lahir kehidupan. Lebih jauh noken itu menyimbolkan “Mama Bumi”, Tanah dan air yang senantiasa merahimi dan menghidupi alam jagat raya ini.
Secara teologis Noken itu menyimbolkan Tuhan Yang Maha Esa, Sang Pengada dan Pencipta dari-Nya kita ‘Ada’. Ia juga menyimbolkan Gereja atau Agama yang terbuka dan mau menerima siapa saja, kapan saja dan di mana saja. Secara Antropologis Noken itu simbol yang bermakna sebagai Manusia Sejati, Laki-laki dan Perempuan Sejati. Ada semangat kesetaraan gender di sini.
Secara politis Noken itu simbol yang bermakna sebagai Demokrasi yang adil, jujur dan baik, tidak ada dusta, tipu muslihat, many politic, marketing Politic, politik pencitraan dan lainnya, yang ada hanyalah integritas dan otentisitas.
Secara ekonomis noken menjadi simbol yang bermakna sebagai penunjang ekonomi keluarga, bisa mempermudah aktivitas mata pencaharian, tapi juga bisa menjadi komoditas yang unggul.
Kendati pun demikian semakin ke sini eksistensi noken asli Papua yang bercorak muda semakin di ambang kepunahan, penulis menyebut keadaan itu sebagai Nokensida, sebuah praktek pemusnahan naturalitas dan originalitas noken yang khas budaya.
Memang kita juga tidak bisa tidak menerima keniscayaan globalisasi, digitalisasi dan modernisasi yang semakin menggurita terjadi, namun justru di saat seperti itulah sebagai ahli waris budaya noken orang asli Papua tidak mesti tampil seperti ‘Ikan Mati’ atau ‘Ikan Puri’ yang mudah terbawa arus kepunahan.
Standing position OAP mesti jelas, boleh modifikasi Noken dalam dan dengan bentuk apapun sesuai ekspektasi, selera, kreatifitas dan inovasi imajinatif, namun perlu direkam secara valid bahwa dengan, dalam dan melalui itu secara sadar tidak sadar, mau tidak mau, suka tidak suka kita telah, tengah dan akan terus menerus membunuh dan menguburkan keunikan, ciri khas dan corak alami daripada budaya noken kita sendiri sesuai ekspektasi kebudayaan masing-masing. Sehingga ihwal penting yang hendak penulis ketengahkan di sini adalah BUAT NOKEN MODIF ITU BONUS, TAPI BUAT NOKEN ASLI ITU HARUS.
Kedua, Rumah Adat. Setiap suku bangsa di West Papua punya sebutan khas sendiri-sendiri tentang rumah adat. Setiap sebutan mempunyai arti, makna dan simbol tersendiri yang tidak bisa digeneralisir atau dipukul rata sebagaimana tabiat para founder fahter and founder mohter yang paling doyan menyamaratakan semua unsur kebudayaan di republik ini dengan semangat Nusantara, Bhinneka Tunggal Ika dan slogan ‘NKRI Harga Mati’. Padahal jika kita telisik dan tilik secara kritis ini semua adalah upaya ‘Jawanisasi Indonesia atau Indonesiasi Jawa’ (dari presiden pertama hingga kini semua berdarah Jawa) yang berpilar pada paham fasisme, rasialisme dan militerisme.
Kembali lagi ke rumah adat, bahwasanya seni dan etika arsitektur masyarakat lokal dulu itu sudah sangat mengakomodir dan menjawabi semua aspek atau dimensi-dimensi kehidupan yang dibutuhkan bagi berdirinya sebuah rumah layak dan sehat.
Mulai dari pemilihan dan penempatan lokasi pembangunan rumah yang strategis. Pemilihan, pengumpulan dan pengunaan bahan serta alat yang berkualitas tinggi secara adat. Teknik pembuatan dan pembangunan rumah yang cerdas, kuat, tahan lama, dan rapih, bahkan sangat indah.
Frekuensi dan hilirisasi udara, asap dan angin yang teratur serta berdampak pada penghangatan ruangan yang sederhana. Pemetaan kamar atau ruangan yang tertata sesuai norma-norma Kearifan Lokal yang berlaku.
Dari semua itu ada satu keunggulan yang dimiliki oleh rumah adat di Papua pada khususnya dan di seluruh wilayah pada umumnya, adalah bahwa tidak ada cerita atau sejarah hingga hari ini bahwa gara-gara tidur di rumah adat organ tubuh atau badan penghuninya mengalami rematik, paru-paru basah, Hepatitis, kanker tulang belakang, badan pegal-pegal, kepala pusing, dan penyakit khas modern lainnya.
Memang kita tidak bisa hitam putih berbicara seputar ini, sebab selalu ada plus minusnya, tapi sekali lagi bahwa untuk situasi dan kondisi Papua waktu itu, tipikal rumah yang paling strategis dan higienis itu hanya rumah dengan pola arsitektur adat atau tradisional, sebab itu menjadi pola arsitektur yang kontekstual sesuai situasi dan kondisi iklim, geografis, topografi, dan subekologis lainnya.
Singkatnya, Rumah Adat itu sederhana tapi sehat, sedangkan rumah modern terkadang memang lengkap, mapan dan lainnya tapi kadang-kadang bisa melahirkan bibit penyakit rematik, struk, paru-paru basah dan lainnya lantaran AC, Kipas Angin, Tewel, dan beberapa fasilitas canggih lainnya.
Dalam alam pemikiran Agama-Agama Lokal jika tinggal di rumah adat, maka kita masih bisa disambangi oleh roh-roh alam, leluhur dan nenek moyang, relasi kita dengan mereka akan senantiasa terjalin intens dan intim.
Sebab fasilitas yang kita pakai dan gunakan itu sangat akrab dengan dimensi asali mereka, sehingga mereka akan cepat mereka kerasan, disambut dan lain sebagainya bersama kita, sehingga implikasinya logisnya mereka akan senantiasa menjaga Penjaga dan Pelindung kehidupan keluarga kita.
Sebaliknya roh-roh dari alam, leluhur dan nenek-moyang (roh historis dan ahistoris; mahkluk Spritual Ekologis) akan sangat jarang bahkan nihil mengunjungi biduk kehidupan kita lantaran fasilitas canggih Modren berbasis teknologi yang kita pakai sebagai arsitektur kediaman kita itu sama sekali baru dan asing bagi mereka, mereka malah akan menjaga jarak yang terjal antara kita dan mereka, sehingga jangan sedih dan heran juga jika kadang-kadang ketika kita membutuhkan kehadiran pertolongan, bantaun dan sapaan hangat dari mereka tidak pernah kesampaian karena ada curang pemisah yang mahaterjal.
Kita sendiri yang ibarat menolak dan mencampakkan mereka ketika hendak mendirikan rumah dengan menggunakan pola arsitektur modern, walaupun kita tidak pernah menginginkan itu.
Sehingga sudah saatnya untuk mencintai arsitektur adat yang mahal itu, setiap keluarga mesti memiliki Rumah Adat Asli di kampung halaman masing-masing tanpa material, bahan atau alat dari fasilitas Modren atau teknologi canggih apapun semuanya mesti serba adat berbasis alam lokal yang asli.
Kayu, batu, alang-alang, tali, dan lainnya mesti digunakan dari sistem peralatan dan teknologi lokal yang asli khas masyarakat setempat, bukan subsidi atau logistik dari wilayah lain, jangankan wilayah lainnya, kampung lain saja tidak boleh semuanya mesti serba asli. TIDUR DI RUMAH MODREN ITU BONUS, TAPI HIDUP DI RUMAH ADAT ITU HARUS.
Ketiga, Busana Adat. Setiap suku bangsa di Papua punya busana adat sendiri-sendiri yang unik, khas dan kaya arti, makna dan simbol, sehingga tidak bisa dipukul rata bahwa ‘Batik’ adalah Busana nasional kita atau pakaian bermotif kain adalah salah satu busana paling berharga, bernilai, berharkat dan bermartabat, sementara busana lokal adalah busana kuno, primitif, kelas dua, terbelakang, mengandung unsur pornografi dan lain sebagainya.
Bangsa-bangsa pribumi mesti keluar dari cebakan pikiran dan perasaan seperti itu sebab jika dengan secara tidak langsung kita sudah, sedang dan terus senantiasa membunuh dan menguburkan eksistensi nilai-nilai luhur yang terkandung kental dalam busana serta pernak-pernik perhiasan adat kita. Jangan sampai pakaian Modren, makeup, trending busana, tata rias hits dan lainnya meng-kapitalisasi, meng-koloniasasi dan meng-feodalisasi keutuhan dan Kekudusan busana adat. Bersambung. (*)
(KMT/Admin)
Sabtu, 25 Februari 2023
Hujan Bedil, Banjir Peti Mayat
![]() |
| Dok: Ist/ Fenomena Penculikan Anak dan Kericuhan Maut di Wamena. (Siorus Degei) |
Anak kecil itu sempat diajak oleh sopir itu untuk naik ke mobil, karena dipaksa anak kecil tersebut menjadi takut dan berlari minta tolong, mendengar suara anak kecil yang teriak minta tolong beberapa masyarakat di situ pun mengejar oknum sopir yang berlari menuju kantor polisi.
Di sana masyarakat hendak bertanya kepada si sopir kira-kira apa motifnya memaksa anak kecil untuk naik pickup, dugaan terkuat masyarakat adalah sang sopir hendak menculik si anak karena seperti yang kita ketahui bersama dewasa ini bisnis penculikan dan penjualan organ tubuh manusia sedang menjamur.
Namun rupanya polisi tidak memberikan akses bagi warga masyarakat untuk menanyai motif pelaku. Di sini aparat keamanan terkesan memihak pelaku, mungkin karena aparat keamanan hawatir jika pelaku diberikan kepada korban dan keluarga barangkali mereka akan main hakim sendiri dan sang pelaku bisa saja kehilangan nyawa.
Sebenarnya iktihar polisi itu baik dan benar dalam rangka meredahkan amukan massa, namun lagi-lagi karena tidak terima dengan sikap aparat keamanan yang cenderung berpihak pada pelaku membuat masyarakat semakin resah dan hilang kesabaran sehingga pecah sudah situasi chaos antara warga sipil non Papua bergabung bersama aparat keamanan berunjukrasa dengan masyarakat asli Papua, (https://www.bbc.com/indonesia/articles/cw408q0wxv1o, 25/02/2023).
Alhasil dalam kasus tersebut mengakibatkan korban yang bukan kapalang, 9 nyawa (ada yang menyebutnya ada 10, 12 dan 14 korban nyawa) 14 orang luka-luka, 13 orang diamankan oleh Kapolda Papua, Atas insiden di Wamena, korban luka-luka dari aparat ada 18 orang, yang 16 di antaranya terkena lemparan batu dan 2 orang terkena panah, yakni 1 perwira polisi dan 1 anggota TNI. Dan ini sudah kita minta untuk segera ditangani. 13 rumah yang dibakar saat kerusuhan pecah, (https://news.detik.com/berita/d-6588705/polisi-tangkap-13-orang-terkait-kerusuhan-maut-di-wamena, 25/02/2023).
Fenomena kasus penculikan bukan kasus yang baru kali ini menjadi trending topic di tanah air, pasalnya beberapa bulan belakangan ini, bahkan beberapa tahun belakangan ini marak terjadi aksi penculikan anak dengan kedok bisnis penjualan organ tubuh manusia di bawah umur oleh oknum dan pihak tak dikenal secara ilegal.
Berbeda dari tahun sebelumnya, kasus penculikan anak bertambah lebih banyak pada awal 2023. Total 28 kejadian terjadi sepanjang awal tahun, menurut data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPA) 2022, angka ini meningkat dari tahun sebelumnya yang sebanyak 15 kejadian.
Dalam konferensi pers, Deputi Bidang Perlindungan Khusus Anak, Nahar mengajak seluruh pihak, baik orang tua, masyarakat, sampai Pemerintah terlibat dalam pengawasan anak dari penculikan anak, (https://nasional.tempo.co/read/1688519/kasus-penculikan-anak-meningkat-awal-2023-apa-lagi-selain-penculikan-malika, 25/02/2023).
Peristiwa ini sejatinya sangat marak terjadi di kota-kota besar, bukan saja Indonesia, tapi beberapa negara di Asia Tenggara lainnya, bahkan dunia internasional. Indonesia hanya salah satu negara yang terjangkit bisnis Penjualan Organ Tubuh Manusia karena lilitan ekonomi yang mendesak.
Bisnis Penjualan Beli Organ Tubuh Manusia ini kini menjadi sebuah mata pencaharian tersendiri di tengah lilitan situasi ekonomi yang tak kunjung mencerahkan wajah kehidupan layak di tingkat masyarakat periferi marjinal.
Bangkir, Mafia dan Ganster di balik bisnis ini tentunya bukan orang-orang sembarangan dari kalangan sembarangan pula. Jalan terobosnya adalah dengan melakukan pekerjaan-pekerjaan gampang tapi mengahasilkan Ouput cukup, salah satunya Bisnis Penjualan Organ Tubuh Manusia dengan menggunakan pendekatan Penculikan Anak di bawah umur.
Karena penghasilannya yang menggiurkan bisnis penculikan anak dan penjualan organ tubuh manusia menjadi beberapa pilihan alternatif bagi beberapa oknum dan pihak yang dililit persoalan ekonomi emergency, atau memang karena otak dan watak dari manusia-manusia itu sudah tergoda dan tergadai nilai rupiah.
Di Papua sendiri, kasus penculikan anak dan penjualan anak anak yang bermuara pada perdagangan organ manusia ini baru-baru ini sempat terjadi di Sorong, Papua Barat, aksi pembakaran itu terjadi di Kilometer 8 Kota Sorong, Papua Barat Daya, sekira pukul 07.00 WIT, Selasa (24/1/2023).
Di mana seorang wanita yang tertangkap melakukan bisnis penculikan dan penjualan anak ini oleh warga masyarakat masyarakat setempat, kemudian sebagai akibatnya pelaku tersebut dibakar hidup-hidup oleh warga masyarakat hingga tewas terpanggang , peristiwa itu sempat heboh dan viral.
Kasus yang terjadi di Wamena ini tercatat sebagai kasus kedua pasca kasus Sorong di atas. Memang Kapolda Papua dan jajarannya mengklaim bahwa Isu Penculikan Anak di Sinakma Wamena itu adalah sebuah berita bohong atau informasi hoaks.
Namun jika itu adalah sebuah berita hoaks kenapa mampu mengakibatkan amukan massa yang super dahsyat? Kenapa untuk menengarai itu aparat keamanan mesti menghujani warga sipil dengan bedil panas dan menelan korban jiwa yang banyak?
Yang jelas yang tahu seluk-beluk letak persolan di lapangan adalah warga sipil yang menjadi saksi dan korban, karena sebagai pelaku teramat sangat mustahil pelaku hendak mengadili pelaku.
Quo Vadis Nasip 9 Korban?
Hingga detik ini publik masih belum mendapatkan sebuah informasi yang detail dan kredibel terkait kasus kericuhan maut pasca isu penculikan anak. Kita tidak tahu siapa-siapa saja yang menjadi korban, dari mana asal mereka, apa profesinya, apa statusnya dan lain sebagainya.
Kita hanya tahu jumlahnya saja, bahwa ada 9 korban jiwa dalam tragedi kemanusiaan mahadasyat itu, 14 korban luka-luka, 13 orang diamankan, 15 Ruko dibakar dan lain sebagainya.
Kita juga tidak tahu bahwa apakah semua korban nyawa itu diakibatkan oleh luka tembak dari aparat keamanan atau luka hasil kericuhan antar sesama Warga Sipil? Berdasarkan BBC dikatakan bahwa semua korban jiwa dikalangan warga sipil yang notabene orang asli Papua itu adalah hasil penembakan aparat keamanan.
Ketua Komunitas Sapalek Bersatu, Gibson Kogoya mengatakan, seluruh korban yang tewas dalam kerusuhan itu disebabkan oleh tembakan aparat keamanan, di antaranya adalah tujuh orang asli Papua, dan sisanya adalah pendatang, (https://www.bbc.com/indonesia/articles/cw408q0wxv1o, 25/02/2023).
Aktivis HAM Papua Theo Hesegem menduga ada pelanggaran HAM saat kerusuhan di Wamena. Hal ini karena aparat menggunakan senjata api dalam penanganan kerusuhan.
“Bisa ada dugaan pelanggaran HAM karena ini yang korban semua mengalami luka tembak. Tapi biarlah Komnas HAM nanti yang menilainya karena itu kewenangan mereka untuk menyampaikannya,” (https://www.detik.com/sulsel/hukum-dan-kriminal/d-6587858/fakta-fakta-kerusuhan-maut-wamena-imbas-hoax-penculikan-anak, 25/02/2023).
Keluarga korban juga meminta beberapa hal ihwal;
Pertama, Mereka meminta segera diadakan Visum oleh Petugas Medis dan segera secara terbuka diumumkan hasil visum dan otopsi tersebut berdasarkan bukti serpihan selongsong peluru amunisi yang ada di lokasi kejadian dan di dalam tubuh korban agar publik mendapatkan informasi yang valid terkait siapa pelaku penembakan dan pembuahan itu.
Sehingga tidak perlu ada ketakutan atas tekanan todongan moncong senjata api aparat keamanan. Hal ini dirasakan teramat mendesak sebab terkadang aparat keamanan akan menyembunyikan fakta bahwa merekalah pelaku penembakan warga sipil dengan menghilangkan jejak forensik atas peluru senjata yang digunakan.
Kedua, Keluarga juga meminta agar nama-nama atau identitas resmi dan jelas dari para korban segera dirilis oleh aparat keamanan dan komunitas pegiat HAM dan kemanusiaan.
Mereka juga memohon agar semua pegiat HAM dan kemanusiaan bersedia mengadvokasi dan menginvestasikan masalah ini sebab yang dihadapi oleh keluarga adalah aparat keamanan sebagai simbol penguasa, sehingga mereka sangat membutuhkan pantauan hukum dan advokasi kemanusiaan serta investigasi HAM agar ada efek jerah dan rasa keadilan, kepuasan dan kedamaian bagi korban dan keluarga yang ditinggalkan.
Sebuah Strategi Guna Membatasi Ruang Egianus Kogoya
Terlepas dari fenomena Kasus Penculikan Anak dan Kericuhan Maut di Sinakma Wamena di atas yang menelan banyak nyawa, penulis hendak menganalisa Kasus tersebut secara lebih lain, yakni penulis melihat bahwa Kasus Penculikan dan Kericuhan Maut di Wamena itu adalah sebuah strategi cipta kondisi dan situasi oleh aparat keamanan dalam rangka membatasi ruang pergerakan atau akses keluar-masuk, mobilitas Panglima Jenderal Egianus dan kawan-kawan pejuang gerilya Kodap III Ndugama West Papua yang saat ini sedang diincar oleh dunia, terutama oleh Tim Operasi Pembebasan Pailot Philip Mark Marhtens sejak Selasa, 07 Februari 2023.
Negara hendak mengembargo Ndugama dari Wamena, agar ketika mengalami krisis Sandang, Pagan, Papan, Amunisi, Senjata, dan kebutuhan-kebutuhan pokok lainnya yang notabene entitas itu hanya ada di kota Wamena, aparat keamanan dan pertahanan negara akan dengan mudah menangkap mereka atau siapapun yang berafiliasi dengan mereka.
Dengan menggunakan alasan Kamtibmas aparat TNI-Polri akan menggerakkan kekuatan militer sebanyak mungkin untuk tumpah di Wamena, guna mengsterilisasi zona konflik Ndugama dari Wamena.
Kita tahu bersama bahwa Wamena adalah salah tempat strategis yang menghubungkan hampir semua kabupaten di Pegunungan Tengah, termasuk Ndugama, hal ini yang menjadikan Wamena tampil sebagai kota metropolit di pegunungan tengah dan karenya terpilih sebagai kandidat Ibu Kota DOB Papua Pegunungan yang cacat itu, hingga kini masih terjadi sengketa terkait pro-kontra lokasi pembangunan pusat ibu kota provinsi.
Banyak pengunsian asal Ndugama akan mengungsi ke Wamena dan beberapa kabupaten tetangga. Pihak Gereja menyebut, selain Distrik Paro, terdapat empat distrik lain yang ikut terdampak hingga membuat masyarakat kampung harus mengungsi pascaperistiwa pembakaran pesawat Susi Air yang berujung penyanderaan pilot Susi Air Philip Mark Mehrtens, 37 tahun, warga berkebangsaan Selandia Baru, pada Selasa, 7 Februari 2023 lalu.
Tidak ketinggalan ada beberapa kebutuhan pokok pula yang pasti akan dibeli juga atau dicari oleh anggota Kodap III Ndugama West Papua di Wamena.
Aparat keamanan negara sengaja menciptakan kondisi dan situasi di Wamena guna mengkondisikan Wamena. Mereka akan mengeledah setiap pegunsi yang masuk, bahkan skenario itu mereka ciptakan guna menghalau gelombang massa pengunsian dari Ndugama, aparat keamanan sengaja semakin menakut-nakuti psikologis bangsa West Papua di Ndugama bahwa tidak ada jaminan kesehatan, keamanan dan keselamatan jika mereka ke Wamena sebab Wamena baru saja dilanda musibah tragedi kemanusiaan akibat ulah aparat keamanan yang “gila”.
Kurang lebih demikian beberapa agenda yang terselip di belakang fenomena penculikan dan kericuhan maut di Wamena. Sudah barang tentu sang sopir yang tampil sebagai pelaku dalam insiden itu adalah Intel atau Militer Sipil (Milisi).
Warga sipil yang dipasang oleh aparat keamanan sebagai pion dan bandit-bandit recehannya. Negara sengaja mempersempit ruang gerak Panglima Jenderal Egianus Kogoya dan pasukannya serta semakin membunuh psikologis massa pengunsi Ndugama West Papua di Wamena sebagai pusat kota yang seharusnya menjadi tempat terindah dan ternyaman bagi mereka di tengah-tengah situasi multikrisis, namun hal itu seperti hanyalah tinggal distopia belaka.
Beberapa Penegasan Pokok
Mengakhiri tulisan ada beberapa ihwal penting yang hendak penulis ketengahkan;
Pertama, kenapa bisnis Penculikan dan Penjualan Organ Manusia sulit dibongkar kedoknya dan malah semakin gurita terjadi di tanah air hingga merambat ke bumi West Papua? Tentu sebab ada aktor invisible hand yang memfasilitasi dan mem-backup aktor-aktor yang mempraktekkan bisnis gelap tersebut.
Sehingga dari negara repot-repot mengirim ribuan pasukan militer ke West Papua, lebih berguna Anggkatan Bersenjata itu digunakan untuk memberangus kedok-kedok, Mafia dan Ganster bisnis Penculikan Anak dan Penjualan Organ Tubuh Manusia, serta kartel kejahatan lainnya di tanah air.
Sebab sangat disayangkan hanya kantong mayat yang dibawa pulang dari Medan konflik Papua, lebih tenaga aparat keamanan itu digunakan untuk menyelesaikan masalah sektoral bangsa, sementara masalah Papua diselesaikan dengan, dalam dan melalui konsep dan mekanisme hukum internasional.
Pilot Mark Marhtens baik-baik saja bersama Egianus dan pasukannya di rimba Ndugama West Papua, Tim Operasi Pembebasan dan Tim Negosiasi tidak akan pernah menyelesaikan masalah, yang ada hanyalah lahirnya masalah baru.
Kedua, mohon pantauan, advokasi, intervensi dan investigasi dari semua oknum dan pihak komunitas, instansi, lembaga dan otoritas HAM, demokrasi, keadilan, kebenaran dan kedamaian di tanah air memberikan efek jerah dan rasa keadilan bagi keluarga korban dari 9 nyawa yang melayang dalam insiden kericuhan maut di Sinakma Wamena.
Bahwa semua komunitas HAM dan kemanusiaan diharapkan mampu mendesak presiden untuk segera merespon secara tegas situasi dan kondisi krisis kemanusiaan di Wamena West Papua.
Semua petinggi negara, Agama, dan seluruh stakeholder bangsa dan negara ini mesti buka nalar, mata, hati dan kehendak untuk menyapa Papua, memeluknya dan meluapkan hasrat cinta damai kepadanya.
Kita berdoa, berharap dan terus berjuang dengan optimisme yang membara agar semua proses hukum dapat berjalan dengan baik sesuai prinsip-prinsip HAM universal sehingga pelaku mampu mendapatkan upahnya dan korban mampu mendapatkan sapaan dialog, rekonsiliasi, rekognisi dan rehabilitasi paripurna. (*)
(KMT/Admin)




