Senin, 17 April 2023

Falsafah Dou Gai, Ekowai, Ewanai

 

Dok/Ist: Falsafah Dou Gai, Ekowai, Ewanai. (Dalam Habitus Reksa Pastoral-Kontekstual Di Keuskupan Timika
*Siorus Degei

Rotasi dan orientasi kehidupan manusia itu menunjukkan bahwa seiring berkembangnya waktu manusia beserta kosmos juga mengalami perubahan. Perubahan mencakup hampir seluruh dimensi kehidupan manusia.

Mulai dari pola pikir, pola merasa, pola kerja, pola bahasa, sistem kepercayaan, dan sistem- sistem pokok kehidupan lainnya. Sama seperti kebudayaan di dunia yang notabenenya memiliki local genius yang teramat kaya akan nilai-nilai positif dalam kehidupan. 

Di Papua, khususnya di wilaya Meepago atau Meewodide, tepatnya dalam kearifan lokal suku Mee. Ada sebuah sistem filosofis hidup yang luhur, yaitu Dou-Melihat, Gaii-Berpikir, Ekowai-Bekarya, dan Ewainai-Menjaga.

Dalam tulisan ini kita akan melihat bagaimana empat pusaka kehidupan Suku Mee itu nampak secara tidak langsung sebagai spiritual dalam habitus Reksa Pastoral Kontekstual di Keuskupan Timika secara blak-blakan.

Esensi Dan Subtansi Dou, Gaii, Ekowaii, Dan Ewanaii Dalam Perpektif Filosofis

Dalam habitat kulturistik Suku Mee terdapat falsafah dasar yang menjadi pedoman atau panduan hidup yang realistis, yaitu Dou-Look, Gaii-Think, Ekowaii-Action, dan Ewainai-Security atau Protecty. Dou secara harafiah berarti ‘Melihat’ kata melihat ini juga memiliki multi-makna tidak meluluh aktivitas mengamati, memandang, atau aktivitas pencerapan indra penglihatan lainnya.

Melainkan Dou ini juga secara sensual bisa berarti Peduli, Peka, terbuka, jujur, integritas, simpati, empati, solidaritas, dan partisipasi aktif. Perwujudannya ialah aksi welas kasih atau belarasa yang bersumber dari dalam lubuk hati dengan semangat cintah kasih sebagai sumbuh action and passion-nya. 

Jadi Dou berarti simpatif yang empatif, partisipasi yang solideritatif, dan aktif yang positif, bukan meluluh aktivitas indra pengilhatan semata. Seorang mampu ‘Dou’ dengan baik dan benar, dalam arti ketika ia mampu melihat fenomena alam dan fenomena sosial bukan saja dengan mata jasmani tapi juga dengan mata rohani, bukan saja dengan mata sosial tapi juga mata intelektual, moral, dan spiritual. Di situlah ia akan menjadi aktivis kehidupan yang sejati.

Berikutnya ‘Gaii’ juga memiliki arti harafiah yang multi-makna. Secara general verbal ‘Gaii’ berarti Berpikir, Pertimbangan, Waspada, Permisi, dan masih banyak lagi tergangtung situasi dan kondisi penggunaannya, (Manfred C. Mote, 2013, hlm. 12)

Dalam konteks tulisan ini makna yang akan dipetik ialah ‘Gaii’ sebagai sebuah konsep berpikir kontekstual yang filosofis. Ketika seorang mampu ‘Gaii’ secara baik dan benar atau ketika seorang mampu berpikir secara positif dan logis, kritis, analitis, objektif, maka secara tidak langsung akan menjadi konseptor kehidupan banyak orang yang birlian. 

Selanjutnya ‘Ekowaii’, secara harafiah berarti Berkarya, Bertindak, Bekerja, Bergerak. Ekowai ialah aplikasi dari hasil Dou dan Gaii di atas, (John Giyai, 2013, 223). Jadi Ekowai itu adalah tahap eksekusi, operasional, atau konkritisasi atas konsep penghayatan dan pemikiran dalam aktivitas Dou dan Gaii. Biasa orang yang kuat dan tekun secara tekun ialah orang yang mampu beer-Ekowai secara baik dan benar.

Terakhir ialah ‘Ewainai’ secara harafiah berarti Menjaga, Merawat, Pasang Badan, Berada di Garda Terdepan. Pada kiat ini apa yang sudah di-Dou, di-Gaii, di-Ekowai dengan baik dan benar dipastikan agar tetap eksis. Memproteksi dan mempromosi nilai-nilai yang mapan dalam formula Dou, Gaii, Ekowai adalah panggilan Ewainai yang hakiki.

Jadi sederhananya Falsafah Dou, Gaii, Ekowai, dan Ewanai merupakan satu paket panduan kehidupan yang etis dan fudamen atau sering dikenal dengan istilah Touye Mana, Kabo Mana, Kabo Gaii-Dimi. Dou, Gaii, Ekowai, dan Ewainai menegaskan seorang pribadi manusia yang otonom dan integral dalam pikiran, hati, kehendak dan tindakan.

Pater Tilemmans Dan Misionaris Lainnya

(Para Doubii Yang Ulung)

Dalam sejarahnya Pater Herman Tilemmans MSC (13 Juli 1902-23 Agustus 1973) merupakan seorang imam katolik dari Ordo Hati Kudus Yesus juga yang kelak akan menadi Uskup perdana di Keuskupan Merauke. Singkat cerita adalah bahwa Pater Tilemmnas merupakan seorang imam yang menjadi misionaris di wilaya Meepago.

Pada April 1932, pater Tilemans berjumpa dengan seorang pembuh asal suku Mee di Pronggo-Kamoro-Mimika, diantaranya Wgakei Gobai, Ikoko Nokuwo, dan Auki Tekege. Perjumpaan ini menjadi cikal-bakal munculnya Agama Katolik-Roam di wilaya Meewodide. Tepatnya pada 21 Desember 1935 melalukan ekspedisi menuju Modio. Akhirnya pada 25 Desember 1935 rombongan ekspedisi itu sampai di Pegunungan Tiho-Watiha, Peter Tillemans merayakan natal pertama kali disitu. 

Pater Tilemmans menetap beberapa hari sambil mempelajari bahsa dan beberapa kebudayaan masyrakat Mee di Modio. Hingga pada 7 Januari 1936 misa kudus dalam rangka membuka Injil di wialya Mewodide dipimpin oleh pater tilemnasa dan diikuti oleh hampir seluruh pemimpin di wilaya Meewoo dan Mouwoo. Semua tonowi dan Sonowi hadir dalam acara pembukaan Injil itu. Demikian sepengala kisah Pater Tilemmans dalam Misi Injil di Mewoodide, (Biru Kira, 2018, 63).

Dari sepengal kisah Pater Tilmenas dapat diinisiasikan sebagai seorang “Doubii” yang ulung. Dou berarti ia seorang misionaris yang berhasil menemukan Suku bangsa Mee di tengah hutan belantara dan ketinggian Gunung pencakar langit. Ia melalui tim ekspedsi udara dan alam menemukan suku bangsa Mee yang tadinya hidup terisolasi. Melalui pratek misionaritas tilemmans suku bangsaMee mampi melihat terang. 

Jadi dalam perspektif Mee dapat disimpulkan bahwa Pater Tilemmans dan para misisonaris lainnya baik yang bermisi sebelum dia, bersama dia, dan setelah dia, mereka semua dapat dinisiasikan sebagai secara kulitural filosofis sebagai “Doubii Sejati”. Hal ini sebagai sebuah bentuk ungkapan apresiasi mendalam terhadap mereka atas jasa dan kerja keras mereka dalam mewartakan Injil Kristus ke seluruh dunia, khususnyaa di Meepagoo.

Mgr. John Pihlip Saklil “Gayaibii Sejati” 

(Konseptor-Pastoral-Kontekstual di Papua)

Alm. Mgr. John Philip Saklil menjadi Uskup keuskupan Timika Uskup pada 18 April 2004 dan wafat pada 3 Agustus 2019, (Bennyamin Magai, 2020, 15). Siapa yang tidak kenal dengan sosok berbulu gembala ini. Uskup John adalah tokoh kehidupan manusia Papua yang besar.

Ia amat cerdas bahkan jenius dalam melahirkan pendektaan-pendekatan Pastoral-Kontekstual di Papua yang sangat memenuhi dan menjawabi kebutuhan Pastoral umat. Banyak sekali karya beliau yang tidak akan tenggelam dari lembaran sejarah kegerajaan di Indonesia, dan khussunya di Papua, yakni di Keuskupan Timika.

Salah satunya ialah “Gerakan Tungku Api Kehidupan” atau “Tungku Api Keluarga” yang sangat kontekstual dan menjawab sendi-sendi kehidupan pastoral umat, terlebih mereka yang hidup di wilaya-wilaya yang tersolir dan rawan krisis.

Secara cukup lebih rinci semua bentuk keberpihkan Uskup terhadap situasi dan kondisi di Papua dalam aspek Pastoral-kontekstual dapat kita lihat dalam buku “ Gereja Dan Tragedi Kemanusiaan di Keuskupan Timika” yang terbit pada 2017 silam.

Dalam buku yang diedit oleh RD. Dominggus Hodo itu dapat kita jumpai, konsep, orasi dan narasi, sikap, tindakan, dan karya pastoral kontekstual dari Uskup John. Pikiran dan hati kita akan terbuka bersamaan ketika kita membaca apa visi-misi bapa uskup John di tanah Papua, (Bennyamin Magai, 2020, 58).

Beliau adalah rasul kehidupan bagi orang asli Papua. Nabi kemanusiaan bagi orang asli Papua. Ia adalah pemikir masa depan bangsa Papua yang hebat. Dan sebernarnya beliau adalah “Wajah Tuhan” yang nyata di Papua. Beliau adalah jawaban Tuhan atas doa-doa para martir kehidupan di tanah Papua yang telah gugur demi menegakan kebnaran, keadilan, dan kedamaian di bumi cendawasi. Maka tidak salah nama “Gayabii” yang disematkan secara adat oleh suku Mee kepda beliau.

Pater Martin Kuayo “Ekowabii Sejati” 

(Pewaris Estafet Misi Keselamatan di Keuskupan Timika)

Berikutnya ialah seorang imam yang sangat taat, tekun, alot, vocal, tenang, dan rajin bekerja keras dalam karya pelayanan imamat. Ketekunan beliau dalam pelayanan juga konsistensinya dalam merealisasikan semua gebrakan Pastoral-Kontekstual dari pendahulunya Mgr. Gayabii Saklil tidak dapat diragukan lagi. Barangkali semua umat di Keuskupan Timika. Terlebih mereka yang pernah menjadi umat penggembalaannya pasti sudah tahu bagaiman kiprah dan passion beliau dalam berpastoral secara kontekstual.

Menurut bapak Yopi Degei, seorang sahabat karib Pater Martin semasa SMP di Moanemani (kini Kab. Dogiyai) beliau menilai bahwa Pater Marten itu memang sudah dari kecil cita-citanya hanya menjadi seorang imam seperti pastor-pastor barat. Beliau juga merupakan seorang koster yang sangat rajin dan tekun.

Ia selaluh tinggal bersama para imam belanda, karena hanya dia saja yang terang-terangan menyatakan bahwa mau jadi seorang imam. Maka Pater Martin dekat para misionaris dan mereka juga sangat dekat dengan dia.

Ia banyak belajar bagaimana menjadi pastor yang sejati dari para misonaris barat. Sudah sedari kecil, yaitu saat ia menjadi koster dia diajarkan untuk menjadi imam yang sejati. Bagi bapak Degei, temannya Pater merupakan seorang imam yang sederhana, murni, dan taat. Pater martin itu memang seorang imam yang benar-benar imam yang hidup sesuai dengan aturan Gereja yang resmi. 

Beliau melanjutkan bahwa biasa di kelas Pater Martin sering iseng-iseng kepada teman-temannya bahwa “tidak apa-apa kalian yang lain kawain, biar anak-anaknya saya berih sakramen baptis, komuni, tobat, perkawinan, dan sakramen lainnya”.

Bapak Yopi sangat optimis bahwa temannya Pater Marten itu akan menjadi Uskup Timika karena ia sangat layak, karena selam ini ia memang benar-benar jalan dan hidup dalam koridor seorang imam yang sejati, ia tahu aturan gereja bilang apa untuk seorang imam dalam kehidupan imamatnya dan itu Pater Martin buktikan dalam karya pelanannya selama ini.

Ia tidak berbiaca dan terlibat dalam politik praktis.Tetapi ia hanya mengutamakan pelayanan pastoral yang menyelematkan semua pihak, (Hasil wawancara melalui via-telpon dengan Bapa Yopi Degei, seorang sahabat karib Pastor Martin di SMP YPPK Moanemani-Dogiyai pada Sabtu, 10 Agustus 2021, Pukul 16:30 A.M WIT). 

Jadi dari ulasan mengenai siapa sosok pater marun sebagai ekowaibi sejati di atas menunujkan bahwa pater adalah seorang pekerja kerasa yang tekun dan konsisten serta memiliki rekam jejak palayanan imamat yang baik.

Bahwa ia merupakan seorang pendegar yang baik dan eksekutor rekasa pastoral kontektual yang terampil. Maka sudah tidak diragukan lagi bahwa apa yang telah diupayakan oleh Alm. Mgr. Gayabii akan terealisasi melalui pater Martin karena memang itu ranah spirtiualnya sebagai “Ekowaibii Sejati”.

Bahwa sebagi seorang “Gayabii Sejati” bapa uskup John telah meletakkan dasar-dasar konsep Pastoral-Kontekstual di Papua terlebih khusus di Keuskupan Timika salah satunya Gerakan Tungku Api Kehidupan”.

Kini tugas pater Martin hanyalah melanjutkan saja, tinggal eksekusi, dan sesuai dengan nama adat yang juga menjadi spirit panggilannya, yakni Ekowaibii. Maka Pater Martin merupakan sosok yang bisa dipertimbangkan untuk mengampuh tugas sebagai uskup Keuskupan Timika.

Para Imam dan Kaum Religius Lainnya Sebagai “Ewainaibii Sejati” 

(Protektor Eksistensi Perabadan Gereja)

Para Imam dan kaum religius, khsusnya yang asli Papua sebisa mungkin dapat menjadi corong yang paling kurang mendukung semua karya pastoral yang berpihak kepada mereka yang miskin, lemahl, kecil, sakit dan tersingkir. Para klerus ini mempunyai panggilan untuk mewujudkan nyatakan semua reksa pastoral yang telah diradaskan oleh keuskupan.

Dalam konteks aplikasi reksa pastosal-kontekstual di Keuskupan para imam dan kaum religius seyogiayanya memproteksi dan mempromosikan nilai-nilai yang terkandung dalam reksa pastoral keuskupan Timika termavifestasi dalam kehidupan sehari-hari umat.

Para imam dan kaum religius bisa menginkulturasikan aspek-aspek pastoral-kontekual kedalam dimensi-dimensi sosio-kultural daerah-derah di mana mereka bertugas, khusus umat periferi di zona diaspora. Bahwa mereka menjadi perisai eksistensi perabadan Gereja.

Penekanan khusus dititikberatkan kepada para imam dan kaum religus pribumi Papua. Imam-imam dan biarawan-biarawati asli Papua. Sebagai pemilik hak ulayat tanah Papua yang ulung kiat menjaga, merawat, melindungi, membinbing, dan memasang badan demi tegaknya keadilan, kebenaran, kedamaian dan keselamatan baik rohani maupun jasmani menjadi sebuah rahmat panggilan yang keliru bila sekali-kali diabaikan, terabaikan atau mengabaikan.

Dengan demikian secara tidak langsung sebenarnya spirit filosofis hidup orang Mee; Dou, Gaii, Ekowai, dan Ewainai sangat kental dalam kehidupan dan perabadan Keuskupan Timika dari awal para misonaris, yakni pater Tilemmans MSC dan kawan-kawan yang terampi tampil sebagai “Doubii Sejati”. Bapa uskup John Pilip Saklil yang melalui kharisma Pastoralnya hadir sebagi pemikir perabadan umat Allah di atas tanah Papua yang kaya akan susu, madu dan emas sebagai “Gayabii Sejati”.

Kemudian pater Martin Kuayo yang sangat getol dan vokal meng-goal-kan bola-bola titah Reksa Pastoral Kontekstual dalam dunia real sebagai “Ekowaibii Sejati”. Dan yang terakhir panggilan mendesak bagi para imam dan biarawan-biarawati, khsusnya yang asli Papua untuk menjaga dan memastikan bahwa semua nilai-nilai kehidupan yang baik dan benar dalam Reksa Pastoral Kontekstual menjurus dalam dimensi-dimensi rela kehidupan umat sebagai “Ewainaibii Sejati. Semua terjadi hanya seturut rencan Allah. (*)

Referensi

Mote C. Manfred. 2013. Touye. Cermin Papua.

Giyai John. 2013. Memahami Papua. Cermin Papua.

Bennyamin Magai. 2020. Probelmatika Perdamaian Dan Pastoral Kemanusiaan. Pustaka Larasan.

Hasil Wawancara Melalui Via-Telpon. Sabtu, 12 Oktober 2021.

)* Penulis Adalah Mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat-Teologi “Fajar Timur” Abepura-Papua.

(KMT/Admin)

Selasa, 04 April 2023

Dialog, Gereja, dan Masyarakat Papua

 

Dok: Ist/ Jejak Narasi Menjadi Gereja Papua. (Siorus Degei)

*Siorus Ewanaibi Degei 

Pada tulisan ini kita akan bersama-sama bernostalgia ke sedikita alam sejarah guna melihat dan merefleksikan bersama kira-kira apa saja yang sudah terjadi pada masa lalu, bagaimana pengalaman masa lalu itu kita rajut menjadi bekal, visi dan misi yang orisinil, realistis dan gemilang bagi masa kini dan masa depan. Akan dipaparkan tiga poin, yakni Dialog, Gereja dan Masyarakat Papua. Kita mau memahami bersama bagaimana masyarakat Papua itu merespons dunia luar, dalam hal ini agama-agama luar yang datang dan masuk ke dalam masyarakat. Hal ikwal yang akan kita telisik adalah proses dialog yang terus terjadi antara dua kebudayaan yang saling bertemu, berkenalan, mengenal, mencintai dan mengembangkan.

Apa Itu Dialog?

Secara sederhana Dialog dipahami sebagai sebuah proses percakapan atau pembicaraan di mana ada satu dua orang yang saling berinteraksi, berelasi dan berkomunikasi. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), dialog adalah sebuah proses percakapan. Berdialog berarti bertukar pikiran tentang suatu pokok persoalan atau permasalahan yang selalu mengitari dan mengunturi kehidupan manusia. Namun apa hanya seperti dan sebatas itu pengertian dialog? 

Jika kita terobos ke dalam alam sejarah pemikiran kuno, maka kita akan berkenalan dengan seorang filsuf yang menggunakan dialog sebagai metode berfilsafatnya, yakni Sokrates (470-399 SM), guru dari Plato. Dialog paling kurang persis seperti apa yang dilakukan oleh Sokrates di Pasar Agora dan seantero imperium Atehna (Yunani) 2052 tahun silam. Filsuf tersohor Yunani kuno yang lahir pada 470 tahun SM ini selalu mengadakan diskusi bersama para politisi, seniman, sastrawan, pedagan, kaum muda, para sofistis dan rakyat jelata untuk membahas suatu fenomena sosial atau isu menarik tertentu yang dialami bersama dan dicari pemahaman bersama demi mencapai kebaikan bersama, itulah kebenaran objektif dan rasional. Bagi Sokrates, kebenaran itu bukan milik seseorang, sekelompok, atau sebagainya. Tetapi merupakan buah dari pencarian bersama dalam sebuah diskusi atau musyawara, (Mauludi, 2018; 2-5).

Walau diakui sebagai orang paling cerdas di Yunani kala itu, rupanya Socrates menampik bersih nubuat itu, ia malah berkata “Pengetahuanku adalah Ketidaktahuanku”. Socrates, tidak hadir dalam proses dialog atau diskusi publik itu sebagai seroang filsuf yang hebat, tetapi ia hadir polos dengan ragam perntayaan bak seorang anak kecil yang tidak tahu apa-apa dan ingin tahu apa-apa. Kelebihannya dalam setiap diskusi atau dialog adalah bahwa ia tahu apa yang gerangan bersemayam dalam budi lawan bicaranya. Ia hadir bukan sebagai orang yang mendikte lahirnya sebuah kebenaran, melainkan sebagai fasilitator, mediator, atau katalitasator daripada proses pencarian kebenaran itu, ia lebih tampil layaknya seorang Bindan yang membantu masyarkat atau siapa saja yang ia jumpai dalam proses persalinan kebenaran. Metode Filsafatnya terinspirasi dari ibu kandungnya yang adalah seorang Bidan. 

Kurang lebih demikian pengertian dialog. Bahwa dialog itu sebuh metode berfilsafat, yang kemudian akan diradikalkan oleh Hegel dengan metode filsafatnya yang ia sebut sebagai Dialektika. Dalam kepentingan penulisan ini, makna dialog yang akan kita petik ialah dialog sebagai sebuah metode pencaharian/penyelaman kebenaran objektif, dalam konteks perjumpaan masyarakat Papua dengan dunia luar atau Agama (Kekristenan, Gereja). Bahwa dialog yang akan kita gubris adalah dialog kebudayaaan yang bersifat mutualisme atau saling menguntungkan antara kedua belah pihak yang saling berdialog atau berdialektika.

Apa Itu Gereja?

Perluh diketengahkan bahwa makna Gereja yang mau didefinisikan di sini adalah Gereja sebagai kumpulan umat beriman sebagaimana paradigma Konsili Vatikan II, bukan gereja yang dalam artian bangunan melulu sebagaimana paradigma pra Konsili Vatikan II.

Secara etimologis Gereja berasala dari Bahasa Yunani “eklēsia”, secara harfiah berarti “yang dipanggil keluar” atau “yang dipanggil maju ke depan”, dan populernya digunakan untuk menyifatkan sekelompok orang yang dipanggil berhimpun untuk melakukan sesuatu, teristimewa untuk menyifatkan rapat warga sebuah kota, misalnya di dalam nas Kisah Para Rasul 19:32-41. Kata ini adalah istilah Perjanjian Baru yang merujuk kepada Gereja (baik dalam arti jemaat lokal maupun dalam arti segenap umat beriman). Di dalam Septuaginta, kata “eklesia” digunakan sebagai padanan untuk kata Ibrani “qahal”. Sebagian besar bahasa rumpun Romawi dan rumpun Kelt menggunakan aneka ragam turunan dari kata ini, baik yang diwarisi maupun yang dipinjam dari bentuk Latinnya, ecclesia. Salah satu contohnya adalah kata “igreja” dalam bahasa Portugis, yang diserap menjadi kata “gereja” dalam bahasa Indonesia.

Secara teologis dalam buku Teologi Sistematika 2 yang ditulis oleh Dr. Nico Syukur Diester, OFM, ada dua makna teologis Gereja, yaitu Gereja sebagai Misteri dan Sakramen, kedua Gereja Sebagai Umat Allah. Gereja sebagai Misteri dan Sakramen sebenarnya mau menegaskan bahwa Gereja bukan saja bangunan peribadatan, persukutuan umat beriman, melainkan lebih dari itu Gereja adalah Misteri Ilahi yang darinya misteri keilahian Allah Trintunggal yang dimanifestasikan oleh Kristus Historis itu semakin dekat bisa dialami. Sementara konsep Gereja sebagai Umat Allah, mau menunjukkan bahwa subtansi dan esensi Gereja yang sebenarnya itu adalah orang-orang atau kumpulan umat beriman yang bersekutu dan mengimani Allah di dalamnya, (Diester, 2004; 204-207).

Pada kesempatan penulisan ini makna Gereja yang akan menjadi fokus kita adalah Gereja sebagai kumpulan orang yang beriman kepada Yesus atau sebagai Agama. Fokus kita adalah Kekristenan sebagai sebuah Agama yang datang dan hadir di tengah-tengah masyrakat asli Papua.

Siapa Itu Masyarakat Papua?

Kata ‘Papua’ sudah terkanonisasi menjadi suatu kata yang sensitif jika muncul dalam percakapan publik di Indonesia, bahkan di iklim komunitas internasional. Pasalnya, kata ‘Papua’ sangan identik dengan konflik, peperangan, permasalahan, pelanggaran HAM, eksploitasi ekologis, krisis humanis, dan lainnya. Sehingga agak sulit bagi kaum atau kawula pemula untuk mendefinisikan kata ‘Papua’ atau mendapatkan literer-literer yang secara paripurna mendefenisiakn kata ‘Papua’ secara otoritatif, otentik dan orisinil. Namun penulisan kali ini tidak bermaksud untuk mengupas tuntas fenomena dan noumena di balik kata ‘Papua’. Kursor pikiran dan pisau bedah silogisme akan banyak berfokus pada masyarakat Papua, atau orang asli Papua sebagai objek pembahasan utama dalam penulisan ini. Kita hanya akan mengenal Papua sebagai suatau entitas atau identitas bangsa, kumpulan masyarakat (Gereja).

Manusia Papua adalah manusia berakal budi, berhati nurani, memiliki kehendak, berkarakter, punya kekahasan rambut keriting, kulit hitam, terdiri dari 275 suku, Bahasa, dan adat istiadat. Mereka sangat berbeda dengan orang Jawa, Sulawesi, Sumatra, Kalimantan, Maluku, NTT dan lainnya. Ini adalah soal identitas bukan rasnya, rambutnya hampir mirip dan lainnya tetapi bahwa mereka benar-benar berbeda sampai akhir hayat. Untuk itu orang Papua memiliki sejarah, budaya, Bahasa, suku, Agama Lokal, adat istiadat dan lainnya sangat berbeda sebagai bentuk identitas dirinya.

Identitas merupakan cici-ciri atau sifat-sifat keadaan khusus seseorang yang menunjukkan jati diri. Jati diri menggambarkan identitas sebagai mahkluk hidup. Identitas juga sebagai kesejatian orang Papua bukan mencari-cari sesuatu yang tidak ada, yang hampir mirip, tetapi yang sudah ada (Being), bukan juga yang tidak ada (nihil), tetapi yang ada. Ada pada orang Papua sejak ia diciptakan oleh Allah. Orang asli Papua adalah orang-orang yang tinggal dan hidup di atas Tanah Papua yang memiliki sejarah, memiliki leluhur, memiliki alam, memiliki jati diri sebagai manusia sejati, memiliki ciri-ciri khas yang jelas dan semua yang ada pada pribadi orang Papua bukan yang di luar darinya. Identitas sebagai kesejatian orang Papua adalah pribadi yang baik, harmonis dengan dirinya, dengan sesamanya, dengan alamnya, dengan leluhurnya, dan dengan Penciptanya yang ada dalam kepercayaan-kepercayaan orang asli Papua bukan yang diajarkan oleh Agama luar yang datang ke PPapua, (Alua; 2004; 24-34). Karena Pencipta itu bagi orang Papua itu sudah ada dan hidup, makan dan minum bersama-sama dengan mereka dalam setiap budaya orang Papua, sehingga mereka merindukan dan mengharapkan pribadi Pencipta itu yaitu Sang Penyelamat untuk membawah keluar dari segala kekerasan, pelanggaran HAM, Rasisme, kemiskinan, sakit-penyakit (HIV/AIDS), diskirminasi, peperangan, penindasan, singkatnya penjajahan.

Agama Bertemu Dengan Masyarakat Papua

Agus Alue Alua (Alm), Mantan Ketua Sekolah STFT Fajar Timur dan Mantan Ketua MRP Pertama dalam Bukunya yang berjudul Papua Barat Dari Pangkuan ke Pangkuan secara kronologis-historis menjelaskan sejarah perbadan bangsa Papua mulai dari Kontak Dunia Luar dengan Tanah Papua (Abad 13-1453-1890), Usaha-usaha Kolonisasi Belanda Atas Papua Barat (1871-1944), Usaha-usaha Kemerdekaan Papua Barat (1961), Aneksasi Kemerdekaan Papua (1962-1963), Kekuasaan dan Rekayasa PEPERA (1963-1969), dan Pembahasan PEPERA (1969-1973), (Alua, 2000; viii-ix).

Terkait kontak Agama-Agama Lokal mungkin dimulai pada tanggal 5 Februari 1855 di mana penginjil Zending Jerman yang pertama Ottow dan Geisler menginjak kakinya di atas Tanah Papua, tepatnya di Pualau Mansinam (Manokwari). Hari bersejarah itu hingga kini dikenang sebagai Hari Masuknya Injil di Tanah Papua, juga menjadi suatu legitimasi teologis kontekstual Papua Sebagai Tanah Injil, sebab Papua pertama kali bukan disentuh oleh senjata, uang, atau hal duniawi lainnya, melainkan pertama-tama diberkati atau ditahbis oleh Injil. Sehingga Pastor John Bunay Projo dalam berbagai kesempatan khotba atau ceramahnya selalu mengakatan bahwa “Papua Itu Injil dan Injil Itu Papua”. Menurut tradisi GKRI Irian Jaya, ketika menginjak kaki pertama kali di Mansinam keuda penginjil Zending itu mengucapkan kata-kata “Dalam Nama Yesus kami membaptis negeri ini dengan penduduknya”. Mereka berangkat dari Ternate tanggal 10 Januari 1955 ditemani oleh seorang anak 12 tahaun bernama Fritz, anak seorang guru. Mereka menumpang Kapal Fabritus, milik saudara bernama Dauivenbode. Namun tidak lama kemudiaan setelah 6,5 tahun berakrya, pada tanggal 9 Novemebr 186 Ottow meninggal dunia di Kwawi (Manokwari) dan dikuburkan di sana di depan rumah yang dibangunnya sendiri sedangakn Geisler masih terus bekerja di Mansinam bersama istrinya, (Alua; 2000; 6).

Pada 22 Mei 1894 Pater Le Cocq pertama kali menginjakkan kakinya di tanah Papua dan kepalnya mendarat di Kampung Sekeru, di Semenanjung Fakfak. Hari pertama ia sudah membaptis 65 anak. Kedatangannya disambut oleh warga kampung bernama Dunari Samai dan Umar Halatan Serkansa yang saat itu sudah memeluk agama Islam. Orang Kampung Sakeru memeluk agama Islam karena pengaruh pendatang dari Tidore dan Ternate serta pedagan dari Arab yang mencari rempah-rempah. Kampung Sakeru juga menjadi Gudang Pala dan pintu masuk para pedagang. Pater Le Cocq diterima dengan baik dan menginap di rumah Dunari Samai. Pater Le Cocq mendapat info dari Dunari Samai bahwa di sebelah Timur Kampung Sakeru (Kampung Torea saat ini) masih ada orang-orang yang belum memiliki kepercayaan. 

Diantara 73 orang yang dibaptis pertama kali, adalah Kodia Homba-Homba setelah dibaptis menjadi Markus Homba-Homba, Moses Sembilan Homba-Homba, Agustinus Turimondop dan Ngah Nga Made (Herman). Pada Juni 1894 Pater Le Cocq kembali ke Bomfia dan berpikir lebih baik tinggal di Pantai Papua dan dari sana sewaktu-waktu melayani umatnya di Pulau Seram, Bomfia. Ketika ditinggalkan, mereka yang baru dibaptis tinggal dan mempertahankan ajaran yang mereka terima bahkan ada dari mereka yang berpindah ajaran (Agama). Hal ini disebabkan tidak ada imam untuk melayani mereka.

Akhir tahun 1895, Stasi Kapaur dikunjungi Pater Julius Keijzer, Superior Misi Serikat Jesus di Indonesia. Karena melihat kondisi Pater Le Cocq yang kurus dan lemah, Pater Le Cocq mau diajak ke Jawa untuk memulihkan kesehatannya tetapi ditolak. Sebelum Pater yang menggantikan, Pater Le Cocq tidak akan pergi. Kesempatan kunjungan itu digunakan Pater Le Cocq untuk meminta ijin untuk mengadakan pelayaran guna mencari tempat yang lebih padat dan iklim yang lebih bagus untuk karya penginjilan. Tujuannya adalah Pantai Timur sampai titik 138 atau 139 derajat. Pater Le Cocq berangkat dari Pulau Bone, Kapaur dengan Kapal AL Bahanasa dengan Kapten Pieter Salomon. 

Pertengahan Mei 1896, Pater Le Cocq bersama seorang penerjemah dan seorang pedagan tiba di depan Pantai Mimika (Kipia, Mimika Barat) pada bujur timur 135 derajat 45 menit. Untuk sampai di darat mereka menumpang Sekoci. Di sekitar muara Sungai Tawuka terdapat 13 pemukiman yang dihuni tiga sampai empat ribu penduduk. Pater Le Cocq tinggal di Pantai selama 13 hari dengan mengobati orang disana dan mengajar dengan bantuan penerjemah. Pada 26 Mei 1896 barang-barang sudah dimasukkan ke kapal kerena sudah tiba waktunya untuk kembali.

Pada 27 Mei 1896, Pater Le Cocq yang sudah diatas kapal kembali untuk melunasi barang dan juga menjemput anak-anak yang akan dibawa ke Kapaur. Dengan susah payah Sekoci sampai juga di darat. Pada 27 Mei 1896 sore menjelang malam Pater Le Cocq berpamitan untuk kembali ke kapal. Karena ombak yang semakin besar, Sekoci terombang-ambing dan akhirnya terguling ke laut. Masih ada yang melihat Pater Le Cocq berusaha kembali ke Pantai bersama seorang akan di pelukannya, tetapi setiba di darat Pater Le Cocq tidak terlihat dan ketika ditanya anak itu hanya ke laut. Beberapa penduduk mulai mencari di pinggir-pinggir pantai dan juga mendayung siang malam tetapi jenasah Pater Le Cocq tidak ditemukan juga, (Kira, 2018; 41-61).

Gereja Berkenalan Dengan Masyarakat Papua

Setelah Agama Luar, dalam hal ini Agama Kristen baik Zending maupun Misi sudah datang, tiba dan mulai berkarya di Papua sudah barang tentu keduanya akan bertemu pandang atau berpapasan langsung dengan masyarakat lokal, masyarakat pribumi atau penduduk asli setempat. Di tengah fenomena perjumpaan dua entitas eksistensi tapi juga esensi yang beraneka ragam itu kira-kira apa atau bagaimana respons para misionaris perintis dan sebaliknya orang asli Papua sebagai penduduk lokal? Kita akan menakar respons kedua bela pihak dengan menggunakan dua tendensi, yakni tendensi atau implikasi positif dan tendensi implikasi negatif.

Pertama, Kesan Positif. Jika kita mempelajari Agama-Agama Suku di Melanesia, kita akan berkenalan dengan sebuah istilah antropolgis religi, yakni Cargo Cult atau Kargoisme. Kargoisme berasal dari Bahasa Inggis Cargo atau garasi, sebuah tempat untuk menyimpan barang di Peswat terbang. Kargo ini identik dengan barang baru atau barang bawaan yang banyak dan coraknya tidak lazim. Hampir semua agama lokal mengenal konsep teologis Mesianik atau Raja/Ratu Adil. Konsep ini agak serupa dengan konsep Eskatologis dalam teologi Kristiani, khsusnya dalam Dogma Katolik, (https://jubi.id/opini/2023/kargoisme-dan-harapan-akan-masa-depan-oap-3-3/, diakses pada Selasa, 04 Maret 2023, Pkl. 20:45 WIT).

Yang mau penulis katakan di sini dengan mengankat paradigma Agama Lokal orang asli Papua ini adalah bahwa ketika melihat para misionaris datang dan membawah Agama Kristiani sebagai budaya baru dan atau agama baru mayoritas orang asli Papua yang notabene dalam kebudayaannya ada kepercyaan Kargoisme mereka menerima Kabar Sukacita Injil itu dengan penuh sukacita. Bahwa mereka tidak menolak sebab Injil yang dibawah oleh Agama Kristen itu tidak begitu beda jauh dengan konsep kepercayaan yang sudah eksis dalam Rahim kebudayaan mereka, sehingga respons yang mereka berihkan pula sangat kooperatif, positif, dan aktif partisipatif.

Di pihak para misionaris perintis, hal positif yang mereka alami bahwa mereka tidak begitu mengalami kewalahan ketika hendak menyelamkan nilai-nilai injil atau firman Tuhan ke dalam tulang-tulang dan anggota tubuh masyarakat setempat sebab sudah dari sononya nilai-nilai yang hendak mereka masukkan itu sudah ada dalam filosofi hidup, kearfian, dan mitologi, tradisi, dan adat istiadat dalam masyarakat tersebut. Sehingga sama seperti Yesus yang datang bukan untuk menghilangkan hukum taurat, melainkan hendak menyempurnakannya. Para misionaris perintis di Papua juga punya paradigma misi yang satu, sama dan setarikan nafas dengan Mis Kristus. Di mana mereka datang, tiba dan masuka dalam relung-belung tubuh kebudayaan dan mulai memasukknya nilai-nilai kritiani. Tujuan orang setempat tidak kehilangan kebudayaannya tapi tidak kalah juga dalam berimana kritiani, bahwa antara kristianitas dan lokalitas atas korelasi, relevansi dan senyawa yang setarikan nafas.

Kedua, Kesan Negatif. Hal yang kurang berafedah yang terjadi ketika Agama Moderen berpapasan dengan Agama Lokal, yaitu adanya sikap primordialisme dan superiotas Agama Moderen, dalam hal Agama Kristen atas Agama Lokal yang condong dipandang sebagai “Agama Kelas Dua”, “Minor”, “primitif”, dan ada beberapa hal ikwal yang bermuatan heretic atau bidaah sehingga halal untuk dibasmi demi kelancaraan evangelisasi dan kritianisasi. Bahwa Spritsida (Pemusnahan Mental Spritual) orang asli Papua sekaligus Etnosida (Pemusnahan kebudayaan/kearifan lokal) orang asli Papu menjadi salah satu indicator negative kehadiran Gereja. Praktek etnosida dan spiritisda yang dipelopori oleh para misionaris ini dikenal dengan istilah festish burnings movement atau Gerakan Pembakaran Jimat. Sepanjang tahun 1959 sampai 1963 sedikitnya ada 10 kali terjadi pembakaran benda-benda sakral di Ilaga oleh misionaris dari tiga Lembaga, yakni C&MA, APCM, RBMS, dan UFM, (Alua, 2005; 137).

Jika tadi adalah kesan negative dari pihak penduduka asli Papua terhadapa para misionaris, kini kesan negative terhadapa penduduk asli Papua. Dari semua kesan yang muncul, salah satu kesan yang cukup dominan adalah bahwa orang Papua itu Suka Perang. Banyak pengalamana para misionaris yang trama dengan sikap orang asli Papua yang senantiasa perang suku. Karena sikap orang asli Papua yang suka perang suku, marga, keluarga dan wilayah, ada banyak kesan bahwa orang Papua itu jahat, orang Papua suka bunuh orang, dan lainnya. Maka beberapa misionaris yang Gugur di tempat misi Pastor Yan Smith, Pastor Le Cocq dan lainnya, sering meredar rumor bahwa mereka-mereka ini menjadi korban keganasan penduduk lokal setempat. Peristiwa berlaku jahat atau keji terhadapa para misionaris perintis ini selalu meninggalkan jejak “dosa asal” yang membutuhkan penitensi dan sakramen tobat dalam “tradisi rekonsiliasi” baik secara budaya/adat maupun secara Agama, sebab mana tidak maka perbadan suku bangsa pelaku tersebut akan tetap stagnat dan tidak menglami orientasi perbadan yang berarti. Sebab di satu sisi orang asli Papua tidak terlepas dari kebudayaan, bahwa mereka selalu sadar sebagai subjek yang berbudaya, karenanya mereka juga tidak luput dari “rancau alam’ alias “hukum alam”, “hukum klausal” atau “hukum sebab-akibat/tabur-tuai”. Budaya adalah trem of reference atau horison paradigma yang tidak terelakkan dari eksistensi manusia Papua.

Mereka yakin bahwa musibah, malapekata atau kesialan yang mereka hadapi kini dan di sini itu merupakan buah atau upah daripada dosa asal atau kesalahan terdahulu yang sudah dibuat oleh para pendahulu atau leluhur mereka. Sehingga tidak heran juga bahwa di beberapa daerah yang notabene berkontak lebih dulu dengan para misionaris perintis, namun karena satu dan lain hal yang menganjal dan ganjil, sehingga secara tidak langsung membuat perabadan suku bangsa di dareha tersebut mengalami stagnasi dan perkembangan yang sangat lamban. Sementara daerah yang meskipun baru berkontak dengan dunia luar, dalam hal ini para misionaris perintis dan seperangkat karya misinya melangalmi kemajuan perabadan yang lebih pesat.

Mencintai dan Mengembangkan Masyarakat Papua

“Tak kenal maka tak sayang, dikenal maka disayang” demikian adagium yang senantiasa kita dengar atau barangkali kita sebutkan sehari-hari. Adagium tersebut senantiasa menjadi penghiasa dalam proses perkenalan pertama. Orang senantiasa membuka ajang perkenalan dengan menyeletuh petapatah tersebuh. Hal ikwal yang mau diketengahkan dalam pepatah perkenalan itu adalah pentingnya sebuah pengenalan yang dalam guna mencintai sesuatu yang dikenal itu. Bahwa tanpa mengenal mustahil terbesit benih cinta kasih.

Kita sudah melihat bersama bahwa para misionaris sudah datang, tiba, bertemu dan mengenal orang, tanah, alam, dan budaya Papua. Apakah sudah tersebesit rasa cinta dalam sanubari para misionaris perintis sebagamana pepatah perkenalan di atas? Yang jelas mayoritas misionaris yang berkarya awal-awal di bumi cendewasih punya hati dan jiwa yang besar bagi bangsa dan tanah Papua. Kita sebut saja Rasul-Rasul Papua seperti Pedenta Izaak Samuel Kijne, Pastor Le Cocq, Pastor Tillemans (yang nanti menjadi Uskup Keuskupan Aguns Merauke) dan lainnya. Mereka-mereka itu datang ke Papua dengan bermodalkan iman, cinta, kasih, dan harapan yang bulat dan kuat kepada Yesus Kristus. Mereka tidak pikir banyak-banyak dalam bermisi, pikiran mereka sangat singkat, dalam artian mereka menjadi lascar Yesus Kristus di medan misi secara total dan loyal puritan

Puji Tuhan sebab di tengah guyuran Gerakan pembakaran benda-benda sakralan yang memanifestasikan praktek etnosida dan spiritsida dengan dalil evangelisasi dan kristenisasi, ada juga tokoh-tokoh misionaris perintis yang menaruh minat besar dalam proteksi kebudayaan dan kearifan lokal bangsa Papua. Nama-nama seperti Pastor Jan Boolars MSC, Pastor Theo Van Nunen OFM, Mgr. Alfons Sowada, dan teolog-antropolog misionaris asing lainnya tidak bisa dipungkiri, dan disangsikan akan kemegahan dan keberhargaan kiprah dan passion pengabdian pastoral antropologisnya atau evangensasi kebudayaan yang dilandasi dengan semangat Inkulturasi yang sudah mereka darmahkan bagi Gereja dan Budaya Papua.

Karya kerasulan dan kenabian di bidang proteksi kebudayaan itu tidak berhenti pada nama-nama besar tadi. Hingga detika ini pun banyak imam-imam baik Ordo maupun Diosesan yang meneruskan dan mewarisi tradisi pengkultisan keafiran lokal bangsa pribumi Papua di lintas lima Keuskupan Se-Regio Papua dan Papua Barat. Bukan saja kaum berjubah yang berandil, tampil juga banyak angtropolg, sosiolog, filsuf, dan teolog yang mendarhma bahtiknya marifat, khrisma dan talentanya hanya bagi kemuliaan nama Tuhan melalui karya-karya mutakhir yang mereka hasilakn dan jadikan persembahkan bagi wajah Gereja Papua yang semakin berkhasan, berbudaya, dan berkeutamaan injil dan kearifan.

Penegasan Senja

Agama Kristen sudah mengenal, mencintai, bahkan mengembangkan masyarakat Papua. Sehingga Gereja sudah menjadi bagian integral dari Papua itu sendiri. Gereja berwajah Papua, itu berarti Gereja mengkonkritiasai suakacita dan dukacita yang dialami oleh bukan saja manusia, melainkan alam Papua yang indah jelita ini dan leluhur bangsa Papua yang kian terasing dan terancam eksistensinya.

Hal klasik yang sulit membuat Gereja atau Agama luar berkembang pesat di Papua adalah adanya “selimut separatisme dan terorisme”. Ketika orang bicara fenomena Pendidikan di tanah Papua, maka akan dikonotasikan sebagai separatisme, jika ada yang singgung persoalan Pendidikan akan disingungkan dengan separatisme, jika ada yang bicara soal teologi, pastoral atau katese yang kontekstual di Papua maka akan disandingkan dengan separatisme. Seakan-akan separatisme sudah menjalar dan me-roh dalam semua dan atau setiapa dimensi hidupa orang asli Papua. Tidak ada elemen dasar pengangan hidupa bangsa Papua yang lolos dari rancau dan racun separatisme dan terorisme. Orang semakin sudah melihat Papua. Entah menggunakan kacama gelap maupun terang hasilnya sama saja, hanya kegelapan harapan akan terang yang nihil serta absurd.

Untuk itu supaya Agama Luar dan Dunia luar yang datang, tiba dan akan hidupa di Papua bisa bertumbuh, berkembang dan maju, maka sudah seyogianya memikirkan untuk mengembang diri dengan berupaya mengubah paradigma pengambil kebijakan untuk segera mungkin melipat “selimut separatisme dan terorisme” yang sudah berabad-abada dialasa di atas bumi Cenderwasih, sehingga yang tercium dari kata ‘Papua’ hanya itu-itu saja, seakab-akan tidak ada sesuatu yang baik yang datang dari negeri tempat matahari terbit itu.

Bahwa dialog yang intens, kondusif dan damai itu akan terjadi antara Agama dan masyarakat, Gereja dan masyrakat Papua, Agama Lokal dan Agama Moderen hanya jika kedua belah pihak mau duduk sama-sama, membuang semua perangsanka, pandangan dan sentiemn subjektif, dan interest-interest apapuan. Yang ada adalah dua entitas “Yin-Yang”, “Hitam-Putih” dan “Terang-Gelap” yang mau hidup harmoni, berdamai, bertoleransi, berbudaya, dan beriman. (*)

)* Penulis Adalah Mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat-Teologi “Fajar Timur” Abepura-Papua.

Daftar Pustaka:

MAULUDI SHARUL. 2018. Kafe Sokrates: Bijak, Kritis, dan Inspiratif Seputar Dunia dan Masrakat Digital. Jakarta: Elex Media Komputindo.

DIESTER SYUKUR NICO. 2004. Teologi Sitematika 2. Yogyakarta: PT Kanisius.

ALUA ALUE AGUS. 2004. Karakteristik Dasar Agama-Agama Melanesia. Abpura-Papua:Biro Penelitian STFT Fajar Timur.

ALUA ALUE AGUS. 2000. Papua Barat Dari Pangkuan ke Pangkuan. Abepura-Papua:Biro Penelitian STFT Fajar Timur.

ALUA ALUE AGUS. 2005. Permulaan Pekabaran Injil di Lembah Balim. Abepura: Biro Penelitian STFT Fajar Timur.

KIRA BIRU. 2018. Bergerak Menjadi Papua. Yogyakarta: PT Kanisius.

https://jubi.id/opini/2023/kargoisme-dan-harapan-akan-masa-depan-oap-1-3, diakses pada Selasa, 04 Maret 2023.

Jumat, 17 Maret 2023

Apa Pentingnya West Papua di MSG?

 

Dok: Ist/ Menguak Lobi-lobi ULMWP di Pasifik. (MSG)

*Siorus Ewanaibi Degei 

Dari dulu hingga kini Papua selalu menjadi ‘primadona’ yang acapkali tak pernah absen dari percakapan publik. Hampir setiap saat wacana publik kita sepertinya ‘kurang mengigit’ jika tak ada fenomena Papua yang terpublikasi ke permukaan.

Kita juga tidak bisa menisbikan bahwa banyak oknum maupun pihak berkedok ‘Pers’, ‘Jurnalis’, ‘Aktivis’, ‘Praktisi’ dan sebagainya baik lokal, nasional maupun internasional yang sudah, tengah dan selalu menjadi fenomena Papua sebagai ‘komoditi’ yang senantiasa menyuguhkan ‘trofit’ bagi mereka.

Karena demikian maka konsekuensi logisnya mereka-mereka ini akan menjadi ‘galau’ dan atau sulit untuk ‘move on’ jika tak ada satu pun fenomena Papua yang mereka ‘goreng-goreng’, ‘bakar-bakar’, ‘rebus-rebus’, ‘tumis-tumis’ dan ‘kukus-kukus’ sedemikian rupa dan mereka suguhkan ke ruang publik. Kalau ‘masakan konflik’ itu sudah mulai dingin dan teduh, lagi-lagi mereka akan selalu cerdik untuk memanas-manasi situasi dan kondisi agar renting ‘followers’, subscribers, dan lainnya senantiasa ‘naik daun, ranting, cabang, dan dahan pohon status quo’.

Di tengah-tengah fenomena Papua yang demikian carut-marut tersebut. Rupanya tidak banyak kaum cendekiawan atau intelektual yang berani untuk mengadakan suatu kajian sahih terkait situasi dan kondisi riil yang sejatinya dialami oleh tanah dan manusia Papua.

Semuanya terkesan berduyun-duyun mengipas asap konflik tanpa membenahi tungku dan memadamkan api. Bahwa memang kita tidak bisa mengharapkan suatu kajian ilmiah yang komprehensif dan paripurna terkait wajah fenomena Papua lintas semua bidang dan sektor kehidupan di Papua.

Tentunya banyak pakar sudah memalui jalur “sempel imparsial” guna mendekati problematika yang berwajah ‘Box Pandora’ itu. Sedikit demi sedikit masing-masing genre konflik di Papua telah masuk dalam Peta konflik lengkap dengan metodologi penyelesaiannya.

Terakhir ada beberapa karya anumerta yang cukup representatif dan otoritatif mewakili kajian ilmiah bertema konflik Papua lainnya, yakni Papua Roap Map (2009) dari LIPI dan Dialog Jakarta-Papua: Sebuah Perspektif Papua (2009) dari Mediang Pastor Dr. Neles Kebadabi Tebai, mantan Koordinator Jaringan Damai Papua (JDP).

Tentunya selain dua karya ini bertebaran mutilkarya lainnya lagi yang tidak kalah penting dan fundamental sebagai rujukan-rujukan primer yang memadai dalam melukiskan wajah konflik Papua.

Kendati pun demikian semakin ke sini gerakan-gerakan kritisisme dan profesime dari para kaum cendekiawan terkemuka dari Papua saat ini semakin surut. Tidak sederas beberapa temp silam. Jika dulu banyak karya kritis profetis itu mengalir dari rahim intelektualitas asli Papua. 

Rupanya, tradisi dan kultis ini sudah mulai hilang. Kita sebut saja pasca kepergian Bapak Agud Alue Alua, Sendius Wonda, Pater Neles Tebay, dan lainnya api semangat Literasi, Sastra, Dokumentasi, dan Publikasi bercorak Papua itu semakin merosot drastis. 

Memang kita pasti meyakini adagium klasik yang berbunyi “Mati Satu Tumbuh Seribu”, tapi kita harus sadar pula bahwa terkadang “Satu Yang Mati, Tidak Sebanding Dengan Seribu Yang Datang”.

Memang juga bahwa stok orang-orang hebat di Papua masih bergelimang, masih ada kaum cendekiawan terkemuka di Papua baik dari kalangan tua maupun muda, belakangan muncul pula tunas nyali-nyali baru. Namun yang menjadi catatan penting adalah bahwa tidak semua yang ada ini sanggup berkonfrontasi secara sehat dengan sistem kolonial NKRI secara jantan. 

Masih banyak yang suka selingkuh dengan penguasa. Kita tahu status mereka adalah pejuang HAM dan kemanusiaan Papua, kita tahu bahwa mereka selalu getol, frontal dan kritis terhadap penguasa dan pengusaha terkait situasi Papua yang kurang baik. 

Kita tahu mereka suka tampil di seminar-seminar, acara-acara besar, kegiatan-kegiatan megah, iven-iven penting, ibadah-ibadah umum, serta momentum euforia nasional, dan Internasional sebagai pendoa, pembicara, pemateri dan moderator.

Kita tahu mereka juga banyak menulis dengan ide-ide kritis. Kita tahu bahwa banyak buku-buku fenomenal tentang Papua yang lahir dari kharisma pena dan kertas mereka. Namun pertanyaan kita mengapa tidak ada apa-apa yang berubah. 

Mengapa mereka masih leluasa beraktivitas? Mengapa kediaman mereka sebelas dua belas dengan para elite kolonial? Mengapa harta benda mereka melimpah ruah?

Adakah pejuang kemanusiaan yang kaya raya secara materi hedonistis junto pragmatis? Memang ini ranah privat, tapi justru di dalam privatisme itulah racun suatu perjuangan itu bersemayam dengan subur.

Pengantar di atas ini hanyalah gambaran terkait psikologis para kaum intelektual kita (Papua) yang tidak bernyali dan bertaji untuk secara kritis profetis memborbardir sistem rasisme, kalonialisme dan Kapitalisme Indonesia dan kronik-kroniknya.

Sangat jarang ada suara tokoh intelektual, agamawan, dan lainnya yang menduduki kursi Kaum aristokrat mendengungkan kata Merdeka, Merdeka dan Merdeka bagi Papua. Tidak ada kaum cendekiawan kita yang berani berargumentasi dengan landasan akademik yang kuat bahwa Konflik Papua itu bukan soal Sandang, Pangan dan Papan, tetapi soal Hal Penentuan Nasib Sendiri yang belum selesai. 

Panglima Jenderal Egianus Kogoya, walaupun secara akademik barangkali Ia tidak pernah berproses di bangku studi hingga menjilat “Es Krim” sebagaimana beberapa intelektual terkemuka asli Papua kita, tapi paling tidak Sang Penyandera Pilot asing yang sedang memusingkan sistem kolonial NKRI dan sekutunya itu sepertinya lebih “berakal sehat dan berhati nurani” ketimbang kebanyakan intelektual kita yang suka jadi “Yudas Kebenaran Intelektual”, mereka cenderung tampil sebagai “kaum farisi, ahli taurat dan kaum saduki kebenaran akademik”.

Bahwa Panglima Egianus tahu bahwa akar masalah Papua bukan masalah kemiskinan, kesejahteraan, uang, jabatan, tahta, kekuasaan, pendeknya sandang, pangan dan papan, melainkan hanya satu yakni Kemerdekaan Bangsa Papua yang belum diakui oleh kolonial NKRI. 

Itu jelas dan pasti, lalu kenapa beberapa kaum intelektual kita semacam “kebakatan jenggot” dan hendak tampil sebagai “pemadam kebakaran” atas Aksi patriotisme dan nasionalisme Jenderal Egianus Kogoya? Ada apa dan siapa di belakang beberapa oknum intelektual yang memaksa Jenderal Egianus untuk melepaskan Sandera dan mau bernegosiasi secara dialogis dengan pemerintah kolonial Indonesia? Dalam hal-hal seperti inilah kadar dan wibawa dari segelintir tokoh intelektual Papua itu benar-benar dipertanyakan 

Berkaca dan bertolak dari fenomena kengauran logika para cendekiawan kita di atas dalam mendiagnosis konflik Papua. 

Berikut penulis hendak mengangkat Tiga Hasil Analisis Sosial ringkas dari sebuah Universitas Amatir di West Papua yang bernama Universitas Kaki Abu West Papua (UNIKAB WP). Ketiganya dikaji sejak tanggal 07 Maret 2023 hingga 10 Maret 2023.

Respon Atas Rapotase Pertama

Pada poin pertama Rapotase UNIKAB ini termuat pesan kritis profetis yang baik bagi bangsa Papua bahwa selama ini kurang optimal memproteksi menjaga keutuhan eksistensi kita. Kita merasa bahwa segala-galanya ada di alam, dalam hal ini tanah dan dusun kita.

Memang ini tidak salah, ini adalah sebuah kebenaran hakiki yang mesti dipegang teguh oleh seluruh bangsa Papua. Namun ada satu faktor lain lagi yang tidak kalah penting, dan memang sangat fundamental sekali yang belum begitu optimal didemonstrasikan dan dipropagandakan oleh bangsa Papua. 

Tidak tahu pasti apakah memang bangsa Papua, terutama para kaum cendekiawannya tahu atau tidak, namun yang pasti bahwa sebagai manusia normal yang berakal sehat dan berhati nurani sudah barang tentu hal-hal ihwal seperti itu sudah sedari dulu diketahui dan diproklamasikan ke ruang publik Papua agar masyarakat asli Papua bisa sedini mungkin memagari eksistensinya dengan pagar-pagar hidup yang kuat dan kokoh, yakni nilai-nilai keluruhan, konsistensi, militansi, patriotisme dan nasionalisme tanpa mudah terkoyakkan oleh pengaruh-pengaruh trik, intrik dan embel-embel politik gula-gula ninabibo kolonial NKRI.

Nilai filosofis yang hendak diketengahkan oleh civitas UNIKAB adalah terkait Nyawa OAP. Selain tanah ulayatnya, nyawa juga sejatinya menjadi salah satu aspek yang penting bagi seluruh alam ciptaan atau mahluk hidup bukan saja manusia.

Nyawa menjadi unsur pokok hakiki yang menentukan gerakan, siklus dan orientasi ekspresi dan ekspansi kehidupan kehidupan hingga membentuk suatu perabadan bangsa yang besar dan maju. Dengan bernyawa berarti kita ‘Ada’, ‘Hidup’, ‘Bergerak’, dan ‘Berjuang’, tanpa nyawa eksistensi kita hanyalah bayangan-bayangan hantu. 

Sehingga di mata UNIKAB selema beberapa tahun belakangan kita cukup dalam terlarut dalam fatamorgana dan distopia akut. Kita seakan-akan hidup padahal kita mati, kita secara tahu, mau, dan sadar membunuh diri sendiri semasa, alam, leluhur dan Tuhan.

Dalam Rapotase pertama UNIKAB itu sudah sangat jelas dan ringkas dijelaskan bahwa ‘Menjual Nyawa’ atau ‘Mengkomoditaskan Hidup’ itu sama saja dengan menerima DOB, Otsus, Perusahaan, Pembangunan dan pelbagai regulasi kebijakan pemerintah di Papua baik pusat, provinsi maupun daerah.

Sebab kita harus tahu dan sadar bahwa Gen dan DNA sistem pemerintahan kita tidak lain dan tidak bukan adalah dan hanyalah sistem yang bernenek moyangkan Rasisme, Fasisme, Militerisme, Kolonialisme, Implementasi, Feodalisme dan Kapitalisme ‘akut cum kronis’.

Menjual Diri juga dengan berlagak menganggap DOB dan OTSUS sebagai peluang politik untuk balik membantai musuh sebagaimana yang sudah, tengah dan terus “dimasturbasikan” atau “dimimpi basahkan” oleh beberapa elite oportunistik bangsa Papua baik dalam maupun diluar sistem kolonial NKRI. 

Mereka mungkin bergumam bawah mereka akan memanfaatkan uang DOB dan OTSUS untuk balik membombardir musuh. Mereka akan beli senjata, Bom, atom, rudal dan lain-lain lalu menyerang negara, apakah akan demikian? Sekali barangkali itu hanyalah “masturbasi intelektual” yang memprihatinkan.

Kita tidak bisa menampik bahwasanya pasca Papua dipotong-potong menjadi Tiga Daerah Otonomi Baru. Semua mata tertuju pada panggung politik yang tersedia di daerah-daerah itu. Persaingan politiknya sudah mulai memanas memasuki tahun ini.

Banyak Elite politik yang punya kepentingan di Pesta Pemilihan Umum Raksasa 2024 mendatang itu sudah, tengah dan terus mencari target buruan politiknya. Semua orang didatangi. Mau kenal atau tidak kenal anggap saja telah kenal lama. Kita melihat panorama politik pencitraan yang menggurita ruang-ruang publik bahkan private kita seperti kebudayaan dan keagamaan kita. 

Simbol-simbol budaya dan agama diangkat-angkat ke ruang publik yang notabene bukan domainnya. Kita canggung apakah budaya atau agamanya yang keliru ataukah orang tersebut yang salah parkir kepala dan salah atur frekuensi penalaran yang normal kodratif. Tapi kita maklumi saja namanya menjelang tahun politik itu iblis saja bisa jadi malaikat yang polos berkilau kebaikan, janji dan harapan-harapan usang. Bersambung. (*)

(KMT/Admin)

Senin, 06 Maret 2023

Liturgi Bercorak Musik Reggae, Bisakah?

Dok : Ist/Menginkulturasikan Musik Reggae Dalam Liturgi Gereja Katolik di Papua. (Siorus Degei)

*Siorus Ewanaibi Degei

Kita tidak bisa sangkal bahwasanya Musik Reggae Rastafara ala Bob Marley, Lucky Dube dan generasi selanjutnya sangat terinspirasi dengan Sosok Yesus Kristus yang tampil sebagai Pejuang dan Pembebas Sejati Umat Berdosa dari Penjajah Dosa dan maut.

Kita juga tidak bisa menyangkal bahwa semua pejuang kemanusiaan di seluruh dunia sedikit banyaknya menimba inspirasi dari manusia Yesus Kristus sebagai Penyelamat Dunia, Pejuang Kehidupan Kekal baik di bumi maupun di akhirat.

Dalam penulisan kali ini kita akan bersama-sama mau memperjuangkan agar nilai-nilai dalam musik reggae yang senyawa juga dengan ajaran-ajaran Yesus Kristus sebagai Pembebas dan Pembawa Damai sejati menuju kebebasan dan keselamatan kekal itu masuk dalam khasanah musik liturgi. 

Bahwa kita hendak memperjuangkan apakah musik liturgi itu bisa masuk ke dalam khazanah musik liturgi resmi Gereja Katolik Roma di Papua atau tidak?

Pasca konsili Vatikan kedua yang berlangsung pada tanggal 11 Oktober 1962 dan tanggal 8 Desember 1965 ‘Pintu, Jendela dan Gerbang’ Gereja Katolik Roma benar-benar dibuka dan terbuka bagi “Entitas dan komunitas yang lain”.

Gereja sudah tidak berapadigma ‘Hirarkis’ tapi sudah menjadi sangat ‘ekklesial’. Banyak perombakan dan perubahan-perubahan besar (Reformasi internal, eksternal Gereja) terjadi secara signifikan dan drastis dalam tubuh Gereja.

Tidak berlaku lagi sepertinya adagium klasik yang berbunyi “Extra Ecclesiam Nulla Salus”, “ Di luar Gereja Tidak Ada Keselamatan”, kini hemat penulis melalui Api Semangat Konsili Vatikan Kedua adagium itu tidak hilang tapi hanya berubah makna lain, yakni “Di Luar Gereja Ada Keselamatan”.

Salah satu corong yang menjadi denyut dalam semangat Konsili Vatikan kedua itu adalah orbitnya semangat Inkulturasi. Dalam Kamus Liturgi Sederhana (2003; hlm. 84) yang ditulis oleh Ernest Mariyanto, Inkulturasi diartikan dengan sebuah pengertian;

 “Inkulturasi adalah Proses mencipta suatu bentuk baru kebudayaan kristen atas dasar warisan budaya setempat dan tuntutan-tuntutan liturgi.

Dalam proses Inkulturasi unsur-unsur kebudayaan setempat dipinjam kalau unsur-unsur itu selaras dan dapat berpadu dengan iman Kristen. Inkulturasi membuahkan perubahan dalam kebudayaan setempat berkat masuknya amanat kristen, seringkali dengan memperkaya upacara-upacara pra-Kristen dengan makna Kristen.

Tujuan Inkulturasi adalah membantu kaum beriman dalam setiap kebudayaan mereka. Baik pembaptisan, maupun Ekaristi dapat dilihat sebagai contoh pertama dari Inkulturasi karena keduanya mengandung unsur dan makna pra-Kristen (Yahudi)”.

Inkulturasi adalah sebuah istilah yang digunakan di dalam paham Kristiani, terutama dalam Gereja Katolik Roma, yang merujuk pada adaptasi dari ajaran-ajaran Gereja pada saat diajukan pada kebudayaan-kebudayaan non-Kristiani, dan untuk memengaruhi kebudayaan-kebudayaan tersebut pada evolusi ajaran-ajaran gereja. 

Perubahan-perubahan konkrit terjadi dan terlihat dalam ritus-ritus Gereja Katolik, di mana Partisipasi umat menjadi salah satu aspek yang dominan, Liturgi Tidak lagi bercorak melulu imamsentris, tidak juga umatsentris, tapi sudah sangat ekklesiasentris.

Di mana Gereja bukan saja terpatron pada kaum berjubah, tapi menjadi suatu Simbol Persekutuan Umat Beriman, entah kaum hirarkis selibat maupun kaum awam semua menjadi tanda kehadiran dan keselamatan, di dalamnya Allah Meraja.

Kitab Suci bisa diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa lokal, begitu juga dengan doa-doa, tata perayaan ibadah, ritus liturgi, musik, dan beberapa aspek yang dulunya sangat ‘Latinsentris’ kini bisa diterjemahkan ke dalam humus dan rahim falsafah, budaya, dan kearifan-kearifan lokal lainnya, tapi bukan berarti dengan demikian Gereja menjadi begitu sekular, selalu ada panduan etis, biblis, teologis dan dogmatis yang menjadi sumber rujukan, tidak terjadi berdasarkan sistem arbiter. 

Pada kesempatan kali ini penulis hendak merefleksikan apakah Musik Reggae yang menjadi simbol kebanggaan dan kebangkitan orang Papua, yang sebagian besar juga adalah umat Katolik Roma itu bisa masuk dalam khazanah musik Liturgi atau tidak?

Apakah musik reggae yang menjadi kekhasan atau corak pembangkit semangat dan spirit hidup damai orang Papua itu bisa menjadi sumbangsih bagi musik Liturgi Gereja Katolik di Papua atau tidak? Jika Ya bagaimana jika tidak kenapa?

https://kawatmapiatv.blogspot.com/2023/03/liturgi-bercorak-musik-reggae-bisakah-23.html

Berikut kita akan bersama-sama memahami beberapa pokok bagian, pertama terkait syarat atau ketentuan peginkulrasian musik lokal dalam habitat musik Liturgi berdasarkan dokumen-dokumen dalam Gereja Katolik, terutama dalam Sacrosantum consiliaum (SC), sebuah dokumen Gereja Katolik yang berbicara banyak tentang Kedudukan Liturgi dalam liturgi.

Kedua, kita juga akan berbicara tentang kedudukan musik Liturgi dalam sanubari umat Katolik Papua. Terakhir, akan kita upayakan bersama langkah-langkah konkret apakah musik reggae dapat menjadi sumbangsih bagi khasanah musik Liturgi Gereja Katolik atau tidak?

Beberapa Ketentuan Peginkulrasian Musik Liturgi

Pertanyaan yang hendak kita jawab dalam pembahasan ini adalah apakah musik reggae bisa masuk dalam humus musik liturgi? Apa saja syarat-syarat yang dibutuhkan ketika hendak meginkulturasikan sebuah musik profan ke dalam khazanah musik liturgis?

Sejatinya tidak ada sesuatu panduan yang secara ketat menyajikan syarat-syarat atau ketentuan-ketentuan ihwal Inkulturasi musik liturgi. Tema Inkulturasi sendiri menjadi suatu diskursus yang mempunyai suatu pendekatan interdisipliner.

Sebab Inkulturasi tidak saja berarti menerjemahkan kitab suci ke dalam bahasa lokal, memakai sarana prasarana busana lokal dalam seremonial liturgis dan lainnya. Tetapi lebih jauh dan luas daripada itu Inkulturasi juga berkaitan dengan bagaimana kualitas sumber daya iman dan khasanah budaya umat lokal itu bertransformasi dalam terang cahaya iman. 

Hal-hal penting yang menjadi penting adalah sejauh entitas profan yang mau diinkulturasikan merepresentasikan jiwa dan spirit roh, jiwa dan raga umat lokal, ia juga tidak mengaburkan nilai-nilai iman dan injil, dan jika dimensi itu tidak bertentangan dengan semangat iman, terutama jika itu menjadi unsur hakiki dalam kehidupan masyarakat atau umat setempat, maka kiat Inkulturasi bisa ditempuh.

https://kawatmapiatv.blogspot.com/2023/03/liturgi-bercorak-musik-reggae-bisakah-33.html

Namun ada beberapa tahapan Inkulturasi yang mesti diperhatikan. Mengutip Emanuel Martasudjta Pr, dalam bukunya yang berjudul Liturgi: Pengantar untuk Studi dan Praktis Liturgi Revisi Buku Pengantar Liturgi (2010), dengan mengikuti pembabakan tahap Inkulturasi dari P. Schineller, ada 5 tahap dalam Inkulturasi menurut Schineller;

Pertama, Tahap Pertama: Pengambilan-alihan (impotisiton), di mana Teologi dan Liturgi Asing diterima begitu saja. Tahap ini belum begitu termasuk dalam tahap Inkulturasi yang sesungguhnya, ibaratnya masih terjadi di permukaan kulit budaya saja;

Kedua, Penerjemahan: terjadi penerjemahan teks-teks Liturgi dan Teologi dalam bahasa lokal.

Ketiga, Penyesuaian: tahap penyesuaian diatur dalam SC 37 (Sacrosantum Consilium). Pada tahap ini, suatu perubahan dan penyesuaian tertentu (dan terbatas) dengan kondisi dan budaya setempat dizinkan. Di mana terjadi penyesuaian pada unsur-unsur kebudayaan tertentu ke dalam iman, teologi dan liturgi Gereja;

Keempat, Inkulturasi yang paling mendalam: Di mana budaya setempat diterangi, bahkan dibaptis oleh iman Kristiani. Untuk itu ada beberapa ketentuan dalam Gereja yang menjadi rambu-rambu untuk menginkulturasi suatu budaya secara mendalam;

Pertama, pimpinan Gereja setempat perlu membuat pemetaan dan pembedaan atas budaya yang hendak diinkulturasikan. Di mana ia harus berfaedah, dan mesti diajukan ke Tahta Suci yang berkenan.

Kedua, sebelum diberlakukan secara umum, perlu diuji coba dulu dalam waktu dan tempat tertentu yang terbatas (ad experimentum).

Ketiga, karena penyesuaian seperti itu terbilang berat dan sulit maka dibutuhkan ahli khusus di bidang-bidang yang hendak diinkulturasikan itu. Bersambung. (*)

(KMT/Admin)

Jumat, 03 Maret 2023

OAP atau OPP? (4/4)

 

OAP atau OPP? 4/4.Manusia Papua Dulu, Kini dan Mendatang Dalam Sukma Poskolonial. (Siorus Degei)
*Siorus Ewanaibi Degei

Apakah LE memenuhi delapan syarat mutlak Pengangkatan Anak Adat di atas? Apakah proses pengangkatan LE dan manusia -manusai biadab lainnya sah dalam kacamata 7 wilayah adat?

Apa sebenarnya motif dan modus di balik virus pengangkatan anak adat yang terjadi di luar koridor hukum adat ini? Katanya dewan adat, tapi terkesan, sungguh biadab. Ini sebuah drama politik yang tidak lucu, nyaris lugu tingkat kronis.

Simbol dan Makna Kesenian 

Kesenian menjadi tema yang integral dan sentral dalam suatu kebudayaan. Kebudayaan itu akan menjadi lebih eksis dan hidup jika keseniannya memancarkan nilai-nilai filosofi budaya yang sarat kaya.

Kesenian dalam setiap kebudayaan terbagi menjadi beberapa genre, ada seni ukir, mumi, tari, rupa, lukis, perang, tarik suara, musik. Singkatnya, ada seni kelihatan dan tidak kelihatan. Sehingga memang benar bahwasanya seni dalam sebuah kebudayaan itu mahaluas dan mehadalam akan bentuk, arti, makna dan simbol, maka dari itu agaknya tidak mungkin kesemuanya dapat dituliskan pada kesempatan ini. 

Kita hanya akan berfokus pada beberapa entitas kesenian yang notabene menjadi corak kepapuaan yang khas. Sebagian bentuk karya seni barangkali sudah termanifestasikan baik secara implisit maupun eksplisit, tersirat maupun tersurat dalam beberapa pokok pembahasan seputar tujuah unsur kebudayaan lainnya.

https://kawatmapiatv.blogspot.com/2023/03/oap-atau-opp-14.html

Kita hanya akan berfokus pada transformasi seni dalam kehidupan budaya asli Papua yang semakin ke sini semakin kehilangan fitrah dan marwah esensial dan subtansialnya.

Pertama, Seni Tarik Suara. Banyak keanekaragaman seni tarik suara dalam setiap kebudayaan asli Papua yang semakin tertelan modernitas dan globalitas jaman dewasa ini.

Lagu-lagu tradisional semakin tenggelam karena kurang diminati, di-download, di-follow, di-like, di-subcribe, di-comen, dan dikunjungi oleh massa milenial asli Papua sebagai generasi penerus. Hampir sebagian besar generasi milenial asli Papua menggandrungi dan mencandungi seni tarik suara bergenre hits, hip-hop, jazz, R&B, POP, Reggae dan lainnya.

https://kawatmapiatv.blogspot.com/2023/03/oap-atau-opp-24.html

Perlu dicatat dengan tinta merah bahwasanya dengan menggandrungi dan mencandungi lagi-lagi Modren secara tidak langsung, sadar tidak sadar, mau tidak mau, suka tidak suka kita sudah, tengah dan senantiasa terus membunuh dan menguburkan eksistensi daripada lagu-lagu tradisional kita dan seni tarik suara kita sendiri yang defacto lebih luhur dan mulia nilainya dibandingkan dengan lagu-lagu modern lainnya.

Seni tarik suara tradisional menjadi sesuatu yang kuno, primitif, terbelakang. Kolonial, kapital, feodal dan Imperial membangun opini publik bahwa semua seni bertaraf lokal itu adalah seni kelas dua, kuno, primitif dan lebel stigma vulgar esktrim lainnya.

Ironinya, generasi penerus menelan dan mengamini opini liar karangan penjajah tersebut tanpa pernah berupaya mempertanyakan, mengritisi, mengoreksi dan mengevaluasi, tapi lagi-lagi mereka hanya tertidur lenyap di atas pelana gigi taring dan kuku tajam macan kolonialisme sistem NKRI dan sekutunya.

Kedua, Seni Tari. Tarian Susu atau Ama Duwai dalam tradisi Suku Mee di Papua adalah dan hanyalah sejengkal sempel konkrit bawah upaya pemusnahan kebudayaan asli Papua itu benar-benar sudah ada, sedang ada dan akan terus ada selama Papua masih terus bernafas dan bernadi di ketiak Kolonial kapitalisme sistem NKRI dan sekutunya.

Banyak seni tari tradisional yang bernilai luhur, Kudus dan mulia tertelan termakan zaman lantaran tidak ada upaya proteksi eksistensinya yang terjadi secara konsisten dan kontinyu oleh masyarakat penganutnya.

Sadar tidak sadar, mau tidak mau, suka tidak suka sejatinya dengan senantiasa menggandrungi dan mencandungi seni tari modern, semisal Tik-Tok, Patola, Zumba, Dangdut, Wasisi, Seka, Goyang Kewa, dan pelbagai jenis tarian, dence modifikasi modern tradisional serta aneka oles lainnya itu sudah, sedang dan terus terlibat aktif sebagai aktor pembunuh, pengubur dan pemusnah eksistensi budaya tari tradisional di setiap suku kita masing-masing di Papua. MENGUASAI TARIAN MODREN ITU BONUS, TAPI MENCINTAI TARIAN ADAT ITU HARUS.

Simbol dan Makna Sistem Mata Pencaharian

Aspek kebudayaan berikut yang hendak kita refleksikan bersama adalah terkait Sistem Mata Pencaharian Hidup masyarakat asli Papua. Kurang lebih ada beberapa aktivitas mata pencaharian hidup yang tersebar di wilayah Papua, semisal Nelayan, Peramu, Pemburu, dan Pengayau tergantung situasi dan kondisi geografi dan topografi wilayah adatnya.

Secara umum masyarakat Papua pegunungan sangat berbeda dengan masyarakat pesisir pantai, rawa, dataran rendah, perbukitan, lembah, pinggiran danau, pinggiran sungai dan sebagainya dalam hal mata pencaharian.

https://kawatmapiatv.blogspot.com/2023/03/oap-atau-opp-34.html

Mata pencaharian itu akan berdampak luas pada mentalitas, intelektualitas dan akreditas penduduk aslinya di kemudian dalam dunia kerja. Akan ada etos kerja yang berbeda antara masing-masing orang Papua di setiap suku.

Salah satu mentalitas yang masih terwarisi hingga sekarang dan banyak kita jumpai adalah mentalitas “Semua Alam Sudah Sediakan”. Karena alamnya yang kaya raya, orang Papua berpikir dan merasa bahwa semuanya akan baik-baik saja sebab untuk segala sesuatunya yang berkaitan dengan kebutuhan hidup alam sudah menyediakannya.

Mental itu melahirkan benih yang namanya konsumerisme, mental konsumtif, tanpa daya produktif dan distributif. Hal ini akan membuat prosentase pertumbuhan penduduk lokal Papua hanya mentok begitu-begitu saja.

Bahkan dari mental itu lahirlah pula beberapa anak kandungnya, semisal Mental Profosal, Mental Permohonan, Mental Raskin, Mental Minta-minta tanpa kerja, budaya instan, etos bermalas-malasan.

Sejatinya ini semua bukanlah hakekat jati diri orang asli Papua yang sebenarnya. Mereka hanyalah korban settingan dan green design kolonial kapitalistis yang tamak yang hendak mengeksplorasi, mengekploitasi dan mengekstraksi kekayaan sumber daya alam Papua. Dan salah satu strateginya adalah dengan menumbuhkan rasa ketergantungan akut rakyat pribumi kepada penguasa dan pengusaha.

Seakan-akan alam, gunung, hutan, pohon, laut, pantai, rawa, sungai, ikan, rusa, sagu, ubi, sayur, buah dan SDA lainnya bukan menjadi mama lagi bagi orang asli Papua, posisi alam sebagai mama itu sudah terdekontruksi secara drastis dan radikal dalam paradigma masyarakat lokal Papua. Mama mereka adalah negara, Gereja, Pasar, Uang, Pangkat, Jabatan, Tahta, Harta benda, Toko, Rumah Kios, Supermarket, Mall, dan lainnya.

Tempat meramu, melayan, meramu, dan mencari kebutuhan kehidupan bukan lagi di alam, gunung, sungai, laut, rawa, dan lainnya, melainkan ada di instansi pemerintahan, ada di partai politik, organisasi masyarakat, PNS, dan profesi adminstratif lainnya. 

Paradigma dan mental ketergantungan akut itu diperparah lagi dengan konsep mekanisme pendekatan pemerintahan pusat yang mendahulukan pendekatan uang, pembangunan dan kesejahteraan kepada Papua sejak Papua terintegrasi ke dalam pangkuan secara ilegal, cacat hukum, moral, demokrasi, HAM dan Pancasila 1962 dan 1996, bahkan sejak 1947 konspirasi ekonomi politik dirakit oleh Indonesia, Amerika dan kroni-kroninya.

Ada beberapa Pandemik Sosial yang sudah, tengah dan terus menggerogoti sendi-sendi kehidupan masyarakat asli Papua. Sebut saja Pasar Togel, Rolex, Ludo King, Judi Online dan Judi Offline, Billiar, Casino Lokal, dan praktek-praktek pasar gelap lainnya yang sudah menggurita di Papua.

Kesemuanya itu menjadi habitat dan habitus baru masyarakat asli Papua. Pasar gelap kini sudah menjadi dusun dan kebun keladi, petatas, sayur, tempat berburu dan tempat mencari ikan. Pendeknya, Togel, Rolex, Judi online dan offline dan sebagainya kini sudah, tengah dan terus menjadi mata pencaharian baru masyarakat asli Papua.

Ironisnya, bukan saja kalangan orang tua, tetapi nyaris kaum milenial asli Papua juga sangat marak menggandrungi, mencandungi dan terbudak oleh praktek pasar gelap tersebut. 

Bukan pula dari kalangan aristokrat saja yang mencandungi judi online maupun offline tersebut tapi seluruh masyarakat dari pelbagai lapisan masyarakat sangat menikmati dan menikmati mata pencaharian baru tersebut, sebab sangat menjanjikan, kita pasang sekarang dapat sekarang, atau pasang sekarang dapat sebentar. Pasang pagi dapat siang, pasang siang dapat sore, pasang sore dapat malam, pasang malam dapat pagi dan seterusnya dan seterusnya.

Kebanyakan persebaran pasar gelap itu tersebar di hampir seluruh wilayah Papua, tidak ada pelosok dusun Papua yang terlepas bebas dari cengkeraman, cangkangan dan kukuh Kapitalisme, kolonialisme, dan Imperialisme model baru ini. 

Semua uang masyarakat maupun pemerintah dewasa ini terbilang sudah, sedang dan terus dimonopolisasi dan dikapitalisasi oleh bandar-bandar, bangkit, bandit, mafia dan ganster togel online maupun offline yang bermarkas di Singapura, Thailand, Kamboja, Malaysia, Nyammar, dan beberapa negara Asia Tenggara lainnya. 

Indonesia menjadi sarangnya pasar gelap yang lezat dan empuk, terutama Papua. Sebab masyarakat sudah sangat pragmatis, hedonis, instanis, komsumtif kontra produktif, kreatif dan inovatif sehingga tidak heran sayap ekspansi evolusi togel dan keluarga besar pasar gelapnya itu mampu dengan leluasa mengkungkungi manusia dan tanah Papua.

https://kawatmapiatv.blogspot.com/2023/03/oap-atau-opp-44.html

Jangan cari manusia di dalam hutan dan di atas kulit Air, tapi carilah mereka di sudut-sudut kota tempat esksisnya pasar gelap dari pagi tembus malam, malam tembus pagi pasti ada mereka di sana.

Tidak ada jadwal baku, tidak ada jam istirahat, tidak ada jam ibadah, tidak ada jam berdoa, tidak ada jam bekerja, tidak ada jam untuk keluarga, tidak ada jam untuk suami, tidak ada jam untuk istri, tidak ada jam untuk anak-anak, tidak ada jam untuk orang tua, semuanya ruang dan waktu terpakai habis di tempat judi online dan offline.

Apakah di tengah heterogenitas, karakteristik, paradigma dan mentalitas hegemoni, diferensiasi, klasifikasi dan klaster-klaster podium masyarakat asli Papua yang sedemikian rupa sanggupkah kita kembali ke ‘Alam’, ‘Kampung’, ‘Dusun’, ‘Honai’, ‘Tungku Api’, ‘Budaya Berburu’, ‘Budaya Nelayan’ dan ‘Budaya Meramu ‘? 

Tentunya ini menjadi suatu panggilan profetis kritis tapi juga tantangan kronis eksistensial. Intinya, MENGGANDRUNGI PENCAHARIAN HIDUP MODREN ITU BONUS, TAPI MEMBUDAYAKAN MATA PENCAHARIAN HIDUP TRADISIONAL ITU HARUS.

Catatan Senja

Mengakhiri tulisan ringkas, ringan, gamblang dan blak-blakan dengan tajuk OAP atau OPP? Manusia Papua Dulu, Kini dan Mendatang di Era Revolusi Digital Dalam Hikmah Poskolonial ini ada beberapa ihwal penting yang hendak Penulis kemukakan. 

Sebenarnya dari pembabakan dan pembahasan kita di atas itu saja barangkali secara sepintas lalu sudah terlintas di kepala setiap kita prihal rekomendasi yang pada gilirannya mampu tampil sebagai treatmen-treatment obyektif dan siginifikan yang bisa ditempuh oleh orang asli Papua sendiri baik yang berdomisili dalam sistem kolonial NKRI dan sekutunya maupun orang asli Papua yang berdomisili di luar dari sistem kolonial NKRI dan sekutunya tapi masih mencium bobrok ketiak penjajahan, penindasan dan penderitaan di bumi Papua.

Selain orang asli Papua, penulis juga melihat dan merefleksikan bahwa di sini peran Keluarga, Gereja, Pendidikan, LSM dan Negara juga berperanan penting dan klausal metamorfosis. Berikut hendak penulis utarakan secara ringkas terkait sikap dan tindakan alternatif yang resolusif;

Pertama, setiap Individu Keluarga, Agama (Gereja), Pendidikan, LSM dan Negara mesti bahu-membahu melestarikan Bahasa Daerah sejak dini mungkin.

Mesti ada kamus bahasa daerah di Papua, setiap suku penutur wajib membuatnya. Lembaga Agama dan Pendidikan bisa mengunakan bahasa daerah sebagai sarana katekese dan edukasi serta sosialisasi nilai-nilai.

Kedua, Sistem Peralatan dan Teknologi. Setiap individu, Keluarga, Agama, Pendidikan, LSM dan Pemerintah bisa saling mensinergi dalam rangka proteksi eksistensi manusia Papua di bidang sistem peralatan dan teknologi lokalnya.

Semisal bisa dibuat suatu museum adat, lengkap dengan ensiklopedia terkait segala bentuk peralatan dan teknologi kuno yang digunakan oleh orang Papua dulu.

Ketiga, Sistem Pengetahuan. Setiap individu, Keluarga, Agama, Pendidikan, LSM dan Pemerintah bisa mengupayakan lahirnya Meewologi, Lapagologi, Mamtalogi, Animhalogi, Bomberailogi, Domberailogi dan Sairerilogi yang merupakan kumpulan ilmu pengetahuan baru seputar antropologi, sosiologi, sastra, teologi dan filsafat yang berdimensi dan berwawasan iklim alam pemikiran Melanesia Pasifik.

Keempat, Sistem Religi. Setiap individu, Agama, Pendidikan, LSM dan Pemerintah bisa mengupayakan agar gerakan-gerakan mesianis yang eksis dalam kebudayaan-kebudayaan bangsa Papua mampu mendapatkan tempat, ruang, kesempatan dan waktu yang efisien dan efektif untuk tampil ke ruang publik sebagai gerakan rekonsiliasi universal berbasis Papua, terutama di tengah-tengah gerakan perjuangan, Pergerakan dan perlawanan rakyat Papua atas sistem kolonial NKRI dan sekutunya di seluruh teritori Papua.

Kelima, Kesenian. Setiap individu, Agama, Pendidikan, LSM dan Pemerintah sudah saatnya untuk belajar melestarikan kebudayaan dari Group Musik Klasik Bangsa Papua Proto, yakni Mambesak, Black Brothers, Black Sweet, dan Black Papas. Terutama Mambesak yang berjuang mempertahankan Kekudusan kebudayaan Papua Proto dari cengkeraman upaya Etnosida dan Spiritsida sistem kolonial NKRI dan sekutunya.

Keenam, Sistem Kekerabatan dan Organisasi Sosial. Setiap individu, Keluarga, Agama, Pendidikan, LSM dan Pemerintah sudah mesti saatnya untuk mengilegalkan praktek Approach Culture di semua aspek kehidupan masyarakat asli Papua. Stop sabotase marga dan atribut-atribut luhur dan mulia dalam rahim kebudayaan dan kearifan lokal bangsa Papua demi kepentingan tertentu.

Ketujuh, Mata Pencaharian. Dan terkahir, setiap Individu, Keluarga, Agama, Pendidikan, LSM dan Pemerintah bisa membuka lapangan pekerjaan yang layak bagi mayoritas masyarakat asli Papua yang sedang dihinggapi dan dihantui Judo Online junto Offline. Perlu pertegas kiat pengentasan dan pemberantasan pasar gelap di ruang publik Papua.

Kedelapan, terakhir orang asli Papua sudah sekian lama pasca terintegrasi secara ilegal, cacat hukum, moral HAM, Demokrasi dan Pseudo-Pancasila ke dalam pangkuan sistem kolonial NKRI selama 60-an tahun pura-pura hidup sebagai orang asli yang merdeka, otonom, otentik, natural dan Proto.

Selama 60-an di penjara besar, Kamb-Konsentrasi bernama NKRI orang asli Papua sudah pura-pura bereksistensi dan berekspansi sebagai manusia asli, padahal itu tidak lebih daripada iugan belaka. Tidak ada orang asli Papua, yang ada hanyalah orang palsu Papua jika tidak ada kesadaran profetis kritis untuk segera mungkin berdialog dan berekonsiliasi bersama budaya.

Orang asli Papua harus Lahir Baru dari dalam rahim budaya Papua Proto lintas tujuh unsur kebudayaan universal. Perlu ada Dialog dan Rekonsiliasi lintas ‘Tungku Api’ Tujuh Wilayah Adat, Suku, Marga, Sub-Marga, Keluarga dan Pribadi dalam semangat ‘Revolusi internal Kultural’. OAP harus tampil sebagai ‘Manusia Model Baru’ menuju Honai ‘Papua Baru’ yang penuh kemerdekaan, kedamaian, kebenaran dan keadilan. (*)

(KMT/Admin)

OAP atau OPP? (3/4)

 

Dok : Ist/OAP atau OPP? 3/4. Manusia Papua Dulu, Kini dan Mendatang Dalam Sukma Poskolonial. (Siorus Degei)
*Siorus Ewanaibi Degei

Busana adat juga mesti yang asli atau alamiah, tidak boleh ada campuran, tambahan atau blasteran dari alat, bahan atau materi fasilitas modern lainnya. Harus memang yang asli.

Tidak boleh tambah benan, manila, yali rafia, nelon, makeup, rambut palsu, gigi palsu, mata palsu, jika demikian maka kita hanya akan menjadi manusia paslu bukan manusia asli Papua. Sehingga PAKAI PAKAIAN MODREN INI BONUS, TAPI PAKAI PAKAIAN ADAT ITU HARUS.

Simbol dan Makna Sistem Pengetahuan

Semua suku bangsa di dunia ini punya harkat dan martabat yang satu dan sama. Tidak ada yang tinggi, tidak ada yang rendah. Tidak ada yang terdepan tidak yang terbelakang, semua sama dan satu.

Memang tidak bisa ditampik bahwa materi dasar yang dipakai untuk membangun konsep-konsep besar di dunia ini terkesan sangat fasisme, rasialisme, kolonialisme, kapitalisme, feodalisme dan Imperialisme. Bahwa senada seperti ungkapan filosofi Thomas Hobbes (1588-1679), homo homonis lupus, manusia serigala bagi sesamanya. 

Hal ini bisa kita lihat di dalam sejarah peradaban dunia mulai dari Yunani kuno, Mesir Kuno, Romawi Kuno, China Kuno, India Kuno, Jepang Kuno dan lainnya. Semua sejarah itu diisi dan dihiasi dengan Perang pendudukan, penjajahan, penindasan, penderitaan dan sebagainya.

Suku-suku bangsa di Papua juga memiliki sejarah dan peradabannya sendiri. Bahwa ada sistem pengetahuan dan kebijaksanaan yang sudah eksis secara kontinyu generatif. Ada sistem perkebunan, perburuan, peramuan, perikanan, dan lainnya. Ada teknik mengukir yang khas di wilayah Selatan Papua.

https://kawatmapiatv.blogspot.com/2023/03/oap-atau-opp-14.html

Ada teknik Pemumian di lembah Agung Wamena. Ada bangsa Viking-nya orang Papua di Byak. Kesemuanya itu mau menunjukkan bahwa orang Papua tidak bodoh, terbelakang, Primitif, Kuno, kanibal dan lainnya. Justru manusia-manusia dengan logika, paradigma dan framing seperti itulah yang menyandang status tersebut.

Seperti sudah ditegaskan bahwa setiap suku di Papua punya kearifan lokal yang kaya makna, nilai, arti dan simbol sehingga sulit dipecahkan satu persatu. Penulis melihat bahwa dari semua nilai-nilai kebudayaan yang membentuk sistem pengetahuan di Papua itu ada baiknya juga agar beberapa diantaranya diangkat sebagai ilmu pengetahuan baru katakanlah Filsafat dan Teologi Papua.

Objek Materi dan Forma Filsafat Papua bisa dipetik dan dicerap dari local genius and local wisdom yang terterah rapih dalam bahasa, budaya, mitologi, legenda, cerita-cerita kuno, refleksi nyanyian adat, petuah-petuah tradisional, wejangannya adat, kaidah dan norma moral adat, etika tradisional dan lainnya.

https://kawatmapiatv.blogspot.com/2023/03/oap-atau-opp-24.html

Sementara objek material dan formal ilmu Pengetahuan Teologi Papua bisa dipetik dan dicerap dari nilai-nilai spiritual yang terkandung dalam ritual-ritual adat dalam Agama-Agama Suku atau Tradisional yang masih eksis dengan dibandingkan atau dikorelasikan dengan nilai-nilai Agama Abrahamistik atau Agama-Agama Modren yang berkembang dengan memperhatikan segala kemungkinan untung-malangnya demi ekspansi dan kiat proteksi kekayaan sumber daya pengetahuan lokal tersebut.

Simbol dan Makna Sistem Religi

Setiap suku bangsa di Papua memiliki tradisi kepercayaan tradisional yang berbeda antara satu suku dengan suku lainnya. Sebelum masyarakat adat berjumpa dan berdialog dengan agama-agama baru, katakanlah Agama-Agama Abrahamstik atau Agama-Agama Samawi; Kristen Protestan, Katolik, Islam dan Yahudi, sejatinya masyarakat lokal di Papua sudah terdahulu memeluk agama-agama sukunya. 

Ada ritualnya, imamnya, ajaran-ajarannya, norma-normanya, dan Sosok Transenden yang dianggap sebagai Sang Pencipta, Pengada, Pemelihara. Konsep agama-agama kuno seperti yang bersama kita ketahui sangat bercorak animisme, dinamisme, panteisme, deisme, politeisme, dan lainnya.

Dalam kesempatan ini kita akan merefleksikan gerangan gerakan-gerakan mesianis yang eksis dalam kebudayaan-kebudayaan masyarakat asli Papua. Bahwa ada gerakan-gerakan Spritualitas lokal yang beremansipasi. Gerakan-gerakan tersebut dikenal dengan istilah Gerakan Mesianis.

Mesianisme adalah kepercayaan pada kedatangan seorang mesias yang bertindak sebagai penyelamat atau pembebas dari sekelompok orang. Mesianisme aslinya adalah sebagai salah satu kepercayaan dalam agama Abrahamik, tetapi agama-agama lain memiliki konsep yang berhubungan dengan mesianisme. Agama dengan konsep mesias meliputi Zoroastrianisme (Saoshyant), Judaisme (Mashiach), Buddhisme (Maitreya), Hinduisme (Kalki), Taoisme (Li Hong), dan Bábisme.

Di Papua bersemayam juga gerakan-gerakan mesianis yang satu dan sama seperti yang eksis di beberapa agama besar dunia, semisal Agama Abrahamistik. Kita barangkali sudah tidak begitu asing dengan nama-nama Tokoh Kharismatik seperti Naurekul di Wamena; Koyeidaba di Meepagoo; Manarmakeri di Byak; Kuripasa di Nabire; dan lain-lain. Tokoh-tokoh tersebut diyakini sebagai Penjelmaan dari Yang Transenden.

Mereka juga diyakini akan datang sebagai Raja atau Ratu Adil yang akan membawa OASE atau angin sejuk berupa keadaan untung, bahagia, baru, damai, berlimpah, selamat dan membawa berkah kehidupan lainnya.

Penulis melihat dan merefleksikan gerakan-gerakan seperti ini mesti diakomodasi secara baik oleh masyarakat luas di Papua sebagai sumber warisan para leluhur yang Kudus dan mulia nilai dan eksistensinya bagi perabadan bangsa Papua sendiri. MEMELUK AGAMA MODREN ITU BONUS, TAPI MENCINTAI AGAMA TRADISIONAL ITU HARUS.

Simbol dan Makna Sistem Kekerabatan dan Organisasi Sosial

Tidak semua praktek simbiosis kekerabatan dan praktek organisasi sosial akan penulis angkat di sini. Kita akan membatasi pembahasan pada sebuah fenomena penghisapan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam suatu praktek organisasi sosial di Papua, yakni Sekolah Inisiasi Adat.

Ada banyak gambaran realitas yang menunjukkan betapa sudah tidak populisnya sekolah adat atau sekolah Inisiasi adat dalam tradisi kebudayaan-kebudayaan di Papua. Banyak oknum dan pihak-pihak tertentu yang rutin mengkomersialkan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam suatu jenjang pendidikan anak di sekolah Inisiasi adat.

Demi kepentingan politik, prestasi, prestise, popularitas, kredit sosial tertentu banyak penguasa dan pengusaha berbondong-bondong mendaftarkan diri sebagai anak adat di beberapa wilayah adat, di beberapa suku guna mendapatkan legitimasi dan justifikasi adat yang kemudian mampu membuat sosok oligarki tersebut memiliki hak ulayat atas tanah dan air yang terkandung dalam wilayah Marga tersebut. 

Para penguasa dan pengusaha yang notabene berasal dari luar suku-suku Papua itu juga menyandang beberapa status kharismatik dan terhormat dalam suku-suku di Papua secara ilegal, profan dan sekular, yakni status Anak Adat, Kepala Suku, Kepala Perang, Tokoh Big Man, Ondoafi, Ondofolo, dan lain sebagainya.

Praktek pemberian nama adat kepada warga Non-Papua juga mesti dihentikan, entahkah itu sebagai tokoh agama, masyarakat, perempuan, pemuda dan lainnya. Status anak adat lengkap dengan nama adat itu bukan sesuatu yang bisa dipermainkan, apalagi diperjualbelikan.

Yang berhak dan sahih legimasinya itu tidak lain dan tidak bukan adalah dan hanyalah orang asli Papua sendiri dan ia mesti sudah harus mengikuti prosesi sekolah Inisiasi adat secara teratur, alot dan bertanggung jawab. Bukan melalui suatu praktek gelap di belakang layar sekolah iniasi adat yang resmi. 

Dewan Adat Papua (DAP) mengukuhkan Gubernur Papua, Lukas Enembe sebagai pemimpin besar atau kepala suku besar tanah dan bangsa Papua, Sabtu (9/10/2022) di kediaman pribadi Lukas Enembe di Koya Tengah, Distrik Muara Tami, Kota Jayapura, (https://jubi.id/polhukam/2022/dewan-adat-papua-kukuhkan-lukas-enembe-sebagai-pemimpin-besar-tanah-dan-bangsa-papua/, 02/02/2023).

Sekarang mari kita uji kelayakan dan kepantasan atau legal standing dalil Pengangkatan Lukas Enembe sebagai pemimpin besar bangsa Papua oleh Dewan Adat Papua ini berdasarkan hukum adat yang secara universal dan spesifik berlaku di dalam suku-suku bangsa di Papua.

Sebelum Dewan Adat Papua “Menghayal” dan atau “Mimpi Basah” untuk menjadikan LE dan pejabat lainnya sebagai Pemimpin Besar Bangsa Papua secara adat. Maka mari kita bertanya dulu apakah LE dan gerombolan politiknya sudah memenuhi kriteria-kriteria fundamen adat dalam suku-suku di Papua sebagai Anak Adat?

Berikut berapa atribut kebudayaan yang menjadi kriteria bagi seorang individu untuk diakui atau disebutnya sebagai anak adat dalam komunitas suku bangsa di Papua, yang mana dimuat dalam buku Pastor Bukega K. Oksianus. 2020, Menggugat Fenomena Pengangkatan Anak Adat di Papua, Salatiga: Sayta Wacana University Press yakni:

Pertama, Seorang individu perlu Mengetahui sistem dan struktur suku bangsanya; 

Kedua, Seorang individu perlu mengetahui sejarah asal usul penciptaan dunia dan manusia (mitologi) suku bangsanya; 

Ketiga, Seorang individu perlu mengetahui sejarah leluhur dari suku bangsa (sejarah leluhurnya);

Keempat, Seorang individu memiliki garis keturunan (ayah dan ibu) yang jelas;

Kelima, Seorang individu memiliki marga dan nama adat (nama tanah) yang jelas; 

Keenam, Seorang individu perlu mengetahui bahasa daerah dari suku bangsanya; 

Ketujuh, Seorang individu memiliki epistemlogi (pengetahuan) tentang kosmos/alam semesta (kepemilikan tanah/dusun, batas wilayah adat); 

Kedelapan, Seorang individu perlu mendapat pendidikan adat (inisiasi) dan atribut lain yang menyertainya. 

Atribut kepemilikan kebudayaan yang dikenakan pada seorang individu yang diangkat dan diakui sebagai anak adat ini bersifat pewarisan dan diakui dalam komunitas suku bangsa. Dijamin akan fungsi pewarisannya. Bersambung. (*)

(KMT/Admin)

OAP atau OPP? (2/4)

 

Dok : Ist/OAP atau OPP? 2/4.Manusia Papua Dulu, Kini dan Mendatang Dalam Sukma Poskolonial. (Siorus Degei)
*Siorus Ewanaibi Degei

Jumlah suku di Papua diperkirakan mencapai 255, yang masing-masing mempunyai bahasa dan kebudayaan sendiri. 

Dari hasil penelitian tim Balai Bahasa Papua dan Papua Barat pada tahun 2013 lalu, menurut Supriyanto Widodo, Kepala Balai Bahasa Papua dan Papua Barat tentang jumlah bahasa daerah yang tersebar di Provinsi Papua dan Papua Barat, ternyata teridentifikasi sebanyak 307 bahasa daerah di Tanah Papua. 

Jadi, ada 225 Suku dan 307 bahasa daerah di Papua yang masih eksis hari ini di Papua, kita tidak tahu apakah ini benar atau tidak, tapi data sementara menunjukkan demikian kenyataannya di atas kertas administrasi Pusat Balai Bahasa di Papua, https://badanbahasa.kemdikbud.go.id/artikel-detail/2722/persebaran-bahasa-daerah-di-papua-dan-analisis-pergeserannya-kasus-bahasa-daerah-tepra-dan-sentani-di-jayapura, 2/02/2023).

Fenomena menarik yang mesti kita gubris lebih jauh adalah adanya gab dualistik antara kuantitas bahasa dan kualitas penuturnya. Ada jurang segregatif yang besar antara jumlah bahasa daerah di Papua dan jumblah penutur bahasanya, yakni kuantitas manusia asli Papua yang fasih berbahasa daerah.

Kita bisa mengajukan pertanyaan-pertanyaan penuntun seperti ini, apakah semua orang asli Papua mencintai dan menguasai grammar dan sistematika kesusastraan bahasa daerahnya? Apakah generasi milenial asli Papua masih bisa menggunakan bahasa daerahnya?

Apakah generasi milenial asli Papua masih bisa menerjemahkan bahasa daerahnya? Apakah generasi milenial asli Papua bisa menulis dan membaca dalam bahasa daerahnya masing-masing?

Apakah lembaga pendidikan, pembinaan dan penggemblengan generasi milenial asli Papua masih menyisakan peluang bagi proteksi eksistensi bahasa daerah Papua secara kontinyu dan konstitusif institutif?

Sepertinya kita terlalu ideal dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan tersebut ke permukaan publik, tapi bukan berarti tidak perlu. Kita tidak perlu muluk-muluk dan berbelit-belit dalam menjawab pertanyaan tersebut sebab hemat penulis realitas konkret fenomena dan paradoksnya Papua sudah menjawab pertanyaan-pertanyaan liar junto nakal itu dengan sangat apik dan baik. 

Bahwasanya bahasa daerah bangsa Papua di ambang kepunahan, penulis menyebut keadaan itu sebagai fenomena ‘Etno-Linguisida’ atau Pemusnahan Bahasa Daerah suku bangsa Papua. Sejauh ini hemat penulis ada beberapa ihwal subtansial yang menjadi indikator-indikator di balik potret etno-lingusida di Papua.

Pertama, kuantitas dan kualitas sumber daya manusia asli Papua yang semakin punah di atas tanah leluhurnya semenjak terintegrasi secara cacat hukum, HAM, Demokrasi dan Moral ke dalam pangkuan NKRI pada tahun 1962 dan PEPERA 1969.

Kedua, Aneksasi, dominasi, kapitalisasi dan kolonialisasi Bahasa Indonesia atas Bahasa-bahasa daerah Papua. Bahkan hemat penulis bukan saja bahasa daerah Papua saja yang menjadi korban dan tumbal dari bejatnya kapital, kolonial, Imperial, fasisme dan rasisme bahasa Melayu Indonesia.

https://kawatmapiatv.blogspot.com/2023/03/oap-atau-opp-14.html

Tapi semua bahasa daerah di republik ini dari Sabang sampai Merauke, Mianggas sampai Rote tidak lain dan tidak bukan adalah korban dan tumbal perbudakan bahasa Indonesia sejak 1928, tepatnya pada Hari Sumpah Pemuda, di mana ketika secara arogan, sepihak dan egois, rasis dan fasis bahasa Melayu Indonesia dideklarasikan sebagai Bahasa Nasional, Bahasa Pemersatu.

Penulis melihat bahwa momentum Sumpah Pemuda itu menjadi sejarah awal aneksasi bahasa-bahasa suku di seluruh Nusantara secara sepihak, fasis, dan rasis. Bahwa sejak itu pula esensi dan eksistensi bahasa-bahasa lokal mulai redup tak bernadi ekspansif.

Bahasa daerah Papua juga menjadi korban dari imbas Aneksasi dan kapitalisasi bahasa Indonesia yang arogan, ambisius dan prestisius dalam rangka politik dekolonisasi dan depopulasi SDM dan SDA Papua. Pasca Papua terintegrasi maka semua elemen kehidupan manusia asli Papua berserta alamnya mulai diindonesiakan, dinasionalisasi, termasuk bahasa lokal masyarakat adat Papua.

Perlu kita ketahui dan sadar bahwa bahasa adalah salah satu unsur kebudayaan yang paling esensial eksistensinya dalam kerangka pertumbuhan, perkembangan dan perabadan suatu suku bangsa.

Karena hanya melalui bahasa saja proses sosialisasi, internalisasi, edukasi, relasi, komunikasi, interaksi, dialog dan rekonsiliasi itu bisa terjadi secara baik dan benar.

Semua unsur kebudayaan lain bisa eksis jika bahasa daerah itu senantiasa eksis sebagai sarana, alat, media relasi komunikasi baik antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam, manusia dengan roh-roh nenek moyang, dan manusia dengan ‘Yang Transenden’.

Selain Bahasa Indonesia yang menjadi imperium, kolonial dan kapital bahasa daerah bangsa Papua dan bangsa lainnya di Indonesia, dewasa ini muncul lagi neo-kapitalisme bahasa lagi, yakni Bahasa Inggris.

Bahasa Inggris sudah legal sebagai bahasa internasional, semua penduduk global wajib fasih berbahasa Inggris jika hendak membangun jejaring relasi dan komunikasi sosial lintas Internasional.

Semua instansi dan lembaga pendidikan pasti menyisihkan forum bagi sosialisasi bahasa Inggris, ada mata kuliah bahasa dan sastra Inggris, di tingkat Sekolah Menengah Atas ke bawah ada mata pelajaran bahasa Inggris (SMA-SD), di samping bahasa nasional (bahasa Indonesia). 

Memang ini sebuah sistem atau keniscayaan aktual hidup yang suka tidak suka dan mau tidak mau dengan dalil apapun mesti diterima jika eksistensi seseorang itu mau dianggap ada. Namun sejatinya di sisi lain sadar tidak sadar, mau tidak mau, dan suka tidak suka pula bahwa dengan melakukan semua itu, yakni mati-matian mempelajari bahasa Inggris dan Indonesia (bahasa nasional dan internasional) kita sejatinya sudah, sedang dan akan terus menerus membunuh dan menguburkan bahasa daerah kita sendiri (bahasa lokal), Quo Vadis Bahasa Daerah, RIP?

Ketiga, memang kita akui bahwa ada gerakan dan program literasi nasional yang terkenal dengan slogannya yakni “Lestarikan Bahasa Daerah, Cintai Bahasa Indonesia, dan Kuasai Bahasa Asing”. Namun sudah sejauh mana hasilnya? Sudah berapa banyak kuota bahasa daerah yang sudah diselamatkan dari taring Pandemik Etno-lingusida?

Sudah adakah peraturan khusus (Perdasus) yang mengakomodir proteksi eksistensi bahasa lokal, terlebih bahasa-bahasa lokal yang diambang kepunahan? Sudah adakah kurikulum khusus yang menjadikan bahasa lokal sebagai salah satu mata pelajaran dan mata kuliah di seluruh instansi pendidikan?

Sejauh mana upaya konkret yang dilakukan? Apakah hanya dengan mengadakan kegiatan euforia belaka bertemakan proteksi bahasa lokal dengan semangat Literasi kontekstual yang menggebu-gebu tapi toh abu-abu? Sehingga ihwal urgent dan penting yang hendak penulis kemukakan di sini adalah bahwa MELEK BAHASA INDONESIA DAN ASING INI BONUS, TAPI MELEK BAHASA DAERAH ITU HARUS.

Simbol dan Makna Sistem Peralatan dan Teknologi

Kita sudah cukup sederhana menerawang eksistensi bahasa daerah di era kekinian yang tentunya membutuhkan rancangan proteksi yang mumpuni demi perabadan bangsa Papua yang lebih baik kedepannya, sebab perlu kita catat dengan tinta merah bahwasanya sebagian besar indikator dari praktek dekolonisasi dan depopulasi SDM dan SDA Papua itu tidak lain dan tidak bukan sedikit banyaknya disebabkan oleh penguasaan bahasa daerah di tingkatkan masyarakat luar yang punya motivasi ganda datang ke Papua.

Sekarang kita hendak memahami secara sederhana terkait Simbol dan Makna Sistem Peralatan dan Teknologi di Papua. Memang tajuk perikop ini agak luas dan berpotensi bias makna, namun tidak semua sistem teknologi dan peralatan yang ada di dalam rahim kebudayaan 225 Suku Papua akan kita beberkan, tentunya itu akan membutuhkan waktu yang lama, alot, runtut dan konsisten.

Kita hanya akan memotret beberapa entitas dari sistem peralatan dan teknologi yang sudah lumrah dan familiar dalam percakapan, dinamika dan interaksi ruang publik di Papua. 

Sistem peralatan hidup dan teknologi ini berhubungan dengan alat transportasi, peralatan komunikasi atau bahasa, senjata dan alat-alat rumah tangga, pakaian dan tempat berlindung rumah, pengetahuan dan kesenian.

Ada beberapa peralatan dan teknologi yang cukup populer di Papua, sebut saja Noken, Koteka, Tifa, Anak Panah, Tombak, Perahu Dayung, Kapak Batu, Barapen/Bakar Batu, dan masih banyak lagi yang tidak dapat kita sebut berjejer satu persatu, terlalu luas dan mendalam.

Beberapa entitas sistem peralatan dan teknologi di muka ini bukan hanya barang pakai atau benda mati yang tidak memiliki arti dan makna. Penulis hendak merefleksikan beberapa entitas kebudayaan itu dengan menggunakan perspektif yang baru, yakni persepektif poskolonial. 

Pertama, Noken. Noken mempunyai arti, makna dan simbol yang mahakaya. Setiap suku dan budaya di Papua punya referensi, definisi, filsafat dan epistemologi tersendiri dan khas terkait eksistensi noken tersebut. Noken menyimbolkan banyak hal dan nilai kehidupan yang bukan kepalang

Ada simbol kesederhanaan, kesahajaan, keterbukaan, kepolosan, kejujuran, kekuatan, kesuburan, kehidupan, dan lainnya. Ada banyak jenis Noken lengkap dengan arti, makna dan fungsinya masing-masing yang kaya dan khas.

Noken laki-laki dan perempuan sangat berbeda arti dan makna dengan simbol-simbol nilai tertentu, juga noken bagi kaum tua dan muda, noken bagi orang besar dan orang kecil, noken sehari-hari dan noken kerja, noken untuk membaringkan bayi, dan masih banyak lagi.

Sehingga hemat penulis tidak semua kekayaan nilai dalam noken itu bisa dimuat dalam noken tulisan yang sepintas lalu ini. Tapi paling kurang Noken itu Identik dengan seorang perempuan Papua yang sejati, darinya hadir dan lahir kehidupan. Lebih jauh noken itu menyimbolkan “Mama Bumi”, Tanah dan air yang senantiasa merahimi dan menghidupi alam jagat raya ini.

Secara teologis Noken itu menyimbolkan Tuhan Yang Maha Esa, Sang Pengada dan Pencipta dari-Nya kita ‘Ada’. Ia juga menyimbolkan Gereja atau Agama yang terbuka dan mau menerima siapa saja, kapan saja dan di mana saja. Secara Antropologis Noken itu simbol yang bermakna sebagai Manusia Sejati, Laki-laki dan Perempuan Sejati. Ada semangat kesetaraan gender di sini.

Secara politis Noken itu simbol yang bermakna sebagai Demokrasi yang adil, jujur dan baik, tidak ada dusta, tipu muslihat, many politic, marketing Politic, politik pencitraan dan lainnya, yang ada hanyalah integritas dan otentisitas.

Secara ekonomis noken menjadi simbol yang bermakna sebagai penunjang ekonomi keluarga, bisa mempermudah aktivitas mata pencaharian, tapi juga bisa menjadi komoditas yang unggul.

Kendati pun demikian semakin ke sini eksistensi noken asli Papua yang bercorak muda semakin di ambang kepunahan, penulis menyebut keadaan itu sebagai Nokensida, sebuah praktek pemusnahan naturalitas dan originalitas noken yang khas budaya.

Memang kita juga tidak bisa tidak menerima keniscayaan globalisasi, digitalisasi dan modernisasi yang semakin menggurita terjadi, namun justru di saat seperti itulah sebagai ahli waris budaya noken orang asli Papua tidak mesti tampil seperti ‘Ikan Mati’ atau ‘Ikan Puri’ yang mudah terbawa arus kepunahan. 

Standing position OAP mesti jelas, boleh modifikasi Noken dalam dan dengan bentuk apapun sesuai ekspektasi, selera, kreatifitas dan inovasi imajinatif, namun perlu direkam secara valid bahwa dengan, dalam dan melalui itu secara sadar tidak sadar, mau tidak mau, suka tidak suka kita telah, tengah dan akan terus menerus membunuh dan menguburkan keunikan, ciri khas dan corak alami daripada budaya noken kita sendiri sesuai ekspektasi kebudayaan masing-masing. Sehingga ihwal penting yang hendak penulis ketengahkan di sini adalah BUAT NOKEN MODIF ITU BONUS, TAPI BUAT NOKEN ASLI ITU HARUS.

Kedua, Rumah Adat. Setiap suku bangsa di West Papua punya sebutan khas sendiri-sendiri tentang rumah adat. Setiap sebutan mempunyai arti, makna dan simbol tersendiri yang tidak bisa digeneralisir atau dipukul rata sebagaimana tabiat para founder fahter and founder mohter yang paling doyan menyamaratakan semua unsur kebudayaan di republik ini dengan semangat Nusantara, Bhinneka Tunggal Ika dan slogan ‘NKRI Harga Mati’. Padahal jika kita telisik dan tilik secara kritis ini semua adalah upaya ‘Jawanisasi Indonesia atau Indonesiasi Jawa’ (dari presiden pertama hingga kini semua berdarah Jawa) yang berpilar pada paham fasisme, rasialisme dan militerisme.

Kembali lagi ke rumah adat, bahwasanya seni dan etika arsitektur masyarakat lokal dulu itu sudah sangat mengakomodir dan menjawabi semua aspek atau dimensi-dimensi kehidupan yang dibutuhkan bagi berdirinya sebuah rumah layak dan sehat. 

Mulai dari pemilihan dan penempatan lokasi pembangunan rumah yang strategis. Pemilihan, pengumpulan dan pengunaan bahan serta alat yang berkualitas tinggi secara adat. Teknik pembuatan dan pembangunan rumah yang cerdas, kuat, tahan lama, dan rapih, bahkan sangat indah.

Frekuensi dan hilirisasi udara, asap dan angin yang teratur serta berdampak pada penghangatan ruangan yang sederhana. Pemetaan kamar atau ruangan yang tertata sesuai norma-norma Kearifan Lokal yang berlaku.

Dari semua itu ada satu keunggulan yang dimiliki oleh rumah adat di Papua pada khususnya dan di seluruh wilayah pada umumnya, adalah bahwa tidak ada cerita atau sejarah hingga hari ini bahwa gara-gara tidur di rumah adat organ tubuh atau badan penghuninya mengalami rematik, paru-paru basah, Hepatitis, kanker tulang belakang, badan pegal-pegal, kepala pusing, dan penyakit khas modern lainnya.

Memang kita tidak bisa hitam putih berbicara seputar ini, sebab selalu ada plus minusnya, tapi sekali lagi bahwa untuk situasi dan kondisi Papua waktu itu, tipikal rumah yang paling strategis dan higienis itu hanya rumah dengan pola arsitektur adat atau tradisional, sebab itu menjadi pola arsitektur yang kontekstual sesuai situasi dan kondisi iklim, geografis, topografi, dan subekologis lainnya.

Singkatnya, Rumah Adat itu sederhana tapi sehat, sedangkan rumah modern terkadang memang lengkap, mapan dan lainnya tapi kadang-kadang bisa melahirkan bibit penyakit rematik, struk, paru-paru basah dan lainnya lantaran AC, Kipas Angin, Tewel, dan beberapa fasilitas canggih lainnya. 

Dalam alam pemikiran Agama-Agama Lokal jika tinggal di rumah adat, maka kita masih bisa disambangi oleh roh-roh alam, leluhur dan nenek moyang, relasi kita dengan mereka akan senantiasa terjalin intens dan intim.

 Sebab fasilitas yang kita pakai dan gunakan itu sangat akrab dengan dimensi asali mereka, sehingga mereka akan cepat mereka kerasan, disambut dan lain sebagainya bersama kita, sehingga implikasinya logisnya mereka akan senantiasa menjaga Penjaga dan Pelindung kehidupan keluarga kita.

Sebaliknya roh-roh dari alam, leluhur dan nenek-moyang (roh historis dan ahistoris; mahkluk Spritual Ekologis) akan sangat jarang bahkan nihil mengunjungi biduk kehidupan kita lantaran fasilitas canggih Modren berbasis teknologi yang kita pakai sebagai arsitektur kediaman kita itu sama sekali baru dan asing bagi mereka, mereka malah akan menjaga jarak yang terjal antara kita dan mereka, sehingga jangan sedih dan heran juga jika kadang-kadang ketika kita membutuhkan kehadiran pertolongan, bantaun dan sapaan hangat dari mereka tidak pernah kesampaian karena ada curang pemisah yang mahaterjal.

Kita sendiri yang ibarat menolak dan mencampakkan mereka ketika hendak mendirikan rumah dengan menggunakan pola arsitektur modern, walaupun kita tidak pernah menginginkan itu. 

Sehingga sudah saatnya untuk mencintai arsitektur adat yang mahal itu, setiap keluarga mesti memiliki Rumah Adat Asli di kampung halaman masing-masing tanpa material, bahan atau alat dari fasilitas Modren atau teknologi canggih apapun semuanya mesti serba adat berbasis alam lokal yang asli. 

Kayu, batu, alang-alang, tali, dan lainnya mesti digunakan dari sistem peralatan dan teknologi lokal yang asli khas masyarakat setempat, bukan subsidi atau logistik dari wilayah lain, jangankan wilayah lainnya, kampung lain saja tidak boleh semuanya mesti serba asli. TIDUR DI RUMAH MODREN ITU BONUS, TAPI HIDUP DI RUMAH ADAT ITU HARUS.

Ketiga, Busana Adat. Setiap suku bangsa di Papua punya busana adat sendiri-sendiri yang unik, khas dan kaya arti, makna dan simbol, sehingga tidak bisa dipukul rata bahwa ‘Batik’ adalah Busana nasional kita atau pakaian bermotif kain adalah salah satu busana paling berharga, bernilai, berharkat dan bermartabat, sementara busana lokal adalah busana kuno, primitif, kelas dua, terbelakang, mengandung unsur pornografi dan lain sebagainya. 

Bangsa-bangsa pribumi mesti keluar dari cebakan pikiran dan perasaan seperti itu sebab jika dengan secara tidak langsung kita sudah, sedang dan terus senantiasa membunuh dan menguburkan eksistensi nilai-nilai luhur yang terkandung kental dalam busana serta pernak-pernik perhiasan adat kita. Jangan sampai pakaian Modren, makeup, trending busana, tata rias hits dan lainnya meng-kapitalisasi, meng-koloniasasi dan meng-feodalisasi keutuhan dan Kekudusan busana adat. Bersambung. (*)

(KMT/Admin)