Selasa, 27 Juni 2023

Ricky Kegou: Rapper Bersuara Malaikat Revolusioner Dari Meeuwoo (Papua)


*Siorus Ewanaibi Degei

“Jika ku-dapat bernyanyi maka pasti akan ku-ramu lirik lagu indah nan merdu untukmu, jika ku-dapat melukis, pasti akan ku-poles cat berwarna perjuangan, ku-lukis wajahmu, jika ku-dapat mengukir, pasti akan ku-ukir senyumanmu yang khas. Aku hanya bisa menulis, ijinkan ku-rawat sedikit ingatan tentangmu tuk bangsa ini, sobat seperjuangan.”

Pagi, Jumat 16 Juni 20223 bak disambar petir di siang bolong publik di Meepago terpukul dengan beita duka yang datang mengatakan bahwa salah satu panyanyi rapper terbaik milik Suku Mee, West Papua dipanggil pulang oleh Sang Empunya Kehidupan. Berita tentang meninggalnya sempat viral dan menjadi trending topic di wilayah Meepago yang kini sudah dimekarkan menjadi Provinsi Papua Tengah, terutama di wilayah Nabire yang menjadi tempat tumbuh kembangnya Ricky Kegou, Sang Pemilik Suara Kemanusiaan dengan Jiwa Revolusioner yang khas serta mengebu-gebu.

Kita baru saja kehilangan salah satu penyanyi rapper dengan jiwa kemanusiaan yang kuat, Ricky Kegou, Croxtwentysix, Turik, Rikex Flow, Uwigou Megou, Rikex. Kehilangan para pejuang dengan jiwa seni yang mengebu-ngebu itu sangat berat, ketimbang pejuang dengan tidak terselibnya DNA seni bagi suatu bangsa yang masih berziarah di lembah penindasan, penderitaan dan penjajahan seperti di Papua.

Para seniman, musisi dengan jiwa revolusioner yang kuat itu lebih mahal nilainya ketimbang pejuang revolusi di Medan Perang, Panglima Gerilya yang agung. Pejuang dengan tipikal musisi ini sanggup membunuh jiwa kolonial, sanggup menghidupkan, membangkitkan bara api perjuangan dalam kedalaman jiwa rakyat tertindas.

Ricky Kegou adalah sedikit dari penyanyi dengan suara pemantik bara api revolusi yang gigih di atas tanah yang empuk menjadi konsumsi taring kapitalisme dan kolonialisme global.

Konteks Pengantar

Untuk sedikit membuka wawasan kita untuk memhami iktihsar perjuangan Ricky Kegou yang khas dengan suara emasnya dan mix liriknya memadukan Bahasa daerah (Mee), aksen Papua, Bahasa Indonesia dan Inggris itu. Dalam setiap perjuangan, pergerakan dan perlawanan bangsa-bangsa diaspora dalam menuntut penentuan nasip sendiri, sosok pejuang dengan jiwa seni menjadi pribadi-pribadi yang paling digentari setiap rezim penghisap (totaliter).

Nama seperti Lucky Dube dan Bob Marley menjadi ikonik musik Reggea di dunia, terutama di Afrika Selatan dan wilayah-wilayah jajahan, layaknya pulau Papua ini. Melalui lagu-lagu, kedua legenda musik reggae ini berhasil membangkitkan semangat emansipasi dan revolusi militan dalam sanubari rakyat pekerja dan pejuang hingga menuai kemerdekaan sejati dari perbudakan dan penjajahan. Lebih kebelakang Tembok Yeriko berhasil ditaklukkan hanya melaui madah pujian bangsa Israel dengan tiupan Nafiri yang menggetarkan. 

Sebelumnya juga Bangsa Israel berhasil keluar dari perbudakan Mesir dengan terbelanya Laut Merah, selama berjalan madah puji-pujian digaungkan oleh bangsa Israel sebagai pembunuh rasa takut dan ungkapan syukur kepada Wahye Pembebas, (Kel. 15:1-21). Teks ini oleh para teolog pembebasan di Amerika Latin dijadikan sebagai referensi biblisnya (Perjanjian Lama, PL) dalam merancang bagun teologinya.

Ada kidung Maria ketika ia (rahimnya) terpilih dari antara para wanita untuk menerima kabar gembira dari Allah melalui Malaikat Gabriel sebagai Ibu kandung Yesus Kristus, Sang Pembebas dan Penyelamat Sejati. Teks kidung Maria ini juga mejadi inspirasi blibis (Perjanjian Baru, PB) lahirnya teologi Pembebas di Amerika Latin, sebab di dalamnya diperlihatakan bahwa Allah senantiasa berpihak pada yang lemah (option for the poor) sebagai alat-Nya untuk membebaskan dan menyelamatkan dunia, (Luk. 1:46-56). Ada juga Nyanyian Zakharia yang mengungkapkan rasa syukurnya atas keberpihakan Allah padanya dengan mengaruniakan Yohanes Pembaptis yang kelak akan tampil sebagai Nabi Besar setelah Yesus Kristus dalam jemaat Perjanjian Baru, (Luk. 1: 67-80).

Dalam perjuangan panjangnya juga, apa yang diperjuangkan oleh para raja-raja lokal di India dalam mengusir penjajah Inggris senantiasa dinyanyikan oleh beberapa penyanyi lokal India. Hemat penjajah Inggris para penyanyi yang senantiasa membangkitkan semangat perlawanan, perjuangan dan pergerakan di tingkatan rakyat kecil ini lebih berbahaya ketimbang para raja dan panglima perang yang memimpin perang gerilya dengan mereka. 

Mohandas Mahatma Gandhi dan Nehru juga senantiasa didukung oleh beberapa penyanyi lokal yang memyampaikan kerinduan terdalam bangsa dan tanah India untuk merdeka. Dalam perjuangan Afrika Selatan juga ada nama-nama seperti Bob Marley dan Lucky Dube yang senantiasa mengaungkan semangat pembebasan dan perdamaian  melalui musik reggae. Di Indonesia sendiri ada nama W.R. Supraman, pencipta lagu kebangsaan yang senantiasa membakar semangat perjuangan para pahlawan bangsa Indoneisa kalah itu untuk tetap gigih memperjuangan kemerdekaan dan mengusir penjajah kolonial Jepan dan Belanda.

Ada juga nama Iwan Fals, Ebiet G. Ade yang melaui lagu-lagunya meyalangkan kritik pedas, halus dan cerdas kepada rezim otoriter dan totaliter Soeharto. Mereka juga banyak menginspirasi aktivis-aktivis ‘98’ yang berhasil melengserkan rezim Soeharto. Ada juga nama Ignatius Sayekoji yang memperkenalkan musik Hip-Hop kepada masyarakat Indonesia sepulang kuliahnya di Amerika. Ada juga nama Mbak Surim yang mempopulerkan musik reggae versi dangdut di Indonesia, kini estafet itu diemban oleh Ras Muhamad. Untuk di Papua sendiri api revolusi itu mulai nampak didemonstrasikan dan dipromisikan oleh gruoup Vokal Musiak Etnik yang dirintis oleh Mambesak.

Setelah Mambesak muncul juga group-group musik lokal lintas wiayah-wilayah adat, misalnya muncul nama Ambi Nabire untuk wilayah Saireri, muncul Totaa Manaa, Tune Manaa dan lainnya di Meepago, muncul Nayak Group di Lapago, dan vokal group musik etnik lokal sejenis lainnya di wilayah-wilayah pelosok Papua yang memperjuangkan nasibnya melalui musik. Di Group Mambesak sendiri hampir semua wilayah ada representasi atau delegasinya, sehingga tidak salah jika vokal musik ini sanggup menghasilkan lagu-lagu penuh nilai dan makna hidup dalam Bahasa Ibu semua daerah Papua saat itu, walaupun tidak semua namun ada perwakilan dari wilayah Pantai sampai pegunungan, sehingga musik-musik rintisan Mambesak ini sanggup mempersatukan bangsa Papua dari gunung sampai Pantai, Katolik-Protestan-Islam, laki-laki-perempuan, tua-muda, kaya-miskin dan kolom distingsi multilitas lainnya di Papua kala itu.

Ada juga Black Brohters, Black Papas, dan Black Swett untuk genre musik POP di tahun 80-an, 90-an dan awal 2000-an di Papua yang populer mengangkat identitas manusia dan tanah Papua ke tempat yang sejajar dengan bangsa-bangsa bebas merdeka di belahan dunia lainnya. Black Brohters dan adik-adik group musik POPnya juga mengemban tugas dan panggilan yang satu dan sama seperti apa yang sudah dirintis oleh pendahulunya Mambesak. Group-group musik POP ini menjadi idola sepanjang masa dalam benak terdalam bangsa Papua, di samping ada Club Sepakbola Persipura, Sang Mutiara Hitam dari Ufuk Timur.

Musik Hip-Hop sendiri belum begitu tua eksis berdomisili di Papua. Musik dengan genre ini baru mulai tenar di Papua kurang lebih pada penghujung 2000-an. Untuk wilayah Meepago sendiri, musik ini mulai diminiati kalangan muda tepat pada awal tahun 2000-belasan, ada sekitar periode 2012, 2012 ke atas ketika Rilex Clan mulai tenar di sana dengan lagu bertajuk, Sepi Hati-nya. Anggkatan Ricky Kegou, yang dikenal dengan Rikex, Croxtwnetysix itu mulai muncul di tahun-tahun itu. Saat itu memang pengaruh globalisasi, modernisasi dan digitalisasi membuat genre musik Reggea Hip-hop itu mulai mendapatkan respek dan apresiasi penuh dari generasi milenial di Papua.

Terjadi transisi dari kecintaan ke musik POP (BB, BP, BS, Trio Ambisi, Pace Pondang, Meriam Ambelina, Ebit G. Ade dll) ke genre musik Reggea, musik itu tenar (viral) ketika album-album dari Lucky Dube dan Bob Marley merangsek ke melalui wilayah Pasifik Melanesia (PNG, Salomon, Fiji, dan lainnya), musik reggae tidak diperkenalkan oleh bangsa Indonesia, tapi oleh bangsa Melanesia sendiri, begitu juga dengan musik Hip-hop. Musik hip-hop mulai tenar ketika Club Musik Reggea Hip-hop masuk ke Papua, semisal, Henry Kukus, Sugas, Basil Greg, Onetox, Texas, Ohsen, Dezine, dan lainnya.

Wilayah Pasifik Melanesia sendiri mendapat implus pengaruh dari wilayah Afrika Caribbean, dalam hal ini memang jika mesti jujur mengatakan bahwa musik reggae ciptaan Bob Marley dan Lucky Dube cepat merasuki kedalaman jiwa-jiwa di belahan bumi dunia ketiga atau the development contrys (Afrika, Carebean, Amerika Latin, Kepualaun Pasifik Melanesia, termasuk Papua).

Mungkin jika kita lihat dari mata perfectsionisme kedua penyanyi itu sangat berantakan dalam perawakan dan perangai hidup, mereka terkesan seperti penyanyi jalan yang tidak bermoral, beretika, apalagi keduanya dan pengikut-pengikut setelahnya seperti para pemusik dan penyanyi R&B, POP, Hip-Hop di Eropa terkesan abmoral ketika suting video clip, mereka menampilkan adegan-adegan panas, mengonsumsi miras, memakai bikini, mengonsumsi ganja, dan adegan-adegan panas lainnya.

Secara tidak langsung lebel negatif langsung melekat kepada mereka. Bob Marley dan Lucky Dube juga tidak terlepas dari stigma-stigma generatif vulgar. Mereka kadang dinilai sedang gila ketika bernyanyi, mereka buka-bukaan saat tampil tourney, mangung. Hingga kini nama-nama seperti Wiz Kalifa, Znouck Dog, Lil Wayne, Nicky Minaj, Jason Derulo, Chris Brown, Rihana, dan lainnya tidak lekat dari lebel-lebel negative ala mata dan otak “eropa putih”.

Roh dari musik reggae yang dirintis dan dipopulerkan oleh Bob Marley dan Lucky Dube ketika sudah masuk imperium eropa berubah menjadi genre musik Hip-Hop atau musik Rap. Musik ini adalah anak kandung dari musik Reggea jika kita mau jujur ketika berbicara terkait ekspansi musik reggae dalam arti yang lebih adaptif-modernitas. Ia hadir dan lahir pertama kali di Amerika sebagai kritik sosial atas praktek apathteid yang terjadi terang-terangan di eropa kala itu.

Nama Billy Cosby memperjuangkan pengahpusan Apahteid di Amerika melalui siaran TV lewat komedi-komedinya, perjuangan persis juga serta mempengaruhi perjuangan dari beberapa comedian Indonesia untuk memutuskan mata rantai stigama dan diskrimninasi rasial, seperti Ary Kriting, Abdru, Mamat Alkatiri, dan Roberth Yewen, semisal dalam acara Waktu Indonesia Timur (WIT) di NET TV. Marhtin Luhter King Jr memperjuangkan kesetaran dan kesamaan ras di Amerika melalui seruan-seruan, pidato-pidato, kotbah, kotbah, dan tulisan-tulisan kritisnya. Perjuangan Marthin Luhter King Jr ini banyak menginspirasi Pdt. Steven Tong, Pastor Natalis Hanepitia Gobay, Pastor Neles Kebadaby Tebai, Pdt. Benny Giyai, Pdt. Socrates Sofyan Yoman dan lainnya. Muhamad Ali dan Mike Tyson menunjukkan eksistensi bangsa kulit hitam di pangung Boxing, ada nama Michael Jordan yang mengguncang lapangan Bola Basket Dunia. Di dunia musik pasca perjuangan Afrika Selatan merdeka muncul Tupac Amaru Shakur di Amerika, ia adalah bapak musik hip-hop.

Ia memperjuangkan nasip bangsanya melalui aliran musik hip-hop yang baru ini. Mereka menjadikan stigma-stigma atau lebel-lebel vulgar bangsa kulit putih bermata biru berambut putih atas bangsa kulit putih berambut keriting di eropa kala itu, seperti Pemabuk, Pemerkosa, Pemalas, Pencuri, Pengedar Narkoba, Mafia, Ganster, Pamalak, Pembunuh, Budak, Bodoh, dan lainnya itu sebagai Inspirasi dan Motivasi untuk sadar, bangkit dan melawan guna memperjuangkan harkat dan martabatnya. Musika Hip-Hop dirintis oleh Tupac untuk mengeritik peguasa dan kontruksi identitas palsu yang dibangun oleh rezim eropa apharteid kala itu.

Tukilan penggambaran profile konteks penulisan refleksi tokoh di atas ini adalah seinci angin timur yang barang tentu bisa membentangkan layar nalar horison pemahaman kita untuk mengenal lebih jauh, dalam dan luas akan sosok Ricky Kegou dalam bentangan panjang perjuangan bangsa dan tanah Papua menuju dermaga keadilan, kemerdekaan dan kedamaian di jalur musik, agar kita tidak terjatuh dan tervirus nyenyak dalam berspekulasi, menjustifikasi dan melegitimasi penilaian-penilaian subjektif-apriori atas gesing, tampilan luar sosok Ricky seraya memberikan stigama arogantif cum antipatif terhadapnya.

Siapakah Ricky Kegou?

Siapakah Ricky Kegou? Untuk menemukan jawabannya barangkali lagu Ricky dengan judul, This Is Me (2021) itu membantu menjelaskan siapa sosok Ricky sebenarnya. Siapakah Ricky Kegou? Inilah pertanyaan mendasar yang barangkali menghantui beberapa kepala dan hati insan-insan bernyawa manusia yang merasa heran ketika informasi kepergiaan Ricky membanjiri setiap beranda media online, seberapa pentingnya sosok ini dalam era ini di Papua, terutama di wilayah adat yang disebut Meepago, kini Papua Tengah sampai-sampai banyak orang merasa kehilangan sesuatu yang lebih berharga daripada harta yang berharga?

Keadaan psikis seperti ini untuk radar mata yang berada di luar wilayah Meepago dan atau di luar Papua memang sah-sah saja, namun teramat memprihatinkan dan disayangkan jika banyak orang di Papua masih belum sadar dan paham akan apa yang dimuat oleh Ricky Kegou untuk bangsa dan tanah ini selama ia masih aktif memegang mikrofon musik Hip-hop, mendedikasikan kharisma suara serak khasnya itu untuk membumikan kedamaian dan keadilan bagi pula berbentuk cenderawasih ini.

Saya tidak akan melukiskan profil privat sosok Ricky Kegou secara paripurna dan lengkap, penulisan ini hanya akan menampilkan siapakah itu Ricky Kegou hemat saya pribadi, tentu setiap kita yang mengenal Ricky atau sempat berinteraksi dengannya pasti bisa menjawab pertayaan ini sesuai batas-batas pemahaman kita tentang sosok, suara, perangai, musik khasnya, dan lagu-lagunya. Tulisan ini saya saripatikan dari refleksi Panjang perwujudan Papua tanah damai yang terdentang merdu panjang dari masa Reggea, POP, Vokal Group Etnik Lokal hingga kini Hip-Hop di Papua. Bahwa saya tidak akan menyentuh banyak kehidupan pribadi Ricky, tetapi lebih dari pada itu sosok Ricky Kegou akan kita letakkan sebagai pejuang bangsa dan tanah Papua yang memperjuangkan keadilan dan kedamaian lewat dunia musik Hip-Hop sebagaimana roh dan sprit fundamen musik hip-hop itu sendiri yang sudah dirintis oleh Tupac di eropa, dipopulerkan oleh Eminem, dibawah masuk ke tanah air Indonesia oleh Iganisius Sayekoji dan merambat ke bumi Cenderawasih.

Mama Hagar Maday dan Warisan GEN Musisi Revolusioner

Hemat saya, berbicara mengenai Ricky Kegou, tidak dapat kita lepas pisahkan dengan peran dan pengaruh ibu kandungnya, yakni Ibu Hagar Magai (saya lebih tertarik memanggilnya dengan sapaan Mama Hagar Maday). Ada dua hal penting yang secara mendasar dan mendalam dari Mama Hagar yang sangat mempengaruhi kepribadian dan kedirian Ricky Kegou seperti yang kita kenal sekarang ini.

Yang mencolok dari mama Hagar Maday ada suaranya yang menyerupai malaikat surga dan kemurahan hatinya yang menampilkan wajah cinta kasih Kristus. Tentang suara mama Hagar nan merdu dan berdaya pikat setiap telingan yang mendengarkannya itu dapat kita lihat dari rekam jejak mama Hagar sendiri, ia adalah salah satu penyanyi vokalis paling wanita tunggal yang paling fenomenal dalam sejatah permusikan Papua, terutama di wilayah Meeuwoo.

Dan, terkait sifat dermawanannya itu sudah tidak dapat kita pungkiri lagi, ia banyak membantu kaum marjinal yang ia jumpai, ia relah membangun beberapa rumah atau semacam asrama untuk anak-anak yang hendak menempuh studi di beberapa kota studi tanpa memungut biaya, seperti di Nabire, Jayapura dan lainnya. Barangkali ini berasal dari pengalaman dan pergumulannya sendiri ketika masih menempuh Pendidikan di kota studi di tanah rantau, di mana ia sempat berjuang taruhan hidup untuk dapat bisa memenuhi kebutuhan hidup, tempat tinggal, makan, mandi, dan lainnya di kota studi. Dua hal mendasar dan mendalam inilah yang sedikit banyaknya mempengaruhi Ricky Kegou secara esensial. Ricky Kegou, suara seraknya yang khas dan berkarakter itu sudah tidak bisa kita pungkiri lagi betapa emasnya. Suaranya ini yang membuat sosok Ricky unik dan berbeda dengan penyanyi lainnya. Selain suara yang merdu dan khas, Ricky juga mewarisi hati malaikat dari Sang Ibu Kandungnya. Semua harta yang ia peroleh itu tidak ia gunakan sendiri, ia selalu membagikan harta kekayaannya itu kepada siapa saja yang jumpai dalam kehidupan baik itu sebagai teman kompleks, adik-kaka kompleks, teman sekolah, teman bermain, saudara-saudari dalam keluarga, kenalan dekat-jauh, dan handai taulannya yang lain.

Dalam beberapa kesaksian teman-teman yang pernah berkenalan secara dekat dengan Ricky, ia selalu memenuhi setiap undangan konser yang mereka berikan kepadanya untuk pengalangan dana dari komunitas-komunitas yang bergerak di bidang kemanusiaan. Ia akan sangat bersemangat, menampilkan ferformanya yang terbaik, mengeluarkan suaranya yang terbaik. Ia akan menolak segala bentuk pemberian dari panitia penyelengara, beberapa teman mengenang kata-kata yang sering diucapkan Ricky sehabis manggung pas mau dibayar, “baah ini kam main ap ni”, “macam deng orang lain kh” “maksudnya bagaiman ni” sambil senyum tipis-tipis atau ngakak besar-besar.

Ia memang pribadi yang paling sulit dicari padanannya pada penyayi sedawarnya yang hanya mengutamakan job, trofi, surplus dana dan lainnya. Ia tidak melandasasi semangat musik rappernya dengan semangat reproduksioner-bisnis, tapi lebih jauh dan filosofis dari itu yakni semangat revolusioner-emamsipatoris. Pada tataran seperti inilah kita benar-benar bersyukur bahwa Papua masih punya “mutiara hitam” di panggung rapper untuk kerja-kerja pembebasan dan perdamaian.

Ricky Kegou adalah anak tunggal, ia tidak punya saudara kandung, dalam Bahasa Mee ia biasa disapa Kegou Enago, Kegou adalah salah satu Marga dalam Suku Mee di wilayah Mapia Selatan (Piyaye, Dogiyai), sementara Enago berarti anak tunggal (Bhs. Mee). Posisi sebagai anak tunggal tentunya menjadi begitu istimewa dalam keluarga, mereka biasa disebut anak emas, sebab hampir semua kasih sayang dari kedua orang tua dan sanak keluarga lainnya tercurah padanya. Ricky Kegou, sebagai anak tunggal, juga mengalami kasih sayang yang tiada taranya dari kedua orangtuanya, terutama dari sang Mama.

Ricky tumbuh dan besar bersama keluarga di Nabire. Mamanya begitu sayang dan cinta padanya. Kepada seorang teman saat ibu telah pergi menghadap Tuhan di Surga, Ricky sempat curhat bahwa dirinya tidak bisa hidup tanpa Mama, ia tidak bisa pisah selamanya dari mama, ia memang mungkin agak bandel, dan sering pergi pulang pergi bermain sesuai nama gaulnya dalam Bahasa Mee, Uwigou Megou (Uwigou; Pergi/Jalan, Megou; Pulang/Datang) yang artinya pergi pulang pergi, tidak tenang tenang di satu tempat, suka jalan, tapi ia tidak bisa membohongi dirinya sendiri bahwa ia tidak dapat hidup dan tinggal jauh dari pelukan cinta seorang perempuan tangguh, berhati malaikat dan bersuara emas cenderawasih yang khas, ibu Hagar Maday.

Dalam diri Ricky Kegou mengalir darah semangat emansipasi musik seperti yang sudah kita bahas pada muka tulisan ini, musisi revolusioner. Ibu kandungnya, mama Hagar Maday (almarhuma) adalah salah satu penyanyi vokalis wanita tunggal dengan aluanan suara paling merdu dan manis pada masanya. Ia adalah personil di Group Musik Tunee Maaa (Melodi/Suara Cenderawasih, bhs;Mee). Tunee Manaa adalah salah satu Group Musik yang didirikan oleh beberapa palejar Meepago di kota studi.

Mama Hagar adalah salah satu penyanyi yang paling terkenal saat itu, suaranya yang teramat merdu, melengking tinggi, berkaraketr, juga ekspresi perangai wajahnya (tubuhnya) yang khas itu membuatnya menjadi penyanyi dengan suara emas cenderawasih yang sering tampil dalam hajatan-hajatan besar di wilayah Meepago. Saya sempat mendengar cerita tentang sepak terjang mama Hagar dunia tarik suara, saya juga beberapa kali sempat melihat sendiri betapa anggunnya penampilan Mama Hagar. Tubuhnya memang pendek, tapi tidak dengan suara merdunya, setiap telinga yang mendengar suaranya itu pasti merinding.

Sebelum nama Ricky Kegou melejit, Ibu kandungnya sudah lebih dulu menaklukkan stigma bahwa bahwa orang di balik pengunungan itu tidak dapat berbuat apa-apa.

Bahwa jauh sebelum Ricky Kegou mengangkat eksistensi identitas masyarakat pengunungan, khusus Meepago, Mama Hagar Maday sudah menunjukkan ke dunia bahwa kualitas suara dari masyarakat asli di sana itu juga berkualitas tinggi, tidak kala merdu dengan penyanyi-penyanyi lagu POP kala itu.

Kualitas suara dan jiwa semangat emansipasi yang hidup dalam setiap nada harmoni yang keluar dari mulutnya itu sanggup menandingi suara-suara merdu yang didegungkan oleh Meriam Ambelian, Dian Pasesa dan lainnya. Mama Hagar menunjukkan bahwa perempuan gunung Meeuwoo (Papua) juga mampu berdiri setara dengan perempuan-perempuan hebat dan laki-laki birlian lainnya di Papua, Indonesia, dan dunia.

Walaupun dengan sarana-sarana yang terbatas dan sederhana Mama Hagar dan teman-temannya sanggup mengankat harkat dan martabat orang gunung dengan kualitas suara dan musik yang tidak dengan wilayah Papua lainnya dan dunia musik lainnya. Kita bisa bayangkan kala itu teknologi musik tidak secanggih dewasa ini, tapi orang-orang hebat ini mampu melahirkan lagu-lagu melegenda dengan suara-suara emas yang menyejarah.

Seperti yang sudah kita gambarkan juga di atas bahwa lahir dan hadirnya group-group musik etnik lintas wilayah lokal pasca Mambesak itu adalah adanya dorongan kuat untuk menunjukkan eksistensi identitas diri, bangsa, budaya, dan tanah air Papua. Bahwa Papua bukan tanah kosong, mungkin adalah semangat yang melandasi menjamurnya group-group musik lokal. Hal ini menunjukkan bahwa bangsa Papua adalah salah satu bangsa yang memiliki wawasan seni Tarik suara atau seni musika yang gemilang dan khas yang sejajar juga dengan budaya-budaya seni musik yang berperadaban dalam sejarah penguliran bola bumi ini.

Ricky Kegou, sadar tidak sadar, mewarisi bakat penyayi dan pemusik birlian dari ibu kandungnya. Bakat musik yang lahir dari kesadaran kebangsaan, semangat emansipasi kebudayaan, dibalut dalam jiwa pembebasan dan nilai-nilai kemanusiaan universal. Saya kira aspek ini yang penting untuk kita salami guna memahami geliat, passion dan perangai Ricky Kegou sebagai penyayi Rapper yang memiliki jiwa revolusioner di Papua.

Dari Tupac di Amerika ke Ricky Kegou di Meeuwo (Papua)

Tupac adalah salah satu legenda musik Hip-Hop dunia, ia yang menciptakan genre musik yang satu ini. Inspirasi utama yang membangkitkannya untuk memperjuangkan nasip bangsa kala itu di eropa dari jerat apartheid terinspirasi juga dari semangat musik reggae yang diwartakan oleh Bob Marley dan Lucky Dube. Sebagai anak afrika yang lahir dan besar di kota, Tupac sendiri sudah melihat, dan mengalami bagaiaman rasisme struktural itu menjajah bangsanya di eropa.

Ia sendiri mendengar dan mengalami bagaimana bangsa kulit putih itu merendahkan harkat dan martabat bangsanya dengan melebel bangsa kulit hitam di eropa sebagai bangsa turunan budak, pemalas, pemabuk, penegmis, kumuh, kotor, bau, pemalak, pencuri, mafia, ganster, dan lebel-lebel vulgar, ekstrim dan negatif lainnya. Untuk memutuskan mata rangtai rasisme institusional itu, Tupac mendirikan genre musik Hip-Hop ini untuk mengankat harkat dan martabat bangsa itu. Ia menguliti habis-habisan fenomena korupsi, kekerasan, ketidakadilan dan fenomena-fenomena sosial dan politik lainnya yang abnormal, abmoral, dan premature kala itu.

Ia membuat tepat di tempat-tempat yang kala itu dilebel sebagai sarang peyamun, tempat sampah masyarakat, tempat buagan. Tempat para mafia, marker besar para pengacau kota, tempat-tempat kumuh dan pinggiran. Banyak kaum berada merasa rishi dengann lagu-lagu, terutama lirik-lirik rapper yang tajam dan menampar atau seperti tinjungan petir di siang hari. Sementara kaum marjinal yang merasa hak-hak asasinya diperjuangakan oleh Tupac menilainya sebagai penyelamat, ia dipadangan aktikulator dan corong yang mampu menyuarakan suara-suara mereka yang kadang tidak didengarkan oleh orang-orang berada dan berlimpah harta benda itu. Tupac menjadi symbol ekspresi, aspirasi dan petisi kaum marjianl kulit hitam yang mendambakan keadilan, kesetaraan, dan kedamaian di eropa kontinental yang sarat rasisme, fasisme dan militerisme itu.

Walaupun mengalami maju-mundur dan pasang-surut karir dan perjuangannya, Tupac pun mendapatakn respon yang hangat dan positif dari kalangan bangsanya sendiri, terutama kalangan segenerasinya, ia menjadi ikon baru yang banyak menginspirasi generasi muda bangsa kulit hitam tempo itu di eropa. Gaya bicara dan aksen-aksenya yang khas menjadi sebuah tren baru yang banyak diminati dan diikuti anak-anak muda, gaya berpakaiannya yang compang-camping itu menjdi mode busana baru yang banyak merubah sistem mode waktu itu eropa, ada banyak orang-orang muda yang tampil ala-ala anak-anak hip-hop.

Tupac menjadi salah satu penyanyi yang hampir semua kepribadiannya diikuti oleh jutaan orang, mirip dengan Michael Jakson yang banyak diidolakan oleh banyak penghuni jagat bukan saja suaranya, tapi cara jogetnya yang khas, mode berpakain dan mode rambuntnya. Emienem, Wiz Kalifa, Znoop Dogg dan lainnya adalah pengemar-pengemar berat Tupac yang mewarisi beberapa karakter di bidang musik Hip-Hop yang metering dewasa ini.

Jika kita merefleksikan sosok Ricky Kegou dan sepak terjangnya di dunia musik Hip-Hip di Papua, maka sedikit banyaknya kita akan menemukan benang merah yang mencolok seperti apa yang dirintis oleh Tupac di Amerika dan sekitarnya. Ricky Kegou juga selalu jujur, terbuka dan polos, menampilkan apa adanya realitas yang ia hidupi dan jalani. Ia selalu membuat video clip di tempat-tempat yang hemat banyak orang normal tapi kurang sadar realitas penjajahan dilebel sebagai tempat kumuh, ‘terminal’, markas pemabuk, kompleks merah, daerah rawan, dan lebel-lebel vulgar, ekstrim, dan negatif tingkat akut lainnya. Ricky Kegou ini lahir dan besar di kabupaten Nabire, tepatnya di salah satu kompleks yang terkenal ‘texas’, ‘denger’, ‘merah’ dan ‘berbahaya’, yakni Karang Barat atau Jalan Baru, atau croxtwentysix sebagaimana yang biasa dipopulerkan sendiri oleh Ricky, croxtwentysix ini merujuk pada sebutannya pada kompleks tercintanya yang terkenal merah dan berbahyanya itu. Untuk khalayak pembaca yang akrab dengan kota nabire dan sekitarnya pasti tahu menahu tentang sepak terjangnya bahayanya tempat ini.

Dalam beberapa lagunya kita saksikan Ricky secara jujur tampil apa adanya, ia tampil buka baju, menato badannya ala-ala penyanyi hip-hop niga rintisan Tupca di eropa, ia bernanyi di jalan raya, ia bernyanyi dalam keadaan beralkohol atau memegan beberapa botol alkohol (miras), ia duduk dan bernyanyi bersama anak-anak yang medapatkan lebel “Anak Jalanan”, “Anak Aibon”, “Anak Terminal”, dan lainnya. Ia bernyanyi, hendak menunjukkan bahwa masih ada fenomena anomali sosial, masih ada ketidakadilan, masih ada masalah, masih ada tuntutan Papua Merdeka. Ia berusaha mengankat harkat dan martabat anak-anak muda Papua, generasi emas Papua korban sistem kapital dan kolonial yang bermisi memusnahkan manusia dan alam Papua.

Mereka ini sengaja maupun tidak sengaja dibiarkan oleh pihak berwajib, justru pihak-pihak yang semestinya memperbaiki wajah panorama ini memilih diam, membiarkan dan cenderung memelihara. Apa yang dibuat oleh Ricky ini persis juga dengan apa yang waktu itu dibuat Tupac bagi bangsanya, bagi generasinya di Amerika, korban sistem Amerika yang rasismesentris bagi bangsa kulit Hitam.

Kita kalau secara kirtis, analitis dan objektif menerawang beberapa komplelks di Nabire yang terlebel “merah” seperti Karang Barat atau Jalan Baru, Jayanti-Wadio, KPR-Siriwini, Asrama Kodim-Siriwini, dan lainnya itu semua dimayoritasi oleh penduduk-penduduk asli Papua, sementara pemukiman yang dikenal “putih”, aman, nyaman dan damai adalah pemukiman dan atau perumahan yang dimayoritasi oleh warag nonPapua, “amber” (pendatang luar Papua). Di Jayapura ada kompleks Dok 9, ada Dok 5, ada Argapura, ada Waena Perummas III, ada Nafri dan lainnya yang senantiasa menjadi topik-topik utama sebagai kompleks rawan. Tempat-tempat yang dilebelkan sebagai tempat buangan ini selalu ada di hampir semua kota di Papua.

Ricky Kegou adalah inci penyanyi yang mendedikasinkan dirinya untuk mengankat harkat dan martabat generasinya. Ia bernyanyi untuk memperjuangkan nilai-nilai kehidupan, kemanusiaan dan pembebasan. Ia berusaha memutuskan mata rantai lebel stigama ekstrim atas komplek tercintanya, tanah airnya Papua. Ia anak tunggal, ia sendirian, tidak punya saudara kandung, ia bisa saja memilih hidup nyaman, aman dan damai, ia punya segalanya jika ia mau hidup aman. Ricky juga punya suara merdu kelas penyanyi R&B.

Ia bisa saja fokus pada karir rappernya, ia bisa bangun Menara gading, ia bisa tinggal dan makan enak, hidup berkecukupan, ia bisa saja hidup mewah tanpa malas tahu dengan situasi dan kondisi sekitarnya yang hancur, ia bisa saja tampil ganteng, pakai baju mewah ala artis rapper kebanyakan, ia bisa mencari wanita cantik body gitar Spanyol yang senar gitarnya cepat putus, dan membangun rumah tanggah yang harmonis dengan menikahi wanita cantik, ia bisa saja dan sangat bisa sekali jadi anak-anak rapper yang apatis, kakuh dan cacat atas realitas konflk Papua yang berkepanjangan dan tuntuan penentuan nasip sendiri yang berdarah-darah dirindukan oleh bangsa dan tahan Papua. Tapi ia memilih meninggalkan kenyamanan warisan harta yang berlimpah, ia menolak egois dan secara individual mengembangkan dirinya dan keluarganya sendiri seperti kebanyakan rapper cacat di tanah ini yang hanya tahu hasilkan lagu-lagu baper, percintaa eros yang semu, galau, sulit move on tanpa semangat cinta agape yang revolusioner untuk tanah dan manusia terjajah Papua.

Ricky keluar dari poros zona nyaman, ia memilih hidup dan tinggal di dan bersama anak-anak jalanan. Ia yang tidak punya saudara kandung itu menemukan saudara kandungnya di jalanan, terminal, ia menjadikan teman-teman yang mendapat lebel pemabuk, pencuri, pemalas, pemalak, dan lainnya sebagai adik-adik dan kaka-kaka kandungnya sendiri, ia berikan cinta yang tulus, besar dan iklas di jalanan, terminal, ia Uwigou-Megou, pergi pulang pergi, seperti musafir cinta ia hidup bergelana, rupanya di sana ia tidak sendirian, ia temukan banyak harta, harta kehidupan yang berarti, berharga dan bermakna.

Dalam refelsksi saya pribadi ini saya melihat Ricky ini seperti Lukcy Dube dan bahkan Yesus. Lukcy Dube, ia juga ada tunggal, tidak punya sanak saudara. Ia punya talenta suara emas, bahkan mencapai oktaf 9, ia mengalahkan Maria Cerey yang punya suara dengan kisaran 8 oktaf. Dengan bakat suara malaikat ini Lucky Dube bisa hidupa aman dan nyaman tanpa harus takut diburuh oleh otoritas kolonila eropa.

Sebelum memeluk genre musik reggae rastafarian, ia sudah cukup mapan dengan pengahsilannya sebagai penyanyi musik POP, namun semuanya berubah drastik ketika ia menykasikan sendiri fenomena penindasan dan penjajahan di tanah airnya dan atas bangsanya sendiri. Ia beralih dari musik POP ke musik Reggea Rastafarian guna mendemonstrasikan dan mempromosikan pemebebasan dan perdamain bagi bangsa dan tanah airnya, Afrika Selatan.

Lucky Dube menimbah inspirasi dari Bob Marley yang memperjuangkan kemerdekaan bangsa Kamerun dengan, dalam dan melaui musik Reggea, Lucky Dube juga berubah menjadi raja musik Reggea yang paling tersohor dalam sejarah bangsa Afrika Selatan sebagai pejuang kemerdekaan bangsa Afrika yang terkemuka sebanding dengan Nelson Mandela, Desmond Tutu dan lainnya. Nama Lucky Dube menenpati posisi tertatas sebagai incaran para agen CIA, Amerika. Ia dianggap bahaya karane menyebarkan semangat revolusi kepada khlayak ramai di Afrika Selatan. Lucky Dube mengahiri hidupnya sebagai martir raggea yang suskse mempromosikan pembebasan dan perdamaian di Afrika dengan ditandi dengan penghapusan sistem hukum apartheid.

Sebenarnya Ricky Kegou hanyalah salah satu dari beberapa penyanyi-penyanyi asli Papua yang punya hati dan kecintaan penuh mendalam demi penegakkan kebebasan dan perdamaian bagi bumi Papua. Kita juga tidak lupa dengan dedikasi dari Nick Young Many yang tidak pernah absen menelurkan lagu-lagu rapper dengan kritik-kritik tajam atas praktek kolonialisme dan kapitalisme di Merauke (Anim Ha).

Nick Young Many, adalah seorang rapper asli Papua yang berasal dari Merauke Papua Selatan, ia paling rajin mengeritik kebobrokan sistem pemerintanhan dan praktek eksploitasi kelapa sawit di Merauke, ia juga adalah salah satu rapper yang mempersembahkan lagu khusus untuk merespon kasus rasisme yang menimpa saudara-saudari mudannya di Asrama Kamasan Surabaya pada Agustus 2019. Lagu terakhirnya berjudul, Harapan, hendak menguliti para investor asing yang bertmata kerancang hendak mencuri tanah dan lahan Sagu di Merauke demi pembangunan perusahan kelapa sawit, penyebab deforestasi dan ekosida di tanah Anim Ha.

Ada juga nama Daniel Bobii, dan Kristian Pigai. Nama-nama mereka ini tidak lekang termakan waktu. Melalui lagu-lagu yang mereka ciptakan, mereka akan selalu hidup dalam setiap jiwa yang mendengarkan setiap lirik yang mereka sampaikan. Mereka ini artis-artis lokal, mereka tinggal dan hidup di kampung-kampung, daerah pelosok yang terisolir. Namun daya dan jiwa musik dan kata-kata yang meraka ramu, rajut dan rangkai menjadi sukma tersendiri yang mampu melahirkan semangat perjuangan, pergerakan dan perlawanan demi penegakkan dan pegungkapan kebenaran, keadilan dan kebenaran. (*)

)* Penulis adalah Mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Fajar Timur Abepura-Papua.

Kamis, 08 Juni 2023

Ancaman Konflik Horizontal di Nabire, Kenapa? (1/2)


*Siorus Ewanaibi Degei

Kira-kira ada apa di balik grand design konflik horizontal di Nabire? Jika masalah soal tapal batas wilayah adat, kenapa intensitas konfliknya semakin meningkat hingga menyebar ke seluruh wilayah Meepagoo dan di ambang perang terbuka masyarakat adat? 

Pertanyaan ini mesti kita jawab secara tuntas agar masyarakat tidak saling membunuh lantaran hanya masalah-masalah yang masih bisa diselesaikan dengan jalan Dialog dan Rekonsiliasi. Ada beberapa hal ihwal yang mesti kita luruskan dan cari solusinya bersama demi Nabire Tanah Damai.

Membedah Nabire dan Pergumulan Ekspansinya: Sebuah Refleksi Nabire Nyawene.

Nabire merupakan Kabupaten Pemekaran dari Kabupaten Paniai (Enarotali) dengan Surat Keputusan Wakil Perdana Menteri Republik Nomor : 120/PM/1965 tanggal 23 November 1965, Paniai ditetapkan menjadi Kabupaten Administratif yang terlepas dari Kabupaten Jayawijaya, dengan Ibukota Enarotali. 

Berhubung Ibukota Enarotali berada di daerah pedalaman, maka berdasarkan pertimbangan efektifitas dan efisiensi, Ibukota Kabupaten Paniai dipindahkan dari Enarotali ke Nabire pada tahun 1966 dengan alasan Nabire yang berada di Daerah Pantai merupakan pintu masuk ke daerah pedalaman melalui transportasi laut sesuai dengan Surat Usul Bupati Administratif Paniai Nomor : 1035/PU/66 tanggal 17 Oktober 1966. 

Arti dan Makna Kata Nabire

Ada tiga versi dari tiga suku asli Nabire yang menjelaskan tentang arti dan makna kata Nabire.

Pertama, Versi Suku Wate. Berdasarkan cerita dari suku Wate, bahwa kata “Nabire” berasal dari kata “Nawi” pada zaman dahulu dihubungkan dengan kondisi alam Nabire pada saat itu yang banyak terdapat binatang jangkrit, terutama disepanjang kali Nabire.
Lama kelamaan kata “Nawi” yang mengalami perubahan penyebutan menjadi Nawire dan akhirnya menjadi “Nabire”.

Kedua, Versi Suku Yerisyam. Nabire berasal dari kata “Navirei” yang artinya daerah ketinggalan atau daerah yang ditinggalkan. Penyebutan Navirei muncul sebagai nama suatu tempat pada saat diadakannya pesta pendamaian ganti daerah antara suku Hegure dan Yerisyam.

Versi lain Suku ini bahwa Nabire berasal dari Na Wyere yang artinya daerah kehilangan. Pengertian ini berkaitan dengan terjadinya wabah penyakit yang menyerang penduduk setempat, sehingga banyak yang meninggalkan Nabire kembali ke kampungnya dan Nabire menjadi sepi lambat laun penyebutan Na Wyere menjadi Nabire.

Ketiga, Versi Suku Hegure. Versi dari suku ini bahwa Nabire berasal dari Inambre yang artinya pesisir pantai yang ditumbuhi oleh tanaman jenis palem-palem seperti pohon sapu ijuk, pohon enau hutan, pohon nibun dan jenis pohon palem lainnya. Akibat adanya hubungan/komunikasi dengan suku-suku pendatang, lama kelamaan penyebutan Inambre berubah menjadi Nabire, (https://nabirekab.go.id/portal/sejarah/, 08/06/2023).

Nomen Ets Omen: Implikasi Penamaan Dalam Siklus Perabadan Nabire 

Nama Adalah Tanda atau Nomen Ets Omen, selalu menyiratkan arti dan makna tertentu yang khas. Bahwa di balik kata Nabire berdasarkan tiga versi di atas tentunya memiliki beberapa implikasi konkret dalam silabus sejarah kabupaten Nabire itu sendiri. Ada beberapa fenomena historis yang dapat kita lukiskan di sini terkait arti dan makna kata Nabire;

Pertama, Perpindahan Ibukota Kabupaten Paniai Ke Nabire pada 1966. Implikasi logis dari mutasi ibukota kabupaten Paniai ke Nabire ini punya pengaruh besar yang mentransformasikan paradigma mayoritas masyarakat Suku Mee di Paniai dan sekitarnya. 

Tumbuh mentalitas bahwa Nabire itu adalah kepunyaan masyarakat Mee. Sementara masyarakat asli kabupaten Mee sendiri tidak punya hak kesulungan dalam reksa perpolitikan di kabupaten Nabire.
 Masyarakat Mee berpikir dan merasa bahwa kabupaten Nabire itu adalah kabupatennya, mereka menguasai dan mendominasi kabupaten Nabire sejak Bupati Karel Gobay berkuasa hingga kini, sementara masyarakat asli Nabire pelan tapi pasti semakin tersingkir ke pulau-pulau terpencil.

Ambisi menyabotase tanah ulayat masyarakat Wate juga terlihat semakin memuncak ketika kabupaten Nabire dimasukkan dalam bursa wilayah adat Meepagoo. Padahal jika kita telisik dan lalaah dalam perspektif antropologi, sosiologis, geologis, geografis dan topografis sebenarnya Nabire itu tidak termasuk di dalam bursa wilayah adat Meepagoo, Nabire lebih dekat secara antropologis, sosiologis geografis, geologis, dan topografis dengan saudara-saudara pesisir pantai dan kepulauan lainnya.

Jadi ada indikasi politik pendudukan dan perpecahan dalam pemasukan wilayah Nabire ke dalam wilayah adat Meepagoo, mereka hanya gunakan nama adat padahal prakteknya di luar dari ketetapan adat. Hal ini juga menjadi salah satu indikator mengapa beberapa oknum dan pihak yang tidak bertanggung jawab mengatasnamakan masyarakat adat Wate sebagai pemicu bara konflik di Nabire ini.

Kedua, Arti dan Makna Nabire Versi Suku Wate. Jika kita bertolak dari sisi arti yang diberikan oleh Suku Wate pada kata Nabire, yakni bahwa Nabire itu merujuk pada tempat yang banyak dijumpai jangkrik.
Memang hingga hari ini jika kita berjalan di sekitar pinggiran pantai, melintasi sepanjang bibir pantai dan pinggira kota-kota di Nabire yang mayoritas domisili oleh warga lokal, terutama masyarakat Wate maka kita akan senantiasa disuguhi dengan bunyi suara jangkrik yang khas.

Memasuki jam-jam sore panduan suara jangkrik selalu bergema di belantara hutan yang bakau dan teratai yang membentang di sepanjang pantai di kabupaten Nabire, semakin sore suara semakin keras. Namun hingga kini suara itu kian redup lantaran pemukiman-pemukiman warga lokal yang sudah masuk ke beberapa hutan tempat para jangkrik bersuara merdu itu hidup.
 
Jangkrik-jangkrik itu semakin hilang sumber daya kehidupan, mereka semakin hari semakin tersingkir dari atas tanah ekosistem kehidupannya sendiri. Hal ini pulalah yang mungkin terlihat dengan jelas atas apa yang dialami oleh masyarakat Wate di kabupaten Nabire, mereka semakin hari semakin tersingkir dari kota Nabire, mereka yang dulunya tinggal dan hidup di jantung kota kini mulai tersingkir. 

Ada banyak oknum dan pihak yang mengklaim bahwa masyarakat itu hanya tahu jual-jual tanah kepada kaum pendatang, termasuk juga masyarakat dari Mee, Migani, Damal, dan lainnya, bahkan beberapa Suku kekerabatan ini terkesan banyak menyabotase tanah-tanah ulayat milik masyarakat Wate. Ini juga soal-soal yang menjadi akar masalah yang hingga hari ini belum jelas di atasi.

Suku Wate yang terdiri dari lima suku yaitu Waray, Nomei, Raiki, Tawamoni dan Waii yang menggunakan satu bahasa terdiri dari enam kampung dan tiga distrik.

Pada tahun 1958, Konstein Waray yang menjabat sebagai Kepala Kampung Oyehe menyerahkan tempat/lokasi kepada Pemerintah.

Ketiga, Nabire Versi Suku Yerisyam. Masyarakat Suku Yerisyam menyakini Nabire sebagai daerah yang ditinggalkan atau dilupakan. Memang benar bahwa ada semacam stigma kolektif bahwa masyarakat asli Nabire tidak mampu, mereka tidak bisa bersaing, mereka lemah, kecil, bodoh, pemalas, pemabuk dan lain sebagainya.

Mereka dikucilkan bukan saja oleh para misionaris dan perintis domestik tapi juga oleh saudara-saudara sebangsa dan setanah air Papua lainnya, seperti beberapa Suku kekerabatan dari wilayah Meepago dan Lapago. Ironisnya, generasi selanjutnya mengamini stigma-stigma itu, begitu juga dengan generasi penerus para pendatang di Nabire.

Masyarakat asli Nabire yang kaya raya akan sumber daya laut, sungai, hutan, gunung, batu, pasir, sawit, singkong, pertanian, peternakan dan lainnya dilupakan dari atas negerinya sendiri. Melalui Uang, Jabatan, Miras, Lokasi, Ganja, Narkoba dan lainnya sebagai yang terjalin sistematis membantai masyarakat asli Nabire itu mereka semua dimusnahkan.

Mereka sudah menjadi minoritas di atas tanah mereka sendiri. Mereka sudah terusir dari atas tanah leluhurnya sendiri ke pinggiran-pinggiran kota hingga pulau-pulau pelosok sekitar. Kita mesti ingat bahwa Nabire adalah salah satu kota yang paling strategis bukan saja jaman kini tapi sudah sejak abad 13-14 ketika pelayaran perdagangan Kerajaan-kerajaan mulai menemukan dan melintasi perairan Pantai Utara dan Pantai Barat Papua.

Nasib masyarakat asli Nabire itu tidak berbeda jauh juga dengan beberapa wilayah Papua yang sudah mulai berkontak dengan dunia luar sejak awal abad 13-14 seperti Yapen, Waropen, Napen, Byak, Seriui, Fak-Fak, Wondama, Bintuni, dan lainnya. Masyarakat itu sudah di garis akhir kepunahan jika masyarakat asli Papua lainnya masih ngotot mau menguasai dan mendominasi wilayah Nabire.

Mesti ada dialog dan rekonsiliasi historis di bagian ini, supaya masyarakat asli Nabire tidak merasa ditinggalkan, dilupakan, diabaikan dan sebagainya dari atas tanah leluhur mereka sendiri. Masyarakat Meepagoo dan Lapago sombong, ujuk gigih, seakan-akan mereka petarung hebat, manusia sejati, mereka itu adalah wilayah-wilayah yang baru mekar, baru mengalami perabadan di abad 18-19 ke atas.

Wilayah adat atau Tanah Ulayat mereka masih belum begitu luas dan besar dikuasai oleh masyarakat pendatang, terutama oleh koorporasi dan oligarki. Wilayah pegunungan Papua mulai dilirik, terutama misi perampokan sumber daya alam dan pemusnahan sumber daya manusia itu mulai terjadi ketika Tim Ekspedisi Dozy menemukan serpihan material tambang di Gunung Nemangkawi yang kini menjadi wilayah konsesi tambang Freeport pada 1936.

Kini dalam rancangan pembangunan menengah nasional tahun 2024 (RPJMN 2024) Indonesia sudah petakan kekayaan alam di wilayah pegunungan, yang masih hangat-hangatnya kini adalah wilayah Blok Wabu di Intan Jaya, Taman Lorenz di Nduga, Aplim Apom di Oksibil, dan lainnya baik itu mineral tambang, maupun minyak gas, juga pertanian.

Keempat, Nabire Versi Suku Hegure. Suka Hegure menyebut Nabire sebagai wilayah yang di pinggiran pantainya bisa banyak dijumpai pohon-pohon palem, enau, kepala, Ketapang pantai, dan pohon-pohon lainnya. Ini mau melukiskan bahwa Nabire itu memiliki potensi alam pantai yang indah. 
Sebenarnya ini hanya menuliskan sebagian kecil dari banyaknya kekayaan dan keindahan alam di wilayah Nabire baik di wilayah pesisir pantai, kepulauan, dataran rendah, perladangan, pertanian, perbukitan, hingga pegunungan. Di sana banyak dijumpai kekayaan alam berupa flora fauna yang tiada tandingannya. 

Sungai-sungai kecil di beberapa wilayah di Nabire juga menyuguhi kekayaan air tawar yang melimpah, pasir, bata dan material tambangnya juga mencuri perhatian mata para pemerkosa alam untuk datang beranak-pinak di Nabire sehingga kini mereka juga mengklaim sebagai penduduk asli Nabire, tidak ketinggalan juga beberapa suku kekerabatan di wilayah pegunungan.

Masyarakat pendatang di wilayah Nabire ini tentunya datang ke wilayah Nabire pertama-tama untuk mencari makan dan bertahan hidup, mereka tidak peduli samasekali dengan penduduk asli Nabire, mereka sama sekali tidak memberdayakan masyarakat asli, mereka hanya tahu memeras, membodohi dan mengalienasikan masyarakat asli Nabire, suku-suku kekerabatan di wilayah juga sudah lama tampil sebagai kolonial cum kapital lokal.

Padahal dalam sejarahnya masyarakat asli Nabire itu tidak punya masalah sekecil pun dengan beberapa suku kekerabatan yang saat ini menguasai dan mendominasi masyarakat asli Nabire. 

Kelima, Catatan. Tidak ada satupun manusia normal dan rasional di Nabire yang peduli dengan eksistensi masyarakat adat di sana. Semua organ dan orang yang datang ke Nabire hanya mencari makan, menyambung hidup, mereka secara sadar maupun tidak sudah mengeksploitasi hak kesulungan masyarakat asli Nabire.

Mayoritas suku Mee merasa diri sebagai pemilik sulung kota Nabire. Mereka dari dulu sampai sekarang belum begitu terlihat dan terlibat dalam kerja-kerja pemberdayaan dan pembangunan sumber daya manusia asli Nabire. Tidak pernah ada anak asli Nabire yang tampil di muka publik, kebanyakan generasi emas masyarakat asli Nabire tersingkir dari atas tanah leluhurnya sendiri. 

Masyarakat pegunungan merasa Nabire yang adalah wilayah pesisir adalah wilayah ulayatnya. Ini hemat penulis adalah sikap, mental dan prinsip dasar yang salah parkir dan keliru yang masih dipegang teguh oleh mayoritas masyarakat Mee dan suku-suku pegunungan lainnya. Semestinya sebagai tamu mereka turut serta membangun manusia, alam dan leluhur Nabire. Mereka mengembalikan hak kesulungan masyarakat asli Nabire.

Masyarakat tidak begitu tahu siapa pemilik ulung wilayah Nabire, mereka hanya merasa bahwa itu milik masyarakat Mee dan sekitarnya, seakan-akan Nabire itu tanah kosong yang tak berpenghuni, atau wilayah yang masyarakat adatnya sudah punah, padahal mereka masih eksis, masih ada, tidak tinggalkan tanah leluhurnya. Mereka mungkin salah telah banyak menjual tanah, tapi pasti alam, leluhur dan Tuhan pasti membuka jalan.

Perlu ada juga karya kajian ilmiah untuk menginvestigasi dan mengadvokasi eksistensi manusia, alam dan leluhur bangsa Papua di wilayah Nabire. Sejauh ini belum ada karya tulis berupa kajian antropologi, sosiologi, geologi, dan kajian bidang ilmu lainnya yang mengotopsi eksistensi manusia asli Nabire guna memproteksi mereka dari ancaman Spiritsida, Etnosida, Genosida dan Ekosida. Sekolah-sekolah dasar, menengah, akhir dan tinggi di Nabire pun tidak sama sekali mengajarkan terkait karakteristik kehidupan masyarakat asli Nabire, kebudayaan dan tradisi masyarakat asli Nabire.

Banyak orang tinggal di Nabire, hidup di sana, beranak-pinak di sana, tapi sama sekali tidak punya hati kecil untuk manusia asli Nabire itu sendiri. Minimal hak pendidikan, Kesehatan, dan ekonominya diperhatikan secara bertanggung jawab oleh pihak berwajib.

Yang selalu buat masalah di Nabire adalah suku-suku pendatang termasuk juga suku-suku asli Papua sendiri yang berubanisasi ke Nabire. Mereka karena kursi 01 bupati, DPR, OPD dan lainnya di Nabire selalu mengadakan hura-hura di Nabire. Masalah yang sedang hangat-hangatnya sekarang ini juga digembar-gemborkan oleh suku-suku pendatang tadi.

Tuan rumah masyarakat asli Nabire sendiri tidak mengamini konflik horizontal seperti ini, memang beredar info bahwa ada aktor masyarakat adat Nabire sendiri yang terlibat dalam perseteruan ini, namun belum pasti, apalagi itu baru bersifat prasangka, semakin ganas dan panas sebab berita-berita miring disebarluaskan oleh mayoritas masyarakat Meepagoo yang dungu dalam bermedia sosial, tidak lebih dulu memfilter apakah informasi itu valid atau tidak, main sebarluaskan secara benturan, sehingga api emosi semakin membara, yang tidak masalah juga turut ambil perang bak ikan mati atau domba-domba gembalaan yang ikut pemimpinnya bodoh-bodoh.

Berani angkat anak panah dan perang hanya dengan suku sendiri, tapi tidak berani, bermental cupu ketika berhadapan dengan aparatur keamanan dan pertahanan negara (TNI-POLRI).

Berikut apa yang terjadi pada masyarakat asli Nabire itu juga yang menimpa masyarakat asli di kabupaten Sorong, Fak-Fak, Byak, Serui, Jayapura dan beberapa kabupaten serta kota tua lainnya yang sudah berdiri di jaman Belanda hingga kini. Ini adalah dan hanyalah manifestasi konkret dari apa yang menimpa bangsa dan tanah Papua.

Bangsa-bangsa asing datang ke Nabire dan menganeksasi Nabire secara ilegal tanpa sepengetahuan masyarakat aslinya, malah mereka dilengserkan, mereka dibodohi untuk menjual tanah, alam dan ekologinya secara buta, cacat, dan tuli mekanisme dan hukum internasional.

Wajah Kota Nabire 

Nabire di kenal saat itu sebagai kota singgkong berlapis emas, karena di sana terdapat banyak tanaman Singgkong juga di dalamnya menyimpan banyak Emas. Maka saat itu banyak sekali terdapat pendulangan illegal di sekitar sungai-sungai atau kali-kali, pencurian kayu, pengrusakan hutan, perburuan ikan secara ilegal di beberapa perairan yang menjadi zona ekologi budaya masyarakat adat Nabire baik di pantai hingga pegunungan hingga saat ini masih terdapat di sekitaran kilo 100, Topo/Uwapa, Wanggar, Kaladiri, Yaro, Sima, Menou, Sanoba, Nabarua, dan lain-lain.

Posisi Nabire di Peta Papua cukup strategis yakni terletak di perut wilayah Papua, hal ini menjadikan Nabire cukup sentral di Wilaya Penggunungan Tengah (Meepago), di mana Nabire menjadi pengghubung bagi beberapa wilaya pedalaman yang kini telah dimekarkan menjadi Kabupaten, seperti kabupaten Dogiyai, Deyai, Paniai, Intan Jaya, dan Puncak Jaya (belakangan muncul wacana pemekaran kabupaten Mapia Raya, pasca Asosiasi Bupati MEEPAGO sukses melobi untuk memekarkan Provinsi Papua Tengah).

Posisi yang strategis menjadikan Nabire sebagai Miniatur Indonesia. Semua suku bangsa, ras, agama, golongan, dan latarbelakang sosial lainnya di negeri ini dapat dijumpai di sana. Transmigrasi besar-besaran terjadi di Nabire mulai dari Sumatara, Kaliamantan, Jawa, Sulawesi, NTT, Flobamora, dan lain sebagainya menghujani wilaya Nabire hingga ke Pelosok sejak awal-awal 1960-an hingga kini pasca pembentukan DOB Papua Tengah. Maka di Nabire orang dari sub-latarbelakang mana saja dapat dijumpai.

Baik jika kedatangan para pendatang dibonjengi dengan niat dan motivasi yang baik. Karena pasca kehadiran kaum pendatang itu pelan namun pasti banyak budaya baru bermunculan, seperti miras, karouke, pijat extra, lokalisasi (apalagi di daerah pendulangan, seperti Bayabiru atau degeuwoo), nnarkotika Ganja, HIV/AIDS, dan lain sebagainya. Inilah potret singkat wajah kota Nabire itu.

Sisah-Sisah DOM di Nabire

Rupanya metode pemusnahan etnis berumpung Melanesia melalui DOM yang di warisi oleh rezim orde lama dan baru masih berlaku walau dalam intensitas kasus yang tidak terlalu masif. Di Nabire selama tahun 2000-an banyak terjadi kasus penghilangan atau penculikan, penankapan tanpa alasan, bahkan pembunuhan yang diduga kuat dilakukan oleh aparat keamanan berpakaian preman dan kadang-kadang berbusana ninja atau penyamun, istilah-istilah seperti Tukang Tarik Darah, Penyamun, Ilmu Hitam, Potlet, Pembunuh, Strom Udara, Karlace dan lainnya bukan lagi menjadi istilah baru untuk anak-anak kelahiran 90-an sampai 2000-an awal. 

Tukang Tarik Darah. Ini adalah operasi yang digalang oleh beberapa oknum dan pihak koorporasi di bidang pembangunan jalan maupun bangunan-bangunan infrastruktur perintis, seperti Kantor, Sekolah, Rumah Ibadah, Jembatan, Jalanan dan lainnya. Mayoritas masyarakat asli Papua di Nabire percaya baya ada praktek petumbalan dalam setiap gerak pembangunan yang digalakkan.

Mereka percaya bahwa di dalam dasar material yang digunakan ada darah dan nyawa manusia yang dikurbankan, tumbal di sini kebanyakan adalah anak-anak bayi, gadis perawan, pria percaka, dan warga sipil lainnya. Biasa para tukang atau karyawan dari suatu proyek pembangunan ini selalu mengambil darah dari orang-orang yang mereka jumpai di sekitar lokasi pembangunan atau di sekitar tempat istirahat mereka.

Mereka akan menatap target mereka dengan penuh saksama, ada ayat-ayat khusus atau mantra-mantra khas yang mereka ucapkan untuk menyerap darah korbannya secara spiritual, darah yang terkumpul itu akan mereka sesajiankan tepat pada dasar bangunan yang hendak mereka kerjakan sebagai proyek. Tujuan mereka adalah, (1). Bangunan, Jalan atau Jembatan itu kokoh, kuat dan tidak mudah roboh; (2). Ada roh jin atau mahluk spiritual gelap yang mereka bawah dari tempat asalnya guna menjadi penunggu yang jahat, mengganggu stabilitas masyarakat yang berada di sekitar situ, darah itu adalah sesajian untuk mahluk ini.

Untuk jalan raya terkadang darah dan nyawa para korban yang jatuh di depannya akan langsung menjadi santapan lezat si mahluk jadi-jadian ini. Kita tentu kenal beberapa titik rawan di Nabire dan sekitarnya bahkan seluruh Papua yang bila terjadi laka lantas sekecil apapun pasti akan menyebabkan kejatuhan korban yang pasti, terkadang itu juga bisa menjadi penyulut amarah dalam rangka konflik horizontal.

Untuk bangunan kantor terkadang nyawa dari beberapa pengawai di dalamnya selalu menjadi tumbal yang empuk bagi mahluk spritual di dalamnya, kalau bukan anggota kantor tersebut pasti kerabat dekat dari para pegawai ini. Untuk mahluk spiritual yang bersemayam di sekolah atau kampus biasanya yang menjadi tumbal adalah para siswa-siswi atau mahasiswa-mahasiswinya. 

Jenjang waktunya bervariasi ada yang prosesi pertumbalannya selang satu, dulu waktu mahluk spritual itu masih muda atau bayi korban kepadnya selalu berlangsung selama setahun sekali, beranjak remaja biasanya berlangsung enam bulan sekali, di usia dewasa biasanya berkisar di tiga bulan, dan di jenjang lansia biasanya ia semakin kuat karena itu tumbal yang ia minta pun semakin banyak, satu bulan bisa 1 sampai 3 nyawa yang ia makan. Kita bisa bayangkan bahwa operasi ini sudah digalakkan sejak Papua secara cacat kronis dianeksasi oleh Indonesia, Belanda, PBB, Amerika dan Roma Vatikan pada 1962 dan PEPERA 1969.

Dan untuk Nabire sejak, Nabire dimekarkan, begitu juga dengan beberapa kota tua seperti Jayapura, Merauke, Sorong, Biak, Serui, Manokwari, Jayawijaya dan lainnya; (3). Agar mereka mampu menguasai sarana-prasaran yang mereka bangun, mereka jadi pemain karena itu ditunjang oleh mahluk spritual yang ada di dalamnya, sementara masyarakat asli perlahan-lahan semakin termarjinalkan dan teralienasi di atas tanah sendiri. 

Maka istilah seperti penyamun (kelompok yang sering menarik darah orang demi pembangun suatu bangunan, seperti Jembatan, Kantor, Sekolah, Jalan Aspal, dan lain-lain), pembunuh bayaran, potlet (potong leher, dalam bahasa Mee Ogo Duwaii), dan ilmu hitam. Istilah-istilah ini sangat familiar sekali di kalangan warga Nabire bahkan anak-anak kecil sering kali orang tua menakuti anak-anaknya dengan istilah-istilah itu jika bandel dan nakal. Bersambung. (*)

Sabtu, 04 Maret 2023

Victor Yeimo: Patriot Antirasisme Sejati Papua (4/4)

 

Dok: Ist/Passion VY Melawan Victim Blaming dan Rasisme Struktural NKRI di Papua. (Siorus Degei)

*Siorus Ewanaibi Degei

Bukan menjadi hal baru juga pada ekosistem hukum negara dan bangsa Indonesia. Kita mungkin sudah tidak asing lagi dengan adagium klasik hukum yang berbunyi ‘Hukum Itu Tajam Ke Bawah dan Tumpul Ke Atas’. 

Barangkali untuk menampik fakta realitas hukum negara itu para lawyers republik ini berbondong-bondong tampil sebagai ‘pembalut’, ‘softex’, dan‘kondom sutra’ guna memainkan ‘politik cuci tangan’ dalam rangka menutupi bobrok ‘bisnis penegakan hukum’, ‘mafia peradilan’, dan ‘ganster konstitusi’.

Kurang hal serupa pula yang dialami oleh Victor Yeimo dan semua pejuang kebenaran, keadilan, kemanusiaan dan kedamaian di bumi Papua pasca terintegrasi ke dalam pangkuan sistem kolonial kapitalistis NKRI. 

Bahwasanya sebagai korban, hukum tidak pernah ada bagi orang Papua, hukum hanya ada bagi para pelaku. Dalam kasus penembakan, hukum tidak pernah berdiri pada posisi hakikinya yakni keadilan, kebenaran dan kemanusiaan, tetapi sebaliknya ia selalu berpihak dan ‘Bercabul’ bersama kekuasaan, keuangan, kepentingan sesaat dan lain sebagainya.

Sekali ini bukan hal baru, ini adalah otak, watak, dan budaya hukum negara ini. Bahwa UUD 1945, Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI Harga Mati dan lainnya adalah dan hanyalah ‘topeng’, ‘tameng’, dan ‘pembalut mentruasi politik hukum’ negara ini atas bangsa dan tanah Papua.

https://kawatmapiatv.blogspot.com/2023/03/victor-yeimo-patriot-antirasisme-sejati.html

Hukum apa yang mau ditegakkan republik ini jika pelakunya dibebaskan, bahkan diapresiasi dengan prestasi prestise dan popularitas, sementara korbannya diadili secara rasial, dikriminatif dan penuh manipulatif?

Dalam konteks penulisan ini tentu bau Victim Blaming itu bukan saja telah, tengah dan terus menggerogoti dan merusaki tenggorokan, paru-paru, jantung, hati, pikiran, pendeknya Roh, Jiwa dan Tubuh bangsa dan tanah Papua, telah sudah senantiasa mencoreng nama republik Indonesia di muka forum internasional.

Sebab jangan salah bahwa emansipasi Perjuangan bangsa Papua menuju alam pembebasan yang diteruskan oleh Victor Yeimo itu Legal Standing-nya sudah bukan ditaraf lokal dan nasional lagi, tapi itu sudah sangat goo international, mendunia. 

https://kawatmapiatv.blogspot.com/2023/03/victor-yeimo-patriot-antirasisme-sejati_4.html

Sehingga sudah barang tentu dan jangan heran jika setiap kali proses persidangan kasus Victor Yeimo itu selalu saja ada pihak asing yang senantiasa meng-update dan meng-upload konten-konten informasi tersebut, dan notabene background oknum dan pihak-pihak ini berasal dari komunitas-komunitas hukum, HAM, politik dan demokrasi internasional. Apalagi timpalan hukum yang diberikan kepada Victor Yeimo itu sangat rasialistis.

Kita sadar dan tahu bersama bahwasanya perjuangan pengentasan praktek Rasisme di dunia itu bukan saja menjadi perjuangan satu-dua klaster warga global, tapi itu adalah perjuangan bersama.

Sebab Rasisme itu adalah musuh bersama, senada dan setabu tifa dengan kawan Victor Yeimo. Hal ini secara tegas mau menunjukkan bahwa aparat yudikatif kita sangat minim kepalanya dengan konten informasi-informasi politik global. 

Memang maklum sebab mereka tidak terlalu berpendidikan ekstra formal, tapi itu bukan berarti mereka menanggalkan akal budi dan hati nurani seraya menjunjung tinggi aspek ‘kebinatangan’.

https://kawatmapiatv.blogspot.com/2023/03/victor-yeimo-patriot-antirasisme-sejati_95.html

Setabu Tifa dengan Aristoteles bahwa Manusia Itu ‘Binatang yang Berakal Budi’ (Zoon Politikon). Hanya aspek akal buda yang membedakan manusia dengan hewan, ketika akal budi sudah tidak digunakan atau diabaikan andilnya dalam proses pengambilan keputusan dan penghidupan, maka di situlah geliat dan gelagat manusia tidak akan berbeda jauh dengan dan dari hewan, bahkan ia akan menjadi lebih brutal, garang dan ganas daripada hewan buas, homi homonis lupus contra homo homonis socius, Manusia Serigala Bagi Sesamanya (Thomas Hobbes), Bukan Manusia Sahabat Bagi Sesamanya (Nicolaus Driyarkara).

Aparat yudikatif kita nyaris tampil demikian dalam setiap kasus Kriminalisasi Pasal Makar di Papua, dan kriminalisasi aktivis kemanusiaan di Indonesia, kita bisa bandingkan dengan Kasus Novel, Kasus Munir dan Kasus Wiji Tugul yang hingga detik ini masih terkatung-katung proses hukumnya, katanya negara hukum, Pancasila, beragama, dan lainnya tapi toh soal urusan kemanusiaan saja sangat absurd, ambigu dan penuh utopia, this is the Bulsiht City.

Maka tidak heran dalam setiap aksi demonstrasi damai yang dilakukan oleh solidaritas pembebasan kawan Victor Yeimo selalu saja kita dapatkan gambaran, pamflet atau baliho yang bertuliskan “Segera Bebaskan Victor Yeimo Tanpa Syarat”, “Victor Yeimo Bukan Pelaku Rasis, Victor Yeimo Adalah Korban Rasis”, “RIP Hukum NKRI”, dan ungkapan-ungkapan kritis profetis lainnya yang hendak menggugat akal budi, nurani dan kehendak mulai negara dan bangsa ini yang masih tertidur lelap di atas pelana Rasisme, Kolonialisme, Imperialisme, Feodalisme dan Kapitalisme.

Rasisme Institusional Struktural Dalam Kasus VY

Seperti sudah kita lihat dan refleksikan bersama di atas bahwa logika, paradigma dan materi dasar yang menjadi pondasi serta sikap dasar pijakan Hukum bangsa ini adalah Rasisme, Kolonialisme dan Kapitalisme melalui trik dan intrik yang termanifestasikan dalam praktek Victim Blaming.

Maka sudah barang tentu bahwa implikasi logisnya adalah terpampangnya praktek Rasisme Institusional Struktural yang terang-benderang. Bobrok dan skandal Rasisme Struktural sistem kolonial NKRI di balik “Bab, Pasal, dan Ayat Makar KUHP” itu sangat terlihat jelas sekali.

https://kawatmapiatv.blogspot.com/2023/03/victor-yeimo-patriot-antirasisme-sejati_18.html

Tidak dibutuhkan teleskop atau teropong kajian hukum yang valid untuk menemukan jentik-jentik Pandemik Hukum Makar dalam konstitusi NKRI. Tidak perlu studi studi kasus yang alot, runtut dan panjang untuk merulut gen dan DNA Rasisme Struktural di balik wajah peradilan dan hukum NKRI. 

Secara aktual hal tersebut dapat kita jumpai dalam setiap kasus persidangan yang menggiring aktivis kemanusiaan Papua ke panggung sandiwara Victim Blaming Hukum Indonesia.

Dalam Kasus Victor Yeimo ini tidak ada hal yang bisa kita tolak, elak, tabukan, nafikan dan nisbikan bahwasanya aroma Rasisme Institusional Struktural itu sangat menyengat sekali, bahkan hingga membangun komunitas-komunitas global yang jauh di belantara negeri asing.

Victor Yeimo adalah korban Rasisime, Kenapa Ia diadili? Kenapa pelaku masih leluasa beraktivitas dalam selimut politik usang dan penuh kotoran siam para oligarki?

Bukankah kasus Rasisme ini sudah final menjalani proses hukum di Pengadilan Negeri Kalimantan 2019 silam? Bukankah itu berarti kasus penangkapan, penahanan dan persidangan Victor Yeimo ini ‘masalah baru’ yang diakal-akali oleh negara?

Apa modus dan motif negara di balik kasus Kriminalisasi Victor Yeimo dan seluruh pejuang Papua,? Apa marketing politic yang hendak diraup oleh penguasa dan pengusaha republik di balik skenario Victim Blaming dan Rasisme Struktural atas Victor Yeimo dan bangsa Papua ini?

Pasca penangkapan, penahanan, pemenjaraan hingga kini persidangan kawan Victor Yeimo ini ada terselip selubung konspirasi yang dirancang oleh negara, terutama oleh beberapa Aktor Invisible hand baik lokal, nasional maupun internasional. 

Fenomena Pembungkaman dan Pengvakuman eksistensi, ekspansi ekspektasi Victor Yeimo itu dilakukan oleh negara lantaran Victor Yeimo dianggap sebagai salah satu tokoh Perjuangan Pembebasan bangsa Papua yang kharismatik, yang dengan cara dan gayanya sendiri mampu membombardir dan memporak-porandakan strategi neokolonialisme, neokapitalisme, neoimperialisme dan neofeodalisme di Papua. Berikut ada beberapa ihwal penting yang hemat penulis penting menjadi referensi refleksi, diskusi dan aksi bersama;

Pertama, ada banyak agenda penting yang hendak dieksekusi oleh negara di Papua dalam rangka Kalonialisme dan Kapitalisme, sebut saja PON XX dan Papernas XVI 2020, Pembangunan Smelter Terbesar Dunia di Gresik Jawa Timur, Perpanjang Otsus Jilid II, Pembentukan Daerah Otonomi Baru (DOB), Pembangunan Jaringan 5G di Timika, Kunjungan Jokowi amankan IUPK dan Divestasi Saham Freeport (51%), Operasi Militer di Intan Jaya; Ndugama; Yahukimo; Maybrat dan Kiwirok.

Kedua, untuk mengamankan agenda kolonial kapital NKRI di Papua yang termuat dalam Rancangan Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN 2024) dengan salah satu atensinya pelunasan hutang luar negeri yang berkisar belasan ribu triliunan, maka beberapa skenario isu dan wacana mulai dimainkan di Papua guna memprovokasi dan menggiring opini publik Papua. 

Langkah ini ditempuh sebagai strategi untuk meng-setting dan meng-desain siklus dan orientasi media online maupun cetak lintas lokal, nasional dan global. Selain media, manusia-manusia kritis, bahkan nyaris seluruh rakyat Papua di Papua juga menjadi sasaran dan santapan empuk daripada strategi pengalihan isu dan wacana bercorak cipta kondisi dan situasi.

Semuanya berduyun-duyun dan berbondong-bondong bak ‘Ikan Mati’ atau ‘Ikan Puri’ termakan jebakan Betmen buatan negara melalui isu dan wacana provokatif.

Ketiga, PON XX 2020, Otsus dan DOB, Kontak Tembak TPNPB-OPM versus TNI-Polri (operasi militer), Pengunsian di Ndugama; Intan Jaya; Yahukimo; Puncak; Kiwirok dan Maybrat. Kriminalisasi Victor Yeimo, Kriminalisasi Natalius Pigai, Fenomena Kegenitan Olva Alhamid, Dialog Nasional Versi Komnas HAM RI, KTTG20 Bali, Jeda Kemanusiaan, dan beberapa desas-desus isus dan wacana dalam kurun waktu 2018-2022 tidak lain dan tidak bukan adalah strategi pengalihan isu, wacana dan opini publik Papua, juga merupakan strategi cipta kondisi dan situasi Papua.

Apa target NKRI? Target NKRI adalah mengeksplorasi dan mengeksploitasi kekayaan sumber daya alam dan kemudian digunakan untuk memperbesar perut kolonial, kapital, feodal dan Imperial NKRI dan kronik-kroniknya.

Selain itu negara juga punya hutang luar negeri yang meroket jumblahnya di IMF, Bank Uni Eropa dan Bank Dunia,, serta beberapa negara persemakmuran, sehingga memang kesemuanya itu mesti dilunasi dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Fenomena hutang negara dan poranda ekonomi negara pasca Pandemik Covid-19 ini membuat negara Indonesia frustasi, stres dan depresi hebat, lantaran kongkalikong pusing tujuh keliling dunia untuk melunasi hutang. 

Satu-satunya jalan alternatif bagi Indonesia adalah ‘Jalan merampok’. Ada dua ‘Lumbung harta Karun’ di perut ibu Pertiwi ini yang akan dirampok oleh negara kekayaan sumber daya alamnya, baik itu mineral tambang maupun minyak dan gas. Kedua wilayah itu adalah Kalimantan dan Papua.

Orang asli Dayak dininabobokan dengan starategi pengalihan isu, wacana dan opini serta cita kondisi melalui wacana dan isu perpindahan ibu kota negara ke Kalimantan, hampir semua orang asli Dayak mulai dari klaster terendah hingga klaster tertinggi di Kalimantan semua berbondong-bondong dan berduyun-duyun terjerat dan terjaring dalam jebakan Betmen oligarki kartelis. 

Tidak ketinggalan fenomena yang satu dan sama itu pula yang terjadi di Papua melalui PON XX 2020 (2021), Otsus II, DOB, Operasi Militer, Rasisme Natalius Pigai, Penangkapan Victor Yeimo, Pengunsian, KTTG20 Bali, Dialog Nasional Versi Komnas HAM, Jeda Kemanusiaan dan lainnya tidak lain dan tidak bukan adalah dan hanyalah strategi pengalihan isu, wacana, opini publik Papua junto startegi cipta kondisi.

Keempat, teruntuk Victor Yeimo memang beliau harus dan wajib hukumnya untuk sesegera mungkin disekap dalam penjara. 

Sebab jika ia masih beraktivitas maka kemungkinan besar agenda-agenda besar kolonialisme dan Kapitalisme di Papua akan terkatung-katung, bahkan mungkin bisa memuai hasil nihill, jika Victor Yeimo mampu mengkonsolidasikan dan memobilisasi massa rakyat Papua untuk menolak semua agenda-agenda berwatak dan berotak dekolonisasi dan depopulasi di Papua, semisal DOB dan Otsus. 

Kita harus ingat dalam orasinya pada 2019 silam di hadapan samudera lautan massa aksi yang mendambakan pembebasan dan perdamaian secara tegas, jelas dan keras kawan Victor Yeimo sudah menubuatkan masa depan Papua dalam bingkai bangkai NKRI jika Otsus dan DOB diloloskan di Papua.

Ia secara tegas mengajak rakyat Papua untuk menolak produk kebijakan ekstraktif dan eksploitatif di Papua. Orasinya itu disambut antusiasme heroik di kalangan massa, menunjukkan bahwa mereka menyetujui dan mengamini beberapa statement politik kawan Victor Yeimo tersebut.

Hal ini tentu menggegerkan beberapa informan, Intelejen dan beberapa tokoh pemerintahan yang saat itu hadir. Sehingga dengan menggunakan pelbagai cara aksi dan orasi Victor Yeimo itu disensor secara miring oleh aparat yudikatif untuk segera menjebloskan Victor Yeimo ke dalam penjara.

Padahal pada saat yang sama dan satu itu semua pentinggi pemerintahan dan tokoh masyarakat, mahasiswa, dan perempuan yang hadir saat itu juga angkat bicara. Kenapa hanya Victor yang dikriminalisasi? Kenapa yang lain lolos dari rancau hukum?

Pada kadar seperti inilah Hukum Indonesia itu tidak bernyawa bagi orang Papua, bahkan bagi semua insan marjinal, diaspora dan periferal di republik ini. Bahwa bagi orang Papua Hukum itu dibuat dari penguasa a, oleh penguasa a dan untuk penguasa, tidak ada sama sekali secerah dan seberkas harapan akan Keadilan bagi rakyat jelata.

Catatan di Senja Aksara

Mengakhiri tulisan ini maka penulis hendak mempertegas beberapa ihwal;

Pertama, seandainya Victor Yeimo tidak ditangkapnya, ditahan, dipenjarakan disidang dengan, dalam dan melalui mekanisme hukum Victim Blaming dan Rasisme Struktural maka barangkali Indonesia, hukum, UUD 1945, Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI Harga Mati tidak akan menjadi atribut-atribut yang melegalkan praktek Victim Blaming dan Rasisme Struktural atas Orang Papua.

Negara Indonesia pasti tidak tercoreng di muka Komunitas internasional sebagai negara produsen dan distributor rasisme Struktural. Aparat Yudikatif dan Eksekutif barangkali Kali tidak dinilai sebagai aparatur negara yang pro-rasisme struktural. Hukum Indonesia sangat rasialistis bagi orang asli Papua dan semua komunitas inferior dan minor di republik ini.

Kedua, seandainya Victor Yeimo dibebaskan sejak dari lama maka selubung, aib, luka, skandal dan tabir Victim Blaming dan Rasisme Struktural dalam tubuh institusi dan konstitusi NKRI itu tidak tercium oleh komunitas internasional. 

Bahwa melalui fenomena Kriminalisasi ‘Bab, Pasal, dan Ayat Makar junto Rasis’ terhadap Victor Yeimo, Devio Tekege, Ambros Elopere, Ernesto Matuan, Gerson Pigai dan Kamus Bayage sejatinya negara sendiri secara tahu, mau dan sadar telah, tengah dan teru menerus membunuh, mengubur dan memusnahkan nilai-nilai agung dan mulia dari UUD 1945, Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, dan slogan NKRI Harga Mati. 

Sehingga tidak salah juga jika sudah sedari dulu orang asli Papua selalu berseru ‘RIP Hukum NKRI’. Pembunuh Hukum, HAM, Demokrasi, dan Pancasila di republik ini bukan orang asli Papua, gerakan Islam radikal, dan semangat komunitas marjinal lainnya, tetapi pertama-tama itu adalah buah dari perbuatan negara sendiri dalam menegakkan hukum di tengah masyarakat. Negaralah aktor utama di balik kematian Demokrasi, Hukum, HAM dan Pancasila di republik ini.

Ketiga, apakah negara mampu membebaskan fitrah dan marwah UUD 1945, Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI Harga Mati, Demokrasi dan HAM? Tentu bukan tidak bisa, negara bisa jika ada suatu komitmen dan konsistensi untuk berdialog dan berekonsiliasi lintas Trias Politica and building, dengan lantunan semangat Public Polici. 

Perlu ada Dialog dan Rekonsiliasi di dalam tubuh Legislatif, Yudikatif dan Eksekutif. KUHP, tepatnya pada Pasal 106 KUHP jo Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP, Pasal 110 ayat (1) KUHP, Pasal 110 ayat (2) ke (1) KUHP, Pasal 160 KUHP jo Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP. Selain itu semua Tapol dan Napol bangsa Papua (OPM), Aceh (GAM), dan Ambon (RMS) dibebaskan tanpa syarat. 

Singkatnya KUHP adalah hukum yang hanya berlaku di wilayah kolonial, Belanda menggunakan KUHP untuk menjajah Indonesia dengan Pasal Makar, para Founder Fahters republik ini adalah mantan para narapidana Makar (Aanslag), Soekarno, Hatta, Tan Malaka, Yamin, Sjahrir dan lainnya adalah para pejuang yang tidak asing lagi dengan cap dan stigma Makar di era kolonial Belanda. Sekarang Indonesia tampil sebagai neokolonialisme, neokapitalisme dan neoimperialisme baru bagi bangsa dan tanah Papua.

Demi kekudusan dan kesucian supremasi Demokrasi, Hukum dan HAM kita berharap semoga negara bertaji dan Gentleman untuk sesegera mungkin menghapus RKUHP yang telah lama beranak-pinak dalam tubuh institusi dan konstitusi NKRI.

Itu pun kalau negara punya komitmen dan konsistensi untuk mewujudkan Indonesia sebagai negara yang berpedomankan Pancasila sebagai falsafah negara, Indonesia Raya. Tetapi jika tidak, maka mari kita hitung saja Indonesia akan Bubar. Hapus RKUHP, Bebaskan Aktivis Kemanusiaan Papua, Aceh dan GAM. (*)

(KMT/Admin)