![]() |
| Dok : Ist/ Pilot News Selandia bersama rombongan Panglima Tertinggi Tentara Papua Nasional Papua Barat. (Refleksi Atas Aksi TPNPB-OPM di Nduga) |
*Siorus Degei
Pasca tersiar berita disanderanya seorang pilot berkebangsaan Selandia Baru oleh TPNPB-OPM pimpinan Egianus Kogoya di Ndugama, West Papua menimbulkan polemik dan diskursus tersendiri di kalangan dua Kombatan Bersenjata baik TNI-Polri di Kabuh Negara Indonesia dan TPN-OPM di Kubuh perjuangan Bangsa West Papua Merdeka.
Banyak berita tersiar dan kontroversi berkecamuk. Melalui pemberitaan-pemberitaan media baik online maupun cetak kita ketahui bersama bahwa sepertinya negara tidak sedang tenang-tenang. Ada kekhawatiran tersendiri dalam psikologi tata negara di bidang keamanan dan pertahanan.
Negara merasa takut, kalau-kalau Pilot yang disandera itu dilukai, bahkan dibunuh secara keji oleh Egenianus dan kawan-kawan di rimba Ndugama, West Papua.
Sehingga sudah sejak disanderanya hingga hari ini negara masih terus konsisten melayangkab pelbagai treatment guna membebaskan sang Pilot, mulai dari pengiriman Tim Khusus dengan Misi Pembebasan Pilot dan Pembentukan Tim Negosiasi yang terdiri dari masyarakat asli dan beberapa tokoh berpengaruh di Kabupaten Nduga. Apakah treatmen-treatment ini mampu membuahkan hasil? Harapannya demikian.
Kenapa TPNPB-OPM Menyandera Pilot Asing?
Pada 7 Februari 2023, kelompok bersenjata TPNPB yang dipimpin Egianus Kogoya membakar pesawat Susi Air dengan call sign PK-BVY yang mendarat di Distrik Paro, Ndugama, West Papua. TPNPB juga menyatakan telah menangkap dan menyandera pilot pesawat itu, Philip Mark Mehrtens.
Pada Selasa, Juru Bicara TPNPB, Sebby Sambom merilis foto dan video pembakaran pesawat Susi Air. Sambom juga merilis video yang menunjukkan Philip Mark Mehrtens bersama pimpinan TPNPB Ndugama, Egianus Kogoya. TPNPB-OPM Komando Nasional umumkan resmi foto dan video bersama pilot New Zealand (NZ), dan Pilot asal NZ baik dan dan sehat.
Hemat penulis, sebelum negara Indonesia, melalui TNI-Polri menyikapi Kasus Pembakaran Pesawat dan Penyanderaan Pilot Asing di Ndugama West Papua lebih jauh dan tersesat sendiri di dalamnya, sudah seyogyanya terlebih dahulu negara memetakan dan memastikan dulu kira-kira apa motif Egianus dan kawan-kawan laskar Rimba Nduga membakar pesawat dan menyandera pilot Philip Mark Mehrtens?
Hal itu sangat perlu sebab besar kemungkinan bahwa pasti alasan dan landasan mendasar yang melatarbelakangi aksi pembakaran dan penyanderaan.
Sehingga memang perlu diperhatikan motif dari aksi tersebut secara jeli dan saksama. Kemudian barulah ditempuh jalur-jalur resolusifnya berupa pengiriman Tim Khusus, Tim Negosiasi dan lainnya.
Hemat penulis ada beberapa hal yang mengindikasikan terjadinya Aksi Pembakaran dan Penyanderaan;
Pertama, Sudah Jelas dan terang-benderang sekali kira-kira apa motif dan aspirasi TPNPB-OPM di balik aksi Pembakaran dan Penyanderaan di Nduga, bahkan semua rentetan aksinya sejak tahun 60-an hingga hari ini yaitu UNTUK dan HANYA UNTUK PAPUA MERDEKA.
Dalam Video Konferensi Pers TPNPB-OPM yang berdurasi 2 menit per 12 detik https://youtu.be/T7SFqxFwvHs, yang dilakukan oleh Egianus dan kawan-kawan pendekar rimba di Nduga bersama Pilot Philip Mark Mehrtens sudah jelas sekali gerangan apa yang melatarbelakangi gerakan aksi mereka (Egianuscs) bahwa; Mereka Tuntut Papua Merdeka, Mereka Akan Bebaskan Pilot Philip Mark Mehrtens Jika Negara Mengakui Kemerdekaan Bangsa West Papua, Mereka Akan Terus Menahan Philip Mark Mehrtens Sampai Papua Merdeka, Mereka Tidak Sedang Cari Makan, Mereka Tidak Sedang Cari Uang Negara, Tapi Sekali Lagi Hanya Demi Papua Merdeka. Bahkan mengawali konferensi pers itu Pilot Philip Mark Mehrtens sendiri yang secara tegas dan jelas dalam bahasa Inggris menyampaikan Indonesia Harus Mengakui Kemerdekaan Bangsa West Papua. Hal ini mau manandaskan sekaligus menegaskan bahwa Kunci Untuk Membebaskan Pilot Philip Mark Mehrtens adalah dan memang hanyalah kemerdekaan bangsa Papua.
Itu berarti pula bahwa dua treatment yang sedang ditempuh oleh negara (TNI-Polri), yakni Mengirim Pasukan Militer Khusus dan Tim Negosiasi itu dengan sendirinya luntur dan gugur. Bahwa hanya ada satu resolusi yaitu Melepaskan Papua Untuk Menentukan Nasibnya Sendiri sebagai Bangsa dan Tanah Yang Merdeka.
Kita jangan salah bahwa pimpinan TPNPB-OPM pimpinan Egianus di Nduga itu terbukti profesionalisme dalam beraksi secara gerilya. Sehingga pasti ada Marketing politik yang hendak dicapai.
Kedua, Kita harus sadar pula bahwa Nduga adalah zona rawan konflik bersenjata. Sejak 2018 silam daerah itu sudah menjadi target operasi militer Indonesia. Sebagai daerah rawan konflik tingkat tinggi maka pendekatan yang didapatkan dari negara di sisi keamanan juga khusus dan beda dengan daerah Papua lainnya. Semua lini kehidupan hampir semuanya berbasis militer.
Bahwa di Nduga, dan wilayah konflik di Papua lainnya itu mayoritas penduduknya adalah militer dan milisi (militer Sipil). Bahwa ada banyak militer yang menyamar sebagai tukang Ojek, Tenaga Medis (Perawat, Suster, Dokter, Mantri dll.), Tenaga Edukatif (Dosen, Guru, dll.), Pedagang, Pegawai Negeri Sipil, Karyawan Perusahaan, Tukang Bangunan, Tokoh Agama, dan profesi sipil sosial lainnya guna menginput data-data, mencari informasi, dan memetakan keberadaan TPNPB-OPM secara detail dan clear. Sehingga jangan juga kita heran dan “geger otak” jika dalam aksi-aksinya mayoritas TPNPB-OPM akan membakar fasilitas umum dan menembak beberapa oknum militer yang menyamar sebagai warga sipil dengan profesi tertentu.
Ini juga kemudian disinyalir sebagai salah satu treatment pengkambinghitaman eksistensi TPNPB-OPM di muka Hukum Humaniter Internasional sebagai pelanggaran HAM, Aksi Terorisme dan lainnya. Namun sayangnya iktihar negara dalam rangka pencorengan nama baik TPNPB-OPM itu selalu saja gagal dan nihil sebab rupanya TPNPB-OPM jauh lebih terlatih, lihai, cerdas dan profesional dalam etika Hukum Humaniter Internasional, menjunjung tinggi nilai demokrasi dan HAM.
Penyanderaan Yang Sangat Bermartabat
Kita tidak bisa bermuluk-muluk untuk mengakui secara jujur bahwa Pasukan TPNPB-OPM pimpinan Egianus adalah salah satu Kombatan Bersenjata di Dunia yang sangat paham etika Hukum Humaniter Internasional. Hal ini bukan iguan belaka, fakta dan realitas di lapangan sudah mengamini dan membuktikan itu.
Kita bisa lihat dari setiap aksi gerilya, dalam sebuah rapotase yang dirilis oleh Kombespol Ignatius Benny Ap dengan perikop Egianus Kogoya 5 Tahun 65 Kali Beraksi. Polda Papua mencatat kelompok bersenjata Pimpinan Egianus Kogoya telah enam puluh lima kali beraksi dalam kurun waktu lima tahun terakhir. Kasus Terakhir Kodap III Ndugama Membakar Pesawat Susi Air PK BVY di Distrik Paro Kabupaten Nduga Pada Selasa (07/02/2023). Aparat Keamanan masih melakukan pencarian terhadap Pilot asal Selandia Baru Philip Mark Mehrtens yang disandera.
Rentetan aksi gerilya Egianuscs itu antara lain; 31 Aksi Penembakan; 16 Aksi Kontak Tembak; 18 Aksi Penyerangan; dan 2 Aksi Pembakaran, (https://papua60detik.id/berita/rekam-jejak-kelompok-egianus-kogoya-65-kali-beraksi-dalam-5-tahun, 15/02/2023).
Dalam setiap aksinya nyaris semuanya terjadi dalam koridor etika Hukum Humaniter Internasional yang bermartabat, demokratis dan menjunjung tinggi nilai-nilai HAM. Hal serupa dapat kita saksikan sendiri dalam aksi Egianuscs yang terkahir, di mana mereka menyandera Pilot Asal Selandia Baru Philip Mark Mehrtens.
Berdasarkan video dan foto-foto yang beredar di media sosial dan media cetak, dapat kita simpulkan bahwa situasi dan kondisi Pilot Philip Mark Mehrtens itu sangat baik-baik saja. Ia tidak terlihat canggung, takut, terluka, sakit, malang, dan lainnya.
Ia terlihat tampil begitu prima, seakan-akan tidak terjadi apa-apa pada dirinya. Ia tampak merasa kerasan berdada di tengah-tengah hutan rimba bersama kelompok Egianuscs.
Kita sendiri bisa lihat dengan mata kepala kita yang telanjang bahwa tidak terlihat sekali beban fisik dan psikis yang ada dalam diri Pilot Mark Mehrtens. Sehingga tidak salah dan memang sudah sewajarnya jika kita bersama-sama mengakui keprofesionalan Egianuscs dalam beraksi.
Sebab mereka sudah sangat dengan baik dan benar memperlakukan Pilot Mark Mehrtens sebagai “Tamu Terhormat”, sebagai “Saudara” dan sebagai “Keluarga”. Mereka tidak memperlakukan Pilot Mark Mehrtens sebagai “Tawanan”, “Sandera”, “Musuh” dan “Lawan” sebagaimana yang biasanya terjadi dan kita saksikan dalam media apa saja.
Di mana yang namanya Sandera atau Tawanan itu identik dengan luka-luka, sakit, kotoran, babak belur, siksaan, sadis, getir, Sengara, dan kematian mengerikan. Tetapi yang terjadi di Ndugama West Papua itu sangat berbanding terbalik.
Bahwa TPNPB-OPM pimpinan Egianus di Ndugama patut mendapatkan apresiasi dan glorifikasi yang tingkat tinggi atas Kiprah mereka yang sangat bermartabat dalam beraksi.
Di mana mereka tampil tidak seperti tuduhan-tuduhan stigmatif negera selama ini sebagai Ekstrimis, Pemberontak, Separatis, KKB, KKSB, Teroris dan lainnya. Justru barangkali sebaliknya, di mana dalam hal penyanderaan, bukan hal baru jika aparat keamanan kita TNI-Polri condong dan cenderung bertindak sadisme dan anarkis terhadap sandera-sandera yang mereka Tawan, salah satu potret sandera mereka adalah para pengungsi yang jumlahnya melecit tinggi di beberapa daerah West Papua (Kiwirok, Ndugama, Maybrat, Intan Jaya, Puncak dan lainnya).
Menyenjakan tulisan ini penulis hendak menegaskan kembali bahwa Motif di balik Aksi Pembakaran dan Penyanderaan yang dilakukan oleh Egianuscs di Ndugama West Papua itu sudah sangat jelas dan terang benderang maksud dan tujuannya, sehingga akan terkesan sia-sia dan percuma belaka jika negara berhasrat untuk bernegosiasi dengan mereka melalui Tim Khusus Militer dan Tim Negosiasi.
Sebab sudah jelas sekali bahwa Tuntutan dan Aspirasi Egianuscs, bahwa mereka Tuntut Kemerdekaan, Kemerdekaan adalah Kunci Kebebasan Pilot Mark Mehrtens.
Kemerdekaan adalah poin kompromi atau nilai politik di pihak TPNPB-OPM, mereka akan melepaskan dan membebaskan Pilot Mark Mehrtens jika Indonesia Mengakui Kemerdekaan Bangsa West Papua sebab bangsa West Papua sudah merdeka sejak lama, maka itu sudah jelas. Mereka tidak mencari Uang, Sandang, Pangan dan Papan, selain Kemerdekaan Papua, itulah Kunci Kebebasan bagi Pilot Mark Mehrtens.
Papua Lepas, Pilot Mark Mehrtens Bebas. Tugas dan tanggung jawab negara hanyalah mengabulkan kompromi politik yang sudah ditawarkan oleh Panglima Egianus Kogoya dan kawan-kawan pejuang di rimba Ndugama, West Papua. Itu saja, tidak lebih tidak kurang.(*)
KMT/Admin)








