![]() |
| Dok : Ist/Unikab. (Babi Berpolitik; "Wam Ena") |
Babi Berpolitik;
"Wam Ena"
Ada tradisi (kebiasaan) dalam kebudayaan orang Papua (Pegunungan) memelihara Babi. Biasanya, Babi dipelihara oleh seorang wanita (ibu/mama). Sang wanita pemelihara babi, sangat sayang pada babi peliharaannya. Saking, sayang dan manjanya, Babi-babi itu pun akan sangat mengenal suara / bau badan sang wanita pemelihara.
Ada kalanya, si pemelihara itu akan memperhatikan nasib para Babi. Ini terutama saat induk Babi Betina hendak melahirkan. Si pemelihara akan melihat anak-anak babi yang baru dilahirkan.
Bila ada anak Babi yang kecil dan lemah, sakit-sakitan dan kehilangan kasih sayang induknya, maka si pemelihara akan mengambil anak babi itu dan memberikan kasih sayang sepenuhnya pada anak babi itu. Apalagi jika induk dari anak babi itu mati/dibunuh. Si pemelihara akan merawat anak-anak Babi itu dengan penuh kasih sayang. Bahkan tidak jarang si pemelihara (ibu/mama) akan memberikan ASInya (Air Susu ibu) kepada anak babi tersebut.
https://kawatmapiatv.blogspot.com/2023/01/babi-berpolitik-ko-babi-apa.html
Anak Babi yang tumbuh besar dari ASI sang pemelihara akan menjadi seekor Babi yang sangat Jinak. Bahkan "mungkin" babi itu sudah menganggap si pemelihara adalah induknya. Sehingga, kemanapun sang pemelihara pergi, si Babi akan mengikutinya, layaknya ia mengikuti induknya sendiri.
Karena Saking dekatnya si pemelihara dengan babi dan babi dengan si pemelihara, hingga saat babi itu hendak disembelih, si pemelihara adakalanya tidak rela, bahkan mencucurkan air matanya.
Babi itu sepertinya telah menjadi "anak angkat" si pemelihara. Walaupun itu seekor Babi. Itulah yang disebut "Wam Ena".
Kontras lainya, "Wam Ena" berarti Babi Jinak. Dalam konteks saat ini, seekor Babi yang galak sekalipun bila dijinakkan dengan makanan dan kasih sayang palsu, maka ia akan jinak. Ia jinak karena diberi makan / dijinakkan / diumpan dengan makanan.
https://kawatmapiatv.blogspot.com/2023/01/babi-berpolitik-mutiara-dan-babi.html
Jadi "Wam Ena" ada dalam dua konteks tersebut, yaitu:
Pertama, Wam Ena karena diberikan kasih sayang sejak kecil oleh si pemelihara
Kedua, Wam Ena karena diberi makanan / dijinakkan melalui makanan oleh si pemelihara.
Dari dua konteks ini, "Wam Ena" kategori 1 dan 2 memiliki tujuan yang berbeda:
Pertama, Memberikan kehidupan, kasih dan sayang kepada Babi yang kehilangan induknya dan atau babi yang tidak mendapatkan perhatian dari induknya.
Kedua, Menjinakkan Babi itu untuk disembelih oleh si pemelihara.
Dengan demikian, dapat dikatakan:
Pertama, "Wam Ena" karena diberikan kasih dan sayang oleh si pemelihara.
Kedua, "Wam Ena" karena diumpan dengan makanan. Anda ada di konteks mana? 1 atau 2 ?
Babi Berpolitik: "Wam Ena"
Part II
Kami telah mengulas Babi Berpolitik; "Wam Ena" pada tulisan pertama. Saat ini, kami lanjutkan pada tulisan "Wam Ena" Part II/bagian dua.
Intinya, Wam itu artinya Babi. Ena itu artinya Jinak. Jadi Wam Ena itu artinya Jinak. Mengapa Babi itu disebut Wam Ena...? Pada tulisan sebelumnya di part I, sudah kami ulas.
Dalam padanan kata / bahasa suku Hubula, Wam Ena sudah dapat dimengerti. Untuk bagian ini, fokus pada padanan kata "Ena". Dalam bahasa suku Mee;
1). Ena berarti Satu.
2). Enaa berarti Bagus, Baik
3). Enao berarti baiklah, oke sudah, baguslah
Jika kita mengambungkan dua kata ini, Wam dan Ena dari dua bahasa suku itu, Wam Ena atau Wam Enaa/Wam Enao berarti:
(1). Satu Babi
(2). Babi Jinak
(3). Babi yang Bagus
(4). Babi yang Baik
(5). Babi yang Oke
Dalam konteks NKRI di West Papua, mungkin demikian pandangannya terhadap OAP sebagai Wam Ena dan Wam Enaa. Satu Babi yang Jinak, Bagus, Baik dan Oke.
Ya Begitulah!
RB. UNIKAB

0 komentar: