Senin, 17 April 2023

TNI-Polri Bukan Solusi Demokrasi di Papua

  

Dok/Ist: TNI/Polri Bukan Solusi Demokrasi di Papua. (Ref/ Tupoksi TNI-Polri Yang Fundamental)

*Siorus Degei

Ada satu hal yang tidak pernah menjadi perhatian serius pemerintah dalam mengoperasionalkan Lembaga Keamanan dan Pertahanan Negara, yakni Tentara Nasional Republik Indonesia dan Polisi Rerublik Indonesia dalam menegakkan demokasi di Indonesia pada umumnya dan di Papua spesifiknya. Ada suatu paradikmatik yang mesti terdekontruksi baik dalam sistem penegakan Sistem Keamanan dan Pertahanan Negara. Sebab, selamai ini hamper semua aksi dari rakyat yang sifatnya demokratis selaluh saja mendapatkan penekanan represif dari aparat keamanan sehingga berujung anarkir, bahkan tragis. 

Dengan demikian, publik jadi bingun sebenarnya negara kita ini menganut sistem demokrasi atau otoriter, sebab nuansa demokrasi dalam setiap aksi penyampaian pendapat, aspirasi, dan pandagan politik selaluh saja dihadang aparat keamanan, seakan-akan negara kita ini anti demokrasi, anti Pancasila, dan anti krtik. 

Bahwa negara kita ini condong kea rah otoritarianisme dan diktatorisme. Sebab, pemakaian kekuatan negara yang besar seperti yang senantiasa terjadi dalam setiap aksi itu hanya ada di negara-negara otoriter-diktatoristik.

Tupoksi TNI-Polri Yang Fundamental

Melihat kebrutalan aparat keamanan dan pertahanan negara kita dalam merespon aksi Tolak Pemekaran DOB di Yahukimo pada Selasa, 15 Maret 2022, yang menewaskan dua korban jiwa warag sipil dan puluhan luka-luka parah penulis hendak “Menampar pihak TNI-Polri” dengan mengigatkan mereka tentang tugas pokok mereka sebenarnya dalam masyarakat.

Sebab realistas yang terjadi di Yahukimo dan wilayah Papua lain yang hari ini menjadi tempat latihan militer, penulis sangat menyangsikan bahwa aparat TNI-Polri kita ini “Salah Kaprah” dalam menafsirkan Topoksinya yang sejati.

Jika tidak “Salah Kaprah”, barangkali aparat TNI-Polri ini terbilang “Pikung atau hilang ingatan”. Sebab apa yang mereka perbuat sama sekali tidak memperlihatkan fitrah dan marwa mereka sebagai aparat keamanan dan pertahaman negara.

Tugas dan fungsi Tentara Nasional Republik Indonesia tercantum dalam Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004 yang berbunyi “TNI adalah alat pertahanan negara yang berfungsi sebagai penangkal dan penindak terhadap setiap bentuk ancaman militer dan ancaman bersenjata dari luar dan dalam negeri, terhadap kedaulatan negara, keutuhan wilayah dan keselamatan bangsa, dan pemulih terhadap tergantungnya keamanan negara yang berakibat kekacauan keamanan.

Guna memelihara dan meningkatkan keamanan negara atau keamanan nasional tersebut TNI melaksanakan tugas Pokok, baik dalam rangka Operasi Militer untuk perang (OMP) maupun Operasi Militer Selain Perang (OMPS).”

Selain itu dalam UUD 1945 Pasal 30 ayat (3) diterangkan bahwa “Tentara Nasional Indonesia terdiri dari Anggakatan Darat, Angkatan Laut dan Angkatan Udara sebagai alat negara bertugas mempertahankan, menlindugi dan memelihara keutuhan dan kedaulatan.”

Sedangkan Polisi Republik (Polri) sesuai amanah Undang-Undang No 2 tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia dengan tegas menegaskan bahwa “(1) Polri merupakan alat negara yang berperan dalam pemeliharaan Kamtibmas, Gakkum, serta memberihkan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat dalam rangka terpeliharanya kamdagri”.

TNI-Polri Lalai Tupoksinya di Papua

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004 tentang TNI dan Undang-Undang No 2 tahun 2002 tentang Polri, Apakah di sana disebutkan bahwa tugas pokok TNI-Polri adalah menghadang masaa aksi demontrasi damai secara represif?

Apakah tugas utama TNI-Polri adalah menangkap dan menghilangkan warga sipil? Apakah TNI-Polri didik untuk memperkosa warga sipil di daerah operasi militer?

Apakah TNI-Polri didik untuk menembak warag sipil? Apakah tugas utama TNI-Polri adalah menjadikan tempat ibada sebagai Posko Keamanan? Apakah TNI-Polri dilatih untuk membunuh Pendeta dan Pewarta Iman? 

Apakah TNI-Polri dilatih untuk menembak ibu-ibu? Apakah TNI-Polri didik untuk membunuh anak bayi dan anak Sekolah? Apakah tugas fundamental TNI-Polri adalah untuk membunuh warga sipilnya?

Mengapa penulis mengajukan pertayaan-pertanyaan seperti di atas? Sebab itulah yang sudah sedari Aneksasi 1962 hingga hari ini dilakukan oleh TNI-Polri di Papua.

Bahwa pada bagian ini penulis hendak menandaskan bahwa TNI-Polri lalai menjalankan Tugas Pokoknya di Papua selama Papua berada dalam bingkai Indonesia.

Sebab apa yang diperbuat oleh TNI-Polri di Papua teramat kontradiksi dengan amanah Undang-Undang Dasar 1945, rumusan Pancasila, semboyang Binheka Tunggal Ika dan slogan NKRI “Harga Mati”. Di sini terlihat bahwa aparat TNI-Polri kita “Prematur” dalam menangkal konflik Papua yang sudah berumur 60-an tahun.

Fenomena kejangalan aparat TNI-Polri dalam menenggarai konflik Papua sejatinya mau menegaskan bahwa “Negara Telah Gagal” menyelesaikan konflik Papua. TNI-Polri adalah representasi negara di Papua, jika “Wajah” negara kita segambar treat-record kinerja aparata TNI-Polri itu, maka tidak salah dan wajar-wajar saja jika kita sebut rezim Pemerintahan kita sama sekali tidak menganut “Paham Demokrasi”, melainkan “Paham Democrayze”.

Lenserkan ABRI Dari Istana Negara

Kita tentu bertanya-tanya mengapa semacam benda mati atau robot yang terkontrol aparat keamanan kita masih saja menggunakan pola pendekatan yang satu dan sama saja dalam menyentuh konflik sejak Aneksasi 1962 hingga 2022? Mengapa pendekatan militer meluluh yang menjadi resolusi konflik Papua?

Dari sekian banyak jawaban, penulis melihat bahwa salah satu hal ikwal yang melatarbelakanginya adalah bahwa masih banyak Purnawirawan Militer di lingkaran Istana Negara.

Bahwa lampu Dwi-Fungsi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) di Indonesia tidak padam total dalam aksi mahasiswa dan rakyat Indonesia pada 1989 di Gedung MPR dan DPR Senayan Jakarta yang terparti sebagai Masa Reformasi.

Rupanya rakyat Indonesia digelabui hingga dewasa ini. Peran Ganda Dwi-Fungsi ABRI dalam Politik Praktis atau dalam Birokrasi-Pemerintahan yang menjadi tuntutan serius massa saat itu tidak hilang lenyap, tetapi bermetarmorfosis menjadi lebih elegan lagi dari sebelumnya. 

Kita hitung saja saat ini kira-kira berapa banyak tenaga Purnawirawan yang langgeng keukeh dengan Jokowi di lingkaran Istana, bilang saja Purnawirawan Luhut Binsar Panjaitan, Moeldoko, Tito Karnavian, Prabowo Subianto, Wiranto, dan lainnya. Para Elite militer ini merupakan aktor-aktor konflik kemanusiaan dan dalang tragedy kemanusiaan di Poso, Aceh, Ambon, Timor-Timur, dan khususnya di Papua.

Nama-nama mereka terterah dalam laporan investigasi pelanggaran HAM di Kantor Komnas HAM RI, tapi hingga hari ini mereka belum sama sekali diadili, dan memang mereka tidak bisa diadilih, mereka ini kebal hukum, sebab hukum itu terlihat bertanduk di kertas, tetapi tunduk di ruang realitas.

Mengapa penulis menyentil para Puranawiran ABRI di linkaran Istana sebaga salah satu latar belakang mengapa Pendekatan Militer itu selaluh menjadi opsi ketiga asap konflik Papua membumbun ke Jakarta?

Sebab sudah bukan barang bahwa pihak yang menyetir kebijakan pendekatan militer dari Jakarta adalah aparat militer itu sendiri, sebagai seorang yang berasal dari kalangan akar rumput Jokwi tidak begitu banyak memiliki legal standing yang cukup untuk menarik kebijakan yang berwajah militerisme di Papua. Hal itu, sudah sangat pasti didesain oleh orang-orang ABRI yang sudah lama berlanganbuana dalam dunia perang, seperti halnya para elite ABRI yang sudah penulis tukil.

Dengan demikian, penulis merekomendasikan agar alangkah bijak, modern, demokratsi, humanis dan lebih pancasilais lagi jika Jokowi (Jika benar adalah anak kandung nasionalisme Soekarno, dan sosok pemimpin yang layak dipertahankan selama tiga periode), maka sudah saatnya belia tampil sebagai “Samson Betawi” dengan melengserkan para “Bandit, Badut, dan Pinokio” ABRI yang masih bercokol mesra dengan kekuasaan penuh darah dan air di Istana Senayan Jakarta itu.

Jika memang Jokowi itu sayang dan cinta terhadap orang dan tanah Papua sebagaiman wacana “Panas-Panas Tahi Ayam” yang selama ini dikampanyekan oleh sebagian besar elite “Cacat Siskon Papua” di Papua, Jakarta dan di luar negeri itu benar apa adanya, bukan embel-embel atau iugan belaka.

Jadi, Jokowi hanya bisa menyudahi konflik Papua secara damai jika sumber-sumber “Bisikan Militersitik” yang selama ini menyetir dan memprepeti kekuasaannya dengan “Tangan Besi” Ia pangkas bersih dari lingkaran Istana Negara. Sanggupkah Jokowi, tampil sebaga “Joko” yang “Widodo”? Entalah.

Segera Buka Kerang Kunjungan Dewan HAM PBB dan Dialog Damai

Upaya Jokowi dalam menjadikan Indonesia yang Jaya dan Maju dan Papua sebagai Tanah Damai itu bisa dimulai dengan mencuci tangan dari praktek pelegalan Peran Ganda ABRI (Dwi-Fungsi ABRI) di era reformasi-demokrasi dewasa ini.

Langkah awalnya adalah dengan memecat beberapa elite Purnawirawan (Para Elite ABRI) di lingakaran Istana Negara. Selain ini ada beberapa langkah selanjutnya yang mesti juga ditempuh oleh Jokowi, yakni;

Pertama, membuka akses bagi Kunjungan Komisioner Dewan Tinggi HAM PBB ke Papua guna mengintevikasi dan mengadvokasi persoalan pelanggaran HAM di Papua yang adalah “Luka Paling Membusuk dan Bernanah di dalam Tubuh NKRI”.

Kedua, jika bangsa dan negara ini menjunjug tinggi nilai-nilai Demokrasi-Pancasila, maka sudah sangat wajar jika aspirasi rakyat Papua yang menolak Kebijakan Otonomi Plus dan Daerah Otonomi Baru (Pemekaran) itu digubris dengan terang akal budi dan kebajikan hati nurani.

Bila memang para pemimpin di negara ini masih “ Waras” dan “Berakal Sehat”. Sebab mana tidak, maka teramat sangat benar tukilan-tukilan Rocky Gerung bahwa “Negara ini dipenuhi orang-orang dungu”.

Ketiga, jika benar Presiden sudah siap untuk berdialog dengan Organisasi Papua Merdeka (OPM) dan dimediasi oleh Komnas HAM RI. Sebaiknya mekanisme Dialog tersebut dirubah dengan Mekanisme Dialog yang sudah dikaji oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Jaringan Damai Papua (JDP). 

Bahwa buku Papua Road Map: Negotiating the Past, improving the Present and Securing the Future dari LIPI (Alm. Dr. Muridan S. Widjojo, Dkk, Peneliti LIPI) yang terbit di Jakarta pada tahun 2009 dan buku Dialog Jakarta-Papua: Sebuah Perspektif Papua dari JDP (Alm. RD. Dr. Neles Kebadabi Tebai, Pr, Koordinator JDP) yang terbit di Papua pada 2009 bisa menjadi Road Map atau Peta Jalan Pemerintah Republik Indonesia dan Orang Papua untuk bisa Saling Percaya (Turst Building), Bertemu, Duduk Bersama, Berdialog; Mengidentifikasi masalah-masalah dan menentukan opsi-opsi penyelesaiannya. “Mari Torang Bicara Dulu di Para-Para Adat, Papua Itu Tanah Damai”. (*)

 (KMT/Admin)

Rabu, 05 April 2023

Memahami Iktihar Perjuangan Selpius Bobii

Dok : Ist/ Selpius Bobii. (Penawar Polemik, Menuju Persatuan Universal)

*Siorus Ewanaibi Degei

Beberapa tahun belakangan ini muncul sebuah fenomena mencolok dalam pusaran panjang perjuangan Papua Merdeka. 

Fenomena ini muncul dan nyaris mengegerkan beberapa orang dan organ yang selama ini konsisten memperjuangkan Papua Hak Penentuan Nasip Sendiri bangsa Papua untuk bebas, merdeka dan berdaulat dari dalam sistem kolonialisme, kapitalisme, feodalisme dan imperialisme Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). 

Fenomena tersebut adalah Perjuangan Doa Rekonsiliasi Untuk Pemulihan Papua yang dipelopori oleh Selpius Bobii, seorang aktivis kemerdekaan Papua, mantan Tahanan Politik Papua dan tokoh kharismatik muda Papua.

Pasalnya, beberapa kali seruan doa-puasanya acapkali menyertakan pula pertanyaan-pertanyaan dari pihak internal Papua sendiri, entah itu masyarakat awam, mereka yang berkecimpung dalam sistem NKRI maupun mereka yang berekspansi di luar sistem NKRI menuntut kemerdekaan bangsa dan tanah Papua.

Banyak orang dan organ yang menjadi dilematis, skeptis bahkan apatis dengan apa yang sudah, sedang dan senantiasa digaungkan dan diperjuangkan secara konsisten oleh Selpius Bobii, namun kita juga tidak bisa menampik keniscayaan bahwa banyak orang dan organ pula yang rupanya seiya sekata dengan esensi daripada perjuangan saudara Selpius Bobii ini.

Penulis menghemat bahwa perlu untuk penulis uraikan sedikit dalam tulisan ini prihal eksistensi, esensi dan subtansi daripada Iktihar Perjuangan Doa Rekonsiliasi Pemulihan Papua yang sudah, sedang dan senantiasa diperjuangkan secara konsisten oleh Selpius Bobii ini.

Duduk Perkara

Kita semua atau sebagian besar dari kita tentu bertanya-tanya dalam nurani, kenapa Papua lama Merdeka? Kenapa kebanyakan pejuang hebat Papua Mati misterius? Kenapa doa-doa dengan atensi Papua Merdeka secara lamban dijawab Tuhan? 

Kenapa sejak Aneksasi 1963 dan PEPERA 1969 Papua semacam kehilangan daya, roh dan spirit perjuangan, pergerakan dan perjuangan? Kenapa bangsa Papua sulit bersatu? Kenapa para pejuang Papua tidak bisa kebal dari virus Perpecahan? 

Pertanyaan-pertanyaan ini tidak bisa terjawab habis jika paradigma dan logika yang kita gunakan untuk menjawabnya melulu hanya dialektis, saintifik, empirik, positivis dalam alam pemikiran modern lainnya. 

Sebenarnya dapat, namun agak akan menambah misteri kebingungan dalam kepala dan hati kita, jika kita masih punya ‘hati’ untuk mendengarkan bisikan Alam, Leluhur dan Tuhan. Sebaliknya dan jauh lebih dalam dari itu semua, jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu membutuhkan paradigma dan logika mistis dan mesianis, mengapa?

Karena pertanyaan-pertanyaan itu secara tidak langsung menyiratkan makna dan arti yang sangat transenden mistis, itu adalah pertanyaan-pertanyaan dalam ranah iman, keyakinan dan kepercayaan yang membutuhkan respons jawaban-jawaban dalam persepektif iman, keyakinan atau kepercayaan pula.

Perlulah digarisbawahi pula jawaban-jawaban yang diberikan juga bukan dalam bentuk kata-kata, doa melulu, tetapi mesti jauh lebih daripada itu, yakni melalui sebuah praksis, tindakan nyata, sebuah transformasi gaya hidup yang konkret dan konsisten. Representasi atau manifestasi daripada jawaban-jawaban itu mesti mewujud nyata dalam karya-karya perjuangan, pergerakan dan perlawanan yang riil.

Kurang lebih sedikit banyaknya dapat kita katakan bahwa apa yang dibuat oleh Selpius Bobii beberapa tahun belakangan ini tidak lain dan tidak bukan adalah konkritisasi dari jawaban-jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mistikus di belakang fenomena perjuangan bangsa Papua yang selalu mengalami pasang surut dan atau maju-mundur, selangkah lagi kita maju, sepuluh langkah tiba-tiba kita mundur ke belakang, semuanya karena kita lupa mendengarkan suara, bisikan, masukkan, kritikan, saran, sanggahan, tanggapan, kajian, dan pergumulan daripada Alam, Leluhur dan Tuhan. Karena sekali lagi perjuangan Papua merdeka itu adalah milik bersama, entah itu manusia, alam, leluhur maupun Tuhan. Papua itu bukan nama orang, organisasi, agama, adat, lembaga, dan lainnya, Papua nama yang mengandung limpah misteri, pergumulan, masalah dan harapan dari setiap mahluk yang berada di dalamnya. Papua itu nama pulau yang di dalamnya bukan hanya ada manusia, tetapi juga alam, leluhur dan Tuhan. Tiga pihak ini mesti dilibatkan tentunya jika kita mau memperjuangkan masa depan Papua yang lebih baik.

Kita selama ini kurang lebih 60-an tahun mentok, tenggelam dan stagnan dalam suara, saran, kritikan, masukkan, sanggahan dan tanggapan-tanggapan dari melulu manusia toh, seakan-akan yang mau menikmati buah perjuangan kemerdekaan Papua itu hanya manusia toh, seakan-akan yang menjadi korban, budak, dan punah akibat praktek penjajahan NKRI, Belanda, Amerika, PBB, Roma Vatikan dan sekutunya itu hanyalah manusia Papua saja, seakan-akan alam, leluhur dan Tuhan tidak menjadi korban dalam praktek-praktek penjajahan tersebut.

Kita tidak boleh bersikap egoistis, ambisius, prestisius, Individualis, tamak, serakah, pendeknya antroposentrisme dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa dan tanah Papua, kita lupa bahwa alam di Mimika itu adalah korban penjajahan Indonesia pertama, kita lupa dengan nasip alam di Merauke, Arso, Taja Lere di Jayapura yang menjadi korban Koorporasi dan investasi kapitalis oligarki.

Memang kita sudah memperjuangkan nasib alam itu melalui aksi protes yang kita lakukan, namun sepertinya itu masih kurang, itu hanya mewakili aspirasi kita, kita tidak tahu apa yang sebenarnya didambakan oleh alam, leluhur dan Tuhan bagi kita bangsa Papua.

Kita tidak bisa mengelak bahwa alam, leluhur dan Tuhan itu tidak ada atau mereka-mereka itu tidak punya andil signifikan ketika berbicara tentang kolonialisme, kapitalisme, feodalisme dan Imperialisme NKRI dan sekutunya di bumi Papua, hanya kita manusia saja yang mampu menaklukkan rezim penjajah di Papua.

Memang keyakinan dan optimisme seperti ini kita ajungi dua jempol, namun sekali lagi, ini narasi yang imparsial, hanya sepihak dengan menggunakan perspektif manusia Papua, kita tidak tahu seperti apa kira-kira pola, konsep atau mekanisme perjuangan bangsa Papua yang mendapatkan dukungan dari alam, leluhur dan Tuhan. Kita harus dengar juga aksi protes dari alam, leluhur dan Tuhan, kira-kira apa aspirasi-aspirasi mereka demi menciptakan kemerdekaan sejati di Papua?

Kurang lebih kekurangan solidaritas yang satu itu yang kemudian dilihat oleh Selpius Bobii dan diperjuangkan olehnya melalui Jaringan Doa Rekonsiliasi Untuk Pemulihan Papua (JDRP2) yang ia bentuk. Selpius Bobii terbilang berhasil berkomunikasi dengan Alam, Leluhur dan Tuhan di Papua prihal apa kira-kira konsep dan mekanisme yang baik menuju Papua Merdeka. 

Penjajah Berwajah Ganda di Papua 

Kita harus tahu dan sadar bahwasanya metode penjajahan yang dilakoni Indonesia dan dunia di Papua ini berwajah ganda, di satu sisi ada wajah manusia, di sisi lainnya ada wajah iblis. Kita akan memadukan keduanya dan membahas secara gamblang dan maraton.

Wajah Iblis, ada plesetan terkait NKRI, yakni Negara Kesatuan Raja Iblis atau Negara Kerasukan Ratu Iblis atau juga Negara Kesatuan Republik Iblis. Inspirasi Soekarno membentuk negara Indonesia itu tidak lari jauh dari Ilham Kearifan Lokal Jawa Kuna, terutama pada masa keemasan kerajaan-kerajaan kuno, terutama Majapahit.

Soekarno banyak mempelajari serat-serat, naskah-naskah dan prasasti-prasasti kuno dalam bahasa sansekerta prihal ramalan Jayabaya, Sabdo Palon, dan indikator-indikator kejayaan kerajaan-kerajaan besar di Pulau Jawa seperti Majapahit, Pajajaran, Sriwijaya, Mataram dan lainnya. 

Berkat pengetahuannya maka ia mampu memakai pusaka-pusaka yang dulunya digunakan oleh pemimpin-pemimpin hebat di era Jawa Kuno, Soekarno juga melakoni tradisi-tradisi Jawa Kuno untuk menjadi raja atau pemimpin yang memiliki pamor kuat untuk memimpin hingga ke puncak kejayaan, salah satunya adalah ia melakoni tradisi Kawin dengan Ratu Pantai Selatan, Nyi Roro Kidul.

Dengan bantuan para lelembut di bawah pimpinan Nyi Roro Kidul dan mahluk spiritual lainnya Soekarno mampu tampil sebagai fenomena besar kala itu dijamannya, ia sangat disenangi dan disegani oleh komunitas internasional, banyak sejarah hebat yang ia ukir dengan pamornya. 

Kita jangan salah bahwa dalam rangka menjajah Papua Soekarno sudah lebih dulu mematahkan energi spiritual yang mengayomi bangsa dan tanah Papua dengan kekuatan dan kekuasaan gelap. 

Tentu kita tidak asing dengan beberapa rumor mistis yang beredar bahwa sebelum menjajah Papua ada beberapa tokoh nasional Indonesia yang datang ke Papua dalam rangka operasi pemusnahan mental spiritual bangsa dan tanah Papua.

Hingga saat ini masyarakat di sekitaran Gunung Nabi Fak-Fak menyakini bahwa Soekarno pertama ke sana untuk mencuri beberapa energi, pusaka dan mahluk spritual.

Masyarakat Boven Digoel juga kebanyakan meyakini bahwa ada beberapa energi, pusaka, dan mahluk spritual yang diculik oleh beberapa tokoh nasional yang pertama diasingkan di Penjara Boven Digoel, semisal Muhammad Hatta dan kawan-kawan.

Masyarakat Suku Mee di Paniai juga sampai saat ini percaya bahwa Soekarno pernah ke dua gunung, yakni Gunung Pegaiatkimai dan Gunung Bobaigo untuk mencuri energi, pusaka dan mahluk Spritual di sana dalam rupa seorang anak gadis kecil dan Burung Perkasa.

Dan masih banyak lagi cerita-cerita serupa yang terdapat dalam masyarakat Papua. Selain oleh Soekarno dan tokoh-tokoh nasional Indonesia lainnya, ada juga tokoh-tokoh internasional lainnya, semisal para ekspedisi-ekspedis awal, perintis dan misionaris, seperti Lorenz, Cartensz, Dozy, Binjler, Wisel Meren, Ottow, Geisler, Izaak Samuel Kijne, Pastor Van Heyden SJ, Pastor Le Cocq D’armandvill SJ, Pastor Tillemans, dan lainnya.

Kita juga tidak bisa menafikan andil dan atau peran signifikan daripada aktor-aktor lokal pula, seperti tokoh-tokoh pemimpin lokal yang pertama kali berjumpa dengan para ekspedisi, misionaris, perintis dan tokoh-tokoh nasional yang kita sebutkan di atas, semisal beberapa Kepala Suku di Pantai Barat ketika bertemu dengan para pendatang dari Arab, Persia, Turki, India, Tidore, Seram, Ambon Maluku, Batavia Jawa, Belanda, Inggris, Jepang dan lainnya, demikian juga raja-raja lokal di Pantai Utara, Selatan dan Timur, serta raja-raja di pegunungan Papua seperti Meepagoo dan Lapago, para Big Man, Tonowi, Zonowi, Ap Kain dan lainnya di sana. 

Aktor-aktor lokal itu punya andil besar sebagai mediator, koordinator, fasilitator dan katalisator dari pihak luar (out groups) dan pihak dalam (in groups), mereka menjadi media atau jembatan untuk mempertemukan kedua kubuh itu, maka terjadilah interaksi, komunikasi, relasi, koneksi, akulturasi, Inkulturasi, integrasi, asimilasi, amalgamasi, diferensiasi, hegemoni dan lain sebagainya antara keduanya yang berujung pada sinkretisme, shock culture, stres dan depresi perabadan, krisis identitas, resesi subtansi dan eksistensi hidup, profanisme, desakraliasasi dan lainnya terhadap manusia dan budaya asli bangsa Papua sebagai modal dasar perabadannya.

Soekarno memerintahkan Perintah yang kita kenal dengan istilah Trikora. Sebagai presiden yang mampu membius bangsa baik manusia maupun para lelembut, bidadari, iblis, jin, gendruwo, kuntilanak, dan lainnya perintah Soekarno itu bukan saja dieksekusi oleh manusia-manusia pulau Jawa dan sekitarnya dalam bentuk operasi militer, mobilisasi massa, transmigrasi, dan lainnya, tetapi lebih gila daripada itu.

Perintah Trikora itu juga didengar dan dilaksanakan oleh pelbagai jenis iblis di pulau Jawa dan sekitarnya, iblis-iblis itu datang ke pulau Papua, menyerang semua energi spiritual yang mengayomi bangsa dan tanah Papua kala itu, bahkan sampai detik ini.

Iblis-iblis itu menyelinap dan merasuki tubuh dan jiwa hampir sebagian besar pasukan militer yang datang beroperasi di Papua. Kita kenal puluhan operasi militer digalang di Papua sejak orde lama hingga hari ini, dalam dimensi rohani iblis-iblis itu juga tampil melayangkan operasi-operasinya, jika dipihak manusia berwatak iblis kita kenal nama-nama purnawirawan seperti Soeharto, Ali Murtopo, Susilo Bambang Yudhoyono, Wibowo, Prabowo, Wiranto, Luhut Binsar Panjaitan, dan lainnya.

Di pihak operasi Iblis, ada nama Nyai Blorong, Panglima Perang Nyi Loro Kidul. Jadi jika dulu Panglima Perang andalan Soekarno adalah Soeharto, Ali Murtopo dan kawan-kawan maka di kalangan iblis, Panglima andalan Nyi Roro Kidul adalah Nyi Blorong.

Nyi Blorong adalah Patih di kerajaan keraton Pantai Selatan yang dipimpin oleh Nyi Loro Kidul. Ia memimpin hampir sebagian besar lelembut, bidadari, jin, iblis dan lainnya di pulau Jawa dan sekitarnya, ia selalu ada di belakang raja-raja Jawa Kuno yang tampil perkasa dan mencapai puncak keemasan atau kejayaan, andilnya sangat besar dalam perabadan kerajaan Sriwijaya, Majapahit, Mataram Islam, Demak dan lainnya. 

Soekarno sangat paham tradisi dan energi spiritual yang satu ini sebagai orang Jawa tulen dan puritan, sehingga tidak salah dan amatlah benar bahwa demi kejayaan Indonesia, Soekarno bersedia menjadi Abdi Nyi Loro Kidul dan Nyi Blorong yang tulen. 

Bukan saja Soekarno tapi hampir sebagian besar pemimpin negara setelahnya menjadikan ini sebagai tradisi wajibnya, sehingga jangan heran jika yang bisa menjadi presiden dan pemimpin tertinggi di negara ini dari dulu sampai sekarang hanyalah mereka yang notabene orang Jawa tulen, penganut kejawen garis keras maupun halus, beragama Islam rintisan para Walisongo, sementara mereka yang orang Jawa tulen, beragama Islam di luar aliran para Walisongo seperti Gusdur dan Habibie serta lainnya jangan bermimpi untuk menjadi presiden, apalagi mereka yang masih menyakini ramalan-ramalana Sabdo Palon Naya Genggong, sosok penghuni ulung pulau Jawa.

Sabda Palon Naya Genggong adalah leluhur bangsa Jawa Kuno yang hemat penulis baik, berwibawa, sakti mandraguna, dan pengayom sejati pulau Jawa yang bersemayam di Gunung Tidar.

Beda dengan Nyi Roro Kidul dan Nyi Blorong yang bersemayam di Pantai Selatan, Sabdo Palon adalah sosok yang baik, penuh hikmah kebijaksanaan, berbudi pekerti yang luhur dan berakhlak mulia.

Penulis melihat dan merasa penting supaya bangsa Indonesia, terutama pemimpin-pemimpinnya untuk tunduk dan kembali ke ajaran-ajaran kawurah Jawa atau Agama lokal bangsa Jawa yang bernama Kawurah Budi seraya mengamalkan baktikan kembali ajaran-ajaran serta wejangan-wejangan Sabdo Palon Naya Genggong sebagai Pemomogan dan pengayom bangsa dan tanah Jawa yang sejati yang selama ini dikucilkan secara serakah, angkuh dan tamak oleh Nyai Roro Kidul, Nyi Blorong dan Agama Islam rintisan para Walisongo.

Kita harus tahu dan sadar bahwa Papua dijajah bukan saja oleh kekuatan dan kekuasaan manusiawi, melainkan lebih daripada itu Papua juga dijajah dengan menggunakan kekuatan dan kekuasaan gelap, iblis. Maka implikasi dan konsekuensi resolusi logisnya adalah melawan kedua sistem itu dengan mekanismenya masing-masing, untuk rezim manusiawi kita sudah punya banyak perangkat untuk melawannya bahkan solidaritas dari beberapa komunitas asing juga senantiasa membantu kita. Namun untuk menumbangkan rezim iblis di Papua sepertinya kita belum punya cukup perangkat atau senjata yang tepat untuk melawannya, kita semua lengah di bagian ini.

Kurang lebih demikian energi spiritual gelap yang selama ini melilit bangsa dan tanah Papua bahkan seluruh mahluk spritual baik yang ada di dalamnya.

Para leluhur bangsa dan tanah Papua juga sepertinya tidak bisa melakukan banyak hal karena memang kuasa gelap yang melilit tanah ini begitu kuat, maka seperti yang sudah penulis utarakan di atas bahwa doa saja sepertinya tidak begitu ampuh, kita baru bicara tentang energi spiritual gelap yang digunakan oleh penjajah Belanda.

Kita belum bicara lagi tentang energi-energi Spritual Gelap yang digunakan oleh Belanda, Amerika, PBB, Roma Vatikan, dan negara-negara lainnya yang sejak 60-an hingga detik ini mengeksploitasi manusia dan tanah Papua secara membabi-buta, maka selain doa perlu juga puasa demi Pemulihan bangsa dan tanah Papua.

Kita harus berdoa dan berpuasa seraya Berdialog dan Berekonsiliasi mulai dengan diri sendiri, PEMULIHAN DIRI/PRIBADI, dengan sesama manusia, PEMULIHAN BERSAMA/BANGSA, terdiri dari Pemulihan dalam Keluarga, Marga, Sub-Marga, Kampung, Desa, Kabupaten, Provinsi, Wilayah Adat, dan Bangsa Papua dari Sorong-Samarai.

Pemulihan dan Alam/Ekologi, Pemulihan dengan Para Leluhur penghuni bansa Papua, dan terakhir Pemulihan dengan Tuhan bangsa Papua. Konsep dan Mekanisme Pemulihan-Pemulihan yang dilandasi dengan semangat Dialog dan Rekonsiliasi ini dapat kita jumpai dalam pelbagai Tulisan dan Seruan yang sudah, sedang dan senantiasa diperjuangkan oleh Selpius Bobii baik media cetak maupun online, terutama dalam Bukunya yang berjudul Bergulat Menuju Negara Suci Papua (2020).

Kenapa Papua Butuh Doa Rekonsiliasi?

Serangan rohani dan atau “serangan udara”, kita sebut saja “OPERASI SPIRITISIDA” (Operasi Pemusnahan Spirit, Mental, Akhlak, dan Moral) di Papua merupakan titik nadir, titik dilematis dan dikotomi subtansial dalam perjuangan Perdamaian di bumi Papua.

Banyak pejuang hebat bangsa Papua TAKHLUK dan GUGUR atas serangan udara ini. Mereka mungkin bisa selamat dari serangan jasmani, semisal serangan militer dan intelijen, meski memang banyak juga yang gugur, semisal Dr. Tommas Waningai, Arnold Ap, Teys Hiyo Eluai, Neles Tebay, Nato Gobay, Leoni Tanggahma, Yonah Wenda, Mako Tabuni, Zode Hilapok, Heni Lani, Filep Karma dan lainnya. 

Selain pejuang kemanusiaan dan Kemerdekaan bangsa Papua juga kehilangan pejabat-pejabat publik di lingkungan pemerintahan yang pro rakyat kecil di Papua secara maraton. Tidak sampai di situ bangsa Papua juga kehilangan para imam, bahkan Uskup Katolik Papua yang tampil sebagai nabi yang gigih. 

Namun ketika berhadapan dengan musuh rohani, seperti jin, jun, tuyul, pocong, santet, dukun, genderuwo, kuntilanak, iblis dan makhluk halus khas “Nusantara” lainnya. Para pejuang kita ini sepertinya tidak bisa berkutik apa-apa. Mereka semua gugur secara misterius. Ini sebuah fenomena mendasar di luar alam kesadaran kita yang sedang terjadi dan patut kita refleksikan bersama duduk perkaranya sebagai sebuah bangsa eksistensinya di ambang kepunahan. 

Kita heran kenapa ada aktivis kemanusiaan kita yang gugur secara misterius walaupun pola hidupnya sangat rapih? Kita heran kenapa ada tokoh agama kita yang getol memperjuangkan HAM gugur secara misterius, padahal pola hidupnya sangat teratur dan sehat?

Kita bingung kenapa ada pejabat publik kita yang pro dengan rakyat kecil, miskin, lemah dan tersingkir jatuh sakit dan wafat secara fajar? Terkadang kita juga tidak habis pikir mengapa dengan begitu mudah sekali para pejuang kita yang kritis dan vokal bisa membelot, menghianat dan jatuh dalam pelukan musuh? Dan masih banyak lagi fenomena -fenomena kejanggalan mistis dalam perjuangan penegakan kebenaran, keadilan dan perdamaian di Papua.

Kita akan merasa wajar dan berpikir memang sudah konsekuensi logisnya jika terjadi kematian secara misterius di kalangan pejuang HAM kita. Kita hanya akan protes dan berdoa jika para aktivis kemanusiaan kita itu diincar, diteror, diintimidasi, dikriminalisasi dan dieksekusi oleh musuh jasmani (militer dan intelijen).

Tetapi hal ajaib yang membuat kita semua bingung bukan kapalang itu adalah ketika semuanya terjadi secara mistik. Sudah barang tentu respon jasmani, seperti protes, demonstrasi, serangan senjata dan konflik bukan menjadi solusi yang tepat untuk menanggapi persoalan dan atau problematika yang masuk dalam ranah rohaniah, wilayah iman, ruang trasenden. 

Wilayah problematika mistik dan atau tirani spiritisida ini hanya bisa kita diakses dan dibumihanguskan dengan taktik, teknik dan strategi mistik pula. Musuh mistik hanya bisa dihadapi dengan senjata mistik. Roh jahat yang dilepaskan dari luar wilayah dan dalam wilayah Papua itu hanya bisa ditaklukkan dengan perisai rohani.

Perisai rohani dan atau senjata rohani yang mampu menaklukkan dan menyelesaikan problematika mistik di Papua ini salah satunya dengan berdoa dan berpuasa. Para pejuang HAM Papua dan seluru bangsa Papua harus menggunakan senjata Allah untuk mengalahkan serangan Lucifer. Para pejuang kebenaran, keadilan dan kedamaian mesti menjadi “MANUSIA DOA-PUASA”.

Bahwa para gerilyawan, penggerak sipil, dan diplomat di semua tingkatan mesti menjadikan dan membudayakan Doa-Puasa sebagai “HABITUS HIDUP”. Tuhan mesti dinomorsatukan ketimbang hal profan lainnya. Kehendak Tuhan mesti menjadi “ROAD MAP” bagi perjuangan Perdamaian di Papua.

Percaya tidak percaya, sadar tidak sadar bahwa rezim serangan lusifer di Papua akan tumbang jika semua pejuang Papua menjadi “MANUSIA DOA-PUASA”, “BANGSA DOA-PUASA”. Sebab nation yang hendak diwujudkan di Papua adalah nation yang suci, sehingga kesucian menjadi atribut penting yang harus dimiliki oleh semua pejuang yang mau memperjuangkan hak-hak dasar orang dan alam Papua.

Kesucian yang dimaksud disini adalah bukan kesucian sakral, tanpa dosa, berdimensi ilahi dan lainnya. Tetapi kesucian dalam perjuangan Papua Baru, yakni konsisten pada ideologi, murni dalam nasionalisme, tidak nego-nego dan tanpa embel-embel kolonial, murni dalam visi dan misi perjuangan, tidak bertindak curang, tidak menghianat (tidak bersikap akomodatif, permisif dan interventif terhadap kolonial, kapital dan feodal). 

Jika begini maka kita tidak akan lagi melihat dan mengalami hal-hal janggal seputar kehidupan para aktivis kita. Bahwa secara berangsur-angsur mereka bisa meminimalisir dan menihilisir dampak-dampak mistik-fatal dalam karir perjuangan mereka. Mereka akan kebal problematika mistik dan skandal spiritisida.

Sekarang pertanyaannya adalah bahwa bagaimana orang Papua berdoa dan berpuasa? Siapa yang akan memfasilitasi? Kapan orang Papua harus berpuasa? Di mana orang Papua harus berpuasa? Singkatnya bagaimana mekanisme, cara, tahapan dan metode doa dan puasa yang baik dan benar bagi bangsa Papua?

Jaringan Doa Rekonsiliasi Untuk Pemulihan Papua (JDRP2) merupakan suatu Jaringan Doa yang didirikan oleh Sdr. Selpius Bobii, seorang eks tapol dan aktivis kemanusiaan di Papua. 

Bersama-sama dengan Tim doanya beliau secara konsisten mendorong aksi Doa-Puasa Massal Bangsa Papua mulai dari wilayah Misol Sorong sampai Samarai-PNG. Sebab dalam beberapa penglihatan dari tim doanya, Tuhan menyatakan bahwa bukan saja bangsa dan tanah Papua Barat saja yang hendak di pulihkan, tetapi Pemulihan dari Tuhan itu mencakup juga wilayah Papua New Guninea (PNG) selama 40 hari 40 malam.

Setelah lama berlanganbuana dengan perjuangan Doa-Puasa, alhasil Bobii dan rekan-rekannya sanggup meyakinkan seluru lapisan masyarakat, denominasi Gereja dan elemen perjuangan Perdamaian Papua untuk sadar, bertobat, bersama, berdamai, bersatu dan berjuang mewujudkan Papua tanah Damai, Papua Baru melalui Doa-Puasa. 

Baru-baru ini pada tanggal 31 Mei 2022 bertempat di Auditorium Universitas Cenderawasih JDRP2 bersama Aliansi Woman Group Ester mengadakan Seminar dan KKR Pemulihan Tanah Papua dengan takjuk “JENIS INI TIDAK BISA DIUSIR KECUALI DENGAN BERDOA DAN BERPUASA” serta Takjuk kecil “Melalui Seminar dan KKR Ini kita bersatu Untuk Mewujudkan Pemulihan Tanah Papua”. 

Dalam penghujung Seminar, seluru peserta seminar, pemateri dan penyelenggara berkomitmen bersama untuk “Siap Lahir Baru Dalam Tuhan” Untuk Bersatu dalam doa dan puasa untuk pemulihan Papua secara massal dari Sorong sampai Samarai selama 40 hari 40 malam pada 21 Juni jam 12 siang sampai 31 Juli jam 12 siang tahun 2022. Seluru pejuang kemanusiaan di Papua dan luar Papua diharapkan untuk bisa menyukseskan agenda rekonsiliasi bangsa dan tanah Papua ini dengan penuh konsekuen.

Pentingnya Rekonsiliasi Tiga Tungku Api Perjuangan Papua 

Tiga Tungku Api perjuangan bangsa Papua yang dimaksud oleh Selpius Bobii adalah Adat, Agama dan Organ Pergerakan bangsa Papua.

Kita tidak bisa menafikan bahwa kenapa Papua sulit bersatu, bersama, berdamai dan berjuang merebut kemerdekaan? Bobii melihat bahwa ada kuasa gelap yang melilit setiap orang maupun organ yang memperjuangkan nasib bangsa Papua Merdeka, kuasa gelap itu berasal baik dari di mana sosok yang berjuang itu berasal, belum ada permurnian roh sehingga Roh tersebut mudah dirasuki iblis dalam rupa kebencian, dendam, amarah, durhaka, serakah, tamak dan lainnya, Roh itu juga bisa dirasuki oleh roh baik seperti cinta, kasih, sayang, damai dan lainnya.

Kita harus sadar bahwa memang ini semua adalah dorongan manusiawi tidak ada andil unsur mistis, namun kita harus sadar pula bahwa manusia sejati itu terdiri dari Tubuh, Jiwa dan Roh, tanpa tubuh kita hanyalah hantu yang bergentayangan, tanpa jiwa hanya tubuh dan roh kita hanyalah kumpulan orang gila, hanya tubuh dan jiwa tapi tanpa roh kita hanyalah mayat-mayat hidup.

Manusia sejati itu adalah yang di dalam dirinya terjalin korelasi, paralel dan harmoni integral antara tubuh, jiwa dan roh, ketiganya teramat penting saling kait mengait dan satu paket, sehingga dalam pergolakan perjuangan bangsa ini tubuh, jiwa dan roh itu harus bersatu, maka sinilah pentingnya doa-puasa pribadi, Dialog dan Rekonsiliasi Diri, Pemulihan Jati diri serta dalam lingkup bersama lintas Adat, Agama dan Bangsa.

Pertama, Dialog dan Rekonsiliasi Damai lintas Tungku Api Adat. Papua terpolarisasi, tersegmentasi dan tersegregasi ke dalam tujuh wilayah adat meliputi Mamta, Anim Ha, Domberai, Bomberai, Saireri, Meepagoo dan Lapago.

Dari tujuh wilayah adat itu Papua juga terbagi ke Suku-suku baik suku-suku besar maupun kecil, ada juga marga dan Sub-Marga, kesemuanya itu masuk dalam satu zona ekologi budaya dalam perspektif antropologi.

Bobii merefleksikan bahwa wilayah adat itu mesti mau, jujur, berani dan percaya diri untuk duduk bersama berdialog sebagai anak bangsa yang terjajah untuk berekonsiliasi, saling mengaku salah dan dosa, melepaskan pengampunan atau permohonan, dan biarkan pengadilan Diri, Alam, Leluhur dan Tuhan yang mengadili demi terciptanya sebuah tali dan jalinan persaudaraan, kekeluargaan dan persatuan yang utuh, menyeluruh dan penuh.

Penjajah tidak pernah membeda-bedakan dalam menjajah, ia tidak mungkin menyayangi satu wilayah adat tertentu dan memusnahkan wilayah adat lainnya, kita harus tahu dan sadar bahwa selagi kita masih menyandang atribut kepapuaan, kita hanyalah budat, separatis, teroris dan pemberontak di hadapan wajah NKRI, orang Papua mau mendemonstrasikan diri sebagai pecinta NKRI Harga Mati tetapi tetap saja penjajah NKRI dan sekutunya tidak ada maka pernah menolerir itu.

Kita bisa ambil contoh dari banyak pejabat publik kita di lingkungan pemerintah yang mati secara misterius, juga pengalaman Barnabas Suebu dan Lukas Enembe yang notabene adalah perpanjangan tangan pusat di daerah Papua tapi toh tetap saja diperlakukan seperti binatang buas? Maka sudah seyogyanya ego, gensi, dan ambisi kesukuan lintas wilayah adat itu dikubur dan ego, gensi dan ambisi sebagai bangsa yang hendak merdeka itu ditonjolkan ke permukaan demi dialog, rekonsiliasi dan pemulihan menuju persatuan universal merebut kemerdekaan sejati Papua.

Kedua, Dialog dan Rekonsiliasi Damai lintas Agama. Ada tiga agama besar yang dianut oleh bangsa Papua, yakni Islam, Kristen Protestan dan Katolik. Masing-masing agama punya perbedaan yang menyolok.

Terkadang perbedaan-perbedaan itu menjadi batu sandungan bagi bangsa Papua untuk menjalin tali persahabatan, persaudaraan, kekeluargaan demi persatuan kebangsaan yang utuh, penuh dan menyeluruh, sehingga Bobii melihat dan merefleksikan bahwa untuk menuju negara suci Papua itu penting supaya agama-agama itu duduk bersama dan berdialog serta berekonsiliasi secara damai sebagai bangsa Papua yang terjajah kolonial, kapital, feodal dan Imperial NKRI, Belanda, Amerika, PBB, Roma Vatikan dan kroni-kroninya.

Penjajah tidak akan pernah membeda-bedakan dalam menjajah dan membunuh bangsa dan tanah Papua berdasarkan pertimbangan-pertimbangan keagamaan. Buktinya setiap saat pendeta-pendeta, pastor-pastor, bahkan Uskup, dan beberapa ustadz yang kritis memperjuangkan kebenaran, keadilan dan kedamaian di bumi Papua senantiasa diteror, diintimidasi, didiskriminasi, dikriminalisasi dan bahkan dieksekusi atau dieliminasi (dibunuh) secara misterius. Minimal kasus somasi Haris-Fatia bisa menjadi contoh yang baik bagaimana penjajah Indonesia itu memandang Papua dan segala sesuatu yang berkaitan dengannya. 

Sehingga sekali Bobii melihat perlu sekali agar ego, gensi, ambisi, visi, misi, dan kepentingan-kepentingan agama itu diurungkan dulu sambil mengedepankan dan menjunjung tinggi semangat persamaan, persaudaraan, persatuan dan perdamaian kebangsaan dan kepapuaan dalam bingkai nasionalisme dan patriotisme yang tulen dan puritan menuju Negara Suci Papua.

Ketiga, Dialog dan Rekonsiliasi Damai lintas Organisasi Pergerakan, Perlawanan dan Perjuangan Papua Merdeka. Bobii melihat selain Adat dan Agama, Organisasi-Organisasi Perjuangan, Pergerakan dan Perlawanan Bangsa Papua itu juga perlu segera melakukan Dialog dan Rekonsiliasi Damai, Pemulihan Organisasi, baik Organisasi Kombatan Bersenjata atau Gerilyawan/i, Organisasi Sipil Masyarakat dan Organisasi Diplomasi secara internal keorganisasian maupun secara eksternal keorganisasian mencakup ketiga wadah pergerakan ini sebagai satu paket perjuangan, pergerakan dan perlawanan menuju Papua merdeka, pun pula organ-organ pergerakan yang terafiliasi dalam perjuangan bangsa Papua baik di Papua, luar Papua bahkan di luar negeri untuk duduk bersama Berdialog dan Berekonsiliasi bersama.

Penulis melihat bahwa belakangan terjadi kritik dan otokritik secara terbuka di ruang digital antara organ-organ perjuangan, pergerakan dan perlawanan bangsa Papua.

Setiap tokoh mewakili dirinya sendiri maupun organisasinya saling mengumbar narasi-narasi perpecahan, dengan saling membongkar aib, mendiskreditkan Idelogi atau paham-paham yang dibawah oleh satu organisasi, saling mengerdilkan pencapaian-pencapaian organ A dan organ B, memojokkan diri dan organisasinya sebagai pemilik Kebenaran dan kebaikan absolut dan fenomena kicauan dan kerewelan lainnya di ruang publik dan digital, hal-hal yang seharusnya habis digubris dan dibahas tuntas dalam ruang privat sebagai satu bangsa kini menjadi bahan tertawaan musuh dan dilematis rakyat awam, rakyat akar rumput baik yang pro maupun kontra Papua Merdeka jadi serba dilematis menyikapi fenomena organ dan para pejuang yang saling menyinyir, menyindir dan mencibir, kira-kira mana yang benar mana yang salah? Siapa yang benar siapa yang salah? Apa yang baik apa yang buruk? Dan lainnya.

Di tengah-tengah situasi carut-marut demikian inilah maka esensi dan subtansi daripada perjuangan doa rekonsiliasi, dialog damai dan Pemulihan yang secara vokal, getol dan loyal diperjuangkan oleh Selpius Bobii ini menjadi satu-satunya penawar mutakhir yang mampu mengembalikan fitrah dan marwah perjuangan bangsa yang dibawah oleh organisasi-organisasi yang hari-hari ini berkicau riah, risih dan rusuh di ruang publik itu agar menjadi tenang, teduh, hening, berdamai, berdoa, berdialog, berekonsiliasi dan bersatu dalam satu tujuan menuju kemerdekaan bangsa Papua yang utuh.

Air Bah Sudah Dekat, Mari Bersatu, Mari Bersatu Dalam Bahtera Doa Puasa. Firaun Dan Lusifer Neo-kolonialis, Neo-kapitalis, Dan Neo-feodalis Indonesia Dan Sekutunya Yang Mistik-Gelap Tidak Bisa Diusir Dengan Cara Lain, Kecuali Dengan Bersatu, Berdialog, Berenkonsiliasi, Berdamai, Berdoa, Dan Berpuasa Menuju Negara Suci Papua Baru. (*)

)* Penulis Adalah Mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat-Teologi Fajar Timur Abepura-Papua.

Selasa, 04 April 2023

Behaviorisme Skinner dan Pendidikan Kontekstual Papua

Dok: Ist/Behaviorisme Skinner dan Pendidikan Kontekstual Papua. (Siorus Degei)

*Siorus Ewanaibi Degei

Upaya memanusiakan manusia atau proses humanisasi menjadi panggilan semua pihak, bukan saja keluarga, Agama, dan Pendidikan, melainkan semua pihak inti dalam kehidupan. Pendidikan yang paling pokok ialah Pendidkan Karakter Yang Kontekstual, jenis Pendidkan semacam ini sangat langkah saat ini.

Padahal hasil dari cetatan Pendidikan Karakter ini sudah tidak dapat diragukan lagi secara intelektual, moral, spiritual, dan sosial. Ditambah frasa Kontekstual karena walaupun Pendidikan karakter itu penting, namun disisi lain identitas hakiki seorang peserta didik, yakni budaya asalinya semakin luntur. 

Misalnya di Sekolah A metode penyelenggaraan Pendidikannya bersasi Pendidkan Karakter dan berpola Asrama, namun poris respek poisitif atas eksistensi terhadap kearifan local para peserta didik sangat sedikit, bahkan nihil. Sehingga fenomena semacam inilah yang menurut penulis sangat dibutuhkan sekali panduan metodelogi Pendidikan yang tidak saja memprioritas entitas karakter, mental, dan akhlak, tetapi porsi kontekstual itupun mesti tidak diabaikan. Sebab Pendidikan itu menjadi proses humanisasi hanya sampai pada batas ia sanggup melahirkan manusia-manusia yang sejati.

Ruang lingkup Pendidikan Karakter Kontekstual meliputi Moralitas, Mentalitas, dan Lokalitas-Kultural. Kita tidak bisa lagi menempuh gaya-gaya Pembinaan, Pendidkan, dan Pegolahan kepribadian manusia yang lama, yaitu Refolusi fisik, di mana proses Pemebentukan sikap, karakter, dan mental seseorang dilakukan dengan pedekatan-pendekatan represif, dipukul, dihukum berat, di-bully, dan lainnya. 

Sudah saatnya lembaga-lembaga Pembinaan, Pedidikan, dan Pembentukan manusia menempuh dan menerapkan gaya-gaya yang lebih persuasif, ekskulusif, bersahabat, humanis, dan harmonis, yakni Refolusi Mental Kontekstual, dengan penekanan Pembinaan, Pendidikan, dan Pembentukan dititikberatkan pada Karakter dan Akhlak budi Pekerti. 

Sehingga manusia-manusia yang dihasilkan itu bukan saja mereka yang terampil secara intelektual tetapi aktual dan ideal secara sosial, moral, dan spiritual.

Selama ini wajah penyelenggaraan Pendidkan kita cenderung dilokalisir, dimodestivisir, dinasionalisir dan digeneralisir sehingga banyak anak-anak perserta didik di daerah-daerah, khususnya daerah yang terisolir kewalahan dalam penyesuaian metode Pembelajaran, sehingga banyak murid yang asal belajar dan guru yang asal mengajar, intinya penyenggaraan Pedidikan berdalil pada mental Asal Bapa Senang, namun pelajaran itu tidak memiliki basic yang kuat dalam diri mereka, sehingga dengan mudah hilang. 

Semisal mereka belajar tentang Sejarah Kerajaan Majapahit, belajar tentang Monas, belajar tentang Kereta Api, belajar tentang Kepulauan Jawa, dan lainnya.

Sebagai informasi pengetahuan-pengetahuan tersebut sangat berarti, namun amat kontadiktif dengan realitas kehidupan sehari-hari para peserta didik, akibatnya pegetahuan-pegetahuan itu akan menjadi penumpan dalam kepala, hanya singgah sedikit di nalar, dengar telinga kiri keluar telinga kanan.

Sebab sejak kapan di Papua ada Jalan Tol atau Kereta Api, sejak kapan ada monument Megah sekelas Monas ada di sana, sejak kapan ada Kerajaan di Pegunungan Pedalaman Papua, dan lain-lain. Pola pendidikan atau kurikulum seperti inilah yang menurut Prof. Dr. Frans Magnis Suseno SJ disebut sebagai Pendidikan Dengan Model Mengisi Botol Kosong, (https://www.multaqomedia.com/obrolan/pr-5236348443/romo-magnis-suseno-filsafat-dan-pendidikan-yang-seharusnya-tidak-seperti-mengisi-botol-kosong, 04/04/2023).

Hal-hal semacam itulah yang meninmbulkan paradoks Metode Pendidikan yang memprihatinkan di Indonesia secara umum, dan di Papua secara khusus. Kita membutuhkan sebuah Metode Pendidikan Karakter Kontekstual, di mana Pendidikan itu berbasis lokalitas tanpa mengabaikan aspek nasionalitas, dalam artian nilai-nilai kearifan lokal diangkat dalam rangka memperkaya nilai-nilai nasional dan global.

Dalam tulisan ini penulis akan menawarkan sebuah metode Pendidikan Karakter Kontekstual berusmber dari Teori Behaviorisme yang dipelopori oleh Joseph B.F Skinner (20 Maret 1904 – 18 Agustus 1990), yakni Cara Kerja Yang Menentukan (Operant Condition). Tentunya sumbangan pemikiran Skinner dalam teorinya itu bisa menjadi titik acuan untuk mencetuskan sebuah Metode pembelajaran atau Kurikulum Pendidikan Karakter kontekstual yang aktual.

Hakekat Teori Behviorisme

Behaviorisme secara etimologis terdiri daru dua akar kata, yaitu Behavior dan Isme, Behavior berarti Kelakuan, Perangai, dan Tindak-Tanduk (John M. Echlos-H. Shadlly, 2014, hlm.75). Sedangkan Isme berasal dari Bahasa Yunani Ismos, Latin Ismus, Prancis-Kuno Isme, yang berarti Paham, keyakinan, atau kepercayaan. Jadi secara etimolis Behaviorisme merupakan salah satu aliran Psikologi yang menitikberatkan penalaran, penelahan, dan penelitian pada Kelakuan manusia sebagai objek pembahasan.

Dalam perkembangan sejarahnya teori behaviorisme ini dicetuskan oleh seorang Psikolog asal Amerika Serikat, yaitu John B. Watson (1878-1958), Watson adalah Bapak Behaviorisme Dunia, ia terkenal dengan teori Stimulus-Respons Bond. Menurut teori Stimulus-Respon Bond semua tindakan manusai merupakan hasil respon atau tanggapan atas suatua stimulus atau ranggsangan, jadi ada tindakan itu sebab-akibat, orang menangis karena sedih, orang jatuh cinta karena suka, dan lain sebagainya.

Dok:Ist/Behaviorisme Skinner dan Pendidikan Kontekstual Papua.

Dalam perkembangannya Behaviorisme menjadi sebuah aliran dalam pemikiran Psikologis. Banyak ahli mulai tertarik dan menaruh minat besar untuk mengkaji aliran Psikologis ini. 

Sebut saja Thorndike dengan teorinya Connectionisme disebut juga Trial And Error (Mencoba-coba dan gagal).

Pavlo And Watson dengan teori Classical Conditioning, teori ini mengajarkan bahwa suatu rangsangan dapat menimbulkan pola reaksi (aksi-reaksi), misalnya Lonceng atau Alarm bisa memerintahkan, meunjukkan, atau menandai sesuatu.

Berikut Alber Bandura dengan teorinya Modeling, mengajarkan bahwa perubahan perilaku manusia disebabkan oleh peniruan terhadap tokoh atau objek yang menjadi model/teladan. Terakhir ada B.F. Skinner dengan teorinya Condition, pemikiran Skinner inilah yang akan menjadi titik tolak pembahasan karya tulis ini.

Inti Pokok Teori Behaviorisme Skinner

Merupakan seorang Psikolog beraliran Behaviorisme asal Amerika Serikat, Skinner terkenal dengan teorinya Operant Condition yang berarti Cara Kerja Yang Menentukan, (https://id.wikipedia.org/wiki/B.F._Skinner, 04/04/2023).

Teori Skinner ini terinspirasi dari keyakinannya bahwa semua manusia bergerak berdasarkan rangsagan atau stimulus yang dihasilkan oleh linkungan. Sehingg ia berteori bahwa jika ingin mengubah prilaku manusia, berarti entitas yang pertama-tama harus diubah ialah lingkungan tempat di mana manusia itu berada, sehingga kelakuan manusia yang diinginkan dipertegas secara positif, yaitu Disangsikan, dan kelakuan manusia yang tidak diinginkan dipertegas secara negatif, yaitu Dihukum.

Teori Skinner ini konkret dalam Pendidikan berbasis Karakter dan berpola Asrama atau Teruna, di mana kepribadian manusia dibentuk dan terbentuk oleh lingkungan asrama sebagai habitat humanistik, melalui aturan dan ritme hidup penghuni asrama secara tidak lansung dibentuk karakter dan mentalnya, sehingga ketika ia sudah selesai dari asrama atau taruna tersebut ia akan tambil sebagai sosok yang penuh kedisiplinan diri yang ketat.

Maka dari itu Skinner lebih banyak berfokus pada upaya-upya perekayasaan lingkungan sosial, dengan menciptakan habitat-habitat lingkungan hidup yang sesuai dengan pedoman pengolahan kepribadian manusia yang harmoni, humanis, dan persuasif.

Hakekat Pendidikan Karakter Yang Kontektual

Pendidikan Karakter Kontekstual menjadi sebuah Metode Pendidikan yang teramat langka dijumpai saat ini, hanya terlihat sisah-sisahnya di Sekolah yang berpola Asrama. Namun sebagian besar lembaga Pendidikan kebanyakan menerapkan Metode Pendidkan yang berbasis indeks kompetitif siswa atau Kurikulum 2013 yang notabenenya merupakan produksi Sekolah-Sekolah Eropa, dalam artian Metode Pembelajaran tersebut dicaplok dari Metode Pemebelajaran asing. 

Barangkali untuk wilayah-wialayah yang telah maju pesat dari sisi fisik/sarana-prasana dan Psikis/terakreditasi A atau B, Metode Pemebalajaran tersebut bisa dan dapat dibenarkan dan diapresiasi. Namun kenyataannya tidak semua wilayah di Indonesia memiliki garis komando kemajuan Pendidikan yang satu dan sama. 

Contohnya di Papua, bicara sola Pendidkan merupakan sebuah pembicaraan yang bukan baru namun sulit teratasi, dalam artian persoalan Pendidikan di Papua punya tingkat komlesitas kemerosotan yang separah dengan wajah kesehatan, Politik, Ekonomi, Ekologi, dan Sosial-Budaya. Ruang bagi Pendidikan Karakter Kontekstual sangat minim. Walaupun mungkin dana triliyunan rupiah telah diguyurkan melalui Ottsus, namun hingga kini belum ada tanda-tanda kemajuan Pendidikan di Papua yang sinigfikan, terlebih khusus wilayah-Wilayah yang sulit terisolasi. 

Apalagi di Era Pandemik yang memberlakuakan Pembelajaran online (Daring/ Dalam Jaringan). Daring sendiri merupakan sebuah Metode Pembelajaran Kontekstual yang situasional, itu berarti sedikit banyaknya cukup singkron dengan teori Condition Skinner, di mana pola memanusiakan manusia disesuaikan dengan situasi dan kondisi linkungan masyarakat. Maka di tengah paradikmatik potret Pendidkian yang miris dan kritis seperti inilah sangat dibutuhkan sekali adanya penyeseuaian Metode Pembelajaran yang kontektual, sehingga dalam proses transfer ilmu tidak terjadi begitu banyak kendala.

Relevansi Teori Behaviorisme Skinner di Papua 

Melihat potret kondisi Pendidikan di Indonesia secara umum dan di Papua lebih khusus, maka dapat kita katakan bahwa identitas keindonesiaan di tiap-tiap daerah terancam luntur dan bahkan punah bila tidak ada respek dan respon yang cepat, tepat, dan cermat, dari semua pihak, terutama keluarga, Agama, Pendidikan, dan Pemerintah. 

Sebab semakin hari semakin luntur nilai-nilai kultis yang berharga dan bermaknai dalam keraifan-kearifan lokal yang menjadi ciri khas setiap daerah di Indonesia, akibat tidak saja menjadi santapan modernisme, globalisasi, digitalisasi, westernisasi, dan lainnya, tapi juga terhendatnya proses sosialisasi dari generasi tua kepada generasi muda. Dan khsusnya akibat mekanisme penyengaraan Pendidikan kita yang Pusat-Sentris atau Jakarta-Sentris. 

Sehingga diperluhkan sekali suatu Metode Penyenggaraan Pendidikan yang lebih kontekstual dan berurat-berarkar dalam nadi-nadi kebudayaan setempat tanpa mengabaikan indentitas nasional dan keniscayaan global sebagai jati diri bersama, baik dalam Pendidikan dini di Keluarga, Agama, dan Lembaga Pendidikan, dan Pemerintah itu sendiri.

Dari pelbagai macam alternatif solusi yang ada, kiranya teori Condition yang dirintis oleh Skinner atau yang lainnya khsusnya dalam aliran Behaviorisme sedapat mungkin bisa menjadi sebuah Metode Praktis Penerapan Kurikulum Pendidikan Karakter Kontekstual sehingga lebih mengenai target dan demi terwujudnya kecerdasan bangsa. Ada beberapa langgkah yang dapat ditempuh bersama agar Misi Pendidikan sedikit banyaknya terwujud nyata. 

Mengapa Indonesia, khususnya Papua menjadi daerah yang strategis dalam penerapan teori Skinner?

Pertama, Berdasarkan potret nyata situasi Pendidikan di Indonsia, khususnya di wilaya-wilaya yang terisolir yang teramat miris.

Kedua, Indonesia merupakan bangsa yang beraneka-ragam mulai dari Sabang hingga Merauke, terhitung ada 714 Suku di Indonesia.

Masing-masing suku memilik keunikannya maisng-masing. Sehingga pola pendektannya juga mesti disesuaikan dengan konteks setiapa suku.

Ketiga, karakter bangsa Indonesia adalah karekter yang terbuka, ramah, dan sosialis. Sehingga sangat muda meniru dan mengikuti budaya-budaya asing yang membuat eksistensi budaya-budaya setempat berasal.

Misalnya Bahasa dan sejarah kebudayaan suku bangsanya sendiri, barangkali hanya minoritas milenial Indonesia yang paham akan nilai-nilai kebudayaannya, bahasanya, dan sejrahnya. Sementara mayoritasnya masih sibuk menodernisasikan dirinya atau mendemokratisasi eksistensinya. 

Maka metode Skinner ini bisa memberihkan sebuah panduan yang memungkinan setiap milenial di setiap suku, mampu mengetahui jati diri suku bangsanya. Sehingga ia benar-benar menjadi orang Jawa yang sejati, orang Sumatera yang sejati, orang Kalimantan yang sejtai, orang Sulawesi yang sejati, dan orang Papua yang sejati.

Pentingnya Riset Sosiologis, Geografis Dan Angtropologis Kontekstual

Selama ini Pemerintah jarang menlibatkan peran akademisi, cendekiawan, dan intelektual dalam pembuatan, pelaksaan, dan evluasi kebijikan-kebijakn local, regional dan nasional terutama para Sosilog, Geolog dan Angtropolog. Padahal peran mereka ini sangat penting agar kebijakan yang dihasilkan tepat mengenai target sesuai subtansi persoalannya. 

Namun kenyataannya yang selama ini kita jumpai adalah bahwa kebijakan-kebijakan yang dihasilakan hanya dikeluarkan secara sepihak demi itensi-itensi khusus dari okunum-okunm ataupun intstansi-instansi khusus pula, yaitu hanya pemerintah saja yang berperan aktif, jarang sekali ada aspirasi-aspirasi public atau kritikan-kritikan konstruktif para oposisi yang digubris.

Misalnya seperti ketika hendak melaksanakan kebijakn pembanguanan infrastruktur di suatu Daerah, Pemerintah mesti mendegarkan aspirasi-aspirasi, baik dari mereka yang pihak pro tapi juga mereka yang kontra, khususnya dari masyarakat adat, perwakilan pemuda, dan perwakilan ibu dan anak, sebab klas sosial inilah yang paling rentan terkena implikasi pembangunan. 

Sebab jika kebijakan hanya dihasilkan secara sepihak atau beradasrkan subjektifisme penguasa, maka besar kemungkinan dapat menyebablan kesenjagan sosial yang marak dan kemiskinan yang fatal, dimana yang kaya tetap kaya yang miskin tetap miskin, yang tidak tahu tetap tidak tahu dan yang tahu makin tahu, dan kesenjagan lini kehidupan lainnya. Jadi kebijakan yang ideal itu lahir dari konsesus bersama demi kebaikan bersama pula, bukan konsensus sepihak dengan demi kepetingan sepihak pula.

Dalam konteks kebijakan tentang pembenahan Pendidikan di Indonesia, ada sebuah fenomena yang menarik, yaitu bahwa setiap rezim memilik kekahsaannya sendiri-sendiri, bahkan setiap Kabinet (Menteri Pendidikan dan Kebudayaan) juga memiliki rumus dan jurus sendiri-sendiri dalam membenahi persolana Pendidikan di Indonesia.

Dua esensi ilmu humaniora yang bisa memecakan soal kebijakan Pendidkan agar lebih demokratis, adil, dan sejahtera ialah dan hanya Sosiologi dan Angtropologi. Pakar-pakar dari kedua ilmu ini mesti dilibatakan secara penuh, utuh dan menyeluruh dalam mekanisme pembuatan, eksekusi hingga proses evaluasi kebijakan. Namun perluh dicatat juga bahwa para pakar tersebut mesti indenpenden dan objektif dalam memberihkan temuan-temuannya sebagia bentuk penghormatan pada marwa intelektual, jangan sampe mereka dipreteli dan dibeli oleh Pemerintah untuk meloloskan kepentigan pemerintah. 

Hal ini berarti mereka telah menaciskan otonitas dan indenpendesi marwa ilmu pengetahuan dengan riset abal-abal, mereka dituntutu tetap konsisten, kritis dan tidak akomodati serta koperatif kepada Pemerintah. Sebab jika mereka kritis maka hasil dari visi-misi kebijakan akan Goal atau berhasil, namun bila mereka mala akomodatif dan koperatif dengan kepentingan sesaat peguasa maka mereka telah menjual otak yang cerdas dengan kertas yang semu dan kebijakan itu akan menjadi jebakan bagi rakyat kecil.

Pentingnya Bidang Ilmu Khusus Spesifikasi Konteks 

Berdasrkan temuan-temuan ilmiah para Sosiolog, Geolog dan Angtopolg tadi yang indenpenden, konsisten, kritis, analitis, dan objektif, khususnya mengenai kearifan lokal, sejarah, Bahasa, pranata lokal atau adat-istiadat, dan bidang-bidang kebudayaan lainnya. Maka sudah saatnya divisikan sebuah Metode Pembelajaran Akhlak yang kontektual.

Misalnya untuk mempelajari Kejawahan maka berdasrkan himpunan data dan fakta yang ada tentang Jawa yang kmpleks dan komprehnsif itu dirilislah sebuah Ilmu Pengetahuan yang bernama Jawalogi, atau Sumatralogi, Sulawesilogi, Kalimantanlogi, dan Papualogi, intinya ada pengetahuan yang secara khusus, metodis, dan sistematik membahas dan mengupas seluk-beluk dari daerah-daerah yang ada di Indonesia yang secara notabenenya beraneka ragam (Plural-Majemuk). 

Dengan langkah konkrti semacam ini generasi milenial mampu menemukan jadi dirinya yang sesungguhnya. Generasi akan lebih memahami, menghayati, mendalami, dan mengalami hakekat dari eksistensinya sendiri sebagai warga lokal, nasional, dan internasional.

Sehingga mereka tidak kehilanagn budayanya, melainkan memilikinya sebagai jati dir dan harta pustaka para leluhur. Menjadikan itu sebagai bagian utuh dari kepribadiannya. Al hasil baeangkali sedikit-banyaknya gebrakan semacam ini bisa menyeimbangi gerakan Post-Modernisasi yang menjurus dalam gebrakan nasionalisasi dan anak-anaknya yang berpeluang dan berpotensi memusnahakan kebudayaan asli umat manusia.

Selain di ranah Pendidikan, tidak lupa juga keluarga semestinta bisa menjadi instansi pertama generasi muda digembleng sedekian rupa agar nilai-nilai budaya, terutama kearifan-kearifan lokal yang poisitif dipahamai, dihayati, didalami, dan digumuli. Sehingga memang sudah dari keluarga mekarteristik dan mentalitas yang khas kebudayaan itu dimiliki oleh setiap keluarga.

Lembaga Pendidikan, Agama, dan Lembaga-lembaga lainnya hanyalah sebatas sarana di mana karakter dan mental generasi muda. Jadi sosialisasi yang baik dan benar dari keluarga yang dilakukan secara dini merupakan sebuah metode pembentukan akhlak anak yang ampuh. Sebelum keluara rumah, anak-anak itu harus disedia bekal bukan saja uang jajan, tetapi juga pikiran yang positif, hati yang murni, kehendak yang bijak, dan tindakan yang etis. 

Setlah keluarga sudah dan senantiasa menjalan proses humanisasinya di rumah, Lembaga Agama juga mesti anbil peran sentral dan memamg andil Agama sangat fundamental dalam merekonturksi jati diri seseorang melalui doktirn-doktrin yang ia hasilkan. Semisal untuk Kristen, Sekolah Minggu bisa menjadi tempat belajar jati diri yang baik. Di saan etika-etika dasar iman ditanamkan, daya semangat untuk maju dipantik. Tingkah laku-tingkah laku yang kurang baik diarahkan agar jauh lebih baik.

Jadi perluh ada sinergitas dan kerja sama yang baik dan saling menopang antra keluarga, Agama, Pendidikan, pemerintah, kelompok-kelompok sosial lainnya. Sehingga taget yang hendak dicapai bersama dapat terealisasi, yakni pembebasan generasi muda dari penjajahan kemalasan, krisi identitas budaya, dan krisis intelektual. 

Dengan demikian senada dengan Presiden Afrika Selatan Pertama Nelson Mandale Pejuang Aparheid bahwa pendidikan adalah senjata ampuh untuk memajukan bangsa, ataupun juga sesuai dengan keyakinan Filsusf Yunani Kuno murid dari Plato dan Guru dari Alexander Agung Aristoteles bahwa Pendidikan itu memanusiankan manusia. 

Pemikiran Aristoles ini juga cukup parallel dengang pemikiran Nikolaus Driyarkara, Dedengkot Filsuf Indonesia bahwa Pendidikan itu merupakn proses humnisasi manusia sebagai Homo Hominis Socius atau Manusia adalah Sahabat Bagi Sesamanya. Sehingga perluh ditambhka juga sebuah pemikiran Pedagogis Pemebebasan Paulo Freira, bahwa Pendidikan mesti menjadi wadah yang menjamin manusia (peserta didik) untuk mengeksplorasi dan mengekspresikan kapasitas dan kualitasnya sesuai Soft Skill maupun Heart Skill yang dimiliki. Maka sudah saatnya agenda mencerdasakan kehidupan bangsa sebagiman amanah UUD 1945 itu mendapatkan perhatian yang serius. 

Dalam hal ini metode Pendidikan yang salami ini diselenggerakan dari Sabang sampai Merauke itu perluh sedikit didekontruksi. Dalam artian metode pemebelajaran itu memperhatikan aspek kontekstual. Ada beberapa saran yang mungkin bisa menjadi masukan bagi para perancan Kurikulum Pendidikan di Indonesia, atau paling kurang para tenaga edukatif di lemabaga-lembaga Pendidikan yang ada di tanah Papua.

Pertama, pemahaman konteks yang cukup, untuk lebih memahami konteks wilaya-wilaya di Indonesia, Pemerintah bisa bekerja sama dengan masyrakat adat secara lansung tanpa perantaraan eilitnya, juga dengan para Antropolog, Geolog dan Sosiolog untuk mengadakan riset atau meminta pandagan dan masukan dari mereka yang komprehnsip mengenai konteks wilaya, masyarakat, kebudayaan, sumber daya alam, dan aspek-aspek penting lainnya yang termuat dalam catatan-catatan etnografi.

Kedua, respek yang positif, setelah mengetahaui dan memahami seluk-beluk wilaya-wilaya yang ada, maka rasa pengahargaan dan penghormatan atas eksistensi wilaya tersebut menjadi point penting untuk diperhatikan, terlebih khusus respek positif terhadap masyarakat dan kearifan-kearifan loal yang ada. Bahwa kearifan-kearifan itu bisa diteliti lebih lanjut untuk dijadikan ilmu pegetahuan tambahan sebagai jati diri wilaya dan suku bangsa yang ada.

Dan yang terakhir ialah bahwa teori Skinner, yakni Operant Condition atau teori yang sejenisnya barangkali bisa menjadi rucukan semua pihak, bukan saja pemerintah tapi juga lembaga Swasta dan semua pihak yang peduli dengan keselamtan perabadan masyrakat madani. Dan perluh menjadi cacatan juga bahwa teori-teori semacam ini bukan saja relevan untuk membenahai wajah Pendidkan karakter yang kontekstual, tapi juga bisa diterapkan pada bidang kehidupan lainnya sesuai kebutuhan. (*)

)* Penulis Adalah Mahsiswa Sekolah Tinggi Filsafat-Teologi “Fajar Timur” Abepura-Papua.

Pemikiran Durkheim, Weber dan Max Dalam Evolusi Sosial di Indonesia

Dok: Ist/Pemikiran Durkheim, Weber dan Max Dalam Evolusi Sosial di Indonesia. (Sebuah Relevansi Kontekstual)

*Siorus Ewanaibi Degei

Pemikiran Emilie Durkheim, Max Weber dan Karl Max tertuang dalam buku-buku yang mereka hasilkan. Kita akan bercengkrama dengan pemikiran ketiga tokoh ini dan relevansi pemikiran-pemikiran tersebut dalam kehidupan masyarakat Indonesia, khususnya dalam kaitannya dengan buah pikir Hebert Spencer tentang Evolusi Sosial dalam potret gejolak gejala-gejala sosial yang mengemuka dewasa ini di Indonesia.

Emilie Durkheim (1855-1917)

Ada tiga buku terkenal dalam Sosiologi yang telah dihasilkan oleh Emilie Durkheim yang juga adalah landasan pemikiran sosiologi dan filsafatnya, yakni Pembagian Kerja (De la Divison du Travail, 1893), Aturan-Aturan Metode Sosiologi (Les Regles de la Methode Sosciologique, 1897), Bunuh Diri (Le Suicide, 1897), Majalah Ilmiah L’Anne Sosciologique, 1896, dan Bentuk-Bentuk Dasar Kehidupan Keagamaan (Les Formes Elementaries de la Vie Religieuse, 1912), (Renwarin, 2004; 12) . Pemikiran Durkheim yang terkenal ialah tentang Solidaritas Mekanik dan Solidaritas Organik. Dalam masyarakat Solidaritas Mekanik, mereka hidup tidak atas dasar panduan yang jelas, karenanya solidaritasnya bersifat natural atau terjadi secara apa adanya. Sementara dalam Masyarakat Solidaritas Organis, kehidupan mereka sudah teratur dan karenanya solidaritas di antara mereka pun berjalan sesuai hukum-hukum yang telah ada, (Raho, 2004; 15)

Max Weber (1864-1920)

Ada enam buku terkenal Max Weber yang menjadi warisan gemilang dalam perkembangan ilmu Sosilogi selanjutnya, yakni Kencenderungan Dalam Pengembangan Situasi Pekerja di Jerman Timur (1894); Sebab-Sebab Sosial dari Dekandensi Sivilisasi Kuno (1894); Etika Protestan dan Spirit Kapitalisme (1904); Esai-Esai Dalam Ketegori-Kategori Sosiologi Yang Comprehensive (1913); Sosiologi Agama (1916); Ekonomi dan Masyarakat (1919), (Renwarin, 2022; 18). Menurut Weber Sosiologi adalah Ilmu yang mempelajari tentang Tindakan-Tindakan Sosial, (Haryanto dan Nugohadi, 2011; 28). Ia juga terkenal dengan kajiannya tentang Rasionalisasi dan Birokrasi. Menurutnya Birokrasi adalah manifestasi dari Rasionalisasi, sebab Rasionalisasi adalah pertimbangan-pertimbangan rasional dalam pegambilan keputusan dan tindakan, hal mana ini sangat identik dengan iklim Birokrasi yang selaluh menguras rasio demi memenuhi visi-misnya. Selain itu, Weber juga terkenal dengan temuan atas kaitan Kapitalisme dan Protestanisme (Agama Kristen Calvinisme). Menurutnya, salah satu indikator terjadinya penghisapan kapitalisme di Eropa Barat dilatarbelangkagi oleh Dogma Calvinisme yang menuntut umatnya untuk tekun bekerja meraub keuntungan dari hasil olah Bumi, sebab itulah kehendak Tuhan. Yang mana waktu itu hampir sebagian kapital adalah para puritan Agama Kristen Calvinis, (Raho, 2004; 14).

Karl Max (1818-1883)

Ada enam buku tersohor yang sempat dihasilkan oleh Karl Max, yakni The Economitc and Philosophic Manusscripts (1932); Communist Manifesto (1848); The Holy Family (1845); The Poverty of Philosophy (1945); The German Idelogy (1846); dan Das Capital (1867), (Renwarin, 2022; 24). Dari banyak literatur yang telah ia hasilkan, yang paling terkenal ialah Manifesto Communist dan Das Kapital. Inti pemikiran Marx adalah Alienasi atau Keterasingan, Marx melihat ada keterasingan besar dalam realitas sosial, yakni antara kaya dan miskin atau kelas buruh dan pemilik Modal. Marx merekomendasikan agar supaya masyarakat terbebas dari cengkaraman alienasi maka kelas buruh harus bangkit dan membumihanguskan rezim kapitalisme, dan segera mendirikan Rezim Diktator-Proletariat, (Sindhunata, 2019; 69). Sehingga tercipta masyarakat tanpa kelas, di mana keadilan dan kesejateraan itu menjadi milik semua orang bukan satu dua orang saja, (Raho, 2004; 24).

Evolusi Sosial Dalam Gejala Sosial di Indonesia

Evolusi Sosial, pemikiran ini berasal dari Hebert Spencer (1820-1903), seorang sosiolog asal Inggris. Pemikirannya mengenai Evolusi Sosial tertuang dalam bukunya yang berjudul Principles of Sociology. Menurut Spencer suatu organisme akan mengalami perubahan dari taraf yang paling sederhana hingga taraf yang terbilang canggih. Ia memakai Teori Evolusi dari Charles Darwin untuk meneliti perkembangan masyarakat dari abad-abad silam hingga masyarakat modern.

Pemikiran Evolusi Sosial ini baik untuk melihat gejolak gejala-gejala sosial yang ada di masyarakat. Kali ini kita akan memakali teori Hebert Spencer ini untuk melihat gejala-gejala sosial yang sedang mengemuka di Indonesia. Di Indoensia, terutama sebagai negara yang majemuk dan holistic, tentu gejala sosial yang timbul beransur mengikuti ruang kemajemukan dan keholistikan yang ada. Hanya saja kita akan mengerucutkan pandangan pada gejala-gejala sosial yang muncul belakangan ini, terutama gejala sosial yang dihasilkan oleh Pandemik Covid-19.

Salah satu dimensi kehidupan yang terkena imbas pusaran Covid-19 ialah dimensi Ekonomi. Di tengah peperangan melawan badai covid-19 yang kian menjadi-jadi evolusinya di Dunia, khsusnya di Indonesia. Hampir semua aktivitas perekonomian; seperti Pasar, Industir, Mall, Super Market, Restoran, Kafe, dan tempat bisnis lainnya yang selaluh padat massa kini telah di ambang “Gulung Tikar” alias bangkrut. Akibat kebijakan Social Distangce and Psysical Distangce yang membatasi interaksi sosial secara offline (Luring/Luar Jaringan) semuanya kini terjadi secara online (Daring/Dalam Jaringan).

Relevansi Pemikiran Durkheim, Weber dan Marx 

Pertama, Durkheim, dua solidaritas yang ditawarkan oleh Durkheim, yakni Solidaritas Mekanik dan Solidaritas Organik, keduanya sangat terlihat dalam kehidpan masyarakat Indonesia di daerah Perkotaan dan Perkampungan. Bahwa di daerah Kota Solidaritas Oraganik itu sangat terlihat dan terasa dengan adanya komunitas-komunitas sosial yang berorientasi sesuai prosedur yang ada, dalam artian memiliki angaran dasar dan anggaran rumah tanga yang berlaku, begitu juga secara keseluruhan kehidupan kota lebih maju dan teratur. Sementara, bau Solidaritas Mekanik itu sangat tercium dalam kehidupan masyarakat di perkampungan, di mana kehidupan bersama dibagun atas dasar spontanitas dan atau semangat gotong royong.

Kedua, Weber, pemikiran Weber tentang Rasionalisasi dan Birokrasi, juga tentang Protestanisme dan Kapitalisme dapat kita pakai untuk menerawang gejala gejolak-gejolak sosial di Indonesia. Pertama, Rasionalisasi dan Birokrasi, kita melihat bahwa saat ini rasionalisasi menjadi suatu jurus para elite politik kita untuk melegitimasi status mereka dan atau menjustivikasi kesalahan mereka di hadapan publik. Banyak elite suka terlihat Pro-Rakyat, Pro-Demokrasi dan Pro-Keadilan, tetapi tahu-tahunya di belakang layer public semuanya berlomba-lomba bermain saham bersama para bandit kartel dan ologarkis. Ada juga elite kita yang pandai mengumbar janji-janji manis saat pemilihan, juga saat berkunjung ke tengah masyarakat, namun realisasi berupa regulasi-Birokrasi atas janji-janji itu teramat nihih dialami rakyat.

Berikut Protestanisme dan Kapitaslisme, dalam kontkes di Indonesia penulis mengubahnya menjadi Islamisne dan Terorisme. Agak sedikit miris, sebab Agama dijadikan suatu legitimasi yang membenarkan tindakan kejahatan sekaliber Pembunuhan, Bom Bunuh Diri, Terorisme dan lain sebagainya. Di Indoensia kelompok Islam Radikal atau Islam Garis Keras yang telah cukup lama terkontamidasi dengan paham-paham terorisme Timur Tengah, khsusnya ISIS sudah mulai menunjukkan eksistensinya. Beberapa peristiwa Bom Bunuh di tanah Air membenarkan argument ini, bahwa sama seperti Protestanisme dan Kapitalisme yang berjalan bak “Dua Sisi Logam”, rasa-rasanya Islamisme dan Terorisme juga hadir dewasa ini sebagai gejala sosial yang ekstrim di Indonesia.

Ketiga, Marx, pemikiran Marx tentang Alienasi atau Keterasingan juga menjadi suatu kecamata yang menarik untuk meneropong situasi gejala sosial di Indonesia. Penulis akan memimjam teori Alienasi dari Karl Marx ini untuk melihat Keteransingan masyarakat lokal di Kalimantan (Dayak) dan di Papua (Orang Asli Papua/OAP). Dua masyarakat ini, khususnya penduduk lokalnya, yakni Orang Asli Dayak dan Orang Asli Papua, kini menjadi entitas yang minoritas di negeri ini, bahkan di tanah ulayat mereka sendiri, mereka menjadi komposisi penduduk yang kian punah. Padahal kekayaan alamnya berlimpah ruah. Di sini terjadi sebuah paradoks antara keberlimpahan Sumber Daya Alam dan Kapasitas Sumber Daya Manusia, sehingga berjung pada sebuah keterasingan absolut dalam kehidupan masyarakat Asli Dayak dan Papua. Kurang lebih demikian, jika kita hendak memakai pemikiran tiga tokoh Sosiologi Dunia untuk menakar evolusi sosial dalam gejala-gejala kehidupan suatau masyarakat, seperti halnya di Indonesia. Bahwa Pemikiran ketiganya selaluh relevan jika diterapkan pada konteks masyarakat yang tepat. (*)

Daftar Pustaka:

RENWARIN BERNARDUS. Bernardus. 2022. Pengantar Sosiologi, STFT “Fajar Timur”: Abepura.

RAHO BERNARD. 2004. Sosiologi: Sebuah Pengantar, PT LEDALERO: Maumere.

SINDHUNATA019. Teori Kritis Sekolah Frankfurt, PT Gramedia Pustaka Utama: Jakarta.

HARYANTO DANY dan NUGROHADI EDWI G. 2011. Pengantar Sosiologi Dasar, PT Prestasi Pustasi: Jakarta.

)* Penulis Adalah Mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat-Teologi “Fajar Timur” Abepura-Papua.

Disiplin: Seni Menjadi Manusia Yang Manusiawi

Dok : Ist/Disiplin: Seni Menjadi Manusia Yang Manusiawi. (Siorus Degei)

*Siorus Ewanaibi Degei 

Manusia adalah makhluk yang rumit. Dikatankan rumit karena sekalipun kecil dalam tata surya manusia mampu menakhlukan tata surya itu. Kemampuan ini yang mesti dibentuk agar sesuai dengan prinsip-prinsip atau nilai-nilai hidup yang baik dan benar serta berkeutamaan. Sebab bila tidak tatanan kosmik yang teratur itu bisa kheos atau kacau (ini sedang terjadi). Atau sebaliknya tatanan kosmos itu bisa baik dan harmoni. Jadi sedari lahir manusia itu mesti dipastikan tumbuh dan berkembang dalam habitus yang baik, lantas apa habitus yang baik itu? Atau seni hidup seperti apa yang ideal untuk manusia agar tampil menjadi manusia yang manusiawi dalam masyarakat? Di sini penulis akan memaparkan peran disiplin sebagai habitus atau seni hidup yang ideal, atau pola memanusiakan manusiawi.

Disiplin Itu Apa?

Secara etimologis atau asal katanya disiplin berasal dari bahasa Latin Dicipulus atau Dicipolos yang berarti: Murid atau Pengikut. Dan diapdopsi oleh bahasa Inggris Disciple yang juga berarti sama. Menurut kamus bersar bahasa Indonesia Disipiln yang berarti: Tekun, taat, dan patuh. Jadi dapat disimpulkan bahwa disiplin berarti pengikut yang tekun, dalam arti mampu berpikir dan berkitindak sesuai dengan nilai-nilai yang baik dan benar , atau sesuai dengan ajaran dan arahan sang guru (orang tua, guru, pemerimtah, daln lain-lain).

Di Rumah untuk menjadi anak yang baik seoarang anak harus patuh pada nasihat orang tua, di Sekolah murid atau siswa harus patuh pada guru, dan dalam suatu Negara warga masyarakat harus patuh pada kebijakan penguasa tertentu. Semua kepatuhan ini harus dilakukan dengan tekun dan terus-menerus hinggah menjadi habitus atau kebiasaan: bagaian dari diri dan hidup orang tersebut.

Apa (Siapakah) Itu Manusia?

Secara umum manusia adalah makhluk berakal budi, berkehendak bebas, dan punya kebebasan. Tiga aspek inilah yang membedakan manusia dengan makhluk hidup lainnya. Manusia menjadi tema kajian hampir semua ilmu pengetahuan, berikut beberapa pandangan terpopuler seputar siapakah itu manusia?

Pertama, Aristoteles, filsuf Yunani Klasik, mengatakan bahwa manusia atau masyarakat itu adalah binatang yang berakal budi, Zoon Politikon, (https://id.wikipedia.org/wiki/Zoon_Politikon, 04/04/2023).

Kedua, Van Riestchoten, seorang insinyur pertambangan, terkenal dengan temuan Homo Sapiens, mahluk cerdas pada tahun 1889 di wilayah Wajak Tulungagung di lembah Sungai Brantas, Jawa Timur, (https://katadata.co.id/amp/sitinuraeni/berita/61ea1b22a2eb0/mengenal-homo-sapiens-lengkap-dengan-ciri-cirinya, 04/04/2023).

Ketiga, Yuval Noah Harari mencetuskan Homo Deus dalam buku betseller-nya yang berjudul Homo Deus: Masa Depan Umat Manusia (2015). Homo Deus yang diambil dari kata “homo”, artinya sapiens atau manusia modern, kemudian kata “deus” yang diambil dari bahasa latin yang artinya maha kuasa. Homo Deus berarti Mahkluk Yang Mahakuasa, Manusia ‘semi tuhan’ katakanlah demikian, (https://id.wikipedia.org/wiki/Homo_Deus:_Masa_Depan_Umat_Manusia, 04/04/2023).

Keempat, Giorgio Agamben, filsuf politik asal Italia, mencetuskan istilah Homo Sacer, secara politis homo sacer mereka yang termarjinalkan dalam tatanan politik. Hidup homo sacer menggantung di antara hidup politik dan hidup natural. Para homo sacer ini pun diproduksi oleh kedaulatan lewat penetapan keadaan darurat. Agamben menyebut situasi pemunculan homo sacer ini kamp konsentrasi, (http://librarystftws.org/perpus/index.php?, Konsep Homo Sacer Dalam Filsafat Politik Giorgio Agamben, 04/04/2023).

Kelima, Budi F. Hardiman, filsuf asal Indonesia, baru-baru ini mencetuskan istilah Homo Digitalis, Mahkluk Digital, istilah itu tersadur dari buku filsafatnya yang baru dengan judul Aku Klik Maka Aku Ada: Manusia Dalam Revolusi Industri (2021), (https://www.kompas.id/baca/opini/2018/03/01/homo-digitalis, 04/04/2023).

Kurang lebih demikian beberapa pandangan terkait apa itu manusia? Atau siapakah itu manusia? Tentunya bukan lima pandangan di atas itu saja. Seperti yang kita ketahui bersama bahwasanya setiap pemikiran, cendekiawan dan kaum intelektual lainnya bisa melahirkan definisi dan deskripsinya masing-masing, ada yang mengatakan manusia itu adalah mahluk sejarah atau Homo Historia, ada juga yang mengatakan bahwa manusia itu Mahluk Komunikasi, dan lain sebagainya berdasarkan background inteligensianya masing-masing, namun hemat penulis lima pandangan para pakar di atas itu sudah cukup representatif untuk melukiskan apa itu manusia itu secara evolusif.

Kembali lagi pada Hobbes di atas bahwa akan sangat celaka dan banyak mengundang petaka bila ketiga aspek fundamental, yakni Akal Budi, Hati Nurani dan Kehendak Bebas di atas tidak diolah dan dibentuk dengan baik dan benar, mama manusia akan menjadi pemangsa bagi sesamanya Homo hominis lupus sebagaimana narasi filosofis Thomas Hobbes, Filsuf politik berkebangsaan Inggris. Tetapi biala pengolahan dan pembentukakan itu berjalan baik, maka manusia akan menjadi kawan atau sahabta bagi sesamanya Homo hominis socius sebagaimana tukilan filosofis Romo Nicolaus Driyarkara. Denagan kedisiplinan hidup yang ketat hal ini rasanya tidak mustahil.

Jadi kedisiplinan itu sangat penting dan punya peran penting dalam merestorasi atau membaharui kepribadian manusia sejak lahir hinggah akhir hayat. Agar menjadi manusia yang manusiawi dalam arti mampu berpikir logis, menulis secara objektif, dan bertindak secara etis dalam hidup nyata.

Disiplin Sebagai Seni Humanisasi

Homo homini lupus (Hobbes) dan homo homini socius (Driyarkara) adalah dua keniscayaan yang sudah siap menanti manusia sebagai karakter, kepribadian, dan kebiasaan hidup. Objek keduanya tidak lain dan tidak bukan ialah manusia. Maka di sinila kedosipilinan itu berandil sebagai jalan menuju homo homini soscius atau manusia sebagai shabat bagi sesamanya.

Misalnya supaya tidak menjadi pribadi yang egois, tamak, dan individual, serta memandang sesame sebagai musuh atau lawan orang tua dapat mengajarkan anak tentang nilai-nilai hidup bersama yang harmoni: kasih, peka, kompak , gotong-royong, cinta alam, dan lain sebagainya. Orang tua sebaiknya menjadi teladan hidup bersama yang damai dan harmoni sehingah anak mudah mengikuti. Para guru di Sekolah harus memastikan bahwa para siswa didik tidak saja pintar di dalam kelas tetapi solider di rumah. Pemerintah harus memastikan hak dan kewajiban warga Negara berjalan seimbang tanpa diskriminasi dan harmoni. Dengan begini kedisiplinan benar-benar menjadi proses humanisasi yang ideal, bila tidak propses dehumanisasilah yang sedang terjadi dan menunggu masa panenanya.

Dapat disimpulkan bahwa untuk mengubah keluarga, masyarakat, bahkan dunia manusialah yang harus terlebih dahulu diubah. dan untuk mengubah habitus mansia itu kedisiplinan menjadui indikator utamanya. Dengan kedisiplinan habitus manusia ideal yang diinginkasn bersama diperoleh dan habitus manusia kerdil yang dihawatirkan musnah. Intinya, manusia akan menjadi lebih manusiawi jika kedisiplinan menjadi orang tua, guru, dan penguasa atas manusia itu sendiri selama hidupnya. (*)

)* Penulis Adalah Mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat-Teologi “Fajar Timur” Abepura-Papua.

Dialog, Gereja, dan Masyarakat Papua

 

Dok: Ist/ Jejak Narasi Menjadi Gereja Papua. (Siorus Degei)

*Siorus Ewanaibi Degei 

Pada tulisan ini kita akan bersama-sama bernostalgia ke sedikita alam sejarah guna melihat dan merefleksikan bersama kira-kira apa saja yang sudah terjadi pada masa lalu, bagaimana pengalaman masa lalu itu kita rajut menjadi bekal, visi dan misi yang orisinil, realistis dan gemilang bagi masa kini dan masa depan. Akan dipaparkan tiga poin, yakni Dialog, Gereja dan Masyarakat Papua. Kita mau memahami bersama bagaimana masyarakat Papua itu merespons dunia luar, dalam hal ini agama-agama luar yang datang dan masuk ke dalam masyarakat. Hal ikwal yang akan kita telisik adalah proses dialog yang terus terjadi antara dua kebudayaan yang saling bertemu, berkenalan, mengenal, mencintai dan mengembangkan.

Apa Itu Dialog?

Secara sederhana Dialog dipahami sebagai sebuah proses percakapan atau pembicaraan di mana ada satu dua orang yang saling berinteraksi, berelasi dan berkomunikasi. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), dialog adalah sebuah proses percakapan. Berdialog berarti bertukar pikiran tentang suatu pokok persoalan atau permasalahan yang selalu mengitari dan mengunturi kehidupan manusia. Namun apa hanya seperti dan sebatas itu pengertian dialog? 

Jika kita terobos ke dalam alam sejarah pemikiran kuno, maka kita akan berkenalan dengan seorang filsuf yang menggunakan dialog sebagai metode berfilsafatnya, yakni Sokrates (470-399 SM), guru dari Plato. Dialog paling kurang persis seperti apa yang dilakukan oleh Sokrates di Pasar Agora dan seantero imperium Atehna (Yunani) 2052 tahun silam. Filsuf tersohor Yunani kuno yang lahir pada 470 tahun SM ini selalu mengadakan diskusi bersama para politisi, seniman, sastrawan, pedagan, kaum muda, para sofistis dan rakyat jelata untuk membahas suatu fenomena sosial atau isu menarik tertentu yang dialami bersama dan dicari pemahaman bersama demi mencapai kebaikan bersama, itulah kebenaran objektif dan rasional. Bagi Sokrates, kebenaran itu bukan milik seseorang, sekelompok, atau sebagainya. Tetapi merupakan buah dari pencarian bersama dalam sebuah diskusi atau musyawara, (Mauludi, 2018; 2-5).

Walau diakui sebagai orang paling cerdas di Yunani kala itu, rupanya Socrates menampik bersih nubuat itu, ia malah berkata “Pengetahuanku adalah Ketidaktahuanku”. Socrates, tidak hadir dalam proses dialog atau diskusi publik itu sebagai seroang filsuf yang hebat, tetapi ia hadir polos dengan ragam perntayaan bak seorang anak kecil yang tidak tahu apa-apa dan ingin tahu apa-apa. Kelebihannya dalam setiap diskusi atau dialog adalah bahwa ia tahu apa yang gerangan bersemayam dalam budi lawan bicaranya. Ia hadir bukan sebagai orang yang mendikte lahirnya sebuah kebenaran, melainkan sebagai fasilitator, mediator, atau katalitasator daripada proses pencarian kebenaran itu, ia lebih tampil layaknya seorang Bindan yang membantu masyarkat atau siapa saja yang ia jumpai dalam proses persalinan kebenaran. Metode Filsafatnya terinspirasi dari ibu kandungnya yang adalah seorang Bidan. 

Kurang lebih demikian pengertian dialog. Bahwa dialog itu sebuh metode berfilsafat, yang kemudian akan diradikalkan oleh Hegel dengan metode filsafatnya yang ia sebut sebagai Dialektika. Dalam kepentingan penulisan ini, makna dialog yang akan kita petik ialah dialog sebagai sebuah metode pencaharian/penyelaman kebenaran objektif, dalam konteks perjumpaan masyarakat Papua dengan dunia luar atau Agama (Kekristenan, Gereja). Bahwa dialog yang akan kita gubris adalah dialog kebudayaaan yang bersifat mutualisme atau saling menguntungkan antara kedua belah pihak yang saling berdialog atau berdialektika.

Apa Itu Gereja?

Perluh diketengahkan bahwa makna Gereja yang mau didefinisikan di sini adalah Gereja sebagai kumpulan umat beriman sebagaimana paradigma Konsili Vatikan II, bukan gereja yang dalam artian bangunan melulu sebagaimana paradigma pra Konsili Vatikan II.

Secara etimologis Gereja berasala dari Bahasa Yunani “eklēsia”, secara harfiah berarti “yang dipanggil keluar” atau “yang dipanggil maju ke depan”, dan populernya digunakan untuk menyifatkan sekelompok orang yang dipanggil berhimpun untuk melakukan sesuatu, teristimewa untuk menyifatkan rapat warga sebuah kota, misalnya di dalam nas Kisah Para Rasul 19:32-41. Kata ini adalah istilah Perjanjian Baru yang merujuk kepada Gereja (baik dalam arti jemaat lokal maupun dalam arti segenap umat beriman). Di dalam Septuaginta, kata “eklesia” digunakan sebagai padanan untuk kata Ibrani “qahal”. Sebagian besar bahasa rumpun Romawi dan rumpun Kelt menggunakan aneka ragam turunan dari kata ini, baik yang diwarisi maupun yang dipinjam dari bentuk Latinnya, ecclesia. Salah satu contohnya adalah kata “igreja” dalam bahasa Portugis, yang diserap menjadi kata “gereja” dalam bahasa Indonesia.

Secara teologis dalam buku Teologi Sistematika 2 yang ditulis oleh Dr. Nico Syukur Diester, OFM, ada dua makna teologis Gereja, yaitu Gereja sebagai Misteri dan Sakramen, kedua Gereja Sebagai Umat Allah. Gereja sebagai Misteri dan Sakramen sebenarnya mau menegaskan bahwa Gereja bukan saja bangunan peribadatan, persukutuan umat beriman, melainkan lebih dari itu Gereja adalah Misteri Ilahi yang darinya misteri keilahian Allah Trintunggal yang dimanifestasikan oleh Kristus Historis itu semakin dekat bisa dialami. Sementara konsep Gereja sebagai Umat Allah, mau menunjukkan bahwa subtansi dan esensi Gereja yang sebenarnya itu adalah orang-orang atau kumpulan umat beriman yang bersekutu dan mengimani Allah di dalamnya, (Diester, 2004; 204-207).

Pada kesempatan penulisan ini makna Gereja yang akan menjadi fokus kita adalah Gereja sebagai kumpulan orang yang beriman kepada Yesus atau sebagai Agama. Fokus kita adalah Kekristenan sebagai sebuah Agama yang datang dan hadir di tengah-tengah masyrakat asli Papua.

Siapa Itu Masyarakat Papua?

Kata ‘Papua’ sudah terkanonisasi menjadi suatu kata yang sensitif jika muncul dalam percakapan publik di Indonesia, bahkan di iklim komunitas internasional. Pasalnya, kata ‘Papua’ sangan identik dengan konflik, peperangan, permasalahan, pelanggaran HAM, eksploitasi ekologis, krisis humanis, dan lainnya. Sehingga agak sulit bagi kaum atau kawula pemula untuk mendefinisikan kata ‘Papua’ atau mendapatkan literer-literer yang secara paripurna mendefenisiakn kata ‘Papua’ secara otoritatif, otentik dan orisinil. Namun penulisan kali ini tidak bermaksud untuk mengupas tuntas fenomena dan noumena di balik kata ‘Papua’. Kursor pikiran dan pisau bedah silogisme akan banyak berfokus pada masyarakat Papua, atau orang asli Papua sebagai objek pembahasan utama dalam penulisan ini. Kita hanya akan mengenal Papua sebagai suatau entitas atau identitas bangsa, kumpulan masyarakat (Gereja).

Manusia Papua adalah manusia berakal budi, berhati nurani, memiliki kehendak, berkarakter, punya kekahasan rambut keriting, kulit hitam, terdiri dari 275 suku, Bahasa, dan adat istiadat. Mereka sangat berbeda dengan orang Jawa, Sulawesi, Sumatra, Kalimantan, Maluku, NTT dan lainnya. Ini adalah soal identitas bukan rasnya, rambutnya hampir mirip dan lainnya tetapi bahwa mereka benar-benar berbeda sampai akhir hayat. Untuk itu orang Papua memiliki sejarah, budaya, Bahasa, suku, Agama Lokal, adat istiadat dan lainnya sangat berbeda sebagai bentuk identitas dirinya.

Identitas merupakan cici-ciri atau sifat-sifat keadaan khusus seseorang yang menunjukkan jati diri. Jati diri menggambarkan identitas sebagai mahkluk hidup. Identitas juga sebagai kesejatian orang Papua bukan mencari-cari sesuatu yang tidak ada, yang hampir mirip, tetapi yang sudah ada (Being), bukan juga yang tidak ada (nihil), tetapi yang ada. Ada pada orang Papua sejak ia diciptakan oleh Allah. Orang asli Papua adalah orang-orang yang tinggal dan hidup di atas Tanah Papua yang memiliki sejarah, memiliki leluhur, memiliki alam, memiliki jati diri sebagai manusia sejati, memiliki ciri-ciri khas yang jelas dan semua yang ada pada pribadi orang Papua bukan yang di luar darinya. Identitas sebagai kesejatian orang Papua adalah pribadi yang baik, harmonis dengan dirinya, dengan sesamanya, dengan alamnya, dengan leluhurnya, dan dengan Penciptanya yang ada dalam kepercayaan-kepercayaan orang asli Papua bukan yang diajarkan oleh Agama luar yang datang ke PPapua, (Alua; 2004; 24-34). Karena Pencipta itu bagi orang Papua itu sudah ada dan hidup, makan dan minum bersama-sama dengan mereka dalam setiap budaya orang Papua, sehingga mereka merindukan dan mengharapkan pribadi Pencipta itu yaitu Sang Penyelamat untuk membawah keluar dari segala kekerasan, pelanggaran HAM, Rasisme, kemiskinan, sakit-penyakit (HIV/AIDS), diskirminasi, peperangan, penindasan, singkatnya penjajahan.

Agama Bertemu Dengan Masyarakat Papua

Agus Alue Alua (Alm), Mantan Ketua Sekolah STFT Fajar Timur dan Mantan Ketua MRP Pertama dalam Bukunya yang berjudul Papua Barat Dari Pangkuan ke Pangkuan secara kronologis-historis menjelaskan sejarah perbadan bangsa Papua mulai dari Kontak Dunia Luar dengan Tanah Papua (Abad 13-1453-1890), Usaha-usaha Kolonisasi Belanda Atas Papua Barat (1871-1944), Usaha-usaha Kemerdekaan Papua Barat (1961), Aneksasi Kemerdekaan Papua (1962-1963), Kekuasaan dan Rekayasa PEPERA (1963-1969), dan Pembahasan PEPERA (1969-1973), (Alua, 2000; viii-ix).

Terkait kontak Agama-Agama Lokal mungkin dimulai pada tanggal 5 Februari 1855 di mana penginjil Zending Jerman yang pertama Ottow dan Geisler menginjak kakinya di atas Tanah Papua, tepatnya di Pualau Mansinam (Manokwari). Hari bersejarah itu hingga kini dikenang sebagai Hari Masuknya Injil di Tanah Papua, juga menjadi suatu legitimasi teologis kontekstual Papua Sebagai Tanah Injil, sebab Papua pertama kali bukan disentuh oleh senjata, uang, atau hal duniawi lainnya, melainkan pertama-tama diberkati atau ditahbis oleh Injil. Sehingga Pastor John Bunay Projo dalam berbagai kesempatan khotba atau ceramahnya selalu mengakatan bahwa “Papua Itu Injil dan Injil Itu Papua”. Menurut tradisi GKRI Irian Jaya, ketika menginjak kaki pertama kali di Mansinam keuda penginjil Zending itu mengucapkan kata-kata “Dalam Nama Yesus kami membaptis negeri ini dengan penduduknya”. Mereka berangkat dari Ternate tanggal 10 Januari 1955 ditemani oleh seorang anak 12 tahaun bernama Fritz, anak seorang guru. Mereka menumpang Kapal Fabritus, milik saudara bernama Dauivenbode. Namun tidak lama kemudiaan setelah 6,5 tahun berakrya, pada tanggal 9 Novemebr 186 Ottow meninggal dunia di Kwawi (Manokwari) dan dikuburkan di sana di depan rumah yang dibangunnya sendiri sedangakn Geisler masih terus bekerja di Mansinam bersama istrinya, (Alua; 2000; 6).

Pada 22 Mei 1894 Pater Le Cocq pertama kali menginjakkan kakinya di tanah Papua dan kepalnya mendarat di Kampung Sekeru, di Semenanjung Fakfak. Hari pertama ia sudah membaptis 65 anak. Kedatangannya disambut oleh warga kampung bernama Dunari Samai dan Umar Halatan Serkansa yang saat itu sudah memeluk agama Islam. Orang Kampung Sakeru memeluk agama Islam karena pengaruh pendatang dari Tidore dan Ternate serta pedagan dari Arab yang mencari rempah-rempah. Kampung Sakeru juga menjadi Gudang Pala dan pintu masuk para pedagang. Pater Le Cocq diterima dengan baik dan menginap di rumah Dunari Samai. Pater Le Cocq mendapat info dari Dunari Samai bahwa di sebelah Timur Kampung Sakeru (Kampung Torea saat ini) masih ada orang-orang yang belum memiliki kepercayaan. 

Diantara 73 orang yang dibaptis pertama kali, adalah Kodia Homba-Homba setelah dibaptis menjadi Markus Homba-Homba, Moses Sembilan Homba-Homba, Agustinus Turimondop dan Ngah Nga Made (Herman). Pada Juni 1894 Pater Le Cocq kembali ke Bomfia dan berpikir lebih baik tinggal di Pantai Papua dan dari sana sewaktu-waktu melayani umatnya di Pulau Seram, Bomfia. Ketika ditinggalkan, mereka yang baru dibaptis tinggal dan mempertahankan ajaran yang mereka terima bahkan ada dari mereka yang berpindah ajaran (Agama). Hal ini disebabkan tidak ada imam untuk melayani mereka.

Akhir tahun 1895, Stasi Kapaur dikunjungi Pater Julius Keijzer, Superior Misi Serikat Jesus di Indonesia. Karena melihat kondisi Pater Le Cocq yang kurus dan lemah, Pater Le Cocq mau diajak ke Jawa untuk memulihkan kesehatannya tetapi ditolak. Sebelum Pater yang menggantikan, Pater Le Cocq tidak akan pergi. Kesempatan kunjungan itu digunakan Pater Le Cocq untuk meminta ijin untuk mengadakan pelayaran guna mencari tempat yang lebih padat dan iklim yang lebih bagus untuk karya penginjilan. Tujuannya adalah Pantai Timur sampai titik 138 atau 139 derajat. Pater Le Cocq berangkat dari Pulau Bone, Kapaur dengan Kapal AL Bahanasa dengan Kapten Pieter Salomon. 

Pertengahan Mei 1896, Pater Le Cocq bersama seorang penerjemah dan seorang pedagan tiba di depan Pantai Mimika (Kipia, Mimika Barat) pada bujur timur 135 derajat 45 menit. Untuk sampai di darat mereka menumpang Sekoci. Di sekitar muara Sungai Tawuka terdapat 13 pemukiman yang dihuni tiga sampai empat ribu penduduk. Pater Le Cocq tinggal di Pantai selama 13 hari dengan mengobati orang disana dan mengajar dengan bantuan penerjemah. Pada 26 Mei 1896 barang-barang sudah dimasukkan ke kapal kerena sudah tiba waktunya untuk kembali.

Pada 27 Mei 1896, Pater Le Cocq yang sudah diatas kapal kembali untuk melunasi barang dan juga menjemput anak-anak yang akan dibawa ke Kapaur. Dengan susah payah Sekoci sampai juga di darat. Pada 27 Mei 1896 sore menjelang malam Pater Le Cocq berpamitan untuk kembali ke kapal. Karena ombak yang semakin besar, Sekoci terombang-ambing dan akhirnya terguling ke laut. Masih ada yang melihat Pater Le Cocq berusaha kembali ke Pantai bersama seorang akan di pelukannya, tetapi setiba di darat Pater Le Cocq tidak terlihat dan ketika ditanya anak itu hanya ke laut. Beberapa penduduk mulai mencari di pinggir-pinggir pantai dan juga mendayung siang malam tetapi jenasah Pater Le Cocq tidak ditemukan juga, (Kira, 2018; 41-61).

Gereja Berkenalan Dengan Masyarakat Papua

Setelah Agama Luar, dalam hal ini Agama Kristen baik Zending maupun Misi sudah datang, tiba dan mulai berkarya di Papua sudah barang tentu keduanya akan bertemu pandang atau berpapasan langsung dengan masyarakat lokal, masyarakat pribumi atau penduduk asli setempat. Di tengah fenomena perjumpaan dua entitas eksistensi tapi juga esensi yang beraneka ragam itu kira-kira apa atau bagaimana respons para misionaris perintis dan sebaliknya orang asli Papua sebagai penduduk lokal? Kita akan menakar respons kedua bela pihak dengan menggunakan dua tendensi, yakni tendensi atau implikasi positif dan tendensi implikasi negatif.

Pertama, Kesan Positif. Jika kita mempelajari Agama-Agama Suku di Melanesia, kita akan berkenalan dengan sebuah istilah antropolgis religi, yakni Cargo Cult atau Kargoisme. Kargoisme berasal dari Bahasa Inggis Cargo atau garasi, sebuah tempat untuk menyimpan barang di Peswat terbang. Kargo ini identik dengan barang baru atau barang bawaan yang banyak dan coraknya tidak lazim. Hampir semua agama lokal mengenal konsep teologis Mesianik atau Raja/Ratu Adil. Konsep ini agak serupa dengan konsep Eskatologis dalam teologi Kristiani, khsusnya dalam Dogma Katolik, (https://jubi.id/opini/2023/kargoisme-dan-harapan-akan-masa-depan-oap-3-3/, diakses pada Selasa, 04 Maret 2023, Pkl. 20:45 WIT).

Yang mau penulis katakan di sini dengan mengankat paradigma Agama Lokal orang asli Papua ini adalah bahwa ketika melihat para misionaris datang dan membawah Agama Kristiani sebagai budaya baru dan atau agama baru mayoritas orang asli Papua yang notabene dalam kebudayaannya ada kepercyaan Kargoisme mereka menerima Kabar Sukacita Injil itu dengan penuh sukacita. Bahwa mereka tidak menolak sebab Injil yang dibawah oleh Agama Kristen itu tidak begitu beda jauh dengan konsep kepercayaan yang sudah eksis dalam Rahim kebudayaan mereka, sehingga respons yang mereka berihkan pula sangat kooperatif, positif, dan aktif partisipatif.

Di pihak para misionaris perintis, hal positif yang mereka alami bahwa mereka tidak begitu mengalami kewalahan ketika hendak menyelamkan nilai-nilai injil atau firman Tuhan ke dalam tulang-tulang dan anggota tubuh masyarakat setempat sebab sudah dari sononya nilai-nilai yang hendak mereka masukkan itu sudah ada dalam filosofi hidup, kearfian, dan mitologi, tradisi, dan adat istiadat dalam masyarakat tersebut. Sehingga sama seperti Yesus yang datang bukan untuk menghilangkan hukum taurat, melainkan hendak menyempurnakannya. Para misionaris perintis di Papua juga punya paradigma misi yang satu, sama dan setarikan nafas dengan Mis Kristus. Di mana mereka datang, tiba dan masuka dalam relung-belung tubuh kebudayaan dan mulai memasukknya nilai-nilai kritiani. Tujuan orang setempat tidak kehilangan kebudayaannya tapi tidak kalah juga dalam berimana kritiani, bahwa antara kristianitas dan lokalitas atas korelasi, relevansi dan senyawa yang setarikan nafas.

Kedua, Kesan Negatif. Hal yang kurang berafedah yang terjadi ketika Agama Moderen berpapasan dengan Agama Lokal, yaitu adanya sikap primordialisme dan superiotas Agama Moderen, dalam hal Agama Kristen atas Agama Lokal yang condong dipandang sebagai “Agama Kelas Dua”, “Minor”, “primitif”, dan ada beberapa hal ikwal yang bermuatan heretic atau bidaah sehingga halal untuk dibasmi demi kelancaraan evangelisasi dan kritianisasi. Bahwa Spritsida (Pemusnahan Mental Spritual) orang asli Papua sekaligus Etnosida (Pemusnahan kebudayaan/kearifan lokal) orang asli Papu menjadi salah satu indicator negative kehadiran Gereja. Praktek etnosida dan spiritisda yang dipelopori oleh para misionaris ini dikenal dengan istilah festish burnings movement atau Gerakan Pembakaran Jimat. Sepanjang tahun 1959 sampai 1963 sedikitnya ada 10 kali terjadi pembakaran benda-benda sakral di Ilaga oleh misionaris dari tiga Lembaga, yakni C&MA, APCM, RBMS, dan UFM, (Alua, 2005; 137).

Jika tadi adalah kesan negative dari pihak penduduka asli Papua terhadapa para misionaris, kini kesan negative terhadapa penduduk asli Papua. Dari semua kesan yang muncul, salah satu kesan yang cukup dominan adalah bahwa orang Papua itu Suka Perang. Banyak pengalamana para misionaris yang trama dengan sikap orang asli Papua yang senantiasa perang suku. Karena sikap orang asli Papua yang suka perang suku, marga, keluarga dan wilayah, ada banyak kesan bahwa orang Papua itu jahat, orang Papua suka bunuh orang, dan lainnya. Maka beberapa misionaris yang Gugur di tempat misi Pastor Yan Smith, Pastor Le Cocq dan lainnya, sering meredar rumor bahwa mereka-mereka ini menjadi korban keganasan penduduk lokal setempat. Peristiwa berlaku jahat atau keji terhadapa para misionaris perintis ini selalu meninggalkan jejak “dosa asal” yang membutuhkan penitensi dan sakramen tobat dalam “tradisi rekonsiliasi” baik secara budaya/adat maupun secara Agama, sebab mana tidak maka perbadan suku bangsa pelaku tersebut akan tetap stagnat dan tidak menglami orientasi perbadan yang berarti. Sebab di satu sisi orang asli Papua tidak terlepas dari kebudayaan, bahwa mereka selalu sadar sebagai subjek yang berbudaya, karenanya mereka juga tidak luput dari “rancau alam’ alias “hukum alam”, “hukum klausal” atau “hukum sebab-akibat/tabur-tuai”. Budaya adalah trem of reference atau horison paradigma yang tidak terelakkan dari eksistensi manusia Papua.

Mereka yakin bahwa musibah, malapekata atau kesialan yang mereka hadapi kini dan di sini itu merupakan buah atau upah daripada dosa asal atau kesalahan terdahulu yang sudah dibuat oleh para pendahulu atau leluhur mereka. Sehingga tidak heran juga bahwa di beberapa daerah yang notabene berkontak lebih dulu dengan para misionaris perintis, namun karena satu dan lain hal yang menganjal dan ganjil, sehingga secara tidak langsung membuat perabadan suku bangsa di dareha tersebut mengalami stagnasi dan perkembangan yang sangat lamban. Sementara daerah yang meskipun baru berkontak dengan dunia luar, dalam hal ini para misionaris perintis dan seperangkat karya misinya melangalmi kemajuan perabadan yang lebih pesat.

Mencintai dan Mengembangkan Masyarakat Papua

“Tak kenal maka tak sayang, dikenal maka disayang” demikian adagium yang senantiasa kita dengar atau barangkali kita sebutkan sehari-hari. Adagium tersebut senantiasa menjadi penghiasa dalam proses perkenalan pertama. Orang senantiasa membuka ajang perkenalan dengan menyeletuh petapatah tersebuh. Hal ikwal yang mau diketengahkan dalam pepatah perkenalan itu adalah pentingnya sebuah pengenalan yang dalam guna mencintai sesuatu yang dikenal itu. Bahwa tanpa mengenal mustahil terbesit benih cinta kasih.

Kita sudah melihat bersama bahwa para misionaris sudah datang, tiba, bertemu dan mengenal orang, tanah, alam, dan budaya Papua. Apakah sudah tersebesit rasa cinta dalam sanubari para misionaris perintis sebagamana pepatah perkenalan di atas? Yang jelas mayoritas misionaris yang berkarya awal-awal di bumi cendewasih punya hati dan jiwa yang besar bagi bangsa dan tanah Papua. Kita sebut saja Rasul-Rasul Papua seperti Pedenta Izaak Samuel Kijne, Pastor Le Cocq, Pastor Tillemans (yang nanti menjadi Uskup Keuskupan Aguns Merauke) dan lainnya. Mereka-mereka itu datang ke Papua dengan bermodalkan iman, cinta, kasih, dan harapan yang bulat dan kuat kepada Yesus Kristus. Mereka tidak pikir banyak-banyak dalam bermisi, pikiran mereka sangat singkat, dalam artian mereka menjadi lascar Yesus Kristus di medan misi secara total dan loyal puritan

Puji Tuhan sebab di tengah guyuran Gerakan pembakaran benda-benda sakralan yang memanifestasikan praktek etnosida dan spiritsida dengan dalil evangelisasi dan kristenisasi, ada juga tokoh-tokoh misionaris perintis yang menaruh minat besar dalam proteksi kebudayaan dan kearifan lokal bangsa Papua. Nama-nama seperti Pastor Jan Boolars MSC, Pastor Theo Van Nunen OFM, Mgr. Alfons Sowada, dan teolog-antropolog misionaris asing lainnya tidak bisa dipungkiri, dan disangsikan akan kemegahan dan keberhargaan kiprah dan passion pengabdian pastoral antropologisnya atau evangensasi kebudayaan yang dilandasi dengan semangat Inkulturasi yang sudah mereka darmahkan bagi Gereja dan Budaya Papua.

Karya kerasulan dan kenabian di bidang proteksi kebudayaan itu tidak berhenti pada nama-nama besar tadi. Hingga detika ini pun banyak imam-imam baik Ordo maupun Diosesan yang meneruskan dan mewarisi tradisi pengkultisan keafiran lokal bangsa pribumi Papua di lintas lima Keuskupan Se-Regio Papua dan Papua Barat. Bukan saja kaum berjubah yang berandil, tampil juga banyak angtropolg, sosiolog, filsuf, dan teolog yang mendarhma bahtiknya marifat, khrisma dan talentanya hanya bagi kemuliaan nama Tuhan melalui karya-karya mutakhir yang mereka hasilakn dan jadikan persembahkan bagi wajah Gereja Papua yang semakin berkhasan, berbudaya, dan berkeutamaan injil dan kearifan.

Penegasan Senja

Agama Kristen sudah mengenal, mencintai, bahkan mengembangkan masyarakat Papua. Sehingga Gereja sudah menjadi bagian integral dari Papua itu sendiri. Gereja berwajah Papua, itu berarti Gereja mengkonkritiasai suakacita dan dukacita yang dialami oleh bukan saja manusia, melainkan alam Papua yang indah jelita ini dan leluhur bangsa Papua yang kian terasing dan terancam eksistensinya.

Hal klasik yang sulit membuat Gereja atau Agama luar berkembang pesat di Papua adalah adanya “selimut separatisme dan terorisme”. Ketika orang bicara fenomena Pendidikan di tanah Papua, maka akan dikonotasikan sebagai separatisme, jika ada yang singgung persoalan Pendidikan akan disingungkan dengan separatisme, jika ada yang bicara soal teologi, pastoral atau katese yang kontekstual di Papua maka akan disandingkan dengan separatisme. Seakan-akan separatisme sudah menjalar dan me-roh dalam semua dan atau setiapa dimensi hidupa orang asli Papua. Tidak ada elemen dasar pengangan hidupa bangsa Papua yang lolos dari rancau dan racun separatisme dan terorisme. Orang semakin sudah melihat Papua. Entah menggunakan kacama gelap maupun terang hasilnya sama saja, hanya kegelapan harapan akan terang yang nihil serta absurd.

Untuk itu supaya Agama Luar dan Dunia luar yang datang, tiba dan akan hidupa di Papua bisa bertumbuh, berkembang dan maju, maka sudah seyogianya memikirkan untuk mengembang diri dengan berupaya mengubah paradigma pengambil kebijakan untuk segera mungkin melipat “selimut separatisme dan terorisme” yang sudah berabad-abada dialasa di atas bumi Cenderwasih, sehingga yang tercium dari kata ‘Papua’ hanya itu-itu saja, seakab-akan tidak ada sesuatu yang baik yang datang dari negeri tempat matahari terbit itu.

Bahwa dialog yang intens, kondusif dan damai itu akan terjadi antara Agama dan masyarakat, Gereja dan masyrakat Papua, Agama Lokal dan Agama Moderen hanya jika kedua belah pihak mau duduk sama-sama, membuang semua perangsanka, pandangan dan sentiemn subjektif, dan interest-interest apapuan. Yang ada adalah dua entitas “Yin-Yang”, “Hitam-Putih” dan “Terang-Gelap” yang mau hidup harmoni, berdamai, bertoleransi, berbudaya, dan beriman. (*)

)* Penulis Adalah Mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat-Teologi “Fajar Timur” Abepura-Papua.

Daftar Pustaka:

MAULUDI SHARUL. 2018. Kafe Sokrates: Bijak, Kritis, dan Inspiratif Seputar Dunia dan Masrakat Digital. Jakarta: Elex Media Komputindo.

DIESTER SYUKUR NICO. 2004. Teologi Sitematika 2. Yogyakarta: PT Kanisius.

ALUA ALUE AGUS. 2004. Karakteristik Dasar Agama-Agama Melanesia. Abpura-Papua:Biro Penelitian STFT Fajar Timur.

ALUA ALUE AGUS. 2000. Papua Barat Dari Pangkuan ke Pangkuan. Abepura-Papua:Biro Penelitian STFT Fajar Timur.

ALUA ALUE AGUS. 2005. Permulaan Pekabaran Injil di Lembah Balim. Abepura: Biro Penelitian STFT Fajar Timur.

KIRA BIRU. 2018. Bergerak Menjadi Papua. Yogyakarta: PT Kanisius.

https://jubi.id/opini/2023/kargoisme-dan-harapan-akan-masa-depan-oap-1-3, diakses pada Selasa, 04 Maret 2023.