 |
| Dok : Ist/ Selpius Bobii. (Penawar Polemik, Menuju Persatuan Universal) |
*Siorus Ewanaibi Degei
Beberapa tahun belakangan ini muncul sebuah fenomena mencolok dalam pusaran panjang perjuangan Papua Merdeka.
Fenomena ini muncul dan nyaris mengegerkan beberapa orang dan organ yang selama ini konsisten memperjuangkan Papua Hak Penentuan Nasip Sendiri bangsa Papua untuk bebas, merdeka dan berdaulat dari dalam sistem kolonialisme, kapitalisme, feodalisme dan imperialisme Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Fenomena tersebut adalah Perjuangan Doa Rekonsiliasi Untuk Pemulihan Papua yang dipelopori oleh Selpius Bobii, seorang aktivis kemerdekaan Papua, mantan Tahanan Politik Papua dan tokoh kharismatik muda Papua.
Pasalnya, beberapa kali seruan doa-puasanya acapkali menyertakan pula pertanyaan-pertanyaan dari pihak internal Papua sendiri, entah itu masyarakat awam, mereka yang berkecimpung dalam sistem NKRI maupun mereka yang berekspansi di luar sistem NKRI menuntut kemerdekaan bangsa dan tanah Papua.
Banyak orang dan organ yang menjadi dilematis, skeptis bahkan apatis dengan apa yang sudah, sedang dan senantiasa digaungkan dan diperjuangkan secara konsisten oleh Selpius Bobii, namun kita juga tidak bisa menampik keniscayaan bahwa banyak orang dan organ pula yang rupanya seiya sekata dengan esensi daripada perjuangan saudara Selpius Bobii ini.
Penulis menghemat bahwa perlu untuk penulis uraikan sedikit dalam tulisan ini prihal eksistensi, esensi dan subtansi daripada Iktihar Perjuangan Doa Rekonsiliasi Pemulihan Papua yang sudah, sedang dan senantiasa diperjuangkan secara konsisten oleh Selpius Bobii ini.
Duduk Perkara
Kita semua atau sebagian besar dari kita tentu bertanya-tanya dalam nurani, kenapa Papua lama Merdeka? Kenapa kebanyakan pejuang hebat Papua Mati misterius? Kenapa doa-doa dengan atensi Papua Merdeka secara lamban dijawab Tuhan?
Kenapa sejak Aneksasi 1963 dan PEPERA 1969 Papua semacam kehilangan daya, roh dan spirit perjuangan, pergerakan dan perjuangan? Kenapa bangsa Papua sulit bersatu? Kenapa para pejuang Papua tidak bisa kebal dari virus Perpecahan?
Pertanyaan-pertanyaan ini tidak bisa terjawab habis jika paradigma dan logika yang kita gunakan untuk menjawabnya melulu hanya dialektis, saintifik, empirik, positivis dalam alam pemikiran modern lainnya.
Sebenarnya dapat, namun agak akan menambah misteri kebingungan dalam kepala dan hati kita, jika kita masih punya ‘hati’ untuk mendengarkan bisikan Alam, Leluhur dan Tuhan. Sebaliknya dan jauh lebih dalam dari itu semua, jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu membutuhkan paradigma dan logika mistis dan mesianis, mengapa?
Karena pertanyaan-pertanyaan itu secara tidak langsung menyiratkan makna dan arti yang sangat transenden mistis, itu adalah pertanyaan-pertanyaan dalam ranah iman, keyakinan dan kepercayaan yang membutuhkan respons jawaban-jawaban dalam persepektif iman, keyakinan atau kepercayaan pula.
Perlulah digarisbawahi pula jawaban-jawaban yang diberikan juga bukan dalam bentuk kata-kata, doa melulu, tetapi mesti jauh lebih daripada itu, yakni melalui sebuah praksis, tindakan nyata, sebuah transformasi gaya hidup yang konkret dan konsisten. Representasi atau manifestasi daripada jawaban-jawaban itu mesti mewujud nyata dalam karya-karya perjuangan, pergerakan dan perlawanan yang riil.
Kurang lebih sedikit banyaknya dapat kita katakan bahwa apa yang dibuat oleh Selpius Bobii beberapa tahun belakangan ini tidak lain dan tidak bukan adalah konkritisasi dari jawaban-jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mistikus di belakang fenomena perjuangan bangsa Papua yang selalu mengalami pasang surut dan atau maju-mundur, selangkah lagi kita maju, sepuluh langkah tiba-tiba kita mundur ke belakang, semuanya karena kita lupa mendengarkan suara, bisikan, masukkan, kritikan, saran, sanggahan, tanggapan, kajian, dan pergumulan daripada Alam, Leluhur dan Tuhan. Karena sekali lagi perjuangan Papua merdeka itu adalah milik bersama, entah itu manusia, alam, leluhur maupun Tuhan. Papua itu bukan nama orang, organisasi, agama, adat, lembaga, dan lainnya, Papua nama yang mengandung limpah misteri, pergumulan, masalah dan harapan dari setiap mahluk yang berada di dalamnya. Papua itu nama pulau yang di dalamnya bukan hanya ada manusia, tetapi juga alam, leluhur dan Tuhan. Tiga pihak ini mesti dilibatkan tentunya jika kita mau memperjuangkan masa depan Papua yang lebih baik.
Kita selama ini kurang lebih 60-an tahun mentok, tenggelam dan stagnan dalam suara, saran, kritikan, masukkan, sanggahan dan tanggapan-tanggapan dari melulu manusia toh, seakan-akan yang mau menikmati buah perjuangan kemerdekaan Papua itu hanya manusia toh, seakan-akan yang menjadi korban, budak, dan punah akibat praktek penjajahan NKRI, Belanda, Amerika, PBB, Roma Vatikan dan sekutunya itu hanyalah manusia Papua saja, seakan-akan alam, leluhur dan Tuhan tidak menjadi korban dalam praktek-praktek penjajahan tersebut.
Kita tidak boleh bersikap egoistis, ambisius, prestisius, Individualis, tamak, serakah, pendeknya antroposentrisme dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa dan tanah Papua, kita lupa bahwa alam di Mimika itu adalah korban penjajahan Indonesia pertama, kita lupa dengan nasip alam di Merauke, Arso, Taja Lere di Jayapura yang menjadi korban Koorporasi dan investasi kapitalis oligarki.
Memang kita sudah memperjuangkan nasib alam itu melalui aksi protes yang kita lakukan, namun sepertinya itu masih kurang, itu hanya mewakili aspirasi kita, kita tidak tahu apa yang sebenarnya didambakan oleh alam, leluhur dan Tuhan bagi kita bangsa Papua.
Kita tidak bisa mengelak bahwa alam, leluhur dan Tuhan itu tidak ada atau mereka-mereka itu tidak punya andil signifikan ketika berbicara tentang kolonialisme, kapitalisme, feodalisme dan Imperialisme NKRI dan sekutunya di bumi Papua, hanya kita manusia saja yang mampu menaklukkan rezim penjajah di Papua.
Memang keyakinan dan optimisme seperti ini kita ajungi dua jempol, namun sekali lagi, ini narasi yang imparsial, hanya sepihak dengan menggunakan perspektif manusia Papua, kita tidak tahu seperti apa kira-kira pola, konsep atau mekanisme perjuangan bangsa Papua yang mendapatkan dukungan dari alam, leluhur dan Tuhan. Kita harus dengar juga aksi protes dari alam, leluhur dan Tuhan, kira-kira apa aspirasi-aspirasi mereka demi menciptakan kemerdekaan sejati di Papua?
Kurang lebih kekurangan solidaritas yang satu itu yang kemudian dilihat oleh Selpius Bobii dan diperjuangkan olehnya melalui Jaringan Doa Rekonsiliasi Untuk Pemulihan Papua (JDRP2) yang ia bentuk. Selpius Bobii terbilang berhasil berkomunikasi dengan Alam, Leluhur dan Tuhan di Papua prihal apa kira-kira konsep dan mekanisme yang baik menuju Papua Merdeka.
Penjajah Berwajah Ganda di Papua
Kita harus tahu dan sadar bahwasanya metode penjajahan yang dilakoni Indonesia dan dunia di Papua ini berwajah ganda, di satu sisi ada wajah manusia, di sisi lainnya ada wajah iblis. Kita akan memadukan keduanya dan membahas secara gamblang dan maraton.
Wajah Iblis, ada plesetan terkait NKRI, yakni Negara Kesatuan Raja Iblis atau Negara Kerasukan Ratu Iblis atau juga Negara Kesatuan Republik Iblis. Inspirasi Soekarno membentuk negara Indonesia itu tidak lari jauh dari Ilham Kearifan Lokal Jawa Kuna, terutama pada masa keemasan kerajaan-kerajaan kuno, terutama Majapahit.
Soekarno banyak mempelajari serat-serat, naskah-naskah dan prasasti-prasasti kuno dalam bahasa sansekerta prihal ramalan Jayabaya, Sabdo Palon, dan indikator-indikator kejayaan kerajaan-kerajaan besar di Pulau Jawa seperti Majapahit, Pajajaran, Sriwijaya, Mataram dan lainnya.
Berkat pengetahuannya maka ia mampu memakai pusaka-pusaka yang dulunya digunakan oleh pemimpin-pemimpin hebat di era Jawa Kuno, Soekarno juga melakoni tradisi-tradisi Jawa Kuno untuk menjadi raja atau pemimpin yang memiliki pamor kuat untuk memimpin hingga ke puncak kejayaan, salah satunya adalah ia melakoni tradisi Kawin dengan Ratu Pantai Selatan, Nyi Roro Kidul.
Dengan bantuan para lelembut di bawah pimpinan Nyi Roro Kidul dan mahluk spiritual lainnya Soekarno mampu tampil sebagai fenomena besar kala itu dijamannya, ia sangat disenangi dan disegani oleh komunitas internasional, banyak sejarah hebat yang ia ukir dengan pamornya.
Kita jangan salah bahwa dalam rangka menjajah Papua Soekarno sudah lebih dulu mematahkan energi spiritual yang mengayomi bangsa dan tanah Papua dengan kekuatan dan kekuasaan gelap.
Tentu kita tidak asing dengan beberapa rumor mistis yang beredar bahwa sebelum menjajah Papua ada beberapa tokoh nasional Indonesia yang datang ke Papua dalam rangka operasi pemusnahan mental spiritual bangsa dan tanah Papua.
Hingga saat ini masyarakat di sekitaran Gunung Nabi Fak-Fak menyakini bahwa Soekarno pertama ke sana untuk mencuri beberapa energi, pusaka dan mahluk spritual.
Masyarakat Boven Digoel juga kebanyakan meyakini bahwa ada beberapa energi, pusaka, dan mahluk spritual yang diculik oleh beberapa tokoh nasional yang pertama diasingkan di Penjara Boven Digoel, semisal Muhammad Hatta dan kawan-kawan.
Masyarakat Suku Mee di Paniai juga sampai saat ini percaya bahwa Soekarno pernah ke dua gunung, yakni Gunung Pegaiatkimai dan Gunung Bobaigo untuk mencuri energi, pusaka dan mahluk Spritual di sana dalam rupa seorang anak gadis kecil dan Burung Perkasa.
Dan masih banyak lagi cerita-cerita serupa yang terdapat dalam masyarakat Papua. Selain oleh Soekarno dan tokoh-tokoh nasional Indonesia lainnya, ada juga tokoh-tokoh internasional lainnya, semisal para ekspedisi-ekspedis awal, perintis dan misionaris, seperti Lorenz, Cartensz, Dozy, Binjler, Wisel Meren, Ottow, Geisler, Izaak Samuel Kijne, Pastor Van Heyden SJ, Pastor Le Cocq D’armandvill SJ, Pastor Tillemans, dan lainnya.
Kita juga tidak bisa menafikan andil dan atau peran signifikan daripada aktor-aktor lokal pula, seperti tokoh-tokoh pemimpin lokal yang pertama kali berjumpa dengan para ekspedisi, misionaris, perintis dan tokoh-tokoh nasional yang kita sebutkan di atas, semisal beberapa Kepala Suku di Pantai Barat ketika bertemu dengan para pendatang dari Arab, Persia, Turki, India, Tidore, Seram, Ambon Maluku, Batavia Jawa, Belanda, Inggris, Jepang dan lainnya, demikian juga raja-raja lokal di Pantai Utara, Selatan dan Timur, serta raja-raja di pegunungan Papua seperti Meepagoo dan Lapago, para Big Man, Tonowi, Zonowi, Ap Kain dan lainnya di sana.
Aktor-aktor lokal itu punya andil besar sebagai mediator, koordinator, fasilitator dan katalisator dari pihak luar (out groups) dan pihak dalam (in groups), mereka menjadi media atau jembatan untuk mempertemukan kedua kubuh itu, maka terjadilah interaksi, komunikasi, relasi, koneksi, akulturasi, Inkulturasi, integrasi, asimilasi, amalgamasi, diferensiasi, hegemoni dan lain sebagainya antara keduanya yang berujung pada sinkretisme, shock culture, stres dan depresi perabadan, krisis identitas, resesi subtansi dan eksistensi hidup, profanisme, desakraliasasi dan lainnya terhadap manusia dan budaya asli bangsa Papua sebagai modal dasar perabadannya.
Soekarno memerintahkan Perintah yang kita kenal dengan istilah Trikora. Sebagai presiden yang mampu membius bangsa baik manusia maupun para lelembut, bidadari, iblis, jin, gendruwo, kuntilanak, dan lainnya perintah Soekarno itu bukan saja dieksekusi oleh manusia-manusia pulau Jawa dan sekitarnya dalam bentuk operasi militer, mobilisasi massa, transmigrasi, dan lainnya, tetapi lebih gila daripada itu.
Perintah Trikora itu juga didengar dan dilaksanakan oleh pelbagai jenis iblis di pulau Jawa dan sekitarnya, iblis-iblis itu datang ke pulau Papua, menyerang semua energi spiritual yang mengayomi bangsa dan tanah Papua kala itu, bahkan sampai detik ini.
Iblis-iblis itu menyelinap dan merasuki tubuh dan jiwa hampir sebagian besar pasukan militer yang datang beroperasi di Papua. Kita kenal puluhan operasi militer digalang di Papua sejak orde lama hingga hari ini, dalam dimensi rohani iblis-iblis itu juga tampil melayangkan operasi-operasinya, jika dipihak manusia berwatak iblis kita kenal nama-nama purnawirawan seperti Soeharto, Ali Murtopo, Susilo Bambang Yudhoyono, Wibowo, Prabowo, Wiranto, Luhut Binsar Panjaitan, dan lainnya.
Di pihak operasi Iblis, ada nama Nyai Blorong, Panglima Perang Nyi Loro Kidul. Jadi jika dulu Panglima Perang andalan Soekarno adalah Soeharto, Ali Murtopo dan kawan-kawan maka di kalangan iblis, Panglima andalan Nyi Roro Kidul adalah Nyi Blorong.
Nyi Blorong adalah Patih di kerajaan keraton Pantai Selatan yang dipimpin oleh Nyi Loro Kidul. Ia memimpin hampir sebagian besar lelembut, bidadari, jin, iblis dan lainnya di pulau Jawa dan sekitarnya, ia selalu ada di belakang raja-raja Jawa Kuno yang tampil perkasa dan mencapai puncak keemasan atau kejayaan, andilnya sangat besar dalam perabadan kerajaan Sriwijaya, Majapahit, Mataram Islam, Demak dan lainnya.
Soekarno sangat paham tradisi dan energi spiritual yang satu ini sebagai orang Jawa tulen dan puritan, sehingga tidak salah dan amatlah benar bahwa demi kejayaan Indonesia, Soekarno bersedia menjadi Abdi Nyi Loro Kidul dan Nyi Blorong yang tulen.
Bukan saja Soekarno tapi hampir sebagian besar pemimpin negara setelahnya menjadikan ini sebagai tradisi wajibnya, sehingga jangan heran jika yang bisa menjadi presiden dan pemimpin tertinggi di negara ini dari dulu sampai sekarang hanyalah mereka yang notabene orang Jawa tulen, penganut kejawen garis keras maupun halus, beragama Islam rintisan para Walisongo, sementara mereka yang orang Jawa tulen, beragama Islam di luar aliran para Walisongo seperti Gusdur dan Habibie serta lainnya jangan bermimpi untuk menjadi presiden, apalagi mereka yang masih menyakini ramalan-ramalana Sabdo Palon Naya Genggong, sosok penghuni ulung pulau Jawa.
Sabda Palon Naya Genggong adalah leluhur bangsa Jawa Kuno yang hemat penulis baik, berwibawa, sakti mandraguna, dan pengayom sejati pulau Jawa yang bersemayam di Gunung Tidar.
Beda dengan Nyi Roro Kidul dan Nyi Blorong yang bersemayam di Pantai Selatan, Sabdo Palon adalah sosok yang baik, penuh hikmah kebijaksanaan, berbudi pekerti yang luhur dan berakhlak mulia.
Penulis melihat dan merasa penting supaya bangsa Indonesia, terutama pemimpin-pemimpinnya untuk tunduk dan kembali ke ajaran-ajaran kawurah Jawa atau Agama lokal bangsa Jawa yang bernama Kawurah Budi seraya mengamalkan baktikan kembali ajaran-ajaran serta wejangan-wejangan Sabdo Palon Naya Genggong sebagai Pemomogan dan pengayom bangsa dan tanah Jawa yang sejati yang selama ini dikucilkan secara serakah, angkuh dan tamak oleh Nyai Roro Kidul, Nyi Blorong dan Agama Islam rintisan para Walisongo.
Kita harus tahu dan sadar bahwa Papua dijajah bukan saja oleh kekuatan dan kekuasaan manusiawi, melainkan lebih daripada itu Papua juga dijajah dengan menggunakan kekuatan dan kekuasaan gelap, iblis. Maka implikasi dan konsekuensi resolusi logisnya adalah melawan kedua sistem itu dengan mekanismenya masing-masing, untuk rezim manusiawi kita sudah punya banyak perangkat untuk melawannya bahkan solidaritas dari beberapa komunitas asing juga senantiasa membantu kita. Namun untuk menumbangkan rezim iblis di Papua sepertinya kita belum punya cukup perangkat atau senjata yang tepat untuk melawannya, kita semua lengah di bagian ini.
Kurang lebih demikian energi spiritual gelap yang selama ini melilit bangsa dan tanah Papua bahkan seluruh mahluk spritual baik yang ada di dalamnya.
Para leluhur bangsa dan tanah Papua juga sepertinya tidak bisa melakukan banyak hal karena memang kuasa gelap yang melilit tanah ini begitu kuat, maka seperti yang sudah penulis utarakan di atas bahwa doa saja sepertinya tidak begitu ampuh, kita baru bicara tentang energi spiritual gelap yang digunakan oleh penjajah Belanda.
Kita belum bicara lagi tentang energi-energi Spritual Gelap yang digunakan oleh Belanda, Amerika, PBB, Roma Vatikan, dan negara-negara lainnya yang sejak 60-an hingga detik ini mengeksploitasi manusia dan tanah Papua secara membabi-buta, maka selain doa perlu juga puasa demi Pemulihan bangsa dan tanah Papua.
Kita harus berdoa dan berpuasa seraya Berdialog dan Berekonsiliasi mulai dengan diri sendiri, PEMULIHAN DIRI/PRIBADI, dengan sesama manusia, PEMULIHAN BERSAMA/BANGSA, terdiri dari Pemulihan dalam Keluarga, Marga, Sub-Marga, Kampung, Desa, Kabupaten, Provinsi, Wilayah Adat, dan Bangsa Papua dari Sorong-Samarai.
Pemulihan dan Alam/Ekologi, Pemulihan dengan Para Leluhur penghuni bansa Papua, dan terakhir Pemulihan dengan Tuhan bangsa Papua. Konsep dan Mekanisme Pemulihan-Pemulihan yang dilandasi dengan semangat Dialog dan Rekonsiliasi ini dapat kita jumpai dalam pelbagai Tulisan dan Seruan yang sudah, sedang dan senantiasa diperjuangkan oleh Selpius Bobii baik media cetak maupun online, terutama dalam Bukunya yang berjudul Bergulat Menuju Negara Suci Papua (2020).
Kenapa Papua Butuh Doa Rekonsiliasi?
Serangan rohani dan atau “serangan udara”, kita sebut saja “OPERASI SPIRITISIDA” (Operasi Pemusnahan Spirit, Mental, Akhlak, dan Moral) di Papua merupakan titik nadir, titik dilematis dan dikotomi subtansial dalam perjuangan Perdamaian di bumi Papua.
Banyak pejuang hebat bangsa Papua TAKHLUK dan GUGUR atas serangan udara ini. Mereka mungkin bisa selamat dari serangan jasmani, semisal serangan militer dan intelijen, meski memang banyak juga yang gugur, semisal Dr. Tommas Waningai, Arnold Ap, Teys Hiyo Eluai, Neles Tebay, Nato Gobay, Leoni Tanggahma, Yonah Wenda, Mako Tabuni, Zode Hilapok, Heni Lani, Filep Karma dan lainnya.
Selain pejuang kemanusiaan dan Kemerdekaan bangsa Papua juga kehilangan pejabat-pejabat publik di lingkungan pemerintahan yang pro rakyat kecil di Papua secara maraton. Tidak sampai di situ bangsa Papua juga kehilangan para imam, bahkan Uskup Katolik Papua yang tampil sebagai nabi yang gigih.
Namun ketika berhadapan dengan musuh rohani, seperti jin, jun, tuyul, pocong, santet, dukun, genderuwo, kuntilanak, iblis dan makhluk halus khas “Nusantara” lainnya. Para pejuang kita ini sepertinya tidak bisa berkutik apa-apa. Mereka semua gugur secara misterius. Ini sebuah fenomena mendasar di luar alam kesadaran kita yang sedang terjadi dan patut kita refleksikan bersama duduk perkaranya sebagai sebuah bangsa eksistensinya di ambang kepunahan.
Kita heran kenapa ada aktivis kemanusiaan kita yang gugur secara misterius walaupun pola hidupnya sangat rapih? Kita heran kenapa ada tokoh agama kita yang getol memperjuangkan HAM gugur secara misterius, padahal pola hidupnya sangat teratur dan sehat?
Kita bingung kenapa ada pejabat publik kita yang pro dengan rakyat kecil, miskin, lemah dan tersingkir jatuh sakit dan wafat secara fajar? Terkadang kita juga tidak habis pikir mengapa dengan begitu mudah sekali para pejuang kita yang kritis dan vokal bisa membelot, menghianat dan jatuh dalam pelukan musuh? Dan masih banyak lagi fenomena -fenomena kejanggalan mistis dalam perjuangan penegakan kebenaran, keadilan dan perdamaian di Papua.
Kita akan merasa wajar dan berpikir memang sudah konsekuensi logisnya jika terjadi kematian secara misterius di kalangan pejuang HAM kita. Kita hanya akan protes dan berdoa jika para aktivis kemanusiaan kita itu diincar, diteror, diintimidasi, dikriminalisasi dan dieksekusi oleh musuh jasmani (militer dan intelijen).
Tetapi hal ajaib yang membuat kita semua bingung bukan kapalang itu adalah ketika semuanya terjadi secara mistik. Sudah barang tentu respon jasmani, seperti protes, demonstrasi, serangan senjata dan konflik bukan menjadi solusi yang tepat untuk menanggapi persoalan dan atau problematika yang masuk dalam ranah rohaniah, wilayah iman, ruang trasenden.
Wilayah problematika mistik dan atau tirani spiritisida ini hanya bisa kita diakses dan dibumihanguskan dengan taktik, teknik dan strategi mistik pula. Musuh mistik hanya bisa dihadapi dengan senjata mistik. Roh jahat yang dilepaskan dari luar wilayah dan dalam wilayah Papua itu hanya bisa ditaklukkan dengan perisai rohani.
Perisai rohani dan atau senjata rohani yang mampu menaklukkan dan menyelesaikan problematika mistik di Papua ini salah satunya dengan berdoa dan berpuasa. Para pejuang HAM Papua dan seluru bangsa Papua harus menggunakan senjata Allah untuk mengalahkan serangan Lucifer. Para pejuang kebenaran, keadilan dan kedamaian mesti menjadi “MANUSIA DOA-PUASA”.
Bahwa para gerilyawan, penggerak sipil, dan diplomat di semua tingkatan mesti menjadikan dan membudayakan Doa-Puasa sebagai “HABITUS HIDUP”. Tuhan mesti dinomorsatukan ketimbang hal profan lainnya. Kehendak Tuhan mesti menjadi “ROAD MAP” bagi perjuangan Perdamaian di Papua.
Percaya tidak percaya, sadar tidak sadar bahwa rezim serangan lusifer di Papua akan tumbang jika semua pejuang Papua menjadi “MANUSIA DOA-PUASA”, “BANGSA DOA-PUASA”. Sebab nation yang hendak diwujudkan di Papua adalah nation yang suci, sehingga kesucian menjadi atribut penting yang harus dimiliki oleh semua pejuang yang mau memperjuangkan hak-hak dasar orang dan alam Papua.
Kesucian yang dimaksud disini adalah bukan kesucian sakral, tanpa dosa, berdimensi ilahi dan lainnya. Tetapi kesucian dalam perjuangan Papua Baru, yakni konsisten pada ideologi, murni dalam nasionalisme, tidak nego-nego dan tanpa embel-embel kolonial, murni dalam visi dan misi perjuangan, tidak bertindak curang, tidak menghianat (tidak bersikap akomodatif, permisif dan interventif terhadap kolonial, kapital dan feodal).
Jika begini maka kita tidak akan lagi melihat dan mengalami hal-hal janggal seputar kehidupan para aktivis kita. Bahwa secara berangsur-angsur mereka bisa meminimalisir dan menihilisir dampak-dampak mistik-fatal dalam karir perjuangan mereka. Mereka akan kebal problematika mistik dan skandal spiritisida.
Sekarang pertanyaannya adalah bahwa bagaimana orang Papua berdoa dan berpuasa? Siapa yang akan memfasilitasi? Kapan orang Papua harus berpuasa? Di mana orang Papua harus berpuasa? Singkatnya bagaimana mekanisme, cara, tahapan dan metode doa dan puasa yang baik dan benar bagi bangsa Papua?
Jaringan Doa Rekonsiliasi Untuk Pemulihan Papua (JDRP2) merupakan suatu Jaringan Doa yang didirikan oleh Sdr. Selpius Bobii, seorang eks tapol dan aktivis kemanusiaan di Papua.
Bersama-sama dengan Tim doanya beliau secara konsisten mendorong aksi Doa-Puasa Massal Bangsa Papua mulai dari wilayah Misol Sorong sampai Samarai-PNG. Sebab dalam beberapa penglihatan dari tim doanya, Tuhan menyatakan bahwa bukan saja bangsa dan tanah Papua Barat saja yang hendak di pulihkan, tetapi Pemulihan dari Tuhan itu mencakup juga wilayah Papua New Guninea (PNG) selama 40 hari 40 malam.
Setelah lama berlanganbuana dengan perjuangan Doa-Puasa, alhasil Bobii dan rekan-rekannya sanggup meyakinkan seluru lapisan masyarakat, denominasi Gereja dan elemen perjuangan Perdamaian Papua untuk sadar, bertobat, bersama, berdamai, bersatu dan berjuang mewujudkan Papua tanah Damai, Papua Baru melalui Doa-Puasa.
Baru-baru ini pada tanggal 31 Mei 2022 bertempat di Auditorium Universitas Cenderawasih JDRP2 bersama Aliansi Woman Group Ester mengadakan Seminar dan KKR Pemulihan Tanah Papua dengan takjuk “JENIS INI TIDAK BISA DIUSIR KECUALI DENGAN BERDOA DAN BERPUASA” serta Takjuk kecil “Melalui Seminar dan KKR Ini kita bersatu Untuk Mewujudkan Pemulihan Tanah Papua”.
Dalam penghujung Seminar, seluru peserta seminar, pemateri dan penyelenggara berkomitmen bersama untuk “Siap Lahir Baru Dalam Tuhan” Untuk Bersatu dalam doa dan puasa untuk pemulihan Papua secara massal dari Sorong sampai Samarai selama 40 hari 40 malam pada 21 Juni jam 12 siang sampai 31 Juli jam 12 siang tahun 2022. Seluru pejuang kemanusiaan di Papua dan luar Papua diharapkan untuk bisa menyukseskan agenda rekonsiliasi bangsa dan tanah Papua ini dengan penuh konsekuen.
Pentingnya Rekonsiliasi Tiga Tungku Api Perjuangan Papua
Tiga Tungku Api perjuangan bangsa Papua yang dimaksud oleh Selpius Bobii adalah Adat, Agama dan Organ Pergerakan bangsa Papua.
Kita tidak bisa menafikan bahwa kenapa Papua sulit bersatu, bersama, berdamai dan berjuang merebut kemerdekaan? Bobii melihat bahwa ada kuasa gelap yang melilit setiap orang maupun organ yang memperjuangkan nasib bangsa Papua Merdeka, kuasa gelap itu berasal baik dari di mana sosok yang berjuang itu berasal, belum ada permurnian roh sehingga Roh tersebut mudah dirasuki iblis dalam rupa kebencian, dendam, amarah, durhaka, serakah, tamak dan lainnya, Roh itu juga bisa dirasuki oleh roh baik seperti cinta, kasih, sayang, damai dan lainnya.
Kita harus sadar bahwa memang ini semua adalah dorongan manusiawi tidak ada andil unsur mistis, namun kita harus sadar pula bahwa manusia sejati itu terdiri dari Tubuh, Jiwa dan Roh, tanpa tubuh kita hanyalah hantu yang bergentayangan, tanpa jiwa hanya tubuh dan roh kita hanyalah kumpulan orang gila, hanya tubuh dan jiwa tapi tanpa roh kita hanyalah mayat-mayat hidup.
Manusia sejati itu adalah yang di dalam dirinya terjalin korelasi, paralel dan harmoni integral antara tubuh, jiwa dan roh, ketiganya teramat penting saling kait mengait dan satu paket, sehingga dalam pergolakan perjuangan bangsa ini tubuh, jiwa dan roh itu harus bersatu, maka sinilah pentingnya doa-puasa pribadi, Dialog dan Rekonsiliasi Diri, Pemulihan Jati diri serta dalam lingkup bersama lintas Adat, Agama dan Bangsa.
Pertama, Dialog dan Rekonsiliasi Damai lintas Tungku Api Adat. Papua terpolarisasi, tersegmentasi dan tersegregasi ke dalam tujuh wilayah adat meliputi Mamta, Anim Ha, Domberai, Bomberai, Saireri, Meepagoo dan Lapago.
Dari tujuh wilayah adat itu Papua juga terbagi ke Suku-suku baik suku-suku besar maupun kecil, ada juga marga dan Sub-Marga, kesemuanya itu masuk dalam satu zona ekologi budaya dalam perspektif antropologi.
Bobii merefleksikan bahwa wilayah adat itu mesti mau, jujur, berani dan percaya diri untuk duduk bersama berdialog sebagai anak bangsa yang terjajah untuk berekonsiliasi, saling mengaku salah dan dosa, melepaskan pengampunan atau permohonan, dan biarkan pengadilan Diri, Alam, Leluhur dan Tuhan yang mengadili demi terciptanya sebuah tali dan jalinan persaudaraan, kekeluargaan dan persatuan yang utuh, menyeluruh dan penuh.
Penjajah tidak pernah membeda-bedakan dalam menjajah, ia tidak mungkin menyayangi satu wilayah adat tertentu dan memusnahkan wilayah adat lainnya, kita harus tahu dan sadar bahwa selagi kita masih menyandang atribut kepapuaan, kita hanyalah budat, separatis, teroris dan pemberontak di hadapan wajah NKRI, orang Papua mau mendemonstrasikan diri sebagai pecinta NKRI Harga Mati tetapi tetap saja penjajah NKRI dan sekutunya tidak ada maka pernah menolerir itu.
Kita bisa ambil contoh dari banyak pejabat publik kita di lingkungan pemerintah yang mati secara misterius, juga pengalaman Barnabas Suebu dan Lukas Enembe yang notabene adalah perpanjangan tangan pusat di daerah Papua tapi toh tetap saja diperlakukan seperti binatang buas? Maka sudah seyogyanya ego, gensi, dan ambisi kesukuan lintas wilayah adat itu dikubur dan ego, gensi dan ambisi sebagai bangsa yang hendak merdeka itu ditonjolkan ke permukaan demi dialog, rekonsiliasi dan pemulihan menuju persatuan universal merebut kemerdekaan sejati Papua.
Kedua, Dialog dan Rekonsiliasi Damai lintas Agama. Ada tiga agama besar yang dianut oleh bangsa Papua, yakni Islam, Kristen Protestan dan Katolik. Masing-masing agama punya perbedaan yang menyolok.
Terkadang perbedaan-perbedaan itu menjadi batu sandungan bagi bangsa Papua untuk menjalin tali persahabatan, persaudaraan, kekeluargaan demi persatuan kebangsaan yang utuh, penuh dan menyeluruh, sehingga Bobii melihat dan merefleksikan bahwa untuk menuju negara suci Papua itu penting supaya agama-agama itu duduk bersama dan berdialog serta berekonsiliasi secara damai sebagai bangsa Papua yang terjajah kolonial, kapital, feodal dan Imperial NKRI, Belanda, Amerika, PBB, Roma Vatikan dan kroni-kroninya.
Penjajah tidak akan pernah membeda-bedakan dalam menjajah dan membunuh bangsa dan tanah Papua berdasarkan pertimbangan-pertimbangan keagamaan. Buktinya setiap saat pendeta-pendeta, pastor-pastor, bahkan Uskup, dan beberapa ustadz yang kritis memperjuangkan kebenaran, keadilan dan kedamaian di bumi Papua senantiasa diteror, diintimidasi, didiskriminasi, dikriminalisasi dan bahkan dieksekusi atau dieliminasi (dibunuh) secara misterius. Minimal kasus somasi Haris-Fatia bisa menjadi contoh yang baik bagaimana penjajah Indonesia itu memandang Papua dan segala sesuatu yang berkaitan dengannya.
Sehingga sekali Bobii melihat perlu sekali agar ego, gensi, ambisi, visi, misi, dan kepentingan-kepentingan agama itu diurungkan dulu sambil mengedepankan dan menjunjung tinggi semangat persamaan, persaudaraan, persatuan dan perdamaian kebangsaan dan kepapuaan dalam bingkai nasionalisme dan patriotisme yang tulen dan puritan menuju Negara Suci Papua.
Ketiga, Dialog dan Rekonsiliasi Damai lintas Organisasi Pergerakan, Perlawanan dan Perjuangan Papua Merdeka. Bobii melihat selain Adat dan Agama, Organisasi-Organisasi Perjuangan, Pergerakan dan Perlawanan Bangsa Papua itu juga perlu segera melakukan Dialog dan Rekonsiliasi Damai, Pemulihan Organisasi, baik Organisasi Kombatan Bersenjata atau Gerilyawan/i, Organisasi Sipil Masyarakat dan Organisasi Diplomasi secara internal keorganisasian maupun secara eksternal keorganisasian mencakup ketiga wadah pergerakan ini sebagai satu paket perjuangan, pergerakan dan perlawanan menuju Papua merdeka, pun pula organ-organ pergerakan yang terafiliasi dalam perjuangan bangsa Papua baik di Papua, luar Papua bahkan di luar negeri untuk duduk bersama Berdialog dan Berekonsiliasi bersama.
Penulis melihat bahwa belakangan terjadi kritik dan otokritik secara terbuka di ruang digital antara organ-organ perjuangan, pergerakan dan perlawanan bangsa Papua.
Setiap tokoh mewakili dirinya sendiri maupun organisasinya saling mengumbar narasi-narasi perpecahan, dengan saling membongkar aib, mendiskreditkan Idelogi atau paham-paham yang dibawah oleh satu organisasi, saling mengerdilkan pencapaian-pencapaian organ A dan organ B, memojokkan diri dan organisasinya sebagai pemilik Kebenaran dan kebaikan absolut dan fenomena kicauan dan kerewelan lainnya di ruang publik dan digital, hal-hal yang seharusnya habis digubris dan dibahas tuntas dalam ruang privat sebagai satu bangsa kini menjadi bahan tertawaan musuh dan dilematis rakyat awam, rakyat akar rumput baik yang pro maupun kontra Papua Merdeka jadi serba dilematis menyikapi fenomena organ dan para pejuang yang saling menyinyir, menyindir dan mencibir, kira-kira mana yang benar mana yang salah? Siapa yang benar siapa yang salah? Apa yang baik apa yang buruk? Dan lainnya.
Di tengah-tengah situasi carut-marut demikian inilah maka esensi dan subtansi daripada perjuangan doa rekonsiliasi, dialog damai dan Pemulihan yang secara vokal, getol dan loyal diperjuangkan oleh Selpius Bobii ini menjadi satu-satunya penawar mutakhir yang mampu mengembalikan fitrah dan marwah perjuangan bangsa yang dibawah oleh organisasi-organisasi yang hari-hari ini berkicau riah, risih dan rusuh di ruang publik itu agar menjadi tenang, teduh, hening, berdamai, berdoa, berdialog, berekonsiliasi dan bersatu dalam satu tujuan menuju kemerdekaan bangsa Papua yang utuh.
Air Bah Sudah Dekat, Mari Bersatu, Mari Bersatu Dalam Bahtera Doa Puasa. Firaun Dan Lusifer Neo-kolonialis, Neo-kapitalis, Dan Neo-feodalis Indonesia Dan Sekutunya Yang Mistik-Gelap Tidak Bisa Diusir Dengan Cara Lain, Kecuali Dengan Bersatu, Berdialog, Berenkonsiliasi, Berdamai, Berdoa, Dan Berpuasa Menuju Negara Suci Papua Baru. (*)
)* Penulis Adalah Mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat-Teologi Fajar Timur Abepura-Papua.