Selasa, 04 April 2023

Disiplin: Seni Menjadi Manusia Yang Manusiawi

Dok : Ist/Disiplin: Seni Menjadi Manusia Yang Manusiawi. (Siorus Degei)

*Siorus Ewanaibi Degei 

Manusia adalah makhluk yang rumit. Dikatankan rumit karena sekalipun kecil dalam tata surya manusia mampu menakhlukan tata surya itu. Kemampuan ini yang mesti dibentuk agar sesuai dengan prinsip-prinsip atau nilai-nilai hidup yang baik dan benar serta berkeutamaan. Sebab bila tidak tatanan kosmik yang teratur itu bisa kheos atau kacau (ini sedang terjadi). Atau sebaliknya tatanan kosmos itu bisa baik dan harmoni. Jadi sedari lahir manusia itu mesti dipastikan tumbuh dan berkembang dalam habitus yang baik, lantas apa habitus yang baik itu? Atau seni hidup seperti apa yang ideal untuk manusia agar tampil menjadi manusia yang manusiawi dalam masyarakat? Di sini penulis akan memaparkan peran disiplin sebagai habitus atau seni hidup yang ideal, atau pola memanusiakan manusiawi.

Disiplin Itu Apa?

Secara etimologis atau asal katanya disiplin berasal dari bahasa Latin Dicipulus atau Dicipolos yang berarti: Murid atau Pengikut. Dan diapdopsi oleh bahasa Inggris Disciple yang juga berarti sama. Menurut kamus bersar bahasa Indonesia Disipiln yang berarti: Tekun, taat, dan patuh. Jadi dapat disimpulkan bahwa disiplin berarti pengikut yang tekun, dalam arti mampu berpikir dan berkitindak sesuai dengan nilai-nilai yang baik dan benar , atau sesuai dengan ajaran dan arahan sang guru (orang tua, guru, pemerimtah, daln lain-lain).

Di Rumah untuk menjadi anak yang baik seoarang anak harus patuh pada nasihat orang tua, di Sekolah murid atau siswa harus patuh pada guru, dan dalam suatu Negara warga masyarakat harus patuh pada kebijakan penguasa tertentu. Semua kepatuhan ini harus dilakukan dengan tekun dan terus-menerus hinggah menjadi habitus atau kebiasaan: bagaian dari diri dan hidup orang tersebut.

Apa (Siapakah) Itu Manusia?

Secara umum manusia adalah makhluk berakal budi, berkehendak bebas, dan punya kebebasan. Tiga aspek inilah yang membedakan manusia dengan makhluk hidup lainnya. Manusia menjadi tema kajian hampir semua ilmu pengetahuan, berikut beberapa pandangan terpopuler seputar siapakah itu manusia?

Pertama, Aristoteles, filsuf Yunani Klasik, mengatakan bahwa manusia atau masyarakat itu adalah binatang yang berakal budi, Zoon Politikon, (https://id.wikipedia.org/wiki/Zoon_Politikon, 04/04/2023).

Kedua, Van Riestchoten, seorang insinyur pertambangan, terkenal dengan temuan Homo Sapiens, mahluk cerdas pada tahun 1889 di wilayah Wajak Tulungagung di lembah Sungai Brantas, Jawa Timur, (https://katadata.co.id/amp/sitinuraeni/berita/61ea1b22a2eb0/mengenal-homo-sapiens-lengkap-dengan-ciri-cirinya, 04/04/2023).

Ketiga, Yuval Noah Harari mencetuskan Homo Deus dalam buku betseller-nya yang berjudul Homo Deus: Masa Depan Umat Manusia (2015). Homo Deus yang diambil dari kata “homo”, artinya sapiens atau manusia modern, kemudian kata “deus” yang diambil dari bahasa latin yang artinya maha kuasa. Homo Deus berarti Mahkluk Yang Mahakuasa, Manusia ‘semi tuhan’ katakanlah demikian, (https://id.wikipedia.org/wiki/Homo_Deus:_Masa_Depan_Umat_Manusia, 04/04/2023).

Keempat, Giorgio Agamben, filsuf politik asal Italia, mencetuskan istilah Homo Sacer, secara politis homo sacer mereka yang termarjinalkan dalam tatanan politik. Hidup homo sacer menggantung di antara hidup politik dan hidup natural. Para homo sacer ini pun diproduksi oleh kedaulatan lewat penetapan keadaan darurat. Agamben menyebut situasi pemunculan homo sacer ini kamp konsentrasi, (http://librarystftws.org/perpus/index.php?, Konsep Homo Sacer Dalam Filsafat Politik Giorgio Agamben, 04/04/2023).

Kelima, Budi F. Hardiman, filsuf asal Indonesia, baru-baru ini mencetuskan istilah Homo Digitalis, Mahkluk Digital, istilah itu tersadur dari buku filsafatnya yang baru dengan judul Aku Klik Maka Aku Ada: Manusia Dalam Revolusi Industri (2021), (https://www.kompas.id/baca/opini/2018/03/01/homo-digitalis, 04/04/2023).

Kurang lebih demikian beberapa pandangan terkait apa itu manusia? Atau siapakah itu manusia? Tentunya bukan lima pandangan di atas itu saja. Seperti yang kita ketahui bersama bahwasanya setiap pemikiran, cendekiawan dan kaum intelektual lainnya bisa melahirkan definisi dan deskripsinya masing-masing, ada yang mengatakan manusia itu adalah mahluk sejarah atau Homo Historia, ada juga yang mengatakan bahwa manusia itu Mahluk Komunikasi, dan lain sebagainya berdasarkan background inteligensianya masing-masing, namun hemat penulis lima pandangan para pakar di atas itu sudah cukup representatif untuk melukiskan apa itu manusia itu secara evolusif.

Kembali lagi pada Hobbes di atas bahwa akan sangat celaka dan banyak mengundang petaka bila ketiga aspek fundamental, yakni Akal Budi, Hati Nurani dan Kehendak Bebas di atas tidak diolah dan dibentuk dengan baik dan benar, mama manusia akan menjadi pemangsa bagi sesamanya Homo hominis lupus sebagaimana narasi filosofis Thomas Hobbes, Filsuf politik berkebangsaan Inggris. Tetapi biala pengolahan dan pembentukakan itu berjalan baik, maka manusia akan menjadi kawan atau sahabta bagi sesamanya Homo hominis socius sebagaimana tukilan filosofis Romo Nicolaus Driyarkara. Denagan kedisiplinan hidup yang ketat hal ini rasanya tidak mustahil.

Jadi kedisiplinan itu sangat penting dan punya peran penting dalam merestorasi atau membaharui kepribadian manusia sejak lahir hinggah akhir hayat. Agar menjadi manusia yang manusiawi dalam arti mampu berpikir logis, menulis secara objektif, dan bertindak secara etis dalam hidup nyata.

Disiplin Sebagai Seni Humanisasi

Homo homini lupus (Hobbes) dan homo homini socius (Driyarkara) adalah dua keniscayaan yang sudah siap menanti manusia sebagai karakter, kepribadian, dan kebiasaan hidup. Objek keduanya tidak lain dan tidak bukan ialah manusia. Maka di sinila kedosipilinan itu berandil sebagai jalan menuju homo homini soscius atau manusia sebagai shabat bagi sesamanya.

Misalnya supaya tidak menjadi pribadi yang egois, tamak, dan individual, serta memandang sesame sebagai musuh atau lawan orang tua dapat mengajarkan anak tentang nilai-nilai hidup bersama yang harmoni: kasih, peka, kompak , gotong-royong, cinta alam, dan lain sebagainya. Orang tua sebaiknya menjadi teladan hidup bersama yang damai dan harmoni sehingah anak mudah mengikuti. Para guru di Sekolah harus memastikan bahwa para siswa didik tidak saja pintar di dalam kelas tetapi solider di rumah. Pemerintah harus memastikan hak dan kewajiban warga Negara berjalan seimbang tanpa diskriminasi dan harmoni. Dengan begini kedisiplinan benar-benar menjadi proses humanisasi yang ideal, bila tidak propses dehumanisasilah yang sedang terjadi dan menunggu masa panenanya.

Dapat disimpulkan bahwa untuk mengubah keluarga, masyarakat, bahkan dunia manusialah yang harus terlebih dahulu diubah. dan untuk mengubah habitus mansia itu kedisiplinan menjadui indikator utamanya. Dengan kedisiplinan habitus manusia ideal yang diinginkasn bersama diperoleh dan habitus manusia kerdil yang dihawatirkan musnah. Intinya, manusia akan menjadi lebih manusiawi jika kedisiplinan menjadi orang tua, guru, dan penguasa atas manusia itu sendiri selama hidupnya. (*)

)* Penulis Adalah Mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat-Teologi “Fajar Timur” Abepura-Papua.

Previous Post
Next Post

0 komentar: