Selasa, 04 April 2023

Dialog, Gereja, dan Masyarakat Papua

 

Dok: Ist/ Jejak Narasi Menjadi Gereja Papua. (Siorus Degei)

*Siorus Ewanaibi Degei 

Pada tulisan ini kita akan bersama-sama bernostalgia ke sedikita alam sejarah guna melihat dan merefleksikan bersama kira-kira apa saja yang sudah terjadi pada masa lalu, bagaimana pengalaman masa lalu itu kita rajut menjadi bekal, visi dan misi yang orisinil, realistis dan gemilang bagi masa kini dan masa depan. Akan dipaparkan tiga poin, yakni Dialog, Gereja dan Masyarakat Papua. Kita mau memahami bersama bagaimana masyarakat Papua itu merespons dunia luar, dalam hal ini agama-agama luar yang datang dan masuk ke dalam masyarakat. Hal ikwal yang akan kita telisik adalah proses dialog yang terus terjadi antara dua kebudayaan yang saling bertemu, berkenalan, mengenal, mencintai dan mengembangkan.

Apa Itu Dialog?

Secara sederhana Dialog dipahami sebagai sebuah proses percakapan atau pembicaraan di mana ada satu dua orang yang saling berinteraksi, berelasi dan berkomunikasi. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), dialog adalah sebuah proses percakapan. Berdialog berarti bertukar pikiran tentang suatu pokok persoalan atau permasalahan yang selalu mengitari dan mengunturi kehidupan manusia. Namun apa hanya seperti dan sebatas itu pengertian dialog? 

Jika kita terobos ke dalam alam sejarah pemikiran kuno, maka kita akan berkenalan dengan seorang filsuf yang menggunakan dialog sebagai metode berfilsafatnya, yakni Sokrates (470-399 SM), guru dari Plato. Dialog paling kurang persis seperti apa yang dilakukan oleh Sokrates di Pasar Agora dan seantero imperium Atehna (Yunani) 2052 tahun silam. Filsuf tersohor Yunani kuno yang lahir pada 470 tahun SM ini selalu mengadakan diskusi bersama para politisi, seniman, sastrawan, pedagan, kaum muda, para sofistis dan rakyat jelata untuk membahas suatu fenomena sosial atau isu menarik tertentu yang dialami bersama dan dicari pemahaman bersama demi mencapai kebaikan bersama, itulah kebenaran objektif dan rasional. Bagi Sokrates, kebenaran itu bukan milik seseorang, sekelompok, atau sebagainya. Tetapi merupakan buah dari pencarian bersama dalam sebuah diskusi atau musyawara, (Mauludi, 2018; 2-5).

Walau diakui sebagai orang paling cerdas di Yunani kala itu, rupanya Socrates menampik bersih nubuat itu, ia malah berkata “Pengetahuanku adalah Ketidaktahuanku”. Socrates, tidak hadir dalam proses dialog atau diskusi publik itu sebagai seroang filsuf yang hebat, tetapi ia hadir polos dengan ragam perntayaan bak seorang anak kecil yang tidak tahu apa-apa dan ingin tahu apa-apa. Kelebihannya dalam setiap diskusi atau dialog adalah bahwa ia tahu apa yang gerangan bersemayam dalam budi lawan bicaranya. Ia hadir bukan sebagai orang yang mendikte lahirnya sebuah kebenaran, melainkan sebagai fasilitator, mediator, atau katalitasator daripada proses pencarian kebenaran itu, ia lebih tampil layaknya seorang Bindan yang membantu masyarkat atau siapa saja yang ia jumpai dalam proses persalinan kebenaran. Metode Filsafatnya terinspirasi dari ibu kandungnya yang adalah seorang Bidan. 

Kurang lebih demikian pengertian dialog. Bahwa dialog itu sebuh metode berfilsafat, yang kemudian akan diradikalkan oleh Hegel dengan metode filsafatnya yang ia sebut sebagai Dialektika. Dalam kepentingan penulisan ini, makna dialog yang akan kita petik ialah dialog sebagai sebuah metode pencaharian/penyelaman kebenaran objektif, dalam konteks perjumpaan masyarakat Papua dengan dunia luar atau Agama (Kekristenan, Gereja). Bahwa dialog yang akan kita gubris adalah dialog kebudayaaan yang bersifat mutualisme atau saling menguntungkan antara kedua belah pihak yang saling berdialog atau berdialektika.

Apa Itu Gereja?

Perluh diketengahkan bahwa makna Gereja yang mau didefinisikan di sini adalah Gereja sebagai kumpulan umat beriman sebagaimana paradigma Konsili Vatikan II, bukan gereja yang dalam artian bangunan melulu sebagaimana paradigma pra Konsili Vatikan II.

Secara etimologis Gereja berasala dari Bahasa Yunani “eklēsia”, secara harfiah berarti “yang dipanggil keluar” atau “yang dipanggil maju ke depan”, dan populernya digunakan untuk menyifatkan sekelompok orang yang dipanggil berhimpun untuk melakukan sesuatu, teristimewa untuk menyifatkan rapat warga sebuah kota, misalnya di dalam nas Kisah Para Rasul 19:32-41. Kata ini adalah istilah Perjanjian Baru yang merujuk kepada Gereja (baik dalam arti jemaat lokal maupun dalam arti segenap umat beriman). Di dalam Septuaginta, kata “eklesia” digunakan sebagai padanan untuk kata Ibrani “qahal”. Sebagian besar bahasa rumpun Romawi dan rumpun Kelt menggunakan aneka ragam turunan dari kata ini, baik yang diwarisi maupun yang dipinjam dari bentuk Latinnya, ecclesia. Salah satu contohnya adalah kata “igreja” dalam bahasa Portugis, yang diserap menjadi kata “gereja” dalam bahasa Indonesia.

Secara teologis dalam buku Teologi Sistematika 2 yang ditulis oleh Dr. Nico Syukur Diester, OFM, ada dua makna teologis Gereja, yaitu Gereja sebagai Misteri dan Sakramen, kedua Gereja Sebagai Umat Allah. Gereja sebagai Misteri dan Sakramen sebenarnya mau menegaskan bahwa Gereja bukan saja bangunan peribadatan, persukutuan umat beriman, melainkan lebih dari itu Gereja adalah Misteri Ilahi yang darinya misteri keilahian Allah Trintunggal yang dimanifestasikan oleh Kristus Historis itu semakin dekat bisa dialami. Sementara konsep Gereja sebagai Umat Allah, mau menunjukkan bahwa subtansi dan esensi Gereja yang sebenarnya itu adalah orang-orang atau kumpulan umat beriman yang bersekutu dan mengimani Allah di dalamnya, (Diester, 2004; 204-207).

Pada kesempatan penulisan ini makna Gereja yang akan menjadi fokus kita adalah Gereja sebagai kumpulan orang yang beriman kepada Yesus atau sebagai Agama. Fokus kita adalah Kekristenan sebagai sebuah Agama yang datang dan hadir di tengah-tengah masyrakat asli Papua.

Siapa Itu Masyarakat Papua?

Kata ‘Papua’ sudah terkanonisasi menjadi suatu kata yang sensitif jika muncul dalam percakapan publik di Indonesia, bahkan di iklim komunitas internasional. Pasalnya, kata ‘Papua’ sangan identik dengan konflik, peperangan, permasalahan, pelanggaran HAM, eksploitasi ekologis, krisis humanis, dan lainnya. Sehingga agak sulit bagi kaum atau kawula pemula untuk mendefinisikan kata ‘Papua’ atau mendapatkan literer-literer yang secara paripurna mendefenisiakn kata ‘Papua’ secara otoritatif, otentik dan orisinil. Namun penulisan kali ini tidak bermaksud untuk mengupas tuntas fenomena dan noumena di balik kata ‘Papua’. Kursor pikiran dan pisau bedah silogisme akan banyak berfokus pada masyarakat Papua, atau orang asli Papua sebagai objek pembahasan utama dalam penulisan ini. Kita hanya akan mengenal Papua sebagai suatau entitas atau identitas bangsa, kumpulan masyarakat (Gereja).

Manusia Papua adalah manusia berakal budi, berhati nurani, memiliki kehendak, berkarakter, punya kekahasan rambut keriting, kulit hitam, terdiri dari 275 suku, Bahasa, dan adat istiadat. Mereka sangat berbeda dengan orang Jawa, Sulawesi, Sumatra, Kalimantan, Maluku, NTT dan lainnya. Ini adalah soal identitas bukan rasnya, rambutnya hampir mirip dan lainnya tetapi bahwa mereka benar-benar berbeda sampai akhir hayat. Untuk itu orang Papua memiliki sejarah, budaya, Bahasa, suku, Agama Lokal, adat istiadat dan lainnya sangat berbeda sebagai bentuk identitas dirinya.

Identitas merupakan cici-ciri atau sifat-sifat keadaan khusus seseorang yang menunjukkan jati diri. Jati diri menggambarkan identitas sebagai mahkluk hidup. Identitas juga sebagai kesejatian orang Papua bukan mencari-cari sesuatu yang tidak ada, yang hampir mirip, tetapi yang sudah ada (Being), bukan juga yang tidak ada (nihil), tetapi yang ada. Ada pada orang Papua sejak ia diciptakan oleh Allah. Orang asli Papua adalah orang-orang yang tinggal dan hidup di atas Tanah Papua yang memiliki sejarah, memiliki leluhur, memiliki alam, memiliki jati diri sebagai manusia sejati, memiliki ciri-ciri khas yang jelas dan semua yang ada pada pribadi orang Papua bukan yang di luar darinya. Identitas sebagai kesejatian orang Papua adalah pribadi yang baik, harmonis dengan dirinya, dengan sesamanya, dengan alamnya, dengan leluhurnya, dan dengan Penciptanya yang ada dalam kepercayaan-kepercayaan orang asli Papua bukan yang diajarkan oleh Agama luar yang datang ke PPapua, (Alua; 2004; 24-34). Karena Pencipta itu bagi orang Papua itu sudah ada dan hidup, makan dan minum bersama-sama dengan mereka dalam setiap budaya orang Papua, sehingga mereka merindukan dan mengharapkan pribadi Pencipta itu yaitu Sang Penyelamat untuk membawah keluar dari segala kekerasan, pelanggaran HAM, Rasisme, kemiskinan, sakit-penyakit (HIV/AIDS), diskirminasi, peperangan, penindasan, singkatnya penjajahan.

Agama Bertemu Dengan Masyarakat Papua

Agus Alue Alua (Alm), Mantan Ketua Sekolah STFT Fajar Timur dan Mantan Ketua MRP Pertama dalam Bukunya yang berjudul Papua Barat Dari Pangkuan ke Pangkuan secara kronologis-historis menjelaskan sejarah perbadan bangsa Papua mulai dari Kontak Dunia Luar dengan Tanah Papua (Abad 13-1453-1890), Usaha-usaha Kolonisasi Belanda Atas Papua Barat (1871-1944), Usaha-usaha Kemerdekaan Papua Barat (1961), Aneksasi Kemerdekaan Papua (1962-1963), Kekuasaan dan Rekayasa PEPERA (1963-1969), dan Pembahasan PEPERA (1969-1973), (Alua, 2000; viii-ix).

Terkait kontak Agama-Agama Lokal mungkin dimulai pada tanggal 5 Februari 1855 di mana penginjil Zending Jerman yang pertama Ottow dan Geisler menginjak kakinya di atas Tanah Papua, tepatnya di Pualau Mansinam (Manokwari). Hari bersejarah itu hingga kini dikenang sebagai Hari Masuknya Injil di Tanah Papua, juga menjadi suatu legitimasi teologis kontekstual Papua Sebagai Tanah Injil, sebab Papua pertama kali bukan disentuh oleh senjata, uang, atau hal duniawi lainnya, melainkan pertama-tama diberkati atau ditahbis oleh Injil. Sehingga Pastor John Bunay Projo dalam berbagai kesempatan khotba atau ceramahnya selalu mengakatan bahwa “Papua Itu Injil dan Injil Itu Papua”. Menurut tradisi GKRI Irian Jaya, ketika menginjak kaki pertama kali di Mansinam keuda penginjil Zending itu mengucapkan kata-kata “Dalam Nama Yesus kami membaptis negeri ini dengan penduduknya”. Mereka berangkat dari Ternate tanggal 10 Januari 1955 ditemani oleh seorang anak 12 tahaun bernama Fritz, anak seorang guru. Mereka menumpang Kapal Fabritus, milik saudara bernama Dauivenbode. Namun tidak lama kemudiaan setelah 6,5 tahun berakrya, pada tanggal 9 Novemebr 186 Ottow meninggal dunia di Kwawi (Manokwari) dan dikuburkan di sana di depan rumah yang dibangunnya sendiri sedangakn Geisler masih terus bekerja di Mansinam bersama istrinya, (Alua; 2000; 6).

Pada 22 Mei 1894 Pater Le Cocq pertama kali menginjakkan kakinya di tanah Papua dan kepalnya mendarat di Kampung Sekeru, di Semenanjung Fakfak. Hari pertama ia sudah membaptis 65 anak. Kedatangannya disambut oleh warga kampung bernama Dunari Samai dan Umar Halatan Serkansa yang saat itu sudah memeluk agama Islam. Orang Kampung Sakeru memeluk agama Islam karena pengaruh pendatang dari Tidore dan Ternate serta pedagan dari Arab yang mencari rempah-rempah. Kampung Sakeru juga menjadi Gudang Pala dan pintu masuk para pedagang. Pater Le Cocq diterima dengan baik dan menginap di rumah Dunari Samai. Pater Le Cocq mendapat info dari Dunari Samai bahwa di sebelah Timur Kampung Sakeru (Kampung Torea saat ini) masih ada orang-orang yang belum memiliki kepercayaan. 

Diantara 73 orang yang dibaptis pertama kali, adalah Kodia Homba-Homba setelah dibaptis menjadi Markus Homba-Homba, Moses Sembilan Homba-Homba, Agustinus Turimondop dan Ngah Nga Made (Herman). Pada Juni 1894 Pater Le Cocq kembali ke Bomfia dan berpikir lebih baik tinggal di Pantai Papua dan dari sana sewaktu-waktu melayani umatnya di Pulau Seram, Bomfia. Ketika ditinggalkan, mereka yang baru dibaptis tinggal dan mempertahankan ajaran yang mereka terima bahkan ada dari mereka yang berpindah ajaran (Agama). Hal ini disebabkan tidak ada imam untuk melayani mereka.

Akhir tahun 1895, Stasi Kapaur dikunjungi Pater Julius Keijzer, Superior Misi Serikat Jesus di Indonesia. Karena melihat kondisi Pater Le Cocq yang kurus dan lemah, Pater Le Cocq mau diajak ke Jawa untuk memulihkan kesehatannya tetapi ditolak. Sebelum Pater yang menggantikan, Pater Le Cocq tidak akan pergi. Kesempatan kunjungan itu digunakan Pater Le Cocq untuk meminta ijin untuk mengadakan pelayaran guna mencari tempat yang lebih padat dan iklim yang lebih bagus untuk karya penginjilan. Tujuannya adalah Pantai Timur sampai titik 138 atau 139 derajat. Pater Le Cocq berangkat dari Pulau Bone, Kapaur dengan Kapal AL Bahanasa dengan Kapten Pieter Salomon. 

Pertengahan Mei 1896, Pater Le Cocq bersama seorang penerjemah dan seorang pedagan tiba di depan Pantai Mimika (Kipia, Mimika Barat) pada bujur timur 135 derajat 45 menit. Untuk sampai di darat mereka menumpang Sekoci. Di sekitar muara Sungai Tawuka terdapat 13 pemukiman yang dihuni tiga sampai empat ribu penduduk. Pater Le Cocq tinggal di Pantai selama 13 hari dengan mengobati orang disana dan mengajar dengan bantuan penerjemah. Pada 26 Mei 1896 barang-barang sudah dimasukkan ke kapal kerena sudah tiba waktunya untuk kembali.

Pada 27 Mei 1896, Pater Le Cocq yang sudah diatas kapal kembali untuk melunasi barang dan juga menjemput anak-anak yang akan dibawa ke Kapaur. Dengan susah payah Sekoci sampai juga di darat. Pada 27 Mei 1896 sore menjelang malam Pater Le Cocq berpamitan untuk kembali ke kapal. Karena ombak yang semakin besar, Sekoci terombang-ambing dan akhirnya terguling ke laut. Masih ada yang melihat Pater Le Cocq berusaha kembali ke Pantai bersama seorang akan di pelukannya, tetapi setiba di darat Pater Le Cocq tidak terlihat dan ketika ditanya anak itu hanya ke laut. Beberapa penduduk mulai mencari di pinggir-pinggir pantai dan juga mendayung siang malam tetapi jenasah Pater Le Cocq tidak ditemukan juga, (Kira, 2018; 41-61).

Gereja Berkenalan Dengan Masyarakat Papua

Setelah Agama Luar, dalam hal ini Agama Kristen baik Zending maupun Misi sudah datang, tiba dan mulai berkarya di Papua sudah barang tentu keduanya akan bertemu pandang atau berpapasan langsung dengan masyarakat lokal, masyarakat pribumi atau penduduk asli setempat. Di tengah fenomena perjumpaan dua entitas eksistensi tapi juga esensi yang beraneka ragam itu kira-kira apa atau bagaimana respons para misionaris perintis dan sebaliknya orang asli Papua sebagai penduduk lokal? Kita akan menakar respons kedua bela pihak dengan menggunakan dua tendensi, yakni tendensi atau implikasi positif dan tendensi implikasi negatif.

Pertama, Kesan Positif. Jika kita mempelajari Agama-Agama Suku di Melanesia, kita akan berkenalan dengan sebuah istilah antropolgis religi, yakni Cargo Cult atau Kargoisme. Kargoisme berasal dari Bahasa Inggis Cargo atau garasi, sebuah tempat untuk menyimpan barang di Peswat terbang. Kargo ini identik dengan barang baru atau barang bawaan yang banyak dan coraknya tidak lazim. Hampir semua agama lokal mengenal konsep teologis Mesianik atau Raja/Ratu Adil. Konsep ini agak serupa dengan konsep Eskatologis dalam teologi Kristiani, khsusnya dalam Dogma Katolik, (https://jubi.id/opini/2023/kargoisme-dan-harapan-akan-masa-depan-oap-3-3/, diakses pada Selasa, 04 Maret 2023, Pkl. 20:45 WIT).

Yang mau penulis katakan di sini dengan mengankat paradigma Agama Lokal orang asli Papua ini adalah bahwa ketika melihat para misionaris datang dan membawah Agama Kristiani sebagai budaya baru dan atau agama baru mayoritas orang asli Papua yang notabene dalam kebudayaannya ada kepercyaan Kargoisme mereka menerima Kabar Sukacita Injil itu dengan penuh sukacita. Bahwa mereka tidak menolak sebab Injil yang dibawah oleh Agama Kristen itu tidak begitu beda jauh dengan konsep kepercayaan yang sudah eksis dalam Rahim kebudayaan mereka, sehingga respons yang mereka berihkan pula sangat kooperatif, positif, dan aktif partisipatif.

Di pihak para misionaris perintis, hal positif yang mereka alami bahwa mereka tidak begitu mengalami kewalahan ketika hendak menyelamkan nilai-nilai injil atau firman Tuhan ke dalam tulang-tulang dan anggota tubuh masyarakat setempat sebab sudah dari sononya nilai-nilai yang hendak mereka masukkan itu sudah ada dalam filosofi hidup, kearfian, dan mitologi, tradisi, dan adat istiadat dalam masyarakat tersebut. Sehingga sama seperti Yesus yang datang bukan untuk menghilangkan hukum taurat, melainkan hendak menyempurnakannya. Para misionaris perintis di Papua juga punya paradigma misi yang satu, sama dan setarikan nafas dengan Mis Kristus. Di mana mereka datang, tiba dan masuka dalam relung-belung tubuh kebudayaan dan mulai memasukknya nilai-nilai kritiani. Tujuan orang setempat tidak kehilangan kebudayaannya tapi tidak kalah juga dalam berimana kritiani, bahwa antara kristianitas dan lokalitas atas korelasi, relevansi dan senyawa yang setarikan nafas.

Kedua, Kesan Negatif. Hal yang kurang berafedah yang terjadi ketika Agama Moderen berpapasan dengan Agama Lokal, yaitu adanya sikap primordialisme dan superiotas Agama Moderen, dalam hal Agama Kristen atas Agama Lokal yang condong dipandang sebagai “Agama Kelas Dua”, “Minor”, “primitif”, dan ada beberapa hal ikwal yang bermuatan heretic atau bidaah sehingga halal untuk dibasmi demi kelancaraan evangelisasi dan kritianisasi. Bahwa Spritsida (Pemusnahan Mental Spritual) orang asli Papua sekaligus Etnosida (Pemusnahan kebudayaan/kearifan lokal) orang asli Papu menjadi salah satu indicator negative kehadiran Gereja. Praktek etnosida dan spiritisda yang dipelopori oleh para misionaris ini dikenal dengan istilah festish burnings movement atau Gerakan Pembakaran Jimat. Sepanjang tahun 1959 sampai 1963 sedikitnya ada 10 kali terjadi pembakaran benda-benda sakral di Ilaga oleh misionaris dari tiga Lembaga, yakni C&MA, APCM, RBMS, dan UFM, (Alua, 2005; 137).

Jika tadi adalah kesan negative dari pihak penduduka asli Papua terhadapa para misionaris, kini kesan negative terhadapa penduduk asli Papua. Dari semua kesan yang muncul, salah satu kesan yang cukup dominan adalah bahwa orang Papua itu Suka Perang. Banyak pengalamana para misionaris yang trama dengan sikap orang asli Papua yang senantiasa perang suku. Karena sikap orang asli Papua yang suka perang suku, marga, keluarga dan wilayah, ada banyak kesan bahwa orang Papua itu jahat, orang Papua suka bunuh orang, dan lainnya. Maka beberapa misionaris yang Gugur di tempat misi Pastor Yan Smith, Pastor Le Cocq dan lainnya, sering meredar rumor bahwa mereka-mereka ini menjadi korban keganasan penduduk lokal setempat. Peristiwa berlaku jahat atau keji terhadapa para misionaris perintis ini selalu meninggalkan jejak “dosa asal” yang membutuhkan penitensi dan sakramen tobat dalam “tradisi rekonsiliasi” baik secara budaya/adat maupun secara Agama, sebab mana tidak maka perbadan suku bangsa pelaku tersebut akan tetap stagnat dan tidak menglami orientasi perbadan yang berarti. Sebab di satu sisi orang asli Papua tidak terlepas dari kebudayaan, bahwa mereka selalu sadar sebagai subjek yang berbudaya, karenanya mereka juga tidak luput dari “rancau alam’ alias “hukum alam”, “hukum klausal” atau “hukum sebab-akibat/tabur-tuai”. Budaya adalah trem of reference atau horison paradigma yang tidak terelakkan dari eksistensi manusia Papua.

Mereka yakin bahwa musibah, malapekata atau kesialan yang mereka hadapi kini dan di sini itu merupakan buah atau upah daripada dosa asal atau kesalahan terdahulu yang sudah dibuat oleh para pendahulu atau leluhur mereka. Sehingga tidak heran juga bahwa di beberapa daerah yang notabene berkontak lebih dulu dengan para misionaris perintis, namun karena satu dan lain hal yang menganjal dan ganjil, sehingga secara tidak langsung membuat perabadan suku bangsa di dareha tersebut mengalami stagnasi dan perkembangan yang sangat lamban. Sementara daerah yang meskipun baru berkontak dengan dunia luar, dalam hal ini para misionaris perintis dan seperangkat karya misinya melangalmi kemajuan perabadan yang lebih pesat.

Mencintai dan Mengembangkan Masyarakat Papua

“Tak kenal maka tak sayang, dikenal maka disayang” demikian adagium yang senantiasa kita dengar atau barangkali kita sebutkan sehari-hari. Adagium tersebut senantiasa menjadi penghiasa dalam proses perkenalan pertama. Orang senantiasa membuka ajang perkenalan dengan menyeletuh petapatah tersebuh. Hal ikwal yang mau diketengahkan dalam pepatah perkenalan itu adalah pentingnya sebuah pengenalan yang dalam guna mencintai sesuatu yang dikenal itu. Bahwa tanpa mengenal mustahil terbesit benih cinta kasih.

Kita sudah melihat bersama bahwa para misionaris sudah datang, tiba, bertemu dan mengenal orang, tanah, alam, dan budaya Papua. Apakah sudah tersebesit rasa cinta dalam sanubari para misionaris perintis sebagamana pepatah perkenalan di atas? Yang jelas mayoritas misionaris yang berkarya awal-awal di bumi cendewasih punya hati dan jiwa yang besar bagi bangsa dan tanah Papua. Kita sebut saja Rasul-Rasul Papua seperti Pedenta Izaak Samuel Kijne, Pastor Le Cocq, Pastor Tillemans (yang nanti menjadi Uskup Keuskupan Aguns Merauke) dan lainnya. Mereka-mereka itu datang ke Papua dengan bermodalkan iman, cinta, kasih, dan harapan yang bulat dan kuat kepada Yesus Kristus. Mereka tidak pikir banyak-banyak dalam bermisi, pikiran mereka sangat singkat, dalam artian mereka menjadi lascar Yesus Kristus di medan misi secara total dan loyal puritan

Puji Tuhan sebab di tengah guyuran Gerakan pembakaran benda-benda sakralan yang memanifestasikan praktek etnosida dan spiritsida dengan dalil evangelisasi dan kristenisasi, ada juga tokoh-tokoh misionaris perintis yang menaruh minat besar dalam proteksi kebudayaan dan kearifan lokal bangsa Papua. Nama-nama seperti Pastor Jan Boolars MSC, Pastor Theo Van Nunen OFM, Mgr. Alfons Sowada, dan teolog-antropolog misionaris asing lainnya tidak bisa dipungkiri, dan disangsikan akan kemegahan dan keberhargaan kiprah dan passion pengabdian pastoral antropologisnya atau evangensasi kebudayaan yang dilandasi dengan semangat Inkulturasi yang sudah mereka darmahkan bagi Gereja dan Budaya Papua.

Karya kerasulan dan kenabian di bidang proteksi kebudayaan itu tidak berhenti pada nama-nama besar tadi. Hingga detika ini pun banyak imam-imam baik Ordo maupun Diosesan yang meneruskan dan mewarisi tradisi pengkultisan keafiran lokal bangsa pribumi Papua di lintas lima Keuskupan Se-Regio Papua dan Papua Barat. Bukan saja kaum berjubah yang berandil, tampil juga banyak angtropolg, sosiolog, filsuf, dan teolog yang mendarhma bahtiknya marifat, khrisma dan talentanya hanya bagi kemuliaan nama Tuhan melalui karya-karya mutakhir yang mereka hasilakn dan jadikan persembahkan bagi wajah Gereja Papua yang semakin berkhasan, berbudaya, dan berkeutamaan injil dan kearifan.

Penegasan Senja

Agama Kristen sudah mengenal, mencintai, bahkan mengembangkan masyarakat Papua. Sehingga Gereja sudah menjadi bagian integral dari Papua itu sendiri. Gereja berwajah Papua, itu berarti Gereja mengkonkritiasai suakacita dan dukacita yang dialami oleh bukan saja manusia, melainkan alam Papua yang indah jelita ini dan leluhur bangsa Papua yang kian terasing dan terancam eksistensinya.

Hal klasik yang sulit membuat Gereja atau Agama luar berkembang pesat di Papua adalah adanya “selimut separatisme dan terorisme”. Ketika orang bicara fenomena Pendidikan di tanah Papua, maka akan dikonotasikan sebagai separatisme, jika ada yang singgung persoalan Pendidikan akan disingungkan dengan separatisme, jika ada yang bicara soal teologi, pastoral atau katese yang kontekstual di Papua maka akan disandingkan dengan separatisme. Seakan-akan separatisme sudah menjalar dan me-roh dalam semua dan atau setiapa dimensi hidupa orang asli Papua. Tidak ada elemen dasar pengangan hidupa bangsa Papua yang lolos dari rancau dan racun separatisme dan terorisme. Orang semakin sudah melihat Papua. Entah menggunakan kacama gelap maupun terang hasilnya sama saja, hanya kegelapan harapan akan terang yang nihil serta absurd.

Untuk itu supaya Agama Luar dan Dunia luar yang datang, tiba dan akan hidupa di Papua bisa bertumbuh, berkembang dan maju, maka sudah seyogianya memikirkan untuk mengembang diri dengan berupaya mengubah paradigma pengambil kebijakan untuk segera mungkin melipat “selimut separatisme dan terorisme” yang sudah berabad-abada dialasa di atas bumi Cenderwasih, sehingga yang tercium dari kata ‘Papua’ hanya itu-itu saja, seakab-akan tidak ada sesuatu yang baik yang datang dari negeri tempat matahari terbit itu.

Bahwa dialog yang intens, kondusif dan damai itu akan terjadi antara Agama dan masyarakat, Gereja dan masyrakat Papua, Agama Lokal dan Agama Moderen hanya jika kedua belah pihak mau duduk sama-sama, membuang semua perangsanka, pandangan dan sentiemn subjektif, dan interest-interest apapuan. Yang ada adalah dua entitas “Yin-Yang”, “Hitam-Putih” dan “Terang-Gelap” yang mau hidup harmoni, berdamai, bertoleransi, berbudaya, dan beriman. (*)

)* Penulis Adalah Mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat-Teologi “Fajar Timur” Abepura-Papua.

Daftar Pustaka:

MAULUDI SHARUL. 2018. Kafe Sokrates: Bijak, Kritis, dan Inspiratif Seputar Dunia dan Masrakat Digital. Jakarta: Elex Media Komputindo.

DIESTER SYUKUR NICO. 2004. Teologi Sitematika 2. Yogyakarta: PT Kanisius.

ALUA ALUE AGUS. 2004. Karakteristik Dasar Agama-Agama Melanesia. Abpura-Papua:Biro Penelitian STFT Fajar Timur.

ALUA ALUE AGUS. 2000. Papua Barat Dari Pangkuan ke Pangkuan. Abepura-Papua:Biro Penelitian STFT Fajar Timur.

ALUA ALUE AGUS. 2005. Permulaan Pekabaran Injil di Lembah Balim. Abepura: Biro Penelitian STFT Fajar Timur.

KIRA BIRU. 2018. Bergerak Menjadi Papua. Yogyakarta: PT Kanisius.

https://jubi.id/opini/2023/kargoisme-dan-harapan-akan-masa-depan-oap-1-3, diakses pada Selasa, 04 Maret 2023.

Previous Post
Next Post

0 komentar: