![]() |
| Dok : Ist/Papua Itu “Ukauwo OAP”, “Om Daba” Jika Tak Merdeka. (Memupuk Patriotisme, Menunai Nasionalisme) |
*Siorus Degei
Setiap suku bangsa di dunia ini memiliki kearifan lokal (Local Genius) yang unik. Hal tersebut termaktub dalam kebudayaan yang berlaku turun-temurun dalam setiap suku bangsa.
Di sisi lain hal ihwal itu merupakan identitas sekaligus kekayaan yang harus hukumnya untuk dilestarikan oleh generasi penerus sebagi pewaris agar senantiasa eksis serta sulit termakan oleh arus pengaruh modernistas, globalisasi serta virus cyberisasi dan digitalisasi yang melahirkan sekularisme dan profanisme intanistis.
Maka proses regenerasi, edukasi, literasi, promosi dan sosialisasi nilai-nilai kearifan lokal melalui literasi dan edukasi wajib menjadi perhatian dan gebrakan bersama semua pihak, khususnya pihak penganut kebudayaan tersebut dengan target utamanya ialah generasi milenial .
Dari semua kearifan lokal yang eksis di tanah Papua, pandangan filosofis bahwa Bumi Sebagai Mama Yang Merahimi Hidup merupakan suatu kearifan lokal yang hidup di hampir setiap suku-suku di Papua. Semisal bagi orang Gunung, hutan adalah Mama yang senantiasa memberihkan kehidupan, hutan adalah rahim Mama karena dari sana keluar dan lahir semua kebutuhan hidup, Sandang, Pangan, Papan dan berkat lainnya.
Bagi masyarakat pesisir laut merupakan seorang Mama yang senantiasa menghidupi mereka. Masyrakat Papua Selatan, seperti Merauke, Asmat, Timika, dan sekitarnya juga meyakini bawah Sungai dan Rawa yang ada disekitarnya merupakan manifestasi dari seorang Ibu yang menjaga dan menghidupi mereka turun-temurun.
Bukan saja di Papua keyakinan filosis alam sebagai Ibu juga hidup dan ada, di beberapa daerah, seperti pada masyarakat Indian di sekitaran Amazon, bagi mereka hutan dan Sungai Amazon meruapakan sumber kehidupan atau paru-paru bagi keberlansungan kehidupan, bahkan Amazon tercatat sebagi Para-Paru dunia pertama atau Oksigen Dunia. Namun sayang 2019 silam sempat terjadi kebakaran yang cukup hebat di Amazon .
Jadi pada dasarnya secara lokal-kultural masyrakat Papua juga masyarakat dunia mengenal dan memaknai Bumi ini sebagai Rumah Bersama, sumber kehidupan, atau sebagai Mama yang menghidupi. Maka sudah sewajarnya sebagai Mama Bumi diperhatikan dan diperlakukan dengan penuh cinta kasih layaknya seorang Ibu dengan cara dihargai, dihormati dan dicintai eksistensinya.
Dalam falsafah orang West Papua Bumi selalu dipandang sebagai “Ibu” atau “Mama”. Bahwa bumi adalah seorang ibu yang tampil menghidupi setiap insan yang hidup di atasnya.
Laut dipandang sebagai ibu yang memberikan hidup dan kehidupan. Gunung dipandang sebagai Ibu yang memberikan makanan, minuman dan tempat tinggal.
Hutan menjadi Mama yang senantiasa menyediakan segala apa yang dibutuhkan oleh manusia asli West Papua mulai dari Sandang, Pangan dan Papan.
Dalam falsafah Nusantara pun bumi Indonesia acapkali dimaknai sebagai seorang ibu, yang kita kenal dengan istilah Ibu Pertiwi.
Dalam penulisan kali ini kita akan memaknai filosofi Bumi Sebagai Mama dalam terang Filsafat Bumi Sebagai Ukauwo yang eksis dalam alam pemikiran orang asli West Papua di wilayah Meepagoo. Penulis melihat bahwa Penghayatan dan Pemaknaan Spritualitas Bumi Papua sebagai Ukauwo Orang Asli Papua sebagaimana yang sudah hidup dalam rahim kebudayaan orang Mee itu bisa menjadi sumbangsih yang cukup kuat sebagai upaya pemupukan benih-benih patriotisme dan nasionalisme kepapuaan di West Papua. Namun sebelum itu kira-kira apa itu Falsafah Ukauwo?
Memahami Falsafah Ukauwo
Ukauwo secara etimologis terbagi menjadi dua subkata, yakni Uka dan Uwo. Uka berarti Busur Panah, Ibu atau Induk, sementara Uwo berarti Air. Secara general Ukauwo sering dipahami sebagai Tanah Air Ibu, atau Kampung Halaman dari Mama, Orang Tua Perempuan. Ukauwo mendapatkan tempat yang sentral dalam kehidupan setiap orang Mee. Ada banyak faktor yang menjadikan Ukauwo sebagai tempat sentral dalam kehidupan setiap orang Mee. Ada banyak nilai-nilai penting yang terkandung di balik Penghayatan dan Pemaknaan Spritualitas Ukauwo:
Pertama, Ukauwo Sebagai Simbol Harga Diri. Bagi setiap orang Mee Ukauwo adalah harga dirinya. Mereka bisa melakukan apa saja, bisa buat apa saja demi mempertahankan harkat dan martabat Ukauwo-nya. Mengapa demikian? Karena semua orang Mee sadar dan tahu bahwa ketika ada perkara atau masalah besar yang melanda mereka pasti pihak-pihak yang membelanya tidak lain dan tidak bukan adalah Mamanya, para pamannya dan keluarganya yang notabene berasal dari kampung ibu mereka. Orang Mee sangat mencintai kampung halaman ibunya sebab mereka sadar dan paham bahwa di tempat itulah terletak kekuatannya.
Kedua, Sebagai Wujud Cinta Tanah Air Kelahiran Mama. Sebagai wujud cinta kasihnya yang mendalam kepada ibunya yang sudah melahirkan, merawat, menjaga dan membesarkannya, terlebih cinta kasihnya terhadap tanah kelahiran mama dan paman-pamannya orang Mee bisa melakukan apa saja demi mempertahankan eksistensi status quo Ukauwo-nya. Ia bisa melakukan hal yang wajar-wajar saja, bahkan hingga yang paling gila sekalipun.
Sebagai penduduk yang sudah lama berdomisili di West Papua dan punya kenalan dengan orang Mee pasti kita sudah tidak asing lagi dengan cerita-cerita seputar bagaimana orang-orang Mee itu tampil layaknya seperti orang gila hanya untuk mempertahankan eksistensi Ukauwo-nya. Atau mungkin kita sendiri pernah terlibat di dalam aksi-aksi seperti itu atau sempat menyaksikannya secara langsung.
Kita barangkali tidak asing juga dengan istilah “Ukauwo Daba” atau “Om Daba”. Ukauwo Daba berarti Kampung Halaman Mama Itu Kecil, tidak ada apa-apanya. Kata “Daba” berarti kecil, kerdil, tidak ada apa-apanya. Sementara istilah “Om Daba” itu berarti semua saudara laki-laki mama itu kecil, kerdil dan tidak ada apa-apanya. Memang secara leksikal atau etimologisnya dua istilah ini, yakni “Ukawo Daba” dan “Om Daba” itu terkesan sebagai ungkapan perendahan dan atau penghinaan eksistensi daripada kesucian dan Spritualitas Ukauwo dan Paman, namun sejatinya di balik dan atau di dalam dua ungkapan itu terselip sebuah undangan yang menuntut atau menagih konsistensi patriotisme daripada orang-orang Mee yang senantiasa ngotot, keukeh mengklaim kebesaran Ukauwo dan para pamannya. Dua ungkapan itu semacam menuntut pembuktian pasti, bahwa jika memang benar orang Mee itu cinta mama, pamannya dan Ukauwo-nya maka sudah seyogyanya itu ia buktikan bukan hanya atau sekedar dengan kata-kata saja, melainkan mesti dilukiskan dalam tindakan nyata. Sehingga memang dua ungkapkan itu mesti secara hati-hati dan bijaksana diucapkan kepada orang Mee, sebab mereka akan melakukan hal-hal yang gila sekalipun hanya demi menjaga dan memproteksi eksistensi Ukauwo-nya secara konsisten.
Penulis melihat dan merefleksikan bahwa falsafah pemaknaan Ukauwo dalam rahim kebudayaan orang Mee di atas ini bisa menjadi model dan bekal dasar bagi bangsa West Papua dalam konteks pemupukan Patriotisme dan Nasionalisme dalam naluri dan nurani bangsa West Papua, terutama generasi emas bangsa West Papua yang semakin hari semakin melupakan semangat dan spirit patriotisme dan nasionalisme kepapuaan yang sejati.
Penulis melihat dan merefleksikan bahwa orang asli Papua mesti memiliki semangat cinta bangsa dan tanah air layaknya Penghayatan Falsafah Ukauwo dalam jati diri orang asli West Papua di dalam Suku Mee.
Tanah Papua Sebagai “Ukauwo OAP”
Seperti sudah kita bahas bersama di muka bahwa secara filosofis Tanah Papua ini dipandang oleh orang West Papua Proto sebagai “Mama’. Mereka sering menyebutnya sebagai “Papuana”, “Papuani”, atau “Iriana” dan,”Iriani”. Hal ini menunjukkan bahwa semua orang Papua memakai Bumi West Papua sebagai Mama yang senantiasa Merahimi, Melahirkan, Menyusui, Menjaga dan Membesarkan mereka.
Di atas dasar, pondasi dan sendi filosofis seperti di atas itulah penulis hendak mengajak bangsa West Papua untuk memiliki patriotisme dan nasionalisme “Ukawo Daba” dan “Om Daba”.
Bahwa mesti ada rasa memiliki, rasa mempunyai, moralitas tuan, etika penguasa dan filsafat Raja. Bahwa seluruh tanah dan isinya di West Papua itu adalah dan hanyalah milik orang West Papua.
Bahwa baik di dalam suka, baik di dalam duka sampai langit terbelah pun bangsa Papua tetap bangsa Papua dan tanah Papua tetap tanah Papua, tidak ada siapa dan apapun yang bisa mengubah keniscayaan itu selain Tuhan, Alam dan Leluhur Bangsa West Papua yang Esa.
Bangsa West Papua harus sadar dan bahwa Ukauwo-nya dan para pamannya sudah, sedang dan terus dibantai oleh kapital kolonial NKRI sejak 1961 hingga hari ini. Bangsa West Papua harus sadar dan paham bahwa kampung halaman ibunya sudah, sedang dan terus dihancurkan oleh kolonial NKRI dan sekutunya.
Bangsa West Papua mesti sadar dan paham bahwa ibunya sudah, sedang dan terus diperkosa dan dilecehkan secara tidak manusiawi oleh para penguasa dan pengusaha yang tamak, lalim, eror, diktator dan otoriter. Sehingga sudah saatnya “Om Bada” dan “Ukauwo Bada” jika Bangsa Papua secara konsisten, penuh tanggung jawab dan gagah berani menyatakan sikap untuk Merdeka, Menolak Sistem dan Hukum NKRI, Melepaskan Garuda dan Jabatan Pemerintahan NKRI, Memboikot Semua Produk Kapital Kolonial NKRI di Seluruh Teritori West Papua, Memutuskan Semua Saluran Transportasi dan Penghubung di West Papua, Melakukan Mogok Sipil Nasional, dan Agenda-agenda revolusi Universal lainnnya di bumi West Papua lainnya dalam bentuk apapun.
Mengakhiri tulisan ini penulis hendak merekomendasikan beberapa ihwal esensial:
Pertama, Tanah Papua mesti dimaknai sebagai “Ukauwo” sebagai seluruh bangsa West Papua. Bahwa mesti ada Spritualitas Patriotisme dan Nasionalisme yang membumi sebagaimana falsafah Ukauwo dalam rahim kebudayaan orang Mee West Papua.
Kedua, Pengentalan dan Pengendapan Filosofi Bumi Sebagai “Mama Papua” itu mesti berurat berakar dalam naluri dan sanubari bangsa West Papua, terutama generasi West Papua.
Penulis melihat untuk lebih mendarah dagingkan filosofi Ukauwo sebagai pemantik Patriotisme dan Nasionalisme Kepapuaan generasi milenial West Papua dan seluruh bangsa West Papua mesti secara rutin, kontinyu dan konsisten men-charge Spritualitas Perjuangan, Pergerakan dan Pergerakannya di Kampung Halamannya dan di Ukauwo-nya masing-masing.
Bahwa semua orang West Papua sebelum turun ke Medan Perang alangkah baiknya terdahulu menyempatkan diri untuk men-charge Spritualitas Patriotisme dan Nasionalisme di Honai dan Tungku Api kampung halamannya dan Ukauwo-nya.
Ketiga, Tanah Papua adalah Ukauwo OAP, “Om Daba” dan “Ukauwo Daba” jika Papua tidak Merdeka, jika Papua tidak jadi Tanah Damai, jika Papua tidak jadi Papua Baru, dan Jika Papua tidak jadi Tanah Penuh Kemuliaan Nama Tuhan, Alam dan Leluhur Bangsa West Papua yang Kudus dan Suci. Mari Perjuangan dan Pertahankan Eksistensi Kekudusan Ukauwo Kita Bersama, Tanah West Papua. (*)
(KMT/Admin)
.jpg)
0 komentar: