![]() |
| Dok: Ist/Behaviorisme Skinner dan Pendidikan Kontekstual Papua. (Siorus Degei) |
*Siorus Ewanaibi Degei
Upaya memanusiakan manusia atau proses humanisasi menjadi panggilan semua pihak, bukan saja keluarga, Agama, dan Pendidikan, melainkan semua pihak inti dalam kehidupan. Pendidikan yang paling pokok ialah Pendidkan Karakter Yang Kontekstual, jenis Pendidkan semacam ini sangat langkah saat ini.
Padahal hasil dari cetatan Pendidikan Karakter ini sudah tidak dapat diragukan lagi secara intelektual, moral, spiritual, dan sosial. Ditambah frasa Kontekstual karena walaupun Pendidikan karakter itu penting, namun disisi lain identitas hakiki seorang peserta didik, yakni budaya asalinya semakin luntur.
Misalnya di Sekolah A metode penyelenggaraan Pendidikannya bersasi Pendidkan Karakter dan berpola Asrama, namun poris respek poisitif atas eksistensi terhadap kearifan local para peserta didik sangat sedikit, bahkan nihil. Sehingga fenomena semacam inilah yang menurut penulis sangat dibutuhkan sekali panduan metodelogi Pendidikan yang tidak saja memprioritas entitas karakter, mental, dan akhlak, tetapi porsi kontekstual itupun mesti tidak diabaikan. Sebab Pendidikan itu menjadi proses humanisasi hanya sampai pada batas ia sanggup melahirkan manusia-manusia yang sejati.
Ruang lingkup Pendidikan Karakter Kontekstual meliputi Moralitas, Mentalitas, dan Lokalitas-Kultural. Kita tidak bisa lagi menempuh gaya-gaya Pembinaan, Pendidkan, dan Pegolahan kepribadian manusia yang lama, yaitu Refolusi fisik, di mana proses Pemebentukan sikap, karakter, dan mental seseorang dilakukan dengan pedekatan-pendekatan represif, dipukul, dihukum berat, di-bully, dan lainnya.
Sudah saatnya lembaga-lembaga Pembinaan, Pedidikan, dan Pembentukan manusia menempuh dan menerapkan gaya-gaya yang lebih persuasif, ekskulusif, bersahabat, humanis, dan harmonis, yakni Refolusi Mental Kontekstual, dengan penekanan Pembinaan, Pendidikan, dan Pembentukan dititikberatkan pada Karakter dan Akhlak budi Pekerti.
Sehingga manusia-manusia yang dihasilkan itu bukan saja mereka yang terampil secara intelektual tetapi aktual dan ideal secara sosial, moral, dan spiritual.
Selama ini wajah penyelenggaraan Pendidkan kita cenderung dilokalisir, dimodestivisir, dinasionalisir dan digeneralisir sehingga banyak anak-anak perserta didik di daerah-daerah, khususnya daerah yang terisolir kewalahan dalam penyesuaian metode Pembelajaran, sehingga banyak murid yang asal belajar dan guru yang asal mengajar, intinya penyenggaraan Pedidikan berdalil pada mental Asal Bapa Senang, namun pelajaran itu tidak memiliki basic yang kuat dalam diri mereka, sehingga dengan mudah hilang.
Semisal mereka belajar tentang Sejarah Kerajaan Majapahit, belajar tentang Monas, belajar tentang Kereta Api, belajar tentang Kepulauan Jawa, dan lainnya.
Sebagai informasi pengetahuan-pengetahuan tersebut sangat berarti, namun amat kontadiktif dengan realitas kehidupan sehari-hari para peserta didik, akibatnya pegetahuan-pegetahuan itu akan menjadi penumpan dalam kepala, hanya singgah sedikit di nalar, dengar telinga kiri keluar telinga kanan.
Sebab sejak kapan di Papua ada Jalan Tol atau Kereta Api, sejak kapan ada monument Megah sekelas Monas ada di sana, sejak kapan ada Kerajaan di Pegunungan Pedalaman Papua, dan lain-lain. Pola pendidikan atau kurikulum seperti inilah yang menurut Prof. Dr. Frans Magnis Suseno SJ disebut sebagai Pendidikan Dengan Model Mengisi Botol Kosong, (https://www.multaqomedia.com/obrolan/pr-5236348443/romo-magnis-suseno-filsafat-dan-pendidikan-yang-seharusnya-tidak-seperti-mengisi-botol-kosong, 04/04/2023).
Hal-hal semacam itulah yang meninmbulkan paradoks Metode Pendidikan yang memprihatinkan di Indonesia secara umum, dan di Papua secara khusus. Kita membutuhkan sebuah Metode Pendidikan Karakter Kontekstual, di mana Pendidikan itu berbasis lokalitas tanpa mengabaikan aspek nasionalitas, dalam artian nilai-nilai kearifan lokal diangkat dalam rangka memperkaya nilai-nilai nasional dan global.
Dalam tulisan ini penulis akan menawarkan sebuah metode Pendidikan Karakter Kontekstual berusmber dari Teori Behaviorisme yang dipelopori oleh Joseph B.F Skinner (20 Maret 1904 – 18 Agustus 1990), yakni Cara Kerja Yang Menentukan (Operant Condition). Tentunya sumbangan pemikiran Skinner dalam teorinya itu bisa menjadi titik acuan untuk mencetuskan sebuah Metode pembelajaran atau Kurikulum Pendidikan Karakter kontekstual yang aktual.
Hakekat Teori Behviorisme
Behaviorisme secara etimologis terdiri daru dua akar kata, yaitu Behavior dan Isme, Behavior berarti Kelakuan, Perangai, dan Tindak-Tanduk (John M. Echlos-H. Shadlly, 2014, hlm.75). Sedangkan Isme berasal dari Bahasa Yunani Ismos, Latin Ismus, Prancis-Kuno Isme, yang berarti Paham, keyakinan, atau kepercayaan. Jadi secara etimolis Behaviorisme merupakan salah satu aliran Psikologi yang menitikberatkan penalaran, penelahan, dan penelitian pada Kelakuan manusia sebagai objek pembahasan.
Dalam perkembangan sejarahnya teori behaviorisme ini dicetuskan oleh seorang Psikolog asal Amerika Serikat, yaitu John B. Watson (1878-1958), Watson adalah Bapak Behaviorisme Dunia, ia terkenal dengan teori Stimulus-Respons Bond. Menurut teori Stimulus-Respon Bond semua tindakan manusai merupakan hasil respon atau tanggapan atas suatua stimulus atau ranggsangan, jadi ada tindakan itu sebab-akibat, orang menangis karena sedih, orang jatuh cinta karena suka, dan lain sebagainya.
![]() |
| Dok:Ist/Behaviorisme Skinner dan Pendidikan Kontekstual Papua. |
Dalam perkembangannya Behaviorisme menjadi sebuah aliran dalam pemikiran Psikologis. Banyak ahli mulai tertarik dan menaruh minat besar untuk mengkaji aliran Psikologis ini.
Sebut saja Thorndike dengan teorinya Connectionisme disebut juga Trial And Error (Mencoba-coba dan gagal).
Pavlo And Watson dengan teori Classical Conditioning, teori ini mengajarkan bahwa suatu rangsangan dapat menimbulkan pola reaksi (aksi-reaksi), misalnya Lonceng atau Alarm bisa memerintahkan, meunjukkan, atau menandai sesuatu.
Berikut Alber Bandura dengan teorinya Modeling, mengajarkan bahwa perubahan perilaku manusia disebabkan oleh peniruan terhadap tokoh atau objek yang menjadi model/teladan. Terakhir ada B.F. Skinner dengan teorinya Condition, pemikiran Skinner inilah yang akan menjadi titik tolak pembahasan karya tulis ini.
Inti Pokok Teori Behaviorisme Skinner
Merupakan seorang Psikolog beraliran Behaviorisme asal Amerika Serikat, Skinner terkenal dengan teorinya Operant Condition yang berarti Cara Kerja Yang Menentukan, (https://id.wikipedia.org/wiki/B.F._Skinner, 04/04/2023).
Teori Skinner ini terinspirasi dari keyakinannya bahwa semua manusia bergerak berdasarkan rangsagan atau stimulus yang dihasilkan oleh linkungan. Sehingg ia berteori bahwa jika ingin mengubah prilaku manusia, berarti entitas yang pertama-tama harus diubah ialah lingkungan tempat di mana manusia itu berada, sehingga kelakuan manusia yang diinginkan dipertegas secara positif, yaitu Disangsikan, dan kelakuan manusia yang tidak diinginkan dipertegas secara negatif, yaitu Dihukum.
Teori Skinner ini konkret dalam Pendidikan berbasis Karakter dan berpola Asrama atau Teruna, di mana kepribadian manusia dibentuk dan terbentuk oleh lingkungan asrama sebagai habitat humanistik, melalui aturan dan ritme hidup penghuni asrama secara tidak lansung dibentuk karakter dan mentalnya, sehingga ketika ia sudah selesai dari asrama atau taruna tersebut ia akan tambil sebagai sosok yang penuh kedisiplinan diri yang ketat.
Maka dari itu Skinner lebih banyak berfokus pada upaya-upya perekayasaan lingkungan sosial, dengan menciptakan habitat-habitat lingkungan hidup yang sesuai dengan pedoman pengolahan kepribadian manusia yang harmoni, humanis, dan persuasif.
Hakekat Pendidikan Karakter Yang Kontektual
Pendidikan Karakter Kontekstual menjadi sebuah Metode Pendidikan yang teramat langka dijumpai saat ini, hanya terlihat sisah-sisahnya di Sekolah yang berpola Asrama. Namun sebagian besar lembaga Pendidikan kebanyakan menerapkan Metode Pendidkan yang berbasis indeks kompetitif siswa atau Kurikulum 2013 yang notabenenya merupakan produksi Sekolah-Sekolah Eropa, dalam artian Metode Pembelajaran tersebut dicaplok dari Metode Pemebelajaran asing.
Barangkali untuk wilayah-wialayah yang telah maju pesat dari sisi fisik/sarana-prasana dan Psikis/terakreditasi A atau B, Metode Pemebalajaran tersebut bisa dan dapat dibenarkan dan diapresiasi. Namun kenyataannya tidak semua wilayah di Indonesia memiliki garis komando kemajuan Pendidikan yang satu dan sama.
Contohnya di Papua, bicara sola Pendidkan merupakan sebuah pembicaraan yang bukan baru namun sulit teratasi, dalam artian persoalan Pendidikan di Papua punya tingkat komlesitas kemerosotan yang separah dengan wajah kesehatan, Politik, Ekonomi, Ekologi, dan Sosial-Budaya. Ruang bagi Pendidikan Karakter Kontekstual sangat minim. Walaupun mungkin dana triliyunan rupiah telah diguyurkan melalui Ottsus, namun hingga kini belum ada tanda-tanda kemajuan Pendidikan di Papua yang sinigfikan, terlebih khusus wilayah-Wilayah yang sulit terisolasi.
Apalagi di Era Pandemik yang memberlakuakan Pembelajaran online (Daring/ Dalam Jaringan). Daring sendiri merupakan sebuah Metode Pembelajaran Kontekstual yang situasional, itu berarti sedikit banyaknya cukup singkron dengan teori Condition Skinner, di mana pola memanusiakan manusia disesuaikan dengan situasi dan kondisi linkungan masyarakat. Maka di tengah paradikmatik potret Pendidkian yang miris dan kritis seperti inilah sangat dibutuhkan sekali adanya penyeseuaian Metode Pembelajaran yang kontektual, sehingga dalam proses transfer ilmu tidak terjadi begitu banyak kendala.
Relevansi Teori Behaviorisme Skinner di Papua
Melihat potret kondisi Pendidikan di Indonesia secara umum dan di Papua lebih khusus, maka dapat kita katakan bahwa identitas keindonesiaan di tiap-tiap daerah terancam luntur dan bahkan punah bila tidak ada respek dan respon yang cepat, tepat, dan cermat, dari semua pihak, terutama keluarga, Agama, Pendidikan, dan Pemerintah.
Sebab semakin hari semakin luntur nilai-nilai kultis yang berharga dan bermaknai dalam keraifan-kearifan lokal yang menjadi ciri khas setiap daerah di Indonesia, akibat tidak saja menjadi santapan modernisme, globalisasi, digitalisasi, westernisasi, dan lainnya, tapi juga terhendatnya proses sosialisasi dari generasi tua kepada generasi muda. Dan khsusnya akibat mekanisme penyengaraan Pendidikan kita yang Pusat-Sentris atau Jakarta-Sentris.
Sehingga diperluhkan sekali suatu Metode Penyenggaraan Pendidikan yang lebih kontekstual dan berurat-berarkar dalam nadi-nadi kebudayaan setempat tanpa mengabaikan indentitas nasional dan keniscayaan global sebagai jati diri bersama, baik dalam Pendidikan dini di Keluarga, Agama, dan Lembaga Pendidikan, dan Pemerintah itu sendiri.
Dari pelbagai macam alternatif solusi yang ada, kiranya teori Condition yang dirintis oleh Skinner atau yang lainnya khsusnya dalam aliran Behaviorisme sedapat mungkin bisa menjadi sebuah Metode Praktis Penerapan Kurikulum Pendidikan Karakter Kontekstual sehingga lebih mengenai target dan demi terwujudnya kecerdasan bangsa. Ada beberapa langgkah yang dapat ditempuh bersama agar Misi Pendidikan sedikit banyaknya terwujud nyata.
Mengapa Indonesia, khususnya Papua menjadi daerah yang strategis dalam penerapan teori Skinner?
Pertama, Berdasarkan potret nyata situasi Pendidikan di Indonsia, khususnya di wilaya-wilaya yang terisolir yang teramat miris.
Kedua, Indonesia merupakan bangsa yang beraneka-ragam mulai dari Sabang hingga Merauke, terhitung ada 714 Suku di Indonesia.
Masing-masing suku memilik keunikannya maisng-masing. Sehingga pola pendektannya juga mesti disesuaikan dengan konteks setiapa suku.
Ketiga, karakter bangsa Indonesia adalah karekter yang terbuka, ramah, dan sosialis. Sehingga sangat muda meniru dan mengikuti budaya-budaya asing yang membuat eksistensi budaya-budaya setempat berasal.
Misalnya Bahasa dan sejarah kebudayaan suku bangsanya sendiri, barangkali hanya minoritas milenial Indonesia yang paham akan nilai-nilai kebudayaannya, bahasanya, dan sejrahnya. Sementara mayoritasnya masih sibuk menodernisasikan dirinya atau mendemokratisasi eksistensinya.
Maka metode Skinner ini bisa memberihkan sebuah panduan yang memungkinan setiap milenial di setiap suku, mampu mengetahui jati diri suku bangsanya. Sehingga ia benar-benar menjadi orang Jawa yang sejati, orang Sumatera yang sejati, orang Kalimantan yang sejtai, orang Sulawesi yang sejati, dan orang Papua yang sejati.
Pentingnya Riset Sosiologis, Geografis Dan Angtropologis Kontekstual
Selama ini Pemerintah jarang menlibatkan peran akademisi, cendekiawan, dan intelektual dalam pembuatan, pelaksaan, dan evluasi kebijikan-kebijakn local, regional dan nasional terutama para Sosilog, Geolog dan Angtropolog. Padahal peran mereka ini sangat penting agar kebijakan yang dihasilkan tepat mengenai target sesuai subtansi persoalannya.
Namun kenyataannya yang selama ini kita jumpai adalah bahwa kebijakan-kebijakan yang dihasilakan hanya dikeluarkan secara sepihak demi itensi-itensi khusus dari okunum-okunm ataupun intstansi-instansi khusus pula, yaitu hanya pemerintah saja yang berperan aktif, jarang sekali ada aspirasi-aspirasi public atau kritikan-kritikan konstruktif para oposisi yang digubris.
Misalnya seperti ketika hendak melaksanakan kebijakn pembanguanan infrastruktur di suatu Daerah, Pemerintah mesti mendegarkan aspirasi-aspirasi, baik dari mereka yang pihak pro tapi juga mereka yang kontra, khususnya dari masyarakat adat, perwakilan pemuda, dan perwakilan ibu dan anak, sebab klas sosial inilah yang paling rentan terkena implikasi pembangunan.
Sebab jika kebijakan hanya dihasilkan secara sepihak atau beradasrkan subjektifisme penguasa, maka besar kemungkinan dapat menyebablan kesenjagan sosial yang marak dan kemiskinan yang fatal, dimana yang kaya tetap kaya yang miskin tetap miskin, yang tidak tahu tetap tidak tahu dan yang tahu makin tahu, dan kesenjagan lini kehidupan lainnya. Jadi kebijakan yang ideal itu lahir dari konsesus bersama demi kebaikan bersama pula, bukan konsensus sepihak dengan demi kepetingan sepihak pula.
Dalam konteks kebijakan tentang pembenahan Pendidikan di Indonesia, ada sebuah fenomena yang menarik, yaitu bahwa setiap rezim memilik kekahsaannya sendiri-sendiri, bahkan setiap Kabinet (Menteri Pendidikan dan Kebudayaan) juga memiliki rumus dan jurus sendiri-sendiri dalam membenahi persolana Pendidikan di Indonesia.
Dua esensi ilmu humaniora yang bisa memecakan soal kebijakan Pendidkan agar lebih demokratis, adil, dan sejahtera ialah dan hanya Sosiologi dan Angtropologi. Pakar-pakar dari kedua ilmu ini mesti dilibatakan secara penuh, utuh dan menyeluruh dalam mekanisme pembuatan, eksekusi hingga proses evaluasi kebijakan. Namun perluh dicatat juga bahwa para pakar tersebut mesti indenpenden dan objektif dalam memberihkan temuan-temuannya sebagia bentuk penghormatan pada marwa intelektual, jangan sampe mereka dipreteli dan dibeli oleh Pemerintah untuk meloloskan kepentigan pemerintah.
Hal ini berarti mereka telah menaciskan otonitas dan indenpendesi marwa ilmu pengetahuan dengan riset abal-abal, mereka dituntutu tetap konsisten, kritis dan tidak akomodati serta koperatif kepada Pemerintah. Sebab jika mereka kritis maka hasil dari visi-misi kebijakan akan Goal atau berhasil, namun bila mereka mala akomodatif dan koperatif dengan kepentingan sesaat peguasa maka mereka telah menjual otak yang cerdas dengan kertas yang semu dan kebijakan itu akan menjadi jebakan bagi rakyat kecil.
Pentingnya Bidang Ilmu Khusus Spesifikasi Konteks
Berdasrkan temuan-temuan ilmiah para Sosiolog, Geolog dan Angtopolg tadi yang indenpenden, konsisten, kritis, analitis, dan objektif, khususnya mengenai kearifan lokal, sejarah, Bahasa, pranata lokal atau adat-istiadat, dan bidang-bidang kebudayaan lainnya. Maka sudah saatnya divisikan sebuah Metode Pembelajaran Akhlak yang kontektual.
Misalnya untuk mempelajari Kejawahan maka berdasrkan himpunan data dan fakta yang ada tentang Jawa yang kmpleks dan komprehnsif itu dirilislah sebuah Ilmu Pengetahuan yang bernama Jawalogi, atau Sumatralogi, Sulawesilogi, Kalimantanlogi, dan Papualogi, intinya ada pengetahuan yang secara khusus, metodis, dan sistematik membahas dan mengupas seluk-beluk dari daerah-daerah yang ada di Indonesia yang secara notabenenya beraneka ragam (Plural-Majemuk).
Dengan langkah konkrti semacam ini generasi milenial mampu menemukan jadi dirinya yang sesungguhnya. Generasi akan lebih memahami, menghayati, mendalami, dan mengalami hakekat dari eksistensinya sendiri sebagai warga lokal, nasional, dan internasional.
Sehingga mereka tidak kehilanagn budayanya, melainkan memilikinya sebagai jati dir dan harta pustaka para leluhur. Menjadikan itu sebagai bagian utuh dari kepribadiannya. Al hasil baeangkali sedikit-banyaknya gebrakan semacam ini bisa menyeimbangi gerakan Post-Modernisasi yang menjurus dalam gebrakan nasionalisasi dan anak-anaknya yang berpeluang dan berpotensi memusnahakan kebudayaan asli umat manusia.
Selain di ranah Pendidikan, tidak lupa juga keluarga semestinta bisa menjadi instansi pertama generasi muda digembleng sedekian rupa agar nilai-nilai budaya, terutama kearifan-kearifan lokal yang poisitif dipahamai, dihayati, didalami, dan digumuli. Sehingga memang sudah dari keluarga mekarteristik dan mentalitas yang khas kebudayaan itu dimiliki oleh setiap keluarga.
Lembaga Pendidikan, Agama, dan Lembaga-lembaga lainnya hanyalah sebatas sarana di mana karakter dan mental generasi muda. Jadi sosialisasi yang baik dan benar dari keluarga yang dilakukan secara dini merupakan sebuah metode pembentukan akhlak anak yang ampuh. Sebelum keluara rumah, anak-anak itu harus disedia bekal bukan saja uang jajan, tetapi juga pikiran yang positif, hati yang murni, kehendak yang bijak, dan tindakan yang etis.
Setlah keluarga sudah dan senantiasa menjalan proses humanisasinya di rumah, Lembaga Agama juga mesti anbil peran sentral dan memamg andil Agama sangat fundamental dalam merekonturksi jati diri seseorang melalui doktirn-doktrin yang ia hasilkan. Semisal untuk Kristen, Sekolah Minggu bisa menjadi tempat belajar jati diri yang baik. Di saan etika-etika dasar iman ditanamkan, daya semangat untuk maju dipantik. Tingkah laku-tingkah laku yang kurang baik diarahkan agar jauh lebih baik.
Jadi perluh ada sinergitas dan kerja sama yang baik dan saling menopang antra keluarga, Agama, Pendidikan, pemerintah, kelompok-kelompok sosial lainnya. Sehingga taget yang hendak dicapai bersama dapat terealisasi, yakni pembebasan generasi muda dari penjajahan kemalasan, krisi identitas budaya, dan krisis intelektual.
Dengan demikian senada dengan Presiden Afrika Selatan Pertama Nelson Mandale Pejuang Aparheid bahwa pendidikan adalah senjata ampuh untuk memajukan bangsa, ataupun juga sesuai dengan keyakinan Filsusf Yunani Kuno murid dari Plato dan Guru dari Alexander Agung Aristoteles bahwa Pendidikan itu memanusiankan manusia.
Pemikiran Aristoles ini juga cukup parallel dengang pemikiran Nikolaus Driyarkara, Dedengkot Filsuf Indonesia bahwa Pendidikan itu merupakn proses humnisasi manusia sebagai Homo Hominis Socius atau Manusia adalah Sahabat Bagi Sesamanya. Sehingga perluh ditambhka juga sebuah pemikiran Pedagogis Pemebebasan Paulo Freira, bahwa Pendidikan mesti menjadi wadah yang menjamin manusia (peserta didik) untuk mengeksplorasi dan mengekspresikan kapasitas dan kualitasnya sesuai Soft Skill maupun Heart Skill yang dimiliki. Maka sudah saatnya agenda mencerdasakan kehidupan bangsa sebagiman amanah UUD 1945 itu mendapatkan perhatian yang serius.
Dalam hal ini metode Pendidikan yang salami ini diselenggerakan dari Sabang sampai Merauke itu perluh sedikit didekontruksi. Dalam artian metode pemebelajaran itu memperhatikan aspek kontekstual. Ada beberapa saran yang mungkin bisa menjadi masukan bagi para perancan Kurikulum Pendidikan di Indonesia, atau paling kurang para tenaga edukatif di lemabaga-lembaga Pendidikan yang ada di tanah Papua.
Pertama, pemahaman konteks yang cukup, untuk lebih memahami konteks wilaya-wilaya di Indonesia, Pemerintah bisa bekerja sama dengan masyrakat adat secara lansung tanpa perantaraan eilitnya, juga dengan para Antropolog, Geolog dan Sosiolog untuk mengadakan riset atau meminta pandagan dan masukan dari mereka yang komprehnsip mengenai konteks wilaya, masyarakat, kebudayaan, sumber daya alam, dan aspek-aspek penting lainnya yang termuat dalam catatan-catatan etnografi.
Kedua, respek yang positif, setelah mengetahaui dan memahami seluk-beluk wilaya-wilaya yang ada, maka rasa pengahargaan dan penghormatan atas eksistensi wilaya tersebut menjadi point penting untuk diperhatikan, terlebih khusus respek positif terhadap masyarakat dan kearifan-kearifan loal yang ada. Bahwa kearifan-kearifan itu bisa diteliti lebih lanjut untuk dijadikan ilmu pegetahuan tambahan sebagai jati diri wilaya dan suku bangsa yang ada.
Dan yang terakhir ialah bahwa teori Skinner, yakni Operant Condition atau teori yang sejenisnya barangkali bisa menjadi rucukan semua pihak, bukan saja pemerintah tapi juga lembaga Swasta dan semua pihak yang peduli dengan keselamtan perabadan masyrakat madani. Dan perluh menjadi cacatan juga bahwa teori-teori semacam ini bukan saja relevan untuk membenahai wajah Pendidkan karakter yang kontekstual, tapi juga bisa diterapkan pada bidang kehidupan lainnya sesuai kebutuhan. (*)
)* Penulis Adalah Mahsiswa Sekolah Tinggi Filsafat-Teologi “Fajar Timur” Abepura-Papua.



