Sabtu, 01 April 2023

Umpan Api

Dok: Ist/Umpan Api. (Tetodeipode)

Umpan Api

Berawal dengan senyum manis. 

Lupa itu kalau gula. 

Yang selama ini, 

saya kumpulkan. 

Terlalu manis, 

saya

hanya jadi, 

sarang semut. 

Issssss. 

Rasa kesemutan, 

tanpa saya duga. 

Itu, 

ajal menjemputku. 

Pergi rasa! 

Derita tiada henti. 

Kita hanya waktu. 

di ruang sang, 

Guru. 

Abe, 01 April 2023

(Tetodeipode)

Sabtu, 04 Maret 2023

Inilah Dia

 

Dok: Ist/Inilah Dia. (Tetodeipode)

Inilah Dia

Jalan kaki,

Setiap hari.

Sepanjang,

Jalan ini.

Bersama,

Kaki kosong.

Mulai dari,

Kaki gunung.

Cape dulu,

biar capai.

Ketika lelah,

Duduklah!

Berdiri lagi,

mulai jalan.

Demi sampai,

Tujuan hidup.

Bumi Perkemahan, 05 Minggu 2023

(Tetodeipode)

Jumat, 03 Maret 2023

Segenap Hati

Dok: Ist/Segenap Hati. (Tetodeipode)

Segenap Hati

Sekali pergi, 

tanpa kembali. 

Lupa jalan, 

pulang ke situ. 

Sudah ketemu, 

Dia di sini. 

Dia, 

yang dicari. 

Dia ada, 

di situ. 

Lihatlah, 

Dia! 

Dengarlah! 

Dia bicara. 

Pakai, 

bahasa cinta.

Dia ada, 

setiap waktu, 

pada setiap, 

orang. 

Waena, 03 Maret 2023

(Tetodeipode)

Kamis, 02 Maret 2023

Tetodeipode; Tujuh Syair Puisi

Dok: Ist/ Tetodeipode S. Dogomo.(Tujuh Syair Puisi)

I. Media Jubi

Setiap kali hujan turun,

setiap kali menjadi sungai.

Derasnya berita media Jubi,

Menjadi gelombang frekuensi data.


Menatap matahari sampai bulan,

tanpa mengedip kedua mata.

“Hasil menatap ketetapan alam

lagit tidak selalu berbiru.


Tarikan garis horizontal membentuk,

horizon dalam media jubi.

Setiap kali ada berita, “Selalu ada, kata ada.

Rekaman setiap jejak kaki, para pemilik media jubi.

Jasa ingatan setiap insan, Menjadi gerak pasti uapan.

Gubuk Untas, 06 November 2022


II. Satu

Hari ini aku ingat,

Satu dari mereka,

yang kau bunuh.

Bapa Theys. 


Satu demi satu,

kau bunuh mereka.

Kamu ditinggikan,

Walau itu direndahkan.


Di sini ada namamu,

Di sana tak ternama.

Dapat makan malam,

Tidur lupa bangun.


Ilmu orang mati,

Mengajar, bagaimana kita mati.

Tetapi, belajarlah menjadi abu,

Menjadi ilmu alam sejati.

Bukit Theys, 10 November 2022


III. Jadi

Jaga diri baik-baik,

Jangan sampai lupa diri.

Tentang,

Siapakah kamu di depan


Aku.

Di depan mereka,

Kakimu akan terlihat,

Kaki berabu,

Sampai mereka lupa,

Sebut nama kamu Papua.


Peserta ujian akhir,

Wajib belajar dari abu,

Karena abulah sumber,

soal-soal ujian akhir.


Ada rekor ujian akhir,

melihat setiap langkah kaki,

Dari atas tanah ini,

menulis puisi kaki abu.

Organda, 09 November 2022


IV. Cukup Satu

Satu kata jadi kunci, 

Bagai memasuki ruang perpustakaan. 

Tobatlah! 

Saya sudah salah satu.


Jawaban saya ketika ditanya, 

Sumber gala sumber suara. 

Wajah ini mulai memantulkan, 

Malu di isi hati.


Kepala tertunduk menatap debu, 

Air mata pun mulai berlinang, 

Lidah tak mampu berkata, 

Akan sikapku selama ini. 


Inilah diriku 

Entah apa jawabmu, 

Diam di atas jejak kaki

Kembali seorang diri lagi

Gubuk Tewei, 01 Maret 2023


V. Tujuan Akhir

Saya bebas.

Akan sikapku.

Bebas dari,

untuk bebas.


Kamu pun bebas,

Karena bebasku.

Untuk bebas,

dari bebas.


Dari bebas,

Untuk bebas.

Saya bebas,

Dari bebasmu.


Dari bebas,

Untuk bebas,

Saya bebas,

Kamu pun bebas.

Gubuk Tewei, 02 Maret 2023


Vl. Kaki Seribu 

Di akhir bulan November,

berdiri.

Di atas batu karang,

Di pantai pasir putih.

Setelah posko dibongkar.

Gunung juga kau bongkar,

Telaga menjadi minyak sawit.

Kepada pembongkar itu,

Dapatkah kita mengejar,

Dengan berjalan kaki seribu.

Sidey, 29 November 2022


Vll. Minta Maaf

Saudara,

saya mengaku.

Saya salah,

selama ini.

 

Cemas,

derita,

duka,

tangisan.


Dari dulu,

sampai sekarang.

Saya inilah,

Yang melukaimu.


Entahlah,

Ini saya.

Asal saya,

Di sini.

Tewei, 02 Maret 2023


Penutup: Doa Bapa Kami

Bapa kami yang ada di Papua. Bapa, ajarilah aku melihat kehadiran-Mu di dalam diri setiap orang yang hina bagiku. Ketika mereka lapar, ajarilah aku memberi makan, ketika mereka haus, ajarilah aku memberi minum, ketika mereka terasing, ajarilah aku memberi tumpangan; ketika mereka telanjang, ajarilah aku memberi pakaian. Ketika mereka sakit, ajarilah aku melawat; ketika mereka dalam penjara, ajarilah aku mengunjungi; Ketika mereka sedih, ajarilah aku menghibur. Ajarilah pada kami, untuk menyebut Engkau sebagai Bapa Kami, dan ajarilah kami saling sapa sebagai putra dan putri dari Bapa kami di surga. Amin.

(Tetodeipode S. Dogomo)

Selasa, 23 November 2021

Begitulah Sebenarnya, antara ko dan sa *puisi*

 

Dok: Ist/Fb. Antara Ko dan Sa. (Puisi)
Oleh : Unikab Bongkar 

Lelah sudah kita melangkah teman.

Begitulah sebenarnya, di antara hidup dan ketidakpastian

Kau dengar suara itu?
Suara tawa yang dipaksa
Kau pandang wajah itu?
Wajah riang yang tertawan

Suara itu, wajah itu palsu
Teman, itu suara jerit luka
Teman, itu wajah memelas penuh duka

Tak ada bahagia yang tulus dari tawa dan riang mereka
Mereka terpaksa melakukannya teman

Kau tahu kenapa?
Karena dengan begitulah mereka bertahan dari ketidakpastian hidup
Teman, begitulah sebenarnya  aku, kau, dan semua penghuni yang menginjak tanah bumi ini

Suara tawa yang dipaksa
Wajah riang yang tertawan
Hah, bertahanlah karena hidup masih akan panjang
hingga aku, kau, dan semua penghuni yang menginjak tanah bumi ini terselimuti.

* Penulis adalah Mahasiswa Universitas Kaki Abuu UNIKAB Aktivis Hukum dirinya juga pernah sumbang beberapa tulisan puisi di buku Sastra SiDaeng 

Jumat, 20 Agustus 2021

Sa dan Ko *Puisi*

 

Dok: Ist/Mr.Kakiabuu. (Unikab Bongkar)

Oleh : Unikab Bongkar 

Sa dan Ko adalah puisi 

Aku adalah puisi yang bermetafora indah dan berimaji elok, namun tersimpan di binder kusam kepunyaan penyair lemah yang takut menyatakan cintanya selama 5 tahun

Kau adalah puisi yang berdiksi kolot, namun bermakna renyah yang tiap minggunya terbit di majalah sastra bergengsi di negeri ini

Aku adalah puisi yang tertulis di atas kertas lapuk pada tahun 2006. Terlipat rapat sampai tintanya hilang tak terbaca

Kau adalah puisi yang diketik lewat komputer, lalu tercetak oleh tinta printer merk Solvent yang terbaik pada paparan air maupun cahaya ultraviolet di tahun-tahun terbaru

Aku adalah puisi yang hilang dan terbuang tergerus oleh zaman, sebab ganasnya kahayal membabibutakan semua jalan

Dan kau adalah puisi yang kekal dan cendayam melintasi semua generasi yang menggandrungi setiap madah kementerengannya

Aku adalah puisi yang merana. Kau adalah puisi sukacita yang tak akan bersatu dalam sebuah kisah fana

* Mahasiswa Universitas Kaki Abuu UNIKAB Aktivis Hukum dirinya juga salah satu penyumbang beberapa puisi di Buku Sastra SiDaeng 

Jumat, 07 Februari 2020

Tentang si Mr.Kakiabuu dari Kabut Mapians

Dok: Ist/Tentang si Mr.Kakiabuu dari Kabut Mapians. (Unikab)

Aku antarkan sajak sajak rinduku sebelum peluh kering di tubuh

Walau tak selembut buluh perindu aku titipkan pada sang bayu sebelum tak sudi berembus

Rinduku yang menggelayut di ujung dedaunan kalbu tak pernah pupus

Berlalu bahkan kian melagu melantunkan simponi merdu yang mendayu dayu

Walau sajak rinduku hanya ibarat 
Embusan sang bayu di musim salju
Namun bulir bulir rinduku ibarat secawan arak penyejuk bunga harapan di taman hatiku jadi tak pernah layu
Walau sajak rinduku hanya ibarat luapan kisah klasik ilusi merindu bayangan semu

Namun kisah kasih yang dianggap semu ini telah menuntun aku menemukan 
Kembali dendang kalbu yang pernah aku gandrungi dulu 
Merindu dikeriuh deburan kalbu seperti jejak di tepian pantai yang kerap tersapu ombak cemburu Kadang membuat aku seperti pengemis dungu 
Namun tak pernah aku meragu karena aku hanya pemeran yang telah diatur sutradara
 
Yang maha tahu dan cemburu pun pupus seketika itu Dan kali ini sebelum cakrawala senja memerah saga
Aku titipkan sebaris kerinduan dan kesetiaan pada mu 
Yang ada di Tatap Mata hatiku

Aku Menulis pada Sebuah Bait

Secarik kertas dan tinta hitam
Berlenggak-lenggok di kanvas putih
Ada nama tersirat rahasia
Yang selalu menjadi topik utama

Berbisik aku kepada langit
Terbuai sendu dalam hening
Menatap lurus pada harapan kosong
Berharap banyak untuk terisi

Sunyi, sepi aku sendiri
Nyanyian riang jam di dinding
Seolah menyapa dengan hangat
Hatimu sakit, jiwamu tenang

Lantas apa yang semestinya mampu?
Aku hanya mengetahui satu hal
Yang akan kita lukis
Hanya luka

Jiwa Hampa

Hari sudah mendung tanpa jiwa
Engkau laksana intan bersisik dalam telaga
Aku hidup dengan hembusan nafasmu
Seperti udara yang tersimpan di dalam kalbu

Hari sudah mendung tanpa jiwa
Engkau laksana intan bersisik dalam telaga
Aku menghias rupamu dengan denyut nadiku
Ingin membelaimu sukmamu sampai di penghujung hariku

Imaji

Menyulam titian hati memberai hari
Tegak menentang siang hingga hilang dalam pandang
Menatap kuat gurah merah di ufuk barat
Sepoi hembus angin selaksa kibas kipas-kipas asmara

Lena dan menggila
Menghambur dalam secawan anggur
Lena dan menggila
Rengek hasrat meronta bak bayi rindukan belahan jiwa
Di teras berkawan sepi
Secangkir kopi tersaji temani tarian jemari
Menekur diri menatap rona-rona matahari yang luluh dalam peraduan
Sebatang pena menggurat imaji senja

Sepasang Senja di Bola Mata

Kureguk segala gundah dalam hati
Tak kubiarkan gelas-gelas jingga memecahkannya
Pada pendaran petang yang sekian detik akan retak
Sore merengkuh dalam pangkuan gulana
Sesaat sebelum bintang malam datang mengeluh

Pada sayap hitam yang menggulita
Januari berujung seperkian hari lagi
Kisah pun tak henti menutup pada cerita tulisan ini
Yang sendu selalu mengantungi riasan paras kertas
Jejak-jejak pun menjadi pengisi halaman sunyi

Dalam vulome riakan aksara-aksara kecewa
Kutabur kata-kata di penghujung bisu senja
Secarik kalimat menghantarkan kudapan pandangan
Pada lembar pias bola mata berkeringat sedu sedan
Kulayangkan sehelai daun petang mengakhiri pintu kenang

Jarum Jam

Jarum jam masih berdenting
Aku terdiam tak sanggup bergeming
Berdiri ataukah kembali terbaring
Bagaikan kayu yang sudah kering

Jarum jam masih berdenting
Aku masih terdiam berbaring
Meratapi nasib yang demikian menggiring
Menggiringku ke pusatnya, hingga kepala ini pusing

Jarum jam masih berdenting
Aku memberanikan diri untuk berontak
Aku tak mau lagi terdiam berbaring
Karena aku makhluk yang berotak


)* Mahasiswa Universitas Kaki Abuu UNIKAB Aktivis Hukum, dirinya juga pernah sumbang beberapa tulisan puisi di buku Sastra SiDaeng.