Kamis, 02 Maret 2023

Tetodeipode; Tujuh Syair Puisi

Dok: Ist/ Tetodeipode S. Dogomo.(Tujuh Syair Puisi)

I. Media Jubi

Setiap kali hujan turun,

setiap kali menjadi sungai.

Derasnya berita media Jubi,

Menjadi gelombang frekuensi data.


Menatap matahari sampai bulan,

tanpa mengedip kedua mata.

“Hasil menatap ketetapan alam

lagit tidak selalu berbiru.


Tarikan garis horizontal membentuk,

horizon dalam media jubi.

Setiap kali ada berita, “Selalu ada, kata ada.

Rekaman setiap jejak kaki, para pemilik media jubi.

Jasa ingatan setiap insan, Menjadi gerak pasti uapan.

Gubuk Untas, 06 November 2022


II. Satu

Hari ini aku ingat,

Satu dari mereka,

yang kau bunuh.

Bapa Theys. 


Satu demi satu,

kau bunuh mereka.

Kamu ditinggikan,

Walau itu direndahkan.


Di sini ada namamu,

Di sana tak ternama.

Dapat makan malam,

Tidur lupa bangun.


Ilmu orang mati,

Mengajar, bagaimana kita mati.

Tetapi, belajarlah menjadi abu,

Menjadi ilmu alam sejati.

Bukit Theys, 10 November 2022


III. Jadi

Jaga diri baik-baik,

Jangan sampai lupa diri.

Tentang,

Siapakah kamu di depan


Aku.

Di depan mereka,

Kakimu akan terlihat,

Kaki berabu,

Sampai mereka lupa,

Sebut nama kamu Papua.


Peserta ujian akhir,

Wajib belajar dari abu,

Karena abulah sumber,

soal-soal ujian akhir.


Ada rekor ujian akhir,

melihat setiap langkah kaki,

Dari atas tanah ini,

menulis puisi kaki abu.

Organda, 09 November 2022


IV. Cukup Satu

Satu kata jadi kunci, 

Bagai memasuki ruang perpustakaan. 

Tobatlah! 

Saya sudah salah satu.


Jawaban saya ketika ditanya, 

Sumber gala sumber suara. 

Wajah ini mulai memantulkan, 

Malu di isi hati.


Kepala tertunduk menatap debu, 

Air mata pun mulai berlinang, 

Lidah tak mampu berkata, 

Akan sikapku selama ini. 


Inilah diriku 

Entah apa jawabmu, 

Diam di atas jejak kaki

Kembali seorang diri lagi

Gubuk Tewei, 01 Maret 2023


V. Tujuan Akhir

Saya bebas.

Akan sikapku.

Bebas dari,

untuk bebas.


Kamu pun bebas,

Karena bebasku.

Untuk bebas,

dari bebas.


Dari bebas,

Untuk bebas.

Saya bebas,

Dari bebasmu.


Dari bebas,

Untuk bebas,

Saya bebas,

Kamu pun bebas.

Gubuk Tewei, 02 Maret 2023


Vl. Kaki Seribu 

Di akhir bulan November,

berdiri.

Di atas batu karang,

Di pantai pasir putih.

Setelah posko dibongkar.

Gunung juga kau bongkar,

Telaga menjadi minyak sawit.

Kepada pembongkar itu,

Dapatkah kita mengejar,

Dengan berjalan kaki seribu.

Sidey, 29 November 2022


Vll. Minta Maaf

Saudara,

saya mengaku.

Saya salah,

selama ini.

 

Cemas,

derita,

duka,

tangisan.


Dari dulu,

sampai sekarang.

Saya inilah,

Yang melukaimu.


Entahlah,

Ini saya.

Asal saya,

Di sini.

Tewei, 02 Maret 2023


Penutup: Doa Bapa Kami

Bapa kami yang ada di Papua. Bapa, ajarilah aku melihat kehadiran-Mu di dalam diri setiap orang yang hina bagiku. Ketika mereka lapar, ajarilah aku memberi makan, ketika mereka haus, ajarilah aku memberi minum, ketika mereka terasing, ajarilah aku memberi tumpangan; ketika mereka telanjang, ajarilah aku memberi pakaian. Ketika mereka sakit, ajarilah aku melawat; ketika mereka dalam penjara, ajarilah aku mengunjungi; Ketika mereka sedih, ajarilah aku menghibur. Ajarilah pada kami, untuk menyebut Engkau sebagai Bapa Kami, dan ajarilah kami saling sapa sebagai putra dan putri dari Bapa kami di surga. Amin.

(Tetodeipode S. Dogomo)

Previous Post
Next Post

0 komentar: