Minggu, 09 April 2023

Problem Fillosofi Dalam Kaitannya Antara Pemerintah dan Masyarakat di Papua


Dok/Ist. (Y. K. B)

*Yulianus Kebadabi Kadepa 

Problem Fillosofi adalah permasalahan mengenai kebijaksanaan, hikmat dan pengetahuan dalam kaitan antara pihak atas, yaitu pemerintah dan pihak bawah masyarakat. Di sana, kita melihat bahwa tujuan utama politikus masa kini terarah pada, apakah yang akan dihasilkan? Dan berapa banyak hasilnya? (dalam suatu pekerjaan yang dilakukan). Hal ini mengesampingkan etika sosial dan politik yang cenderung dianggap tidak bijaksana dalam mengatur dan menata hidup masyarakat yang sifatnya oligarkis. Persoalan-persoalan seperti pendidikan dan ekonomi masyarakat tidak mendapatkan perhatian yang cukup dari pemerintah untuk membantu mengembangkan potensi yang tertanam dalam budaya secara kebiasaan hidup dan pendidikan warisan leluhur dewasa ini.

Di sini, kita melihat bahwa hikmat pemerintah tidak berdaya guna karena mati ditindih tujuan masing-masing, dalam hal, membangun bak-bak kekayaannya sendiri, sehingga mencintai kesejahteraan bukan merupakan tujuan. Lebih jauh lagi, pemerintah sendiri tidak memiliki pengetahuan yang baik untuk memahami masyarakatnya dalam bagaimana mereka mengahadapi tantangan dalam persoalan hidup. Izinkan saya memetik slogan umum yang sudah menjadi rahasia bersama yang berbunyi “mobil kaca gelap.” Hal ini menandakan bahwa mendekati masyarakat adalah jauh dari keinginan walaupun tugasnya adalah bekerja untuk masyarakat, tetapi yang terjadi ialah penghindaran. Pengetahuan yang kurang tentang masyarakat itu pula yang mengurangi kebijaksanaan para badut politik atau sebaliknya dikenakan lebel gengsi lisan yang beredar “tahu tapi pura-pura tra tau”.

Secara kenyataan, masyarakat Papua mengalami kebingungan atas permasalahan ekonomi dan pendidikan karena kerumitan dan keprihatinan dalam bidang sosial-budaya-hukum-politik-ekonomi-lingkungan dan segala aspek yang terkandung di dalamnya; pendidikan, kesehatan, kesejahteraan, dan hak-hak asasi manusia, adalah kenyataan yang harus dicarikan jalan keluar yang sungguh-sungguh serius, terbuka, Jujur adil beradab dan bertanggung jawab atas nama pemerintah.

Dalam hal ini, pemerintah Indonesia tidak mampu menyelesaikan persoalan kebangsaan, secara khusus bagi bangsa Papua sekaligus kemanusiaan, sesuai dengan amanat undang-undang 1945 yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dalam kehidupan berbangsa di atas tanah Papua. 

Dalam permasalahan ini,  pemimpin berperan penting untuk mengupayakan hidup demokratis yang ideal. Tetapi, karena seorang pemimpin kehilangan cinta akan kebijaksanaan, seperti yang kita ketahui bagaimana Papua hanya dan jika hanya diperlakukan sebagai tanah kosong dan ladang uang. Sehingga semakin ke sini, banyak masalah timbul sampai pemerintah mengalami kewalahan untuk menyelesaikannya dengan sebijak-bijaknya manusia memperlakukan manusia.

Pengalaman kepemimpinan dan kekuasaan yang kita kenal di Papua sangatlah rumit baik itu kepada pemerintah lokal maupun kepada pemerintah pusat. Dewasa ini, masyarakat Papua masih diperlakukan dengan tidak manusiawi, yang terjadi dalam bentuk konkrit mengenai minimnya kapasitas dan fasilitas pendidikan yang tidak memadai. Sama sekali, belum ada jalan keluar yang benar-benar memberi dampak baik kepada pendidikan dan ekonomi masyarakat Papua. Masyarakat Papua dan ekonominya tidak dilindungi dan masyarakat Papua masih jauh kerukunan. Pendidikannya tampak kacau akibat mogok yang disebabkan dengan adanya gencatan senjata. Masyarakat Papua tidak merasakan pendidikan yang layak jika dibandingkan dengan daerah-daerah yang layak. Karena itu, tidak ada kenyamanan bagi mereka. Bahwasanya, kondisi dan situasinya sangat memprihatikan.  Sehingga ketidakpedulian kepada masyarakat sipil di mana tempat tinggal mereka selalu terdengar suara senjata. 


Maka, peran penting pemerintah  adalah mampu mengatasi situasi apapun yang terjadi secara profesional karena hikmat kebijaksanaan. Setidaknya, dapat mengurangi kegetiran dan mencegah penimbu permasalahan. Seorang pemimpin bertindak dengan menggunakan akal sehat terhadap kepada  masyarakat Papua  sehingga kebijaksana itu terjadi. Sebaliknya Juga seorang pemimpin selalu bersama dengan masyarakat, Karena keberadaan dan prinsip  masyarakat Papua selalu menyempatkan diri dengan alam leluhur tidak mengetahui keberadaan mereka. Hal ini kenyataan bahwa masyarakat Papua hidup dari hasil mengolah tanah “bukan tanah untuk di jual jika kita di jual anak cucu dan generasi muda hidup di mana masa yang akan datang” menimbulkan masalah besar bagi generasi ke generasi berikutnya. Maka seorang pemimpin harus berpikir rasional untuk membangun persoalan di Papua seperti kebijaksanaan hikmat dan pengetahuan.

Semuanya tidak memenuhi dan mengantar kepada masyarakat   atas kepercayaan dan eksistensi kenyataan melalui pemimpin di Papua baik itu non Papua dan Papua harus tahu memahami realitas kehidupan, identitas dan individu masyarakat Papua agar tidak terjadi permasalahan. Yang terjadi problem karena ketidaktahuan dan kesalahpahaman terhadap pemimpin dan masyarakat  menimbulkan masalah. Tindakan yang mesti dilakukan meningkatkan pengetahuan tentang masyarakat dan pemimpin yang hebat akan menjalani seperti itu diawal masa tugas. Sebab, mengetahui dan mengenali permasalahan yang terjadi di Papua sudah merupakan kunci untuk tenggelam dalam mencari jalan keluar yang layak. Pemimpin yang baik selalu  mencari solusi yang terbaik dengan bijaksana.

Seorang pemimpin  melakukan dengan bijak sesuai esensi yang terjadi dalam peristiwa di Papua, masyarakat Papua akan hidup damai dengan adanya kebijakan cinta. Jika tidak ada melulu tentang kebenaran, maka akan menimbulkan pengetahuan tidak bijak dari masyarakat. Hakekatnya seorang pemimpin memiliki akal yang sehat dan kebijakan rasional untuk membuat, merangkum dan mengatasi cinta akan rasa memiliki terhadap masyarakat

Pada akhirnya, berdasarkan hasil opini ini, yang ditekankan ialah pentingnya pendidikan dan ekonomi di Papua. Agar bagi bangsa orang Papua, memiliki pengetahuan yang cukup, dan ekonomi yang  menjamin kebutuhan masyarakat Papua melalui pemerintah. Jika hal-hal seperti itu terpenuhi oleh bangsa Indonesia terlebih khusus di Papua maka masyarakat Papua selalu merasakan rasa bahagia damai, upsejahtera dalam ketenteraman.

Jika kesejahteraan bangsa Papua itu  Penting maka marilah kita bertindak sesuai dengan esensi yang terjadi di Papua agar tercipta kedamaian dan keadilan di atas tanah ini. Zaman sekarang bangsa Papua sangat membutuhkan ekonomi dan pendidikan sebagai tanda awal untuk SDM yang unggul, berkurangnya pengangguran dan tunjangan kehidupan yang makmur.

Semuanya problem-problem ini, terjadi karena ketidaktahuan seseorang terhadap peningkatan nilai hidup. Pendidikan merupakan tongkat yang dapat mencerdaskan bangsa. Sedangkan, ekonomi pintu masuk kehidupan yang lebih layak. Apabila hidup tanpa pengetahuan akan sama seperti hidup tanpa cahaya, demikian juga, tidak memiliki lapangan kerja akan memperlihatkan ketidakelokah tanah sendiri, yang artinya, hidup tanpa cinta akan tanah air. (*)

(KMT/Admin)

Previous Post
Next Post

0 komentar: