Selasa, 04 April 2023

Pemikiran Durkheim, Weber dan Max Dalam Evolusi Sosial di Indonesia

Dok: Ist/Pemikiran Durkheim, Weber dan Max Dalam Evolusi Sosial di Indonesia. (Sebuah Relevansi Kontekstual)

*Siorus Ewanaibi Degei

Pemikiran Emilie Durkheim, Max Weber dan Karl Max tertuang dalam buku-buku yang mereka hasilkan. Kita akan bercengkrama dengan pemikiran ketiga tokoh ini dan relevansi pemikiran-pemikiran tersebut dalam kehidupan masyarakat Indonesia, khususnya dalam kaitannya dengan buah pikir Hebert Spencer tentang Evolusi Sosial dalam potret gejolak gejala-gejala sosial yang mengemuka dewasa ini di Indonesia.

Emilie Durkheim (1855-1917)

Ada tiga buku terkenal dalam Sosiologi yang telah dihasilkan oleh Emilie Durkheim yang juga adalah landasan pemikiran sosiologi dan filsafatnya, yakni Pembagian Kerja (De la Divison du Travail, 1893), Aturan-Aturan Metode Sosiologi (Les Regles de la Methode Sosciologique, 1897), Bunuh Diri (Le Suicide, 1897), Majalah Ilmiah L’Anne Sosciologique, 1896, dan Bentuk-Bentuk Dasar Kehidupan Keagamaan (Les Formes Elementaries de la Vie Religieuse, 1912), (Renwarin, 2004; 12) . Pemikiran Durkheim yang terkenal ialah tentang Solidaritas Mekanik dan Solidaritas Organik. Dalam masyarakat Solidaritas Mekanik, mereka hidup tidak atas dasar panduan yang jelas, karenanya solidaritasnya bersifat natural atau terjadi secara apa adanya. Sementara dalam Masyarakat Solidaritas Organis, kehidupan mereka sudah teratur dan karenanya solidaritas di antara mereka pun berjalan sesuai hukum-hukum yang telah ada, (Raho, 2004; 15)

Max Weber (1864-1920)

Ada enam buku terkenal Max Weber yang menjadi warisan gemilang dalam perkembangan ilmu Sosilogi selanjutnya, yakni Kencenderungan Dalam Pengembangan Situasi Pekerja di Jerman Timur (1894); Sebab-Sebab Sosial dari Dekandensi Sivilisasi Kuno (1894); Etika Protestan dan Spirit Kapitalisme (1904); Esai-Esai Dalam Ketegori-Kategori Sosiologi Yang Comprehensive (1913); Sosiologi Agama (1916); Ekonomi dan Masyarakat (1919), (Renwarin, 2022; 18). Menurut Weber Sosiologi adalah Ilmu yang mempelajari tentang Tindakan-Tindakan Sosial, (Haryanto dan Nugohadi, 2011; 28). Ia juga terkenal dengan kajiannya tentang Rasionalisasi dan Birokrasi. Menurutnya Birokrasi adalah manifestasi dari Rasionalisasi, sebab Rasionalisasi adalah pertimbangan-pertimbangan rasional dalam pegambilan keputusan dan tindakan, hal mana ini sangat identik dengan iklim Birokrasi yang selaluh menguras rasio demi memenuhi visi-misnya. Selain itu, Weber juga terkenal dengan temuan atas kaitan Kapitalisme dan Protestanisme (Agama Kristen Calvinisme). Menurutnya, salah satu indikator terjadinya penghisapan kapitalisme di Eropa Barat dilatarbelangkagi oleh Dogma Calvinisme yang menuntut umatnya untuk tekun bekerja meraub keuntungan dari hasil olah Bumi, sebab itulah kehendak Tuhan. Yang mana waktu itu hampir sebagian kapital adalah para puritan Agama Kristen Calvinis, (Raho, 2004; 14).

Karl Max (1818-1883)

Ada enam buku tersohor yang sempat dihasilkan oleh Karl Max, yakni The Economitc and Philosophic Manusscripts (1932); Communist Manifesto (1848); The Holy Family (1845); The Poverty of Philosophy (1945); The German Idelogy (1846); dan Das Capital (1867), (Renwarin, 2022; 24). Dari banyak literatur yang telah ia hasilkan, yang paling terkenal ialah Manifesto Communist dan Das Kapital. Inti pemikiran Marx adalah Alienasi atau Keterasingan, Marx melihat ada keterasingan besar dalam realitas sosial, yakni antara kaya dan miskin atau kelas buruh dan pemilik Modal. Marx merekomendasikan agar supaya masyarakat terbebas dari cengkaraman alienasi maka kelas buruh harus bangkit dan membumihanguskan rezim kapitalisme, dan segera mendirikan Rezim Diktator-Proletariat, (Sindhunata, 2019; 69). Sehingga tercipta masyarakat tanpa kelas, di mana keadilan dan kesejateraan itu menjadi milik semua orang bukan satu dua orang saja, (Raho, 2004; 24).

Evolusi Sosial Dalam Gejala Sosial di Indonesia

Evolusi Sosial, pemikiran ini berasal dari Hebert Spencer (1820-1903), seorang sosiolog asal Inggris. Pemikirannya mengenai Evolusi Sosial tertuang dalam bukunya yang berjudul Principles of Sociology. Menurut Spencer suatu organisme akan mengalami perubahan dari taraf yang paling sederhana hingga taraf yang terbilang canggih. Ia memakai Teori Evolusi dari Charles Darwin untuk meneliti perkembangan masyarakat dari abad-abad silam hingga masyarakat modern.

Pemikiran Evolusi Sosial ini baik untuk melihat gejolak gejala-gejala sosial yang ada di masyarakat. Kali ini kita akan memakali teori Hebert Spencer ini untuk melihat gejala-gejala sosial yang sedang mengemuka di Indonesia. Di Indoensia, terutama sebagai negara yang majemuk dan holistic, tentu gejala sosial yang timbul beransur mengikuti ruang kemajemukan dan keholistikan yang ada. Hanya saja kita akan mengerucutkan pandangan pada gejala-gejala sosial yang muncul belakangan ini, terutama gejala sosial yang dihasilkan oleh Pandemik Covid-19.

Salah satu dimensi kehidupan yang terkena imbas pusaran Covid-19 ialah dimensi Ekonomi. Di tengah peperangan melawan badai covid-19 yang kian menjadi-jadi evolusinya di Dunia, khsusnya di Indonesia. Hampir semua aktivitas perekonomian; seperti Pasar, Industir, Mall, Super Market, Restoran, Kafe, dan tempat bisnis lainnya yang selaluh padat massa kini telah di ambang “Gulung Tikar” alias bangkrut. Akibat kebijakan Social Distangce and Psysical Distangce yang membatasi interaksi sosial secara offline (Luring/Luar Jaringan) semuanya kini terjadi secara online (Daring/Dalam Jaringan).

Relevansi Pemikiran Durkheim, Weber dan Marx 

Pertama, Durkheim, dua solidaritas yang ditawarkan oleh Durkheim, yakni Solidaritas Mekanik dan Solidaritas Organik, keduanya sangat terlihat dalam kehidpan masyarakat Indonesia di daerah Perkotaan dan Perkampungan. Bahwa di daerah Kota Solidaritas Oraganik itu sangat terlihat dan terasa dengan adanya komunitas-komunitas sosial yang berorientasi sesuai prosedur yang ada, dalam artian memiliki angaran dasar dan anggaran rumah tanga yang berlaku, begitu juga secara keseluruhan kehidupan kota lebih maju dan teratur. Sementara, bau Solidaritas Mekanik itu sangat tercium dalam kehidupan masyarakat di perkampungan, di mana kehidupan bersama dibagun atas dasar spontanitas dan atau semangat gotong royong.

Kedua, Weber, pemikiran Weber tentang Rasionalisasi dan Birokrasi, juga tentang Protestanisme dan Kapitalisme dapat kita pakai untuk menerawang gejala gejolak-gejolak sosial di Indonesia. Pertama, Rasionalisasi dan Birokrasi, kita melihat bahwa saat ini rasionalisasi menjadi suatu jurus para elite politik kita untuk melegitimasi status mereka dan atau menjustivikasi kesalahan mereka di hadapan publik. Banyak elite suka terlihat Pro-Rakyat, Pro-Demokrasi dan Pro-Keadilan, tetapi tahu-tahunya di belakang layer public semuanya berlomba-lomba bermain saham bersama para bandit kartel dan ologarkis. Ada juga elite kita yang pandai mengumbar janji-janji manis saat pemilihan, juga saat berkunjung ke tengah masyarakat, namun realisasi berupa regulasi-Birokrasi atas janji-janji itu teramat nihih dialami rakyat.

Berikut Protestanisme dan Kapitaslisme, dalam kontkes di Indonesia penulis mengubahnya menjadi Islamisne dan Terorisme. Agak sedikit miris, sebab Agama dijadikan suatu legitimasi yang membenarkan tindakan kejahatan sekaliber Pembunuhan, Bom Bunuh Diri, Terorisme dan lain sebagainya. Di Indoensia kelompok Islam Radikal atau Islam Garis Keras yang telah cukup lama terkontamidasi dengan paham-paham terorisme Timur Tengah, khsusnya ISIS sudah mulai menunjukkan eksistensinya. Beberapa peristiwa Bom Bunuh di tanah Air membenarkan argument ini, bahwa sama seperti Protestanisme dan Kapitalisme yang berjalan bak “Dua Sisi Logam”, rasa-rasanya Islamisme dan Terorisme juga hadir dewasa ini sebagai gejala sosial yang ekstrim di Indonesia.

Ketiga, Marx, pemikiran Marx tentang Alienasi atau Keterasingan juga menjadi suatu kecamata yang menarik untuk meneropong situasi gejala sosial di Indonesia. Penulis akan memimjam teori Alienasi dari Karl Marx ini untuk melihat Keteransingan masyarakat lokal di Kalimantan (Dayak) dan di Papua (Orang Asli Papua/OAP). Dua masyarakat ini, khususnya penduduk lokalnya, yakni Orang Asli Dayak dan Orang Asli Papua, kini menjadi entitas yang minoritas di negeri ini, bahkan di tanah ulayat mereka sendiri, mereka menjadi komposisi penduduk yang kian punah. Padahal kekayaan alamnya berlimpah ruah. Di sini terjadi sebuah paradoks antara keberlimpahan Sumber Daya Alam dan Kapasitas Sumber Daya Manusia, sehingga berjung pada sebuah keterasingan absolut dalam kehidupan masyarakat Asli Dayak dan Papua. Kurang lebih demikian, jika kita hendak memakai pemikiran tiga tokoh Sosiologi Dunia untuk menakar evolusi sosial dalam gejala-gejala kehidupan suatau masyarakat, seperti halnya di Indonesia. Bahwa Pemikiran ketiganya selaluh relevan jika diterapkan pada konteks masyarakat yang tepat. (*)

Daftar Pustaka:

RENWARIN BERNARDUS. Bernardus. 2022. Pengantar Sosiologi, STFT “Fajar Timur”: Abepura.

RAHO BERNARD. 2004. Sosiologi: Sebuah Pengantar, PT LEDALERO: Maumere.

SINDHUNATA019. Teori Kritis Sekolah Frankfurt, PT Gramedia Pustaka Utama: Jakarta.

HARYANTO DANY dan NUGROHADI EDWI G. 2011. Pengantar Sosiologi Dasar, PT Prestasi Pustasi: Jakarta.

)* Penulis Adalah Mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat-Teologi “Fajar Timur” Abepura-Papua.

Previous Post
Next Post

0 komentar: