![]() |
| Dok : Ist/Tete Clemens Kotouki. (Mandor Lapangan zaman Belanda dulu) |
Oleh: Siorus Degei
Tuhan Pake dan Jaga Bapatua Selalu, Tetap Kuat, Sehat dan Semangat, Amin. Bapatua Clemens Kotouki, usia beliau sekarang berkisar 104 tahun. Saya mensinyalir beliau adalah salah satu orang tertua saat ini di Wilayah Mapiha (umumnya Meepago- Papua). Bertanggung jawab, penuh syukur, humoris, teguh pegang adat (leluhur dan alam), imun dalam iman, dan tampil apa adanya merupakan beberapa hal yang khas pada beliau (dan bisa menjadi inci inspirasi bagi generasi kekinian).
Menurut cerita orangtua, beliau adalah sosok pria perkasa dan pemburu hebat semasa mudanya. Beliau termasuk seorang Tonawi (Raja, Bhs. Mee); punya banyak istri, punya banyak harta dan tanah, dermawan, dan punya prestise, popularitas dan prestasi yang gemilang dalam masyarakatnya, juga memiliki relasi interaksi dan komunikasi yang luas. Saat musim berburu tiba, beliau akan mengajak komunitasnya untuk pergi berburu bersama, mereka akan menaklukkan misteri hutan dan isinya.
Lantaran keperkasaannya itu beliau sempat dilirik "Degebage" (orang asing; para misionaris-perintis) guna merintis wilayah misi dan pemerintahan di Papua. Beliau beberapa kali diajak untuk membuka wilayah pemerintahan dan Gereja di beberapa kota tua di Papua; Nabire, Serui, Biak (Teluk Humboldt, Teluk Cendrawasih) dan Hollandia (Kini Jayapura). Konon katanya salah satu alasan mengapa beliau masih awet muda hingga hari ini adalah bahwa karena pola hidup yang beliau hidupi adalah pola hidup awet yang diajarkan dan diwariskan oleh kaum asing itu kepadanya. Ia dikenalkan dan diajarkan untuk bagaimana bisa hidup manjur hingga menaklukkan usia ratusan tahun sekalipun sesuai situasi, kondisi dan konteks alam di Papua. Sehingga tidak heran usia dan karirnya tumbuh subur layaknya orang barat (orang bule) yang sudah biasa menaklukkan ratusan tahun hidup.
Saya kira sharing pengalaman hidup dari tokoh-tokoh masyarakat seperti ini, khususnya Tete Clemens Kotouki sangat penting bagi generasi kini guna membentengi eksistensi bangsa Papua dari keniscayaan Genosida (pemusnahan bangsa), Ekosida (pemusnahan ekologi), Etnosida (pemusnahan budaya), dan spiritisida (pemusnahan moral dan akhlak) yang sedang terjadi secara sistematis, massal dan masif di Papua dewasa ini. Sosok-sosok seperti mereka ini punya epistem filosofis (pengetahuan, pengalaman dan pergumulan) yang berharga sebagai Ilham proteksi diri, alam, budaya dan moral bangsa Papua dari semua ancaman, hambatan, gangguan dan tantangan internal maupun eksternal yang mengancam esensi dan eksistensi bangsa Papua.
Semua insan berambut keriting dan berkulit hitam mesti Sadar, Bersatu, Dan Melawan karena misi dekolonisasi dan depopulasi itu bukan fantasi tetapi sebuah fakta konkrit yang sudah, tengah dan akan terus terjadi di seluruh teritori Papua. Karenanya kita membutuhkan banyak panduan etis guna keluar dari keniscayaan pemusnahan absolut di atas, dan dengan epistem dari tokoh-tokoh tua seperti Tete Clemens (semua orang tua yang ada di seluruh teritori Papua).
Semua oknum dan pihak yang peduli terhadap eksistensi bangsa Papua yang getol, vokal dan frontal hari-hari ini memperjuangkan kebenaran, keadilan dan perdamaian di Papua; Pemerintah, Gereja, Swasta, Aktivis HAM, dan lainnya, sudah sebijaknya menjemput bola perabadan bangsa sebelum terlambat dan kita sadar bahwa sudah tidak ada lagi batu pijakan yang mampu. Kita mesti belajar banyak dan kontinyu dari para tetua kita subur dalam hidup. Bahwa ada banyak harta karun kehidupan yang bernilai lebih dalam setiap diri mereka.
Semua pengetahuan, pengalaman dan pergumulan yang ada pada sosok-sosok emas ini bisa menjadi referensi kebijakan lokalitas di tingkatkan pemerintah dan Gereja guna memproteksi manusia alam dan budaya Papua. Pandangan-pandangan filosofis mereka atas eksistensi manusia, alam, budaya; relasi rasional-harmonis empat rangkap (manusia dengan dirinya, manusia dengan manusia lainnya, manusia dengan alam, dan manusia dengan budaya); pola hidupnya (pola pikir, pola rasa, pola hayat, pola makan, pola komunikasi, dan pola tindakan serta evaluasi-protektif).
Pemerintah dan Agama (Gereja Katolik dan Protestan) bisa menjadikan epistem filosofis dan hidup dan karya tokoh-tokoh masyarakat seperti tete Clemens dan generasi seangkatannya di Papua ini sebagai soko guru untuk menjaga dan melindungi eksistensi bangsa dari ancaman badai kepunahan. Mereka-mereka ini adalah "PERPUSTAKAAN HIDUP DAN PERADABAN", "Hutan Pengetahuan", dan "Lautan Kebijaksanaan" yang sangat berharga dan bernilai besar maknanya; terselubung hikmah, mistik akan falsafah hidup, serta sarat keutamaan nilai ultim. Mereka adalah tempat belajar, "Sekolah, Kampus" untuk menciptakan hidup yang seimbang antara manusia dan dirinya, manusia dan manusia lainnya, manusia dan alam, serta manusia dan budayanya.
Mumpung "Emas-Emas" kesuksesan hidup itu masih ada, maka semua insan yang masih waras dan sadar di bumi cenderawasih ini dipanggil secara darurat untuk segera mungkin MENDOKUMENTASIKAN dan MEMPUBLIKASIKAN riwayat hidup orang-orang tua kita yang berpengaruh dalam masyarakat kita sebagai bentuk kepedulian dan kecintaan kita akan masa depan bangsa Papua yang di ambang kehancuran dan kepunahan. Kala Rindu Lawakan Tete Clemens, Rab. 8 Jun 2022, Pkl. 08:20 WPB. (*)
(KMT/Admin)

0 komentar: