![]() |
| Dok : Ist/ Penangkapan dianiaya pelaku bawah senjata aapi. (Potret Kriminalisasi 2 Mahasiswa di Pelabuhan Nabire) |
*Siorus Degei
Penumpang kapal yang dimayoritasi oleh kaum pelajar dari kota Studi Jayapura mengalami serangan psikologis yang bukan kapalang. Mereka menyaksikan sendiri di momen Natal bagaimana dua rekan mahasiswa mereka ditangkap oleh aparat keamanan (Polisi) secara brutal, frontal dan radikal.
Kedua mahasiswa yang ditahan dengan dalil yang misterius diamankan secara tidak manusiawi oleh aparat keamanan.
Perlu dicatat bahwa apa yang dilakukan oleh aparat keamanan pada momentum perayaan Natal di Pelabuhan Nabire West Papua itu sebenarnya menegaskan beberapa hal penting sebagai berikut:
Pertama, secara tidak langsung polisi telah memberangus hak asasi dari kedua mahasiswa yang diamankan secara tidak mampu.
Kedua, Secara tidak langsung polisi telah menyerang psikologis mahasiswa yang hendak berlibur bersama keluarganya di Nabire West Papua. Mereka yang tadinya berpikir akan bisa merayakan Natal secara damai di kampung halamannya itu mengalami serangan psikologis yang menggemparkan dari aparat keamanan.
Ketiga, Polisi hendak menegaskan bahwa di West Papua itu tidak ada damai Natal, terutama di daerah konflik West Papua, termasuk Meepago West Papua.
Polisi dengan melakukan aksi represif terhadap 2 Mahasiswa West Papua di Pelabuhan Nabire sejatinya mau menandaskan bahwa Intan Jaya itu daerah konflik, Paniai itu daerah konflik, Deiyai itu daerah konflik dan Dogiyai itu daerah konflik, kini Nabire juga dideklarasikan dan diproklamasikan sebagai daerah konflik.
Mungkin catatan di atas sedikit dari penyebab hilangnya euforia Natal.
Rasanya, tidak pantas merayakan Natal dalam situasi seperti di atas, karena Kelahiran Raja Damai yang hendak dinantikan dan disambut itu dibelenggu dengan euforia Piala Dunia, Konflik Bersenjata, Keracunan dan peristiwa kekerasan lainnya di Papua yang tak kunjung usai.
https://kawatmapiatv.blogspot.com/2022/12/pembumihangusan-damai-natal-di-nabire-12.html
Dari situasi ini, dalam konteks Babi Berpolitik: Siapa yang Diuntungkan dan Dirugikan? Pertama, yang diuntungkan adalah Para Babi. Mereka Akan Merasa Aman. Sebab, kemungkinan mereka tidak akan dikorbankan saat Natal. Kedua, yang dirugikan adalah Umat Kristiani, sebab Dalam Situasi Menyambut Natal, suasana hati dan keamana mereka terusik.
Damai Natal di West Papua benar-benar di ambang sekularisme dan profanisme. Pasalnya arti dan makna Natal Penghayatan Natal benar-benar dipukul mundur oleh ragam kicauan euforia duniawi.
Beberapa Pokok Penegasan
Ada beberapa hal penting yang bisa menjadi perhatian bersama guna menjaga kekudusan perayaan natal di West Papua:
Pertama, Perlu ada Jeda Kemanusiaan di seluruh Teritori West Papua. Melalui ULMWP yang diwakilkan secara sepihak oleh Markus Haluk dan Manase, Amnesty Internasional, Dewan Gereja Papua, Majelis Permusyawaratan Rakyat, dan Komnas HAM RI sempat bertemu Komisioner Dewan HAM PBB di Genewa Swiss pada 10 November 2022 guna mendorong Dialog sebagai resolusi konflik di West Papua, rekomendasi yang muncul saat itu adalah Jeda Kemanusiaan. Sekarang mari kita bertanya dalam konteks rentetan peristiwa dan tragedi memiluhkan, terutama Penangkapan 2 Mahasiswa pasca pertemuan di Swiss Genewa, Quo Vadis Jeda Kemanusiaan di West Papua?
Kedua, Bebaskan 3 Tapol Mahasiswa USTJ West Papua, 2 Pimpinan Mahasiswa UNCEN dan 2 Mahasiswa yang ditahan di Pelabuhan Nabire.
2 Mahasiswa yang ditahan dengan dalil indikasi membawa senjata api mesti mendapatkan hak keadilannya. Pola penangkapan kedua mahasiswa itu terjadi secara tidak manusiawi, sangat represif dan meresahkan masyarakat Papua yang saat itu hadir.
Fenomena yang ditunjukkan oleh aparat keamanan (Polisi) sangat menyerang psikologis rakyat Papua, terutama para mahasiswa yang hendak berlibur ke kampung halamannya masing-masing. Pola pendekatan aparat keamanan mengingatkan mereka pada aksi-aksi represif militeristik saat mereka mengawal agenda, petisi dan aspirasi rakyat West Papua.
Pada esensi semacam inilah maka dapat dikatakan bahwa Polisi telah membumihanguskan kedamaian Natal yang hendak disemikan oleh para mahasiswa. Bahwa tidak ada bedanya dan memang benar adanya bahwa Papua Darurat Militer dan kedamaian Natal West Papua sudah diinjak-injak oleh aparat keamanan.
Perlu ada investigasi dan advokasi dari semua pihak, terlebih Lembaga-lembaga Hukum, Kemanusiaan dan Keadilan di Nabire West Papua.
Ketiga, Perlu ada Rekonsiliasi Universal dan Massal di seantero West Papua lintas Adat, Agama dan Pergerakan Perjuangan Perdamaian West Papua yang kompleks dan komprehensif.
Keempat, Perlu ada kunjungan Dewan Tinggi HAM PBB Ke West Papua bersama Jurnalis Asing yang Independen guna menginvestigasi, mengadvokasi, mendokumentasikan dan mempublikasikan rentetan Pelanggaran HAM di West Papua dan menciptakan Papua Tanah Damai melalui suatu Dialog Damai sesuai konsep dan mekanisme PBB dan Mediang Pater Neles Tebai sebagai Bapa Dialog Damai West Papua demi mengembalikan Kedamaian Natal dan Kekudusan West Papua. (*)
(KMT/Admin)

0 komentar: