Senin, 23 Januari 2023

Babi Berpolitik; Ko Babi Apa?

Babi Berpolitik: "Maunya Babi Apa, Panggang atau Barapen?. (Bongkar Pace)

*Amoye Dogopia 

Dalam tradisi orang Papua (pegunungan), dalam memasak Babi, mereka akan bakar batu atau umumnya dikenal dengan nama Barapen. Ada juga, Babi yang dipanggang di Api. 

Kadangkala, dalam menyajikan masakan, Orang Papua menggunakan dua metode memasak, yaitu Barapen dan Panggang. Dua metode memasak ini, memiliki keunggulannya masing-masing. Babi panggang, seperti tidak terlalu rumit, hanya saja si pemasak akan kesulitan dalam membolak-balik Babi tersebut. 

Babi Barapen memang terlihat sederhana. Si pemasak hanya memanaskan batu dan membungkus babi itu dalam batu panas. Hanya repotnya, si pemasak harus mencari kayu yang banyak, mengatur batu, membuat kolam, mencari daun, sayur mayur dan umbi-umbian. Setelah batu panas, batu itu kemudian diangkat dan dimasukkan dalam tempat Barapen. Setelah dibungkus, si pemasak hanya menunggu 30 menit sampai 1 jam. 

Ini berbeda dengan Babi panggang, si pemasak membakar kayu sampai bara api yang tersisa. Setelah itu, Babi diletakkan di atas bara. Pemasak menunggu sambil membolak-balik bagian-bagian Babi itu. Pemasak memastikan bagian mana yang sudah masak dan bagian mana yang belum. Pemasak akan "was-was" menjaga jangan sampai kehangusan. 

Dari kedua penyajian ini, umumnya di Papua, Orang lebih suka adalah Babi Barapen. Sebab, dagingnya gurih. 

Seperti itulah, Politik NKRI di West Papua. Mereka menyajikan "Babi Barapen"; Menyiapkan Kayu, Mengatur Batu, Menyiapkan Sayur-mayur dan Rerumputan pembungkus Barapen. Mereka membungkus Babi itu di dalam Bungkusan Barapen, setelah itu Mereka Sajikan kepada orang Papua. Entah masak seutuhnya atau mentah sebagian itu bukan urusan NKRI. Masak dan Mentah daging Babi Barapen adalah urusan Orang Papua.

Babi Berpolitik: "Saatnya Berburu, Siapkan Panah/tombak/senapan, Jerat dan Anjing Pemburu"

Berburu Babi Hutan merupakan suatu tradisi di Papua umumnya. Saat seseorang/sekelompok orang akan berburu Babi Hutan, biasanya mereka mempersiapkan beberapa alat perburuan, yaitu berupa Panah, tombak adakalanya senapan digunakan.

Seringkali, bila hendak memasang jerat/jebakan babi hutan, mereka biasanya mempersiapkan tali-temali. Itu tergantung dari jenis jerat apa yang akan dipasang. Kalau, itu jembatan tali, maka dipersiapkan. Tapi jika itu jebakan "lubang", maka tidak membutuhkan tali temali. 

Mereka suka berburu Babi Hutan, biasanya juga membawa beberapa ekor anjing pemburu. Jenis perburuan ini berbeda dengan memasang jerat. Anjing pemburu penciuman sangat tajam. Ia dapat mencium bau babi hutan, juga dari bekas kaki atau bekas tempat bermainnya Babi Hutan. 

Ada kalanya, Anjing pemburu memiliki keahlian khusus penciuman. Ada anjing pemburu yang hanya dapat melacak Babi hutan. Binatang yang lain selain Babi Hutan, tidak dapat dilacak oleh Anjing tersebut. 

Di West Papua saat ini, NKRI sudah dan Sedang Berburu. NKRI sudah dan sedang mempersiapkan Panah/tombak/senapan, Jerat dan Anjing Pemburu. Jerat yang lain sudah dipasang, Anjing pemburu sedang melacak Babi Hutan. 

Maka bersiaplah untuk Kena; Pertama, Kena Tombak Panah / Peluru. Kedua, Kena Jerat. Ketiga, Kena Gigitan Anjing pemburu. 

Babi Berpolitik: "Babi-Babi Sampah, Keruk Sampah, ...?"

Di beberapa Kota di Papua, kadang kita menemukan ada babi-babi piara yang sengaja dibiarkan / dilepaskan begitu saja di lingkungan bebas. Ada juga yang lari sendiri/keluar dari kandang. 

Tidak jarang kita temukan, babi-babi piara itu berkeliaran di kota. Namun kerapkali jarang, babi-babi itu berada keramaian orang banyak. 

Tempat yang paling banyak dikunjungi oleh babi tersebut adalah Tempat Pembuangan Sampah (TPS). Babi-babi tersebut mengunjungi sampah untuk Satu Tujuan yaitu, Mengisi Perutnya. Di TPS, babi akan mengeruk, membongkar, mencungkil dan membor sampah dengan moncongnya. 

Tidak penting, apakah sampah itu berbau busuk ngengat, tidak penting apakah sampah itu berpenyakit. Yang terpenting bagi Babi itu adalah Mendapatkan Makanan; Mendapatkan sisa-sisa kotoran; Mandapatkan rezeki untuk perutnya. 

Seperti itulah, kehadiran NKRI di West Papua. NKRI adalah negara sampah, yang memproduksi Kotoran, Memproduksi Malum, Memproduksi Hoax. Tapi, Ada yang masih mengeruk darinya, mengaisnya, mencungkilnya, membor dari dengan moncongnya.

Babi Berpolitik: "Kandang Baru, Babi Siap Diternakkan"

Sebelum memulai memelihara Babi, biasanya orang Papua mempersiapkan kandang. Seperti biasanya, ada beberapa jenis kandang Babi, yang dibuat dengan bahan-bahan "lokal", seperti kayu dan tali-temali hutan (rotan). 

Ada yang dibuat petak-petak, khusus untuk induk betina dan juga petak lainnya untuk induk pejantan. Biasanya, awal dibuat kandang tergantung dari jumlah Babi dan ukuran babi yang akan Diternakkan. Bila ukuran besar dan jumlahnya banyak, maka kandang akan dibuat dengan ukuran besar dan luas. Tetapi jika ukurannya kecil dan jumlahnya sedikit (1/2 ekor) saja, maka akan disesuaikan. 

Jika kandang sudah jadi sesuai dengan jumlah dan ukuran berdasarkan petak-petak, maka Babi Siap Diternakkan.

Saat ini di West Papua, NKRI sudah membuat 3 kandang besar. Sesuai dengan ukuran dan jumlah yang akan Diternakkan dalam kandang tersebut. NKRI juga telah membuat petak-petak kandang berdasarkan Induk Betina dan induk Pejantannya, yang harapannya akan ada anakan baru lainnya untuk mengisi kandang baru. Ya selamat!

Babi Berpolitik: "Anakan Babi Masuk Kandang, Sukacita Sang Peternak"

Sang Peternak Babi, biasanya memisahkan induk betina dan pejantan. Pada saat musim kawin, si peternak tahu. Maka ia mulai memindahkan babi betina / jantan ke kadang induk. Ia akan memantau, apakah betina dan jantan sudah saling kawin-mawin. 

Setelah kawin-mawin terjadi, ia memisahkan Kembali. Si induk betina, mulai bunting. Kebuntingan si betina, terlihat dari puting susu. Jika puting susunya membengkak, maka itu pertanda si betina sedang bunting. 

Peternak akan dengan serius memantau si induk betina. Ia akan melihat perkembangan si induk betina 3-5 bulan lamanya. Si betina, perutnya membesar dan pada 6/7 bulan kemudian betina melahirkan anak. 

Si peternak merasa bahagia. Ia akan dengan serius memperhatikan si induk itu. Bagaimana perkembangan anakan Babi sampai pada proses si induk betina melahirkan anakan Babi. Ini dalah sukacita bagi si peternak. Namun, hal lainnya lagi, si peternak akan memiliki tanggungjawab yang lebih besar memperhatikan anakan babi dan si induk. 

Peternak akan mulai berpikir untuk kandang baru lagi bagi anakan babi tersebut. 

Ya, seperti itulah NKRI di West Papua. Setelah ia mengawinkan induk betina dan jantan, maka selanjutkan ia mempersiapkan kandang lagi untuk anakan Babi hasil kawin-mawin tersebut. 

Babi Berpolitik: "Tak Rela Babi Tercinta Disembelih"

Biasanya, ada babi-babi Piara yang sangat dicintai si peternak orang Papua. Terlebih khusus para wanita "mungkin". Babi itu sepertinya, dicintai oleh si peternak.

Saat babi itu hendak disembelih, si peternak akan merasa "terpukul". Sepertinya dia tak rela babi itu Disembeli. 

Ada kalanya, (orang Papua) membujuk si peternak. "Nanti kami ganti". Si peternak, bagaimanapun merasa kehilangan babi itu. 

Namun, saat diganti dengan Babi yang lainnnya, ia akan bersukacita. Model seperti inilah yang sedang terjadi. NKRI menerapkan itu di West Papua.

Babi Berpolitik: "Cari Anak, Betina -Jantan sudah Masuk Kandang"

Seperti ulasan kami sebelumnya, tentang Kandang Babi. Telah kami uraikan bahwa Kandang sudah dibuat. Sekurang-kurangnya ada 3 Kandang yang baru diresmikan. 

Si tuan, memilih dan memilah kandang itu. Babi jenis apa, ukuran dan jumlah, betina atau jantan. Di kandang mana Babi itu dimasukan. Sesuai dengan ukuran, jenis babi dan jumlah babi di satu petakan kandang. 

Jika si tuan hendak kembangkan Babi, maka ia akan memilih dan memilah mana indukan Babi Betina dan Indukan Babi Jantan. Indukan Jantan-Betina itu dimasukan dalam satu Kandang yang sama. Tujuannya agar segera berkawin. Dengan harapan, si Betina bunting dan segera mungkin beranak pinak. 

Setelah proses kawin sudah terjadi, si jantan akan dipindahkan ke kandang lainnya. Itu dilakukan guna menghindari pertengkaran si betina dan jantan. Apa lagi ketika si betina sudah bunting dan beranak, bila si jantan masih bersama, mereka akan bertengkar.

Saat ini di West Papua, NKRI sudah membuat 3 Kandang besar. Sementara ini, Babi Betina dan Jantan sedang dikawinkan. Harapannya, Babi Betina segera Bunting dan beranak pinak supaya mengisi Kandang yang sudah disiapkan. Ya begitulah!

Babi Berpolitik "Mutiara dan Babi"

Yesus pernah mengatakan Perumpamaan; ".....jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, supaya jangan diinjak-injaknya dengan kakinya, lalu ia berbalik mengoyak kamu." (Mat. 7:6). 

Bagi orang Israel Babi adalah Binatang yang haram. Orang Israel dalam tradisi Sosio-Religi dan sosio-budaya memandang Babi sebagai Binatang yang "Tabu". Agama dan adat istiadat mereka tidak memperkenankan orang Israel memelihara dan mengkonsumsi Babi. 

Kepercayaan Israel seperti itu, juga dianut oleh Agama Islam. Sama dengan Israel, agama Islam juga memandang Babi sebagai Binatang yang dilarang untuk dipelihara dan dikonsumsi. 

Memelihara dan mengkonsumsi Babi bagi mereka adalah Perbuatan yang najis. Itu termasuk melakukan pelanggaran Agama dan Adat istiadat. 

Dalam konteks pemikiran itu, Yesus malah memakai perumpamaan Babi dan Mutiara. 

Mutiara adalah Benda yang berharga, yang bernilai. Mutiara dibandingkan dengan Babi. Babi itu Haram, Najis, Tabu dan dilarang dipelihara dan dikonsumsi. Sedangkan Mutiara itu sangat berharga, bernilai. 

Dari ulasan ini, kita dapat katakan:

Yesus katakan "Jangan Engkau Membuang Sesuatu/ Memberikan sesuatu yang berharga kepada Binatang Yang Haram/Najis dan Tahu". "Karena walaupun Engkau memberikan sesuatu yang berharga kepada Binatang itu, ia malahan akan berbalik menyerang Engkau"

Dengan kata lain, Percuma Memberikan Sesuatu Yang berharga kepada Binatang. 

Ya seperti begitulah, di West Papua. Orang Papua adalah Binatang di Mata NKRI. Jadi, Percuma memberikan Sesuatu Yang berharga kepada Binatang. 

Babi Berpolitik: "Babi-Babi Kebiri"

Dalam tradisi orang Papua (Pegunungan), ada tradisi mengebiri (kebiri) Babi Jantan. Babi Jantan yang biasanya dikebiri itu umumnya umur Babi itu tidak lebih dari setahun atau Babi Jantan dikebiri saat umurnya masih kecil / anakan. 

Ada sekitar 3 alasan mendasar Babi Jantan dikebiri:

Pertama, Babi itu hendak dipelihara/dikhususkan untuk pesta-pesta adat tertentu. 

Kedua, Menghindari perkelahian antar pejantan ketika musim kawin tiba.

Ketiga, Babi itu kurang sehat / dilihat bukan pejantan unggul 

Babi Jantan yang dikebiri memiliki kelemahan dan keunggulan tertentu, yaitu;

Pertama, Kelemahannya Babi itu tidak dapat kawin-mawin/tidak akan memiliki keturunan (mati syawat)

Kedua, Kelebihannya Babi itu akan tumbuh besar, gemuk dan tambun. 

Jadi Bila Babi Jantan Dikebiri, maka ia akan tumbuh subur, gemuk dan tambun. Tetapi ia tidak dapat kawin-mawin dan tidak memiliki keturunan. Ya seperti itulah, NKRI di West Papua. Ia telah, sedang dan akan Mengebirimu. 

Babi Berpolitik: "Merontah - Rontah Karena Lapar"

Kami sudah mengulas tentang kelakuan Babi Piara saat kelaparan. Ulasannya sangat jelas, Babi Piara, dia akan merontah ketika perutnya terasa lapar. Saat itulah Babi tersebut akan merontah, meminta si tuannya memberikan makanan. 

Si tuan sangat tahu betul, pasti dan sangat jelas, ketika Babi itu diberi makan maka ia akan diam, karena moncongnya sibuk menyungkil makanan, mulutnya sibuk mengunyah makanan. 

Babi model ini, sekalipun ada mutiara dan emas di sampingnya, ia tidak akan peduli dengan itu. Yang ia pedulikan adalah perutnya. 

Babi model ini, walaupun ia tahu, tuannya akan membunuh, Menyembelihnya, Memakannya tapi ia tidak perduli. 

Babi babi model ini, yang penting baginya adalah mengisi perutnya. Memuaskan nafsu makannya. Yang penting hari ini dia dapat makan dari tuannya. Tidak perduli, rencana jahat si tuan. 

Babi model ini, merontah karena lapar. Setelah kenyang, ia akan diam membisu. Seperti itulah NKRI di West Papua.

Babi Berpolitik: "Nasib Babi Nakal Terancam"

Babi Piara (di dalam kandang) ada dua kategori berdasarkan kelakuannya, yaitu; 

Pertama, Babi yang Baik, Alim, Sopan dan Penurut. Babi ini ketika di dalam kandang ia tidak akan bertingkah macam-macam. Ia penurut pada tuannya. Tidak terlalu memberontak dan tidak lompat ke kandang sebelah atau memakan/mencungkil papan kayu/tembok. 

Kedua, Babi Nakal, tidak sopan, suka memberontak dan melompat ke kandang lain. Babi ini ketika di dalam kandang, ia terus memberontak, mencungkil/memakan papan kayu/tembok. Babi ini selalu bertingkah macam-macam, suka buat onar di kandang. Ia melawan tuannya. 

Dari dua kategori Babi ini, biasanya Babi yang disukai oleh sang majikan adalah Babi kategori pertama (1). Babi itu bagi si tuan, adalah Babi yang perlu mendapatkan perhatian penuh. Babi itu bagi si tuan adalah Babi yang layak diperhatikan, dimanjakan dan dipelihara dengan baik. 

Berbeda dengan Babi Kategori kedua (2). Babi itu selalu mendapatkan perlakuan yang buruk dari si tuannya. Karena kelakuan Babi itu suka berontak, melompati kandang, suka memakan/mencungkil papan kayu/tembok maka si tuan merasa geram. 

Babi ini, (kategori kedua) selalu dipukuli oleh tuannya. Ketika si tuan, merasa babi itu terlalu merepotkan, maka tidak sungkan-sungkan si tuan akan cepat menyembelihnya walaupun masanya belum tiba. 

Ya, Nasib kategori Babi Kedua itu selalu saja terancam. Bila si tuan kesal, maka nyawa Babi itu terancam. Seperti itukah NKRI di West...? Anda masuk dalam Babi Kategori Mana ...? Kategori 1 atau 2...?

(RB. UNIKAB)

Previous Post
Next Post

0 komentar: