Jumat, 20 Januari 2023

Sajak Duka Dambakan Damai

Dok: Ist/Pr. K. (Narasi Mapia Menyal)

 *Siorus Degei
 
Sopir Truk itu mungkin tidak tahu akan “dewi musibah” yang menantinya di kilo 80-an Jalan Trans Nabire-Ilaga. Ia juga entah tahu atau tidak akan kehadiran “dajal” yang turut hadir dalam truknya menemaninya.

Pasti mereka buru-buru untuk mengejar nasib. Para kawakan sopir truk yang familiar dengan kulit aspal itu senantiasa berjalan bersama. Pertengahan siang bolong pada Sabtu, 21 Januari 2023 itu mereka tancap gas. 

Di tengah jalan, memasuki kepala Air Degeuwo Kampung Ekagokunu, Dogiyai tubuh truk terkena batu yang berasal dari tangan para pemuda pemalas yang sedang dibuai oleh alkohol. 

Bukan petasan ala tahun baru yang sontak meletus. Rupanya bunyi yang mengegerkan gerombolan pemuda yang memalang jalan pencaharian hidup itu. 

Tidak terima dengan itu, para pemuda Mapia itu mengejar truk-truk yang sedang menyambung hidup di jalan penuh risiko urgent. 

Yulianus Tebai yang malang bersama Sang Teman Hidupnya Siang itu baru pulang dari kebun. Melihat terjadi fenomena kejar-kejaran antara pamalang dan sopir truk ia pun menurunkan istrinya dan ikut mengejar truk dan para Pemalang itu. 

Tujuan Yuli sebagai seorang Anggota Polpp yang sedang libur adalah menjadi orang tengah. Ia mau menjadi penengah konflik. Ia bukan salah satu dari para sopir itu, ia juga bukan bagian dari para pemabuk dan Pemalang itu. Ia hanya seorang pria biasa yang tergerak hati untuk mendamaikan situasi kacau di hadapan mata nuraninya. 

Tidak menunggu lama, “Dajal” yang menyelinap dalam truk-truk para penggali nasib di jalan sepanjang 300 Kilo itu menarik pelatuk yang menjadi “loceng kematian” bagi seorang pria yang baru saja mengunjungi Kebun Sumber Hidupnya. 

Bak seorang penjahat ekstrim, tubuh pemuda yang baik itu ditembusi bedil panas. Tulang belakangnya menjadi sarang desingan peluru tak bertanggung jawab. Tubuhnya malang tergeletak tak bernyawa di pinggir jalan yang menghubungkan tiga kabupaten yang kini masuk dalam wilayah DOB Papua Tengah. 

“Dajal” yang semestinya menjadi “Pangayom dan Pelindung” (Polisi) para peramu kecil itu benar-benar tampil sebagai “penyamun ganas”. Ia sangat idiot ketika hendak menarik pelatuk desingan tak bertuan dan tak bertanggung jawab itu. 

Saking “benturannya”, maklum sebab mungkin ia hanyalah “dajal” lulusan pagi yang belum cukup akal tanpa berpikir panjang sepanjang jalan yang ia lalui dan sepanjang umur manusia yang tembaki akan nasip orang-orang yang mungkin mewarisi hati dan akal malaikat yang menyambung nadi kehidupannya di Pasar Bobomani, Mapia. 

Tidak menunggu lama, gadget berdebuh dapur sederhana di wilayah yang khas akan kacang, tanjakan dan suhu dinginnya itu menyiarkan tragedi kemanusiaan yang picah di tengah rimbunan rimba yang masih perawan. 

Semua group Facebook, WA, dan beberapa postingan di media sosial mewartakan kabar dukacita itu. Publik yang diam, menjadi rameh. Ada debat alot. Banyak kronologi beredar. Ada yang lengkap, ada pula yang imparsial. 

Hingga detik yang terus berganti ini belum terlalu terang ada naskah kronologi kejadian yang utuh. Kita hanya tahu saja bahwa saat ini alam dan manusia Mapiha sedang bermalam Minggu dengan duka, kecemasan, ketakutan, Ratapan dan gertak gigi.

Tidak ada kegembiraan yang menyelimuti mereka yang diinginkannya ketakutan yang menembusi tulang dan zum-zum. 

Senyuman harapan itu mungkin sedikit menyala dan mengahangatkan oleh api perdamaian yang dia bawah oleh para gembala umat. Jubah Putih, Kalung Salib dan Kitab Suci yang mereka bawah tampil sebagai “Air Suci” yang memerciki “api konflik” yang hampir membumihanguskan manusia dan alam Mapiha di penghujung senja yang kelam. 

Anak-anak muda gusar, mereka tidak menerima keniscayaan peristiwa itu, mereka tidak menerima mengapa saudara mereka yang tidak bersalah itu tergeletak malang layaknya “hewan liar” yang tergilas roda kaum pengagum rupiah jalanan.

Mereka yang gusar dan geram bermodalkan busur anak, dan bahan bakar meluapkan emosinya itu pada rentetan Kios yang tersusun sambung menyambung di pipi jalan Kampung Bobomani, Mapiha. 

Kios-kios yang menjadi tempat membasu pilu dan bertaruh nasib hidup kaum pendatang itu ludes habis dilahap Si Jago Merah.

Gumpalan Asap Hitam yang tebal mengepul tebal di langit Mapiha yang biasanya hanya dihiasi Embun Putih berhias langit biru yang melahirkan hawa dingin menggigil. 

Anak-anak kecil beserta ibu-ibu lari kesana kemari. Semua canggung apa gerangan yang terjadi. Padahal paginya semua terlihat baik-baik saja. Apa yang salah dengan mereka yang hanya duduk manis menanti datangnya pembeli mengetok pintu Kios tapi juga kediaman harapan hidupnya. 

Truk-truk itu berasal dari Paniai, itu sangat jauh dari Bobomani, sopir dan “dajal” di dalamnya itu bukan bagian dari tungku api yang setiap malam menerangi alam Mapiha. Yang jelas ini soal lain. Namun yang pasti ada dendam yang terpupuk di sini.

Ada ketidakadilan yang berpotensi menyulut dan mempertemukan “Parang” kaum pendatang dan “Busur Panah” kaum pribumi bertemu dalam satu medan konflik horizontal. Kita tidak boleh menunggu tanggal mainnya, tapi mesti ada upaya menangkalnya. 

Rupanya kios-kios kaum pendatang di Mapiha menjadi “tumbal amukan massa”.

Sabtu, Januari 2023 sepertinya akan tercatat sebagai Hari Bersejarah di Bomomani, Mapia salah satu distrik di kabupaten Dogiyai. Mapia yang dulunya tersembunyi dari percakapan publik bertajuk konflik, bara api, sengatan senjata api dan letupan pelatuk kini terekspos sudah. 

Banyak orang yang dulunya asing akan diksi Mapia, kini sudah mulai mengenal Mapia. Kira-kira ada apa di sana, apa yang terjadi sehingga namanya kian melejit takala pinggang seorang pemuda malang, Yulianus Tebai ditembusi timah panas dan paha Vincen Dogomo diterobos tanpa ijin oleh desingan peluru tak berperikemanusiaan.

Tragedi Kemanusiaan terjadi di Mapiha, tepat di malam Minggu, malam yang selalu punya cerita manis, tapi kali ini lain bagi para penghuni kaki Pengunungan Weyland.

Malam ini alam dan manusia Mapiha tidur dalam Honai Ketakutan, bertikar kecemasan, berselimut keringat dingin dan berbantal kewaspadaan ketat. 

Mata kaum muda tidak akan terpejam lama, mereka akan tahan mata, menjadi guru yang baik bagi tubuh mereka untuk menjadi eksistensi dan memproteksinya.

Di tengah malam, pastinya akan berkeliaran mereka yang sudah menjalin tali persahabatannya dengan “dajal”, “setan”, “iblis” dan kuasa energi kegelapan lainnya. Mereka akan mencari mangsanya masing-masing. 

Kehilangan tumpukan harta Karun yang sudah berumur jagung, tidak akan mungkin secepat itu meninggalkan permohonan maaf.

Adilnya mesti ada darah dan nyawa yang melayang malam ini dan kedepannya sebagai pamrih.

Kita semua berharap, semoga di hari Minggu besok, ada angin sejuk yang berhembus menbeningkan hati dan pikiran dari orang-orang yang saat ini dirasuki dajal di Mapiha. 

Semoga bangunan-bangunan doa yang suci bernama Gereja dan Masjid seantero Meepagoo, bahkan Papua sanggup menyerukan seruan perdamaian, seruan Kenabian demi persaudaraan universal yang integral. 

Mapia itu sebuah pohon kebenaran. Mulai dari akar, batang, cabang, dahan dan daunnya terletak eksistensi sebuah bangsa yang kita sebut Papua.

Kini pohon itu terancam dilahap Si Jago Merah, memang salah orang lain, tapi akan fatal jika kita sendiri yang menjadi penarik sumbu konfliknya. 

Alam dan Leluhur, bahkan Tuhan sekalipun telah, sedang dan terus menjaganya. Menjadi sebuah panggilan etis dan profetis bagi manusia-manusia pendaki gunung dan pengayam Noken Anggrek untuk tetap dewasa dan bijaksana untuk memandang naluri api yang sedang dimainkan iblis berseragam keamanan. 

Semoga hari Minggu, yang adalah Hari Tuhan itu, Tuhan Sendiri hadir dan tampil dalam hati setiap orang yang berkonflik di Mapiha. 

Mengetuk hati dan dan membuka pikiran insan-insan bejana tanah liat untuk tidak memagari dirinya dengan hukum rimba, hukum mata ganti mata. 

Kiranya tampil ke permukaan wajah panglima cinta kasih yang sanggup merangkul yang berdenyut amarah, dendam dan angkuh untuk melepaskan damai, senyuman cinta dan sapaan perdamaian seraya fajar menyingsing. 

Kita percaya bahwa bersama lentingan suara ayam jago di fajar pagi, yang mendampingi mentari mencairkan bekukan dingin, alam dan manusia Mapiha bisa bangun dengan hati, pikiran dan kehendak yang baru. Lonceng Gereja yang Kudus akan menggantikan desingan peluru maut “dajal” yang gila. 

Selamat beristirahat dalam damai, Yulianus Tebai. Alam Surga Menyambutmu. Ada cinta dan damai di hari Tuhan besok untuk Gereja Totaa Mapiha. Jangan lupa mendoakan Mapiha demi perdamaian Sejati. (*)

(KMT/Admin)

Previous Post
Next Post

0 komentar: