![]() |
| Dok : Ist/Menginkulturasikan Musik Reggae Dalam Liturgi Gereja Katolik di Papua. (Siorus Degei) |
*Siorus Ewanaibi Degei
Kurang lebih lima pembabakan misi Inkulturasi di atas ini cukup sederhana membantu kita untuk memahami beberapa poin terkait syarat dan ketentuan yang terbilang alot dan runtut dalam kiat Inkulturasi.
Apakah dengan demikian apakah Musik Reggae dapat diinkulturasikan ke dalam khasanah musik liturgi Gereja Katolik di Papua? Bisa atau tidak? Sebelum itu tentu perlu terlebih dahulu kita pahami dan refleksikan dulu eksistensi dan kedudukan musik reggae dalam habitat dan habitus umat Katolik di Papua;
Sejarah Singkat Evolusi Musik Liturgi Gereja Katolik
Sejatinya dalam secaranya tidak ada musik liturgi yang benar-benar asli lahir dari dalam rahim Gereja Katolik. Hampir semuanya adalah hasil Inkulturasi, adopsi, akulturasi dan sebagainya dari budaya-budaya setempat di mana Gereja itu lahir.
Sebab menurut Martasudjta, seorang Pakar Liturgi Indonesia bahwa berbicara tentang liturgi itu sama saja berbicara tentang Gereja itu sendiri, sebab keduanya sama-sama lahir, umur keduanya pun sama-sama tua, liturgi setua Gereja itu sendiri.
Sehingga dapat dikatakan bahwa musik liturgi itu tidak terlepas dari budaya di mana Gereja itu pertama kali lahir yakni dari jaman Pasca kebangkitan Kristus, para rasul hingga Gereja dewasa ini, berikut ini hendak ditunjukkan beberapa proses perkembangan musik liturgi yang mengalami evolusi sesuai evolusi musik dari jaman ke jaman;
Pertama, Periode Abad Perdana; di mana musik liturgi sangat didominasi oleh musik-musik tradisional bangsa Yahudi kuno kala itu;
Kedua, Periode Awal Abad X (Tahun 900-1000); Musik Zaman Renaisans (1400-1600); Gereja mulai mengadopsinya genre musik-musik yang berkembang pada dasawarsa itu, ada dua tokoh besar yang menjadi aktor di balik perkembangan musik liturgi di era ini, yakni St. Ambrosius (333-397) dengan mempopulerkan musik liturgi bercorak Himme.
Dan kedua, Paus Gregorius (590-604) mulai mempopulerkan musik liturgi yang kita kenal dengan istilah Gregorian dalam humus musik liturgi Gereja Katolik di Eropa dan tersebar ke mana-mana hingga ke Papua.
Ketiga, Musik Abad Pertengahan; berkembang genre musik liturgi yang disebut organum, namun terbilang sangat klerikal, hanya bisa dinyanyikan oleh imam, di Biara dan di seminari-seminari, partisipasi umat masih sangat pasif;
Keempat, Renaisans (1400-1600); muncul musik liturgi dengan genre yang intonasi yang baru yakni dikenal dengan istilah polifon dan harmonis, yang berbunyi vokal renaisans, suara linear dan bulat.
Polifoni adalah salah satu jenis musik yang disusun berdasarkan banyak suara, berbeda dengan musik homofoni. Musik Polifoni lahir sejak tahun 1200 dan mencapai puncak kejayaannya pada tahun 1600 hingga 1750 dengan tokoh musik Johan Sebastian Bach. Di masa sekarang, polifoni diistilahkan untuk nada dering handphone.
Muncul juga musik yang disebut Motet, suatu bentuk musik yang berpangkal dari syair dan merenungkan dalam ulangan-ulangan potongan secara polifon.
Kelima, Musik Barok (1600-1750); terjadi pelbagai perubahan musik liturgi yang agak jenaka dan mendapat stigma negatif, jaman ini ciri coraknya sepertinya menyimpang dan agak miring intonasi dan nadanya, tidak sama dengan ritme atau irama polifon dan Motet yang harmonis. Barok seperti musik tradisional Indonesia senang dengan ulangan yang sama, dirangkaikan detil-detil sebagai variasi dan hidup dalam siklus abadi yang mendapat dasarnya pada kosmos.
Keenam, Musik Klasik (1759-1820); di era ini khasanah musik Gereja mengalami transformasi yang signifikan. Musik Gereja jaman klasik mencerminkan optimisme dan pandangan yang luas. Tokoh-tokoh komponis dan musisinya antara lain Joseph Haydn, W.A Mozart dan L. Van Beethoven.
Ketujuh, Musik Romantik (1800-1920); ciri khas musik liturgi di era ini adalah adanya aspek afektif dalam setiap syair dan nada lagunya, Musik-musiknya juga merepresentasikan isi hati, perasaan cinta dan kekuatan batin yang kuat serta mendalam. Bahwa aspek afektifitas sangat mendominasi humus musik liturgi.
Kedelapan, Musik Abad ke-20; pada jaman ini pengaruh Konsili Vatikan Kedua membawa sebuah angin reformasi yang kuat dalam tubuh Gereja Katolik, terutama dalam aspek liturgi, dalam hal ini musik.
https://kawatmapiatv.blogspot.com/2023/03/liturgi-bercorak-musik-reggae-bisakah.html
Di mana bukan saja terjadi penyesuaian pada musik-musik klasik, romantik, Gregorian, Polifon dan sebagainya, tetapi lebih daripada itu terjadi Inkulturasi musik liturgi ke dalam genre musik-musik lokal tradisional masyarakat setempat. Konsili Vatikan Kedua membuka pintu, jendela dan gerbang bagi khasanah musik tradisional di wilayah-wilayah diaspora.
Kesembilan, Musik Abad ke-21; pada abad ini dengan dasar dan landasan semangat Konsili Vatikan Kedua yang melegenda dan menyejarah maka terjadi penyesuaian musik liturgi yang cukup terbuka lebar, terjadi banyak kolaborasi dan modifikasi Musik-musik profan posmortem ke dalam khazanah musik liturgi Gereja.Sehingga semakin hari semakin saat pundi-pundi khasanah musik liturgi itu senantiasa menjadi kaya arti, makna dan sarat nilai.
Kurang lebih demikian sepintas terkait sejarah evolusi musik liturgi dalam Gereja katolik secara ringkas dan sederhana. Dengan demikian kita lihat bersama bahwasanya perkembangan musik liturgi dalam Gereja katolik itu tidak terlepas pisahkan dari perkembangan musik-musik profan di sekitar lingkungan Gereja.
https://kawatmapiatv.blogspot.com/2023/03/liturgi-bercorak-musik-reggae-bisakah-33.html
Bahwa sejatinya tidak ada suatu panduan resmi yang mengatur secara rinci terkait penyesuaian musik liturgi. Gereja selalu dan senantiasa menyesuaikan diri dengan evolusi perkembangan dunia musik di sekitarnya.
Jika, demikian apakah musik reggae yang sudah sangat familiar dalam ekosistem sejarah bangsa Papua bisa kita adopsi dalam khasanah musik liturgi Gereja Katolik sebagai yang terjadi di Eropa, di mana pelbagai genre musik berusaha diinkulturasikan oleh para komponis dan musisi Gereja dari segala lintas jaman?
Untuk mengetahui hal ini perlu kita simak bersama kira-kira seperti apa dan bagaimana kedudukan musik reggae itu dalam kehidupan umat Katolik di Papua?
Kedudukan Musik Reggae di Papua
Sejatinya musik reggae bukan merupakan suatu tradisi atau bagian dari budaya musik, tari atau kesenian lainnya di Papua. Tidak ada suku di Papua yang dekat tradisi keseniannya dengan musik reggae. Musik reggae berasal dari Jamaika, sebuah negara berbentuk pulau di Laut Karibia.
Musik Reggae di Jamaika, muncul pertama kali pada 1960-an. Kemudian, dalam perjalanannya memiliki beberapa tahapan. Pada awalnya musik Reggae merupakan turunan musik Ska & Rocksteady yang muncul pada era 1950 sampai 1960-an.
Mento merupakan fondasi dari musik reggae. Mento adalah nama musik tradisional Jamaika yang muncul pada 1940 sampai 1950-an. Lagu-lagu ini tercipta dari rakyat yang diperbudak, dengan instrumen gitar, rumba box, bongo, dan banjo. Liriknya tentang satir kehidupan sehari-hari, syair, pesan persatuan, dan harapan.
Bob Marley dianggap sebagai pelopor musik reggae. Robert Nesta Marley OM, nama lengkapnya, adalah musisi Jamaika uang lahir di Nine Mile pada 6 Februari 1945. Bersama band-nya, Bob Marley and The Wailers, ia menyanyikan lagu penindasan perbudakan di masa lalu dan harapan masa depan akan persatuan, (https://entertainment.kompas.com/read/2022/10/20/180331166/sejarah-musik-reggae-asal-tokoh-dan-perkembangannya, 07/03/2023).
Selain Bob Marley, nama Lukcy Dube juga tidak bisa kita tampik sebagai seorang pelopor musik Reggae Rastafara yang tersohor dari Afrika Selatan. Lucky Dube merupakan salah satu orang yang memperjuangkan nilai-nilai yang ia yakini sebagai sebuah kebenaran.
Melalui lirik-liriknya ia (Lucky Dube) membangkitkan jiwa dan semangat dalam konteks kehidupan di lingkungannya. Menyampaikan Pesan-pesan sosial-politik, budaya kekerasan, rasisme di negerinya Afrika Selatan.
Lebih jauh mengangkat harkat dan martabat orang kulit hitam dari penindasan secara struktural yang di bangun penjajah dengan rasis. Hingga saatnya melalui karya musiknya dan perjuangannya melalui musik reggae disegani di seluruh dunia sebagai legendaris, (https://laolao-papua.com/2022/09/02/musik-perjuangan-dari-lucky-dube-bob-marley-hingga-arnold-ap-di-papua, 07/03/2023). Bersambung. (*)
(KMT/Admin)

0 komentar: