![]() |
| Dok : Ist/Menginkulturasikan Musik Reggae Dalam Liturgi Gereja Katolik di Papua. (Siorus Degei) |
Di Indonesia sendiri paling kurang Musik Reggae ini sudah bukan menjadi sebuah musik yang asing. Mayoritas telinga pecinta musik tanah air pasti sudah mengenal ciri dan corak khas daripada musik Reggae yang paling diminati oleh orang-orang kecil, para pejuang HAM, aktivis kemanusiaan, pejuang kedamaian dan lainnya sebagainya.
Sebab roh, jiwa, raga dan semangat spritualitas daripada musik yang satu ini sangat besar bagi para pejuang aktivitas kebenaran, keadilan, kemanusiaan dan kedamaian di seluruh dunia.
Roh dan marwah Musik Reggae Rastafara ini identik dengan semangat persatuan, perdamaian, persaudaraan, pendeknya aspek komunitas (Comunio), sebagaimana jiwa daripada Gereja Katolik sendiri yang menjunjung tinggi nilai-nilai persekutuan persatuan warga anggota Gereja (Comunio).
Melalui musik reggae itu banyak orang kecil, miskin, sakit dan tertindas mendapatkan semacam api semangat revolusi untuk sadar, bangkit dan berjuang menegakkan nilai-nilai universal yang menjadi keutamaan-keutamaan Gereja Katolik seperti kebenaran, keadilan, kedamaian, kemanusiaan, keutuhan ciptaan, kebebasan dan kebebasan bersama (Bonum Commune) atau kebaikan bersama (Camond Good) dalam bingkai kesatuan, persatuan, dan persekutuan Gereja sebagai kumpulan umat Allah.
Kita barangkali bisa sepakat bahwa ‘Reggeanya Indonesia’ ada di Papua. Bahwa musik reggae dan Papua itu sangat Identik, bahkan musik reggae itu identik dengan ‘Blackman’ di Afrika, Caribbean, Pasifik, singkatnya wilayah-wilayah dengan rumpun etnis Melanesian.
Tidak ketinggalan Papua sudah sejak lama pasca Mambesak dan Black Brothers menjadi suatu genre musik bagi masyarakat Papua dan kepulauan Pasifik lainnya yang berada di bawah kuku kapitalisme, kolonialisme, imperialisme dan Feodalisme bangsa-bangsa ‘kulit putih’.
https://kawatmapiatv.blogspot.com/2023/03/liturgi-bercorak-musik-reggae-bisakah.html
Bahwa dekolonisasi dan depopulasi wilayah-wilayah Melanesia dengan pendekatan yang terbilang sangat Rasisme, Fasisme, Militerisme dan Kolonialisme itu terjadi di wilayah-wilayah Melanesia di kepulauan Pasifik, tidak ketinggalan Papua juga menjadi korban empuk yang sumber daya alamnya diminati secara tamak oleh bangsa-bangsa kapitalis junto kolonial global dengan memanfaatkan Indonesia sebagai ‘bidak dan pion politik boneka cum wayangnya’.
Banyak lagu-lagu tradisional lokal di dalam kebudayaan masyarakat setempat di wilayah kepulauan Pasifik Melanesia yang mengadopsi musik reggae dengan semangat Inkulturasi.
Banyak seni tarik suara di wilayah-wilayah ‘Kulit’ hitam mulai memodifikasi dan menginkulturasikan musik-musik bergenre Reggae Rastafara ke dalam khasanah budaya dan kearifan lokal lainnya.
Sehingga hingga kini Musik Reggae itu bukan menjadi ciri khas dari Jamaika dan Afrika Selatan saja tapi sudah lumrah menjadi kebudayaan baru dalam habitat dan habitus budaya-budaya Wika Melanesia lainnya, yang notabene mengalami nuansa penjajahan, pengisapan, penderitaan, penindasan, dan karenanya mereka teralienasi, dominasi, monopolisasi, kapitalisasi dan kolonisasi oleh Bangsa-bangsa tamak ‘berkulit putih’.
Maka tidak salah seperti yang pernah dikatakan oleh Victor Yeimo, Patriot Antirasisme Bangsa Papua, Juru Bicara Internasional KNPB dalam sebuah akun media sosialnya bahwa;
“Tra bisa pisahkan rasisme dari kolonialisme dan kapitalisme. Sperma rasis membuahi kapitalisme sehingga janin kolonialisme terbentuk. Maka yang terjadi di Papua; bangsanya dihina, rakyatnya dibunuh, alamnya dikuras.
Kemendagri akan kirim 4.212 ASN dari luar Papua duduki 4 DOB Papua. Padahal banyak orang Papua tra bisa menjadi ASN, bahkan untuk jadi honorer. Inilah prasangka rasis; pandangan bahwa orang Papua tra mampu dan harus dikuasai.
Prasangka rasis itulah yang mengawali pendudukan Indonesia di West Papua. Trikora gunakan prasangka rasis bahwa orang Papua tra layak bernegara sendiri (Soekarno sebut negara boneka).
Dengan prasangka rasis, orang Papua tidak dilibatkan dalam semua perjanjian dan pelaksanaan Pepera 1969 untuk menentukan nasibnya. Hal yang sama dalam Otsus dan pemekaran; semua ditentukan semaunya oleh Jakarta.
Gen kolonial adalah rasisme dan kapitalisme adalah proteinnya. Ia menjadi virus mematikan dalam sejarah umat manusia. Di mulai dari Eropa dan ditularkan kepada Indonesia. Untuk berantas virus ini, vaksinnya bukan saja solidaritas anti rasisme, tetapi ikut memperjuangankan bangsa terjajah bebas dari kolonialisme dan kapitalisme.”
Musik Reggae persik lahir dan hadir guna menyambut ide perjuangan pembebasan melalui perjuangan pemberantasan akar-akar Rasisme dalam mentalitas dan sikap kolonial dan kapital. Seperti yang sudah kita ketahui bersama bahwa mayoritas wilayah Afrika, Asia, Pasifik, terutama dalam wilayah-wilayah yang menjadi habitat bangsa dengan rumpun Melanesia itu tidak bisa kita tampik dan tepis bahwa di sana bercokol dan tumbuh subur benih-benih Rasisme, Kolonialisme, Kapitalisme, Apartheid, imperialisme dan feodalisme. Sebab setabu tifa lagi dengan kawan Victor Yeimo bahwa Rasisme adalah salah gen dan DNA dengan Kolonialisme dan Kapitalisme.
Di Papua sendiri menurut sebagian masyarakat asli Papua selain Sepakbola Persipura Mutiara Hitam, musik reggae adalah salah satu unsur kehidupan yang mampu mempersatukan masyarakat Papua yang terbilang plural, majemuk dan holistik itu.
https://kawatmapiatv.blogspot.com/2023/03/liturgi-bercorak-musik-reggae-bisakah-23.html
Melalui musik reggae mereka bisa dirangkul, duduk, berdiri dan berjuang bersama sebagai satu bangsa satu jiwa, One Man, One Soul. Musik menjadi salah satu daya pikat dan tali pemersatu bangsa Papua yang kokoh dan terus survive.
Memang tidak bisa disangkal bahwa upaya-upaya Devide et Impera politik pecabela atau adu domba melalui Polarisasi, Segmentasi dan Segregasi bangsa Papua mulai dari segi wilayah adat, Antropologi, Geografis, Topografi, Religi, Sosiologis, Idelogis dan Stratifikasi sosial lainnya, masyarakat Papua selalu bisa merasakan kesadaran dan kebangkitan kebangsaan jila lagu-lagu Reggae dari Bob Marley, Lukcy Dube, Mambesak, Black Brothers, Black Sweet, Black Papas dan kebangkitan musik etnik versi reggae di Papua lainnya.
Orang akan cepat mudah mengalami rasa memiliki, kepekaan dan kepedulian nasionalisme dan patriotisme Papua. Kita sudah tahu bagaimana melalui Group Musik Mambesak Arnold Ap dan kawan-kawannya membangkitkan semangat dan spirit identitas kebangsaan, nasionalisme dan patriotisme bangsa Papua.
Kita juga bagaimana melalui lagu-lagu Black Brothers, Black Sweet dan Black Papas mayoritas bangsa Papua selalu eksis untuk survive di atas tanah sendiri sebagai Tuan Rumah, Raja atas hal ulayatnya. Lagu-lagu bergenre revolusi juga banyak menjadi ‘Lectio Divina’ atau ‘Pengangan Sabda” bagi bangsa Papua di lintasan jalan menuju ‘Papua Tanah Damai Yang Baru’.
Selain itu juga, perlu kita ketahui bersama bahwa ciri khas musik reggae Rastafara itu juga paling tidak sedikit banyaknya senyawa juga dengan corak khas musik-musik tradisional di wilayah Melanesia lainnya, tidak ketinggalan suku-suku di Papua.
Dari alat musik dan lantunan melodi yang penuh spirit, semangat, meriah dan tegasnya saja sudah dapat kita bayangkan bahwa hal seperti itu juga eksis dalam rahim khasanah budaya musik masyarakat setempat di Papua.
Kita sendiri secara antropologis tahu bahwa hampir mayoritas jenis seni musik atau tarik suara, atau tari di Papua itu bercorak khas semangat, penuh spirit, penghayatan, berbentuk ungkapan syukur dan terima kasih, meriah, girang ceria dan lain sebagainya.
Sangat jarang kita jumpai seni musik lokal di Papua yang sedih, murung, penuh duka nestapa dan lainnya. Memang patut kita akui pula pasti ada pembabakan dalam Musik lokal di Papua, di mana ada musik pesta, Syukuran, duka, sambutan, keagamaan dan lainnya.
Tetapi sekali lagi bahwa hampir sebagian besar genre musik masyarakat lokal di wilayah-wilayah Melanesia itu bercorak semangat, tegas dan penuh spirit sebagai ungkapan bahwa mereka juga adalah manusia sejati yang memiliki harkat, martabat, dan wibawa kemanusiaan yang agung. Kurang lebih demikian.
Sehingga memang tidak salah juga jika genre musik reggae kita Inkulturasikan dalam kulitis khasanah musik Gereja Katolik sebagai modal dan sumbangsih atas pundi-pundi khasanah musik liturgi yang sudah ada.
Catatan di Tanusan Aksara
Hemat penulis jika genre musik reggae berani diinkulturasikan ke dalam khazanah musik liturgi Gereja Katolik dan Gereja-Gereja yang ada di atas tanah Papua, maka sudah bukan tidak mungkin maka nuansa kehidupan liturgi dan menggereja akan lebih berdaya, hidup, bernyawa dan bercorak Papua.
Orang-orang Papua akan sangat akrab dan merasa penuh daya dan semangat persatuan dan persekutuan sebagai satu komunitas umat beriman. Orang asli Papua akan merasa mencintai dan menyayangi khasanah musik liturgi sebab corak musik reggae itu adalah bagian dari kedahagaan, dan kerinduan terdalam jiwa dan roh-nya yang tidak bisa kita deskripsikan dengan kata-kata.
Bahwa musik reggae itu bukan baru untuk humus sanubari dan naluri orang asli Papua, musik reggae itu adalah salah satu identitas kepapuaan dan kemelanesiaan orang asli Papua itu sendiri.
Kita bisa bayangkan saja jika instrumen-instrumen musik reggae dikolaborasikan, diakomodasikan, dimodifikasikan, diinkulturasikan dan diadopsikan dengan genre musik-musik liturgi yang sudah ada dan tau dapat tubuh musik liturgi Gereja Katolik seperti corak Gregorian, Polifon, Motet, Barok, Renaisans, Romantik, Harmonis, Taize, Meditatif, Kontemplatif, dan lainnya, maka hemat penulis lagu-lagu semacam itu akan terasa lebih hidup dan menjiwai Liturgi Gereja.
Musik Reggae Rastafara akan menjadi sumbangsih yang berharga, bermakna dan bernilai bagi Khasanah kulitis Musik Liturgi Gereja Katolik di Papua. Gereja Papua akan semakin mendarat, mendarah-daging, menulang-sumsum sebagai Gereja Papua dalam terang Semangat Konsili Vatikan Kedua, Gereja Lokal dan Gereja Sinondal jika ciri corak musik liturgi juga memasukkan musik reggae sebagai Khasanah baru musik liturgi.
Kita sadar bahwa selama ini memang upaya Inkulturasi itu sudah, tengah dan terus dilakukan dalam tubuh Gereja Katolik lokal dalam kerangka Gereja Universal dalam persekutuan Roma.
Sudah ada banyak genre musik-musik tradisional yang sudah diinkulturasikan ke dalam khasanah musik liturgi. Namun semuanya bersifat tradisional lokal yang khas masyarakat suku setempat.
Hal ini terlihat jelas dalam buku Mada Bahkti yang digunakan oleh Gereja Katolik Indonesia sebagai Buku Nyanyian Liturgis dalam perayaan Ekaristi Suci dan perayaan-perayaan sakramental lainnya di wilayah Gerejani Indonesia.
Di dalam buku Madah Bakti: Buku Doa dan Nyanyian (Edisi 2000 sesuai TPE Baru) yang disusun oleh: Pusat Musik Liturgi Yogyakarta sudah cukup representatif dan delegatif semua khasanah musik-musik tradisional lokal wangsa masyarakat setempat di Indonesia terakomodir di dalam mulai dari Sabang sampai Merauke, Miangas hingga Rote. Ada 67 suku di Indonesia yang genre nyanyian lokalnya diadopsikan oleh Gereja Katolik Roma di Indonesia.
Memang mungkin tidak semua suka di Indonesia yang berjumlah 714 Suku itu terakomodasi di dalamnya, karena memang tidak semua suku di Indonesia tidak secara defacto dan dejure memeluk agama Katolik, ada tujuh Agama Besar di Indonesia dan setiap suku pastilah terafiliasi di dalam ketujuh keyakinan besar tersebut.
Tapi itu pun bukan berarti Gereja menutup mata untuk tidak mengadopsi unsur-unsur nyanyian adat atau lagu-lagu tradisional sebagai penambah pundi-pundi khasanah musik Liturgi Gereja agar memang Gereja Katolik Indonesia menampilkan wibawa dan marwah Gereja Katolik Universal yang benar-benar Satu, Kudus, Katolik dan Apostolik di payung kepemimpinan Paus di Tahta Suci Roma Vatikan, Italia.
Tidak ketinggalan di Papua, selain di dalam Buku Madah Bakti dalam teks-teks lagu liturgi pun tidak sedikit musisi dan komponis katolik yang mengangkat fitrah dan marwah musik dan nyanyian daerah asalnya ke dalam genre musik liturgi.
Setiap suku di Indonesia, dan di Papua yang mayoritas maupun minoritas memeluk agama Katolik sudah barang tentu ada beberapa musisi dan komponisnya yang sudah, tengah dan senantiasa mengalih Khasanah Musik-musik lokal tradisional di daerah asalnya semua sebuah bentuk persembahan dan sumbangsih bagi pundi-pundi kekayaan musik liturgi Gereja Katolik Universal.
Penulis melihat dan merefleksikan hal-hal semacam ini sangat penting, baik dan mesti secara konsisten dan kontinyu dilakukan oleh warga Gereja terlebih oleh mereka yang notabene punya kharisma dalam melahirkan dan mengembangkan musik-musik, lagu-lagu dan nyanyian-nyanyian baik yang profan maupun yang sakral.
Teruntuk di Papua, penulis mengajak para musisi, komponis, dan seniman Musik Reggae Rastafara untuk bisa merefleksikan secara sungguh-sungguh bagaimana agar musik liturgi itu sedikit banyaknya menampilkan ciri dan corak musik liturgi.
Kita tahu bahwasanya memang sudah cukup banyak musik lokal dan atau tradisional kita yang telah, sedang dan selalu diadopsi oleh Gereja Katolik, tapi hemat penulis itu masih sangat imparsial, polaritatif, segementatif, dan segregatif.
Dalam artian bahwa hanya suku setempat di daerah bersangkutan saja yang akan meresa disapa oleh Sabda dan Tuhan melalui musik liturgi, sementara umat asli Papua yang lainnya tidak mengalami hal serupa, pasti mereka alami tapi tidak terlalu menukik.
Apalagi saudara-saudara seniman yang berasal di luar dari Suku-suku asli yang mendiami pulau Papua sebagai pendatang, pasti mereka sudah sangat tidak paham lagi, memang mereka paham tapi tidak begitu mmendalam.
Kita mau mendesain wajah musik liturgi di dalam Gereja Katolik Universal di Papua agar benar-benar merepresentasikan wajah Papua yang sesungguhnya, yang baik orang asli Papua maupun orang Non-Papua bisa tertelan, tengelam dan terhanyut dalam dentingan melodi, nada dan syair musik reggae.
Penulis sangat yakin dan optimis bahwasanya jika ada komponis dan musikus Papua maupun Non-Papua yang mampu meramu, merangkai dan memadukan musik reggae ke dalam khazanah musik liturgi Gereja Katolik Universal di Papua, maka nuansa liturgis Gereja benar-benar akan hidup. Bahwa aspek Comunio dan partisipasi umat Allah sebagai Anggota Tubuh Mistik Kristus yang menjadi cita-cita luhur Gereja Kristus melalui, dalam dan dengan Konsili Vatikan Kedua itu akan niscaya terealisasi pada dan dalam humus liturgi Gereja Katolik Roma di Papua yang bercorak dan berkarakter Reggae Rastafara Papua Proto.
Semua orang yang datang dan mengikuti perayaan Misa akan pulang dengan membawa benih-benih perdamaian, kebahagiaan, kebebasan, Kebenaran dan keadilan dalam terang misteri iman yang senantiasa disuguhi oleh Gereja Universal dalam liturgi dan sakramen Gereja. Kita harus sadar dan tahu bahwa Roh, Jiwa dan Semangat Musik Reggae adalah Semangat Mesianis yang juga sedikit banyak menjadi inti sari iman kekatolikan yang otentik.
Bahwa apa yang diperjuangkan oleh para seniman dan musikus kharismatik dan legendaris seperti Bob Marley dan Lucky Dube dalam genre musik yang bernama Reggae Rastafara itu tidak beda jauh juga dengan ciri corak dasar yang dengan ajaran-ajaran tokoh Iman Kristiani yang bernama Yesus Kristus 2000 tahun lalu di Yerusalem.
Tuhan Yesus adalah Penyelamat Dunia, Ia adalah Pembebas Sejati, Ia adalah Pejuang Kemanusiaan, Ia adalah Pejuang Keadilan, Ia adalah Pembela Kebenaran, Ia datang ke dunia untuk memerdekakan manusia dari penjajahan dosa dan maut.
Ia datang untuk mereka yang distigma sampah masyarakat; para pelacur, pemungut cukai, orang Samaria, kaum kusta, dan lain sebagainya. Ia tidak datang pertama-tama untuk kaum aristokrat, kaum kelas atas, kaum elitis. Ia adalah sosok yang sangat marjinal.
Inilah kurang lebih manifestasi dan implikasi konkret nilai-nilai kristiani yang memungkinkan Gereja Katolik Roma itu survive, karena Ia benar-benar konsisten dalam menjalankan semua ajaran, tradisi dan pandangan-pandangan teologis yang tertuang dalam Kitab Suci, Magisterium Gereja, dan Tradisi Para Rasul.
Nilai-nilai yang diwartakan dan diwujudkan oleh Yesus Kristus sebagai inti iman Kristiani di atas inilah yang hemat penulis hendak diteruskan oleh Bob Marley dan Lucky Dube melalui, dalam dan dengan musik Reggae Rastafara.
Sehingga memang bukan ‘Salah kamar’, ‘Salah parkir’, dan ‘salah konteks’ jika musik reggae kita Inkulturasikan ke dalam habitat, habitus dan ekosistem khasanah musik liturgi resmi Gereja Katolik Roma di Papua.
Sudah sangat ‘tepat sasar’ dan ‘kena konteks’ sekali jika eksistensi musik reggae hidup dalam humus musik liturgi resmi Gereja Katolik. Ini adalah tugas, tanggung jawab dan panggilan tersendiri bagi para komponis, musisi, sastrawan, dan seniman asli Papua atau Siapa saja untuk bagaimana bisa menginkulturasikan dan mengkultuskan musik reggae Rastafara sebagai identitas pemersatu bangsa Papua ke dalam khasanah musik liturgi Gereja Katolik Roma dan Gereja-gereja Kristen di tanah Papua.
Sebab sekali lagi kurang lebih APA YANG MENJADI INTI AJARAN IMAN KRISTIANI YANG DIWARTAKAN DAN DIWUJUDKAN OLEH MANUSIA YESUS ITU SENYAWA JUGA DENGAN APA YANG DIPERJUANGKAN OLEH BOB MARLEY DAN LUCKY MELALUI MUSIK REGGAE.
Kita berharap sama seperti bangsa ‘kulit hitam’ yang mengalami kehadiran Yesus Kristus Sang Pembebas dan Penyelamat dari jati diri Bob Marley dan Lucky melihat dan dalam Musik Reggae Rastafara.
Semoga di Papua juga ada seberkas cahaya emas yang menyinari Gereja, bangsa dan tanah Papua dengan ‘sinar kedamaian dan kebebasan Kristus yang sejati’ melalui pancaran alunan Musik Reggae dalam humus khasanah Musik Liturgi Resmi Gereja Katolik Universal di Papua. (*)
(KMT/Admin)

0 komentar: