![]() |
| Dok : Ist/Membenamkan Perpecahan, Menganyam Persatuan. (Siorus Degei) |
*Siorus Ewanaibi Degei
Mengacaukan kesatuan dan persatuan bangsa Papua yang sudah lama dengan susah payahnya dirintis oleh para founder fahter and founder mohter bangsa Papua itu terbilang lebih gampang, mudah dan enteng bak membalik telapak tangan, mengedipkan mata dan menghirup nafas ketimbang bahu-membahu dengan gigih berani menjaga dan memproteksi Khasanah dan horison kesatuan dan persatuan perjuangan yang sudah dirintis oleh para moyang nasionalis dan patriotis bangsa Papua yang sejati itu agar tetap abadi dalam lembaran sanubari dan nurani perjuangan, pergerakan dan perlawanan bangsa Papua. Entah siapa dia, entah apa kedudukannya, ketika aktivitas aktivismenya berorientasi pada perpecahan, maka dialah “musuh dalam selimut”, sebaliknya entah siapa dia, entah apa kedudukannya jika narasi, rotasi dan orientasi perjuangan, pergerakan dan perlawanannya berdimensi kesatuan dan persatuan dialah pejuang bangsa yang sesungguhnya.
Radar ironi menyikapi fenomena perpecahan dalam kubuh-kubuj perjuangan pergerakan dan perlawanan bangsa Papua baik lokal, nasional, regional maupun internasional. Entah perasaan seperti apa yang pantas kita torehkan untuk melukiskan situasi carut-marut yang tidak semestinya terjadi, sedih, senang, diam, malas tahu, atau apa? Ini belum apa-apa. Bentangan medan jalan perjuangan masih panjang menuju bangsa Papua Merdeka, namun lagi-lagi sebelum sampai ke titik puncak masih saja ada oknum dan pihak yang mengacaukan segala sesuatunya entah apa motifnya yang jelas estafet perjuangan kita sepertinya bukan lari maju tapi sebaliknya lari mundur. Entah sampai kapan kita akan tampil kekanak-kanakan seperti ini, sambil mengumbar benih kebencian terang-terangan tanpa mendahului pendekatan-pendekatan komunikatif, dialogis dan humanis sebagai satu bangsa, tanah, keluarga, tungku api dan saudara Papua? Apakah perjuangan Papua merdeka itu milik Organisasi, Suku, Agama, Gender, dan Oknum tertentu? Bukankah menciptakan Papua Merdeka itu adalah panggilan batin seluruh bangsa Papua? Lantas apa gerangan yang membuat beberapa gesekan debat kusir belakangan ini antara para pejuang bangsa Papua? Tulisan ini adalah tanggapan Kritis profetis atas fenomena debat kusir antara para pejuang Papua belakangan ini yang menghebohkan publik, lagi-lagi rakyat bangsa Papua yang menjadi korban di atas korban para pejuang yang tahunya memelihara benih-benih perpecahan ketimbang menanam benih-benih persatuan sebagai satu bangsa satu jiwa, One People One Soul.
Menfajari tulisan ini penulis hendak mengekspos terlebih sebuah Kajian Singkat dari salah satu Universitas bangsa West Papua, yakni Universitas Kaki Abu (UNIKAB) yang bertajuk Pentingkah Persatuan? Yang dirilis pada Kamis, 30 Maret 2023 paskah hangat-hangatnya debat kusir antara beberapa pejuang bangsa Papua yang saling “melempar pantun”, saling membongkar aib, mengumbar bara kebencian, memprovokasi publik Papua, memecah-belah gerak perjuangan yang sudah lama dirintis, saling menjatuhkan, saling lempar opini-opini miring dan liar dan lain sebagainya. Bahkan beberapa mendia ternama bangsa Papua juga turut serta mengompori situasi dan kondisi. Rupanya beberapa Kolonial berkedok pers, jurnalis, wartawan dan media dengan memakai jurus copot sana-sini tampil sebagai provokator ulung belakangan, mereka-mereka ini merasa dan berpikir sudah berdiri di atas tumpuan kebenaran absolut dan memandang pandangan politiknya adalah yang paling mutakhir karenanya segala apa yang ada di luar atau yang menjadi out group halal dilengserkan, dibully, diadudombakan dan dikambinghitamkan inikah tata cara kerja jurnalis yang Independen, Otonom dan integral?
Kita akan bersama-sama menjawab pertanyaan Pentingkah Persatuan? Dari UNIKAB di atas. Sepintas, dapat kita katakan “ya penting”, juga dapat kita katakan “tidak penting”. Penting dan tidak penting, tergantung pada intensi dan tujuan dari sebuah persatuan itu sendiri.
Sederhananya, penting dan tidaknya Persatuan ditentukan oleh beberapa faktor: Kebutuhan; Intensi; Visi-misi; Tujuan; Agenda; Senasib; Sebangsa / Ras / Rumpun / suku.
Individu / organisasi dan atau negara dan kerajaan dapat bersatu karena: Adanya Kesamaan Kebutuhan; Kesamaan intensi; Kesamaan visi-misi; Kesamaan tujuan; Kesamaan Agenda; Kesamaan Nasib; Bangsa / Ras / Rumpun / suku / tanah air.
Kesamaan-kesamaan inilah yang menjadi faktor utama sebuah Persatuan. Sebaliknya, jika tidak ada kesamaan tersebut seperti di atas maka akan sangat muskil. Sebab, Persatuan itu dibangun atas dasar Kesamaan (kebutuhan, intensi, visi-misi, tujuan, agenda, senasib, sebangsa/Ras/rumpun/suku/tanah).
Memang ada prasyarat lainnya. Sangat utama dalam membangun sebuah persatuan adalah: Komunikasi; Konfirmasi; Koordinasi; Sepakat
Ada dua hal dalam mengikat persatuan itu, yaitu: Legal Formal; Non legal formal
Artinya bahwa ada perjanjian hitam di atas putih dan tanpa perjanjian hitam di atas putih. Ini mengandaikan, adanya ketaatan pada suatu keputusan legal formal dan atau kesadaran diri.
Individu/organisasi dapat menyatakan Bersatu dalam Agenda karena memiliki persamaan tertentu. Namun dalam hal ini, belum tentu memiliki intensi yang sama. Begitupun dengan hal lainnya. Misalnya, individu/organisasi bersatu tetapi memiliki visi-misi yang berbeda dan atau memiliki kebutuhan dan nasib yang berbeda.Barangkali di saat ini: “Sebangsa, namun tidak Senasib”; Satu Agenda, Tujuan dan Visi-misi, tetapi kebutuhan dan intensi berbeda.
Kembali kepada pertanyaan utamanya, Pentingkah Persatuan?
Persatuan itu Penting apabila 7 faktor di atas terpenuhi. Dalam arti ada persamaannya.
Polarisasi, Segmentasi, dan Segregasi: Fashion Show Eksistensialis
Kita harus paham dan sadar bahwa saat ini kolonial, kapital, feodal dan Imperial NKRI dan kronik-kroniknya sudah, sedang dan senantiasa tertawa kegirangan sebab mereka telah sukses memecah-belah persatuan bangsa Papua yang sudah dipupuk dengan Air, Darah dan doa panjang. Badan Intelejen Negara dan kroni-kroni global Intelejen yang berafiliasi bersama sedang pangku tangan dan kaki, duduk manis melihat bagaimana Opera Perwayangan “Papua Makan Papau” berlangsung, Operasi “Perpecahan Perjuangan Bangsa Papua” bergulir, Opera “Debat Kusir Pejuang Papua Versus Papua” mengalung Merdu di telinga kolonial. Musuh tidak susah-susah lagi mengadu domba bangsa Papua, sekarang orang asli Papua sendirilah yang akan saling mengadu domba dan mengakambing-hitamkan sesama anak bangsanya sendiri. Musuh tidak perlu buat media untuk memprovokasi media, sebab kini sudah ada jurnalis-jurnalis asli Papua sendiri yang memainkan peran propaganda opini destruktif, segregatif, dan provokatif di kalangan Perjuangan bangsa Papua sendiri.
Berikut ini penulis hendak membongkar secara gamblang strategi kolonial Indonesia dan sekutunya dalam memecah-belah esensi dan eksistensi persatuan Perjuangan bangsa Papua yang barangkali belum begitu diketahui secara massal oleh seluruh rakyat bangsa Papua, dan terutama oleh beberapa oknum pejuang Papua yang beberapa hari ini berkoar-koar dan berkicau-kicau berisik di ruang publik dan di ruang digital seraya mencampur-adukkannya dengan sentimen-sentimen ruang privat;
Pertama, Polarisasi. Polarisasi merupakan suatu proses pemilah-milahan berdasarkan kelompok etnis (Marga/suku, klen/subklen/daerah/wilayah adat), kelompok kepentingan yang mana daripadanya lahir berbagai macam ikatan, forum, solidaritas dan organisasi dan atau bentuk lainnya dengan maksud dan tujuan-tujuan tertentu, yang juga berkaitan erat dengan kepentingan politik tertentu dalam suatu sistem politik tertentu di NKRI maupun di West Papua.
Polarisasi ini juga kadang dan atau banyak digunakan sebagai afiliasi politik baik itu dalam sistem suatu negara merdeka dan atau partai politik. Sebab adanya hubungan patron-client antara pejabat, elit politik, akademisi dan kelompok elit politik oportunis dengan bentuk-bentukan polarisasi tersebut di atas.
Polarisasi ini juga didukung oleh dan diperkuat oleh pejabat publik, birokrat, elit politik yang mana mereka secara internal berafiliasi di dalam kelompok etnis, kelompok kepentingan, kelompok kedaerahan, kewilayahan dan afiliasi partai politik.
Peluang meniti karir politik di dalam sistem sebuah negara juga turut menciptakan pembentukan berbagai polarisasi. Karena dengan adanya polarisasi demikian serta-merta menjadi “jembatan” dan “basis” dukungan politik.
Kedua, Segmentasi. Segmentasi merupakan proses selanjutnya dari polarisasi. Segmentasi merupakan pola pembentukan wacana, isu, pikiran-pikiran dan gaya berpikir berdasarkan maksud dan tujuan dari adanya polarisasi tersebut di atas.
Kelompok-kelompok, dsb yang telah terpolarisasi hanya mewacanakan ide, pikiran, gagasan tentang adanya dirinya, kelompoknya dan apa yang hendak menjadi cita-cita yang diperjuangkannya. Yang hanya bagi dirinya, kelompoknya dan bukan bagi yang lainnya. Sehingga ide, gagasan, dan cita-cita di luar dari dirinya dan kelompoknya yang terpolarisasi tadi tidak mendapatkan tempat di dalam dirinya dan atau kelompoknya.
Ketiga, Segregasi. Setelah Polarisasi dan Segmentasi, proses selanjutnya adalah Segregasi. Segregasi adalah proses dan atau perilaku pemisahan secara massif berdasarkan Polariassi dan segmentasi yang sudah dan telah terbentuk. Dalam segregasi ini, ada pemisahan secara jelas antara kelompok-kelompok yang terpola berdasarkan entitas suku, subsuku (marga), daerah (kampung), wilayah, kepentingan-kepentingan politik dan atau agama, dsb.
Selain itu, pemisahan yang jelas juga terjadi pada tataran ide, gagasan, pikiran dan cita-cita yang hendak diperjuangkan. Proses Polarisasi dan Segmentasi menimbulkan jurang pemisah antara satu sama lain; kelompok A dan B; Gagasan A dan Gagasan B; Organisasi A dan B, Ide-ide A dan B; Kepentingan-kepentingan A dan B; dan lain sebagainnya.
Dalam proses segregasi ini, jarang ada titik temu satu sama lain. Sebab, masing-masing telah terpolarisasi dan tersegmentasi dalam tataran entitas kelompok dan tataran pikiran serta Entitas kepentingan. Ada kemungkinan penyakit otopobhia dan heterophobia juga meresap dan terbentuk dalam proses ini.
Keempat, Fashion Show Eksistensialis. Fashion Show Eksistensialis adalah Proses pembentukan perilaku manusia yang menampilkan dan atau mempertunjukan “Keber-ada-an” dirinya sebagai suatu entitas mahluk hidup, baik sebagai individu, entitas suku-subsuku, marga-klen dan atau entitas kelompok tertentu melalui berbagai aktivitas sosial, aktivitas politik dan atau aktivitas agama.
Alat penunjang dan atau sarana Fashion Show Ekssistensialis adalah Media Sosial (FB, IG, Twit, WA, Tiktok, dll). Di sini media dipahami sebagai sebuah pangung eksistensialis, yang mana Polarisasi, Segmentasi dan Segregasi menunjukkan identitasnya; mempertunjukan keberadaannya.
Media Sosial sebagai Pangggung Fashion Show Eksistensialis; dari berbagai macam bentuk Polarisasi; dari berbagai macam bentuk Segmentasi dan berbagai ragam Segregasi. Melalui Medsos tersebut, setiap entitas suku-subsuku, klen-marga, daerah, wilayah dan entitas kelompok menunjukan setiap aktivitas-aktivitas sosial, aktivitas politik, aktivitas agama dan lain sebagainya guna menunjukkan Eksistensinya masing-masing, baik berupa individu dan atau entitas kelompok dimaksud.
Co – Eksistensi sangatlah Penting. Sebab tanpa Fashion Show Eksistensialis adalah Kematian bagi Eksistensinya. Co-Eksistensi merupakan pengakuan akan adanya yang lain di luar dirinya, entitas kelompoknya. Adanya entitas dirinya, entitas kelompoknya juga sangatlah berarti dari pengkuan entitas yang lain, di luar dari dirinya, di luar dari kelompoknya. Sehingga Medsos menjadi Pangung dari Co – Eksistensi guna mendapatkan Pengakuan dari Eksistensi entitias individu dan entitas kelompoknya yang telah terpolarisasi, tersegmentasi dan tersegregasi.
Polarisasi, Segmentasi dan Segregasi semakin masif didukung dan diperkuat oleh Fashion Show Eksistensialis (FSE). Sarana utama dari FSE adalah Media Sosial. Medsos digunakan sebagai sarana entitas individu dan entitas kelompok untuk menunjukkan, memamerkan dan menampilkan Eksistensinya guna pengakuan Co- Eksistensialis.
Ada penyakit yang dapat dijangkiti, yaitu: OTOPHOBIA dan HETEROPHOBIA. Yang dimaksudkan bahwa, pertama; adanya ketakukan impulsive dari dirinya dan atau kelompoknya tidak mendapatkan pengakuan dari yang lain serta ditolak dari entitas kelompoknya, suku-subsukunya dan entitas kepentingan. Kedua, adanya ketakutan dari dirinya dan kelompoknya terhadap kelompok lain dan yang di luar dari dirinya. Jadi melalui FSE masing-masing dan tiap-tiap menampilkan eksistensi melalui medsos untuk mencari Pengakuan Co-eksistensi entitas diri dan kelompoknya sambil juga mempertebal deferensiasi Eksistensialisnya dengan yang lain, yang bukan dirinya dan bukan kelompoknya.
Selain penyakit Otophobia dan Heteropobhia di atas, muncullah “penyakit” Rasionalisasi Irasional (RI). Yaitu, tiap-tiap dan masing-masing entitas individu, entitas kelompok, Entitas Suku, Entitas kepentingan, dll yang telah terpolarisasi, tersegmentasi dan tersegregasi merasionalisasikan FSE yang Irasional dengan argumen-argumen dan atau gagasan pemikiran yang nampaknya Rasional.
Keempat, Tindak lanjut. Untuk melihat dan menemukan apakah Polarisasi, Segmentasi dan Segregasi semakin masif dan intens, maka perlu dilakukan suatu studi kasus di masing-masing entitas sebagai sample. Jika memungkinkan itu dapat dilakukan di masing-masing Entitas Suku-subsuku. Karena MedSos menjadi ajang FSE, baiknya dilakukan di dalam group-group tersebut. Tanggapan dari masing-masing pihak akan memperlihatkan masif dan intensnya Polarisasi, Segmentasi dan Segregasi.
Penulis melihat dan merefleksikan sepertinya beberapa oknum pejuang besar bangsa Papua yang belakangan ini tampil cengeng di media itu tidak lain dan tidak bukan adalah korban empuk daripada strategi devide et impera di atas.
Sarana dan Tujuan
Ada kesalahpahaman dan kesalahkaprahan dalam diri setiap pejuang bangsa Papua terkait Sarana dan Tujuan. Penulis menghemat bahwasanya dua hal ini teramat sederhana, namun tidak jarang banyak orang selalu salah kaprah dalam menghayati kedua dimensi tersebut.
Pertama, Sarana. Sarana adalah alat, cara, gaya, metode, stratak, trik, intrik, partai, organisasi, visi, misi, marga, agama, budaya, ideologi dan lainnya. Sifatnya hanya sebatas sebagai mediator, fasilitator, katalisator, dan koordinator tidak lebih tidak kurang.
Kedua, Tujuan. Adalah apa yang menjadi kerinduan, harapan, cita-cita, impian, angan-angan, dan mimpi. Ia sifatnya utuh, tetap, dan absolut, tidak dapat diganggu gugat. Demi kebaikan bersama bukan satu, dua, tiga orang saja, tapi melingkupi semua elemen bangsa dan tanah air.
Ketiga, Kesalahkaprahan Dalam Memaknai Sarana. Terkadang sarana ini dijadikan sebagai tujuan, banyak orang atau pejuang yang tampil di Medan perjuangan dengan tendensi, ambisi, ago, dan gengsi sukuisme, agamaisme, budayaisme, genderisme, partaisme, organisasisme, visimis, misisme, primordialisme, agendaisme, dan idealisme, dan isme-isme dangkal, semu, dan keropos lainnya.
Keempat, Kesalahkaprahan Dalam Memaknai Tujuan. Kebalikan dari penyalahgunaan Sarana di atas tidak sedikit oknum dan organ pula yang meluluh menjadikan Tujuan Mulia Bangsa Papua Merdeka hanya sebagai Sarana belaka. Isu Papua dijadikan sebagai materi propaganda untuk mendapatkan prestasi, prestise, dan popularitas khalayak banyak Papua guna memuluskan kepentingan individu dan kelompok. Tidak sedikit aktivis HAM yang menjadi masalah Papua Merdeka meluluh hanya sebagai “PT dan CV” tempat mereka bisa memperoleh pangkat, jabatan, uang, Kekayaan, kekuasaan dan lainnya. Tidak ada yang konsisten mengawal tujuan mulia Papua Merdeka hingga terwujud konkrit. Media dan Jurnalis baik lokal, regional, dan nasional, baik online maupun cetak tidak sedikit yang menjadikan isu Papua sebagai “Komoditi” yang mampu menghasilkan jutaan bahkan milyaran trofi, keuntungan, pendapatan, pemasukan, dan lainnya.
Kelima, Solusinya? Tempatnya sarana sesuai tempat, peran, fungsi dan manfaatnya, juga sebaliknya letakan Tujuan pada tempatnya yang layak dan pantas, jangan dibalik. Cenderungan membalikkan Sarana menjadi Tujuan dan Tujuan menjadi Sarana ini memperlihatkan secara jelas dan terang benderang kepada kita bahwa ada yang salah dengan kepala orang-orang dan organ-organ yang masih mempraktekkannya. Kita tahu apakah mereka sadar, tidak sadar, atau memang sel kesadaran mereka nihill sama sekali.
Penegasan Akhir
Jangan tanyakan apa yang Papua Merdeka berikan kepada saya tetapi tanyakan dan renungkan setiap hari apa yang saya berikan, buat dan perjuangankan untuk Papua merdeka. Kita tidak perlu berbangga, sombong, ngotot dan Keukeh selama sistem kolonial NKRI masih menjajah bangsa Papua dan selama bendera merah putih masih berkibar di seluruh Teritori West Papua. Tidak ada hal yang bisa kita sombongkan dan banggakan, sebab itu ibarat kita bergaya di dalam Kamp Konsentrasi Sistem Kolonial NKRI dan sekutunya. Sangat memprihatikan sekali jika sebelum apa-apa, sebelum Papua Merdeka kita sudah saling membenci, mendendam, menjatuhkan, iri, dengki dan lain sebagainya di dalam Kamp Konsentrasi, sungguh sebuah fenomena anomali yang sangat tidak etis. Untuk bisa keluar dari jurang Perpecahan itu dan demi terpuruk, terpulihkan api semangat persatuan Perjuangan bangsa Papua, maka ada beberapa ihwal subtansial dan fundamental yang hendak penulis ketengahkan;
Pertama, Papua Masih Terjajah, belum Merdeka, maka tidak perlu saling merendahkan, membenci, mencaci maki, menjatuhkan, mendendam dan lainnya. Perjuangan bangsa Papua ini adalah perjuangan yang mulia, Kudus dan suci, maka kita butuh sosok-sosok pejuang yang suci, kudus, berkarisma seperti Tehys, Filep Karma, Neles Tebai dan lainnya. Bukan sosok pejuang yang tahunya ribut memecah-belah keutuhan dan kesatuan bangsa tanpa sedikit turun tangan membangun kesadaran nasionalisme dan patriotisme bangsa Papua demi penuaian persatuan bangsa Papua yang utuh, penuh dan menyeluruh.
Kedua, Karena Perjuangan Papua Merdeka ini adalah suci maka setiap orang yang hendak memperjuangkan hak penentuan nasib sendiri bagi bangsa dan tanah Papua pertama-tama sekurang-kurangnya mampu merekonsiliasi diri dan organisasi di mana dirinya berafiliasi. Jangan landasi perjuangan, pergerakan dan perlawanan menumbangkan sistem kamp konsentrasi NKRI dan menuntut kemerdekaan abadi bangsa Papua dengan benih-benih kebencian, kedengkian, kesombongan, ketamakan, keserakahan, kedendaman, dan energi sentimen-sentimen kerdil negatif lainnya, tetapi sebaliknya landasilah api, spirit, dan semangat perjuangan, pergerakan dan perlawanan itu dengan cinta kasih yang bernyala-nyala, mengebu-gebu, dan berkobar-kobar seperti yang bersemayam dalam hati para nasionalis cum patriot sejati bangsa-bangsa besar yang pernah ada di posisi bangsa Papua hari ini. Milikilah jiwa yang besar dan hati yang rendah seperti Nelson Mandela, Fidel Castro, Che Guevara, Xanana Gusmao, Mahatma Gandhi dan lainnya.
Ketiga, kita sudah sedikit, tidak ada orang lain lagi yang akan berjuang secara konsisten, gigih dan tangguh untuk masa depan bangsa dan tanah air kita yang lebih baik kalau bukan kita sendiri. Waspada dan berjaga-jagalah dengan strategi setan dan iblis NKRI yang sudah penulis utarakan di atas terkait Polarisasi, Segmentasi, Segregasi dan Fashion Show Eksistensialis di atas.
Kita berdoa, berharap dan terus berjuang agar semua strategi perpecahan yang sudah, sedang dan senantiasa dilakoni oleh kolonial, kapital, feodal dan Imperial NKRI dan sekutunya ini bisa kita benamkan dengan jiwa nasionalisme dan patriotisme kepapuaan dan kemerdekaan kita yang utuh, penuh dan menyeluruh. Kita harus memerdekakan sekujur jati diri kita dari cengkeraman polarisasi, segmentasi, Segregasi dan Fashion Show Eksistensialis. Pentingkah Persatuan?. (*)
(KMT/Admin)

0 komentar: